
Wanita bertaring dengan mata kemerahan dan rambut ikal itu berjalan mendekati tumpukan buku dan menyeringai kejam. Ia ingin melihat siapa yang sedang bersembunyi di sana.
"Tik tok … tik tok, siapa yang bersembunyi di sana." Ia bersenandung kecil membuat Nicole dan Gery semakin gemetar ketakutan.
"Siap atau tidak, aku akan menemukanmu … tik tok, tik tok." Vampir wanita itu berhenti, lalu menatap ke tumpukan buku di depannya. Suara detak jantung sepasang anak manusia yang berada di balik tembok buku terdengar begitu menyenangkan.
"Tik tok, tik tok … aku dengar jantungmu, tik tok …,"
Vampir itu dengan cepat merusak tatanan buku menjulang yang ada di depannya. Ia tak sabar lagi ingin menikmati darah mereka untuk membalas perbuatan Nirwana.
"Aku menemukanmu!" teriaknya lantang dengan senyum iblis mengembang.
Tapi senyumnya seketika sirna, dibalik tumpukan buku itu tak ada seorangpun yang bersembunyi di sana.
"Apa?! Dimana mereka?!" ia berteriak kesal dan membuang buku-buku tebal ke segala arah.
Vampir wanita itu tidak salah dengar, ia masih mendengar detak jantung kedua anak manusia yang bersembunyi. Tapi dimana mereka?
Nirwana terkekeh geli, ia menertawakan kebodohan vampir wanita bernama Rachel itu. Pengalihannya berhasil, Nicole dan Gery memang masih ada di dalam ruangan tapi mereka bersembunyi di balik dinding bersekat buku tebal penelitian miliknya.
"Waah lihat siapa yang kesal sekarang? Ternyata vampir tidak sepintar kelihatannya!" ejek Nirwana membuat Rachel semakin naik pitam.
Dengan kecepatan luar biasa ia menghampiri Nirwana, "Kalau begitu kau akan menggantikan mereka! Darahmu juga semanis manusia itu bukan?!"
Rachel memperlihatkan taringnya yang tajam, ia hendak menggigit saat tubuhnya tiba-tiba saja terhempas keras ke dinding hingga menimbulkan lubang disana.
"Tak ada yang bisa menyentuh wanitaku! Termasuk kau, Rachel!"
__ADS_1
Nirwana masih belum menyadari apa yang terjadi ketika kedua vampir yang menjegal tangannya juga terhempas begitu saja. Ia hanya melihat beberapa vampir itu tiba-tiba jatuh, terpelanting keras, terbakar, dan terpeng-gal dengan cepat.
Nirwana bingung, siapa dan apa yang menyerang mereka. Ia sesekali menjerit ketika senjata sang vampir penyerang nyaris mengenai tubuhnya. Penolongnya itu dengan gesit menarik tubuh Nirwana setiap nyaris terkena senjata tajam yang dibawa kelompok vampir.
Ia baru menyadari saat Darren mendekap tubuhnya dan melindunginya dari sabetan pedang panjang vampir lawan. Tubuh dingin Darren, terasa begitu hangat saat mendekapnya.
Nirwana melawan hukum alam. Bagaimana mungkin tubuh sedingin Darren itu hangat untuknya? Itu karena tubuhnya salah merespon, ia merespon kehangatan pesona Darren yang membuatnya merona.
"Tutup matamu sayang, ini akan sedikit kasar dan terlihat sadis!" Darren mengerling pada Nirwana di tengah sibuknya meladeni serangan vampir lawan.
"Kau, bagaimana kau bisa keluar dari ruangan itu?"
Nirwana tercengang, jelas jelas tadi ia meninggalkan Darren dalam kondisi terluka dan ruangan terkunci. Kuncinya saja masih ada di dalam kantong baju. Lalu bagaimana Darren keluar?
Darren tersenyum simpul, "Kau lupa siapa aku sayang? Aku Darren Constantin!"
"Kau mencabutnya sendiri?" gumamnya lirih tanpa bermaksud bertanya, Darren sedikit melirik dan menarik senyum.
Rachel berdiri dan berteriak, kekesalannya memuncak tatkala melihat Darren datang menyelamatkan Nirwana dari gigitannya.
"Darren! Urusan kita belum selesai!"
Nirwana dan Darren saling menatap, "Pergilah sayang, menjauh dari ku! Wanita gila ini agak sedikit merepotkan!"
"Tapi …,"
"Jangan membantah, pergi bersama temanmu! Aku akan menyusul segera setelah membereskan mereka!" perintah Darren sebelum ia merangsek ke arah Rachel.
__ADS_1
Nirwana bergegas mendekati Nicole dan Gery di persembunyian," Cepat keluar, kita harus pergi dari sini!" ujar Nirwana membuka sekat yang menutupi kedua asistennya.
"Apa semua baik … ya Tuhan, apa yang terjadi?!" Gery terperanjat saat melihat ke arah Darren dan vampir wanita yang sedang bertarung. Matanya nanar menatap sekitar, tumpukan abu hitam dan kekacauan ruangan serta lemari yang sudah tak karuan bentuknya. Ditambah luka-luka pada tubuh Nirwana membuatnya gemetar.
"Kau baik-baik saja prof?"
"Tenanglah Gery, Mir geht es gut!" (Aku baik baik saja!)
Nirwana tak banyak berkata, ia segera menarik Nicole yang ketakutan dan juga tangan Gery menjauh dari ruangan. Dengan cepat ketiganya menyelinap pergi melalui lubang menganga yang terbentuk entah kapan. Semuanya begitu cepat kacau hingga mereka tak mengerti apa yang terjadi.
Nirwana dan dia asisten nya sampai di tangga darurat, mereka menuruni tangga dengan cepat dan mengambil jalan keluar lewat belakang gedung.
"Dengarkan aku baik-baik, pergi dan bersembunyi lah! Jangan ke apartemen milikku kecuali jika aku memerintahkan kalian datang!" pesan Nirwana pada Gery dan Nicole.
"Lalu bagaimana denganmu prof, kita pergi bersama!" Nicole memintanya ikut tapi Nirwana tak bergeming.
Ia tersenyum masam sebelum akhirnya menjawab, "Aku tak bisa meninggalkan Darren disana sendirian. Kekacauan ini karena diriku juga."
"Apa kau yakin? Mereka makhluk mengerikan, kau bisa terbunuh!" Gery menarik tangan Nirwana, tapi ditepisnya.
"Pergilah, jangan khawatir aku yakin vampir tampan itu bisa menjagaku! Go Gery, aku akan menghubungimu lagi!"
Belum sempat Gery menjawab, Nirwana sudah menutup pintu mobilnya dan berlari menjauh kembali ke dalam gedung. Nicole dan Gery saling memandang heran dan juga bingung.
"Apa aku tidak salah dengar Gery? Profesor bilang, vampir tampan?"
"Darren! Damn it, aku tahu lelaki pucat itu vampir! Sial!" Gery memukul kemudi, ia mendengus kesal sambil menatap Nirwana yang kini menghilang dari pandangan.
__ADS_1
"Semoga Tuhan melindungi mu Professor!" Gery melajukan kendaraannya dengan cepat keluar dari area gedung, menyelamatkan diri seperti perintah atasannya.