An Ancient Relique

An Ancient Relique
Gigitan Manis


__ADS_3

Darren dan Nirwana memasang mata dan juga telinga, menunggu apa yang akan terjadi setelah Nirwana memberikan darah segar dengan sengaja. Menit berlalu tapi tak juga terdengar apa pun.


"Kira-kira kita harus menunggu berapa lama tuan Darren?"


"Sssst, diamlah!"


Wajah Nirwana semakin tegang, menunggu adalah hal paling menyebalkan untuknya Apalagi menunggu dalam gelap. Sesuatu bisa menyergap tiba-tiba dalam gelap. Luka di pergelangan tangannya mulai berdenyut, darah kembali merembes dari balik balutan kain yang dililitkan Darren. Nirwana mulai gelisah.


Perkiraan Darren betul, tak lama berselang mantra itu kembali terdengar. Terdengar suara aneh dari dalam peti. Berbeda dengan sebelumnya mantra kali ini terdengar sedikit berbeda. Ruangan bawah tanah yang lembab dan dingin terasa semakin aneh saat mantra itu kembali menggema. Oksigen terasa semakin tipis.


Seluruh permukaan kulit Nirwana terasa nyeri, sesuatu yang tak biasa mulai terjadi. Kegelapan berjalan lambat memenuhi ruangan. Perlahan tapi pasti cahaya matahari dari celah kecil tepat diatas peti menghilang.


Di luar kastil awan hitam tiba-tiba saja menutupi langit di atas kastil. Gery mendongak ke atas, wajahnya begitu khawatir melihat perubahan cuaca ekstrim di sekitar kastil. Ia bergegas memeriksa citra satelit dan memperbarui data cuaca.


"Aneh, satelit tidak menangkap apa pun. Semuanya normal dan cuaca seharusnya cerah. Tapi kenapa yang terjadi justru sebaliknya?" gumamnya lirih.


"Sial, aku masih harus mengurus mayat-mayat itu, Nicole juga belum sadar, jaringan komunikasi juga terputus. Profesor tidak akan senang jika kesenangannya diganggu. Cepatlah keluar dari sana prof, aku khawatir sesuatu yang buruk akan segera terjadi!"


Gery berusaha kembali melakukan komunikasi dengan pihak pemerintah setempat tapi ia kembali kecewa karena tak ada yang menyahut.


"Kami butuh keajaiban, my Lord please help us!"


Di dalam kastil, di ruang bawah tanah yang kini gelap gulita dua makhluk berbeda ras berdiri berhimpitan. Nirwana merapatkan tubuhnya pada Darren. Ia panik dan juga takut. 


"Tuan Darren apa kau takut?" bisik Nirwana perlahan.


"Takut? Tidak, aku terbiasa hidup dalam gelap nona."


"Hhm, benarkah? Itu menyedihkan."


"Tidak sama sekali, aku justru menyukai gelap karena aku tidak bisa hidup dalam terang."

__ADS_1


"Hhm, anda aneh sekali tuan. Banyak warna yang bisa kita lihat saat terang. Kehidupan berjalan dengan baik pada saat matahari bersinar. Kegelapan hanya membawa ketakutan dan juga nestapa."


Darren terkekeh mendengar kalimat panjang Nirwana yang terdengar sangat naif di telinganya. Darren adalah makhluk yang aktif saat gelap menjelang, ia bisa melihat jelas meski dalam gelap. Seperti klan vampir pada umumnya Darren hidup dari darah, ia juga takut dengan sinar matahari yang bisa memusnahkan dirinya.


Namun, bagi bangsawan sekelas Darren, ia tidak memangsa manusia sembarangan. Abraham selalu menyediakan darah segar untuknya setiap saat, ia tak perlu repot berburu ataupun mengotori tangan dan bajunya dengan menggigit manusia lain. Meski di saat bosan melanda, Darren akan keluar sendiri dan mengasah kedua taring nya dengan mencari manusia.


Darren menghindari matahari, ia bisa mati terbakar. Tapi bukan berarti dia tak bisa berjalan saat siang. Jika terpaksa Darren, tetap bisa muncul disiang hari mengurus bisnis dan pekerjaannya di dunia manusia. Kemajuan teknologi dan ilmuan yang Darren miliki berhasil mengembangkan obat yang membantunya melewati sinar Ultraviolet dengan aman. Sayangnya itu hanya bertahan beberapa jam saja, dan Darren jarang menggunakannya.


Mantra itu kembali terdengar, kali ini terasa lebih meremangkan bulu kuduk karena terdengar dalam gelap. Nirwana semakin merapatkan tubuhnya pada Darren dan hal itu membuat Darren senang.


"Kau seperti anak kucing yang kehilangan induknya."


"Aku tak peduli, aku benci gelap!"


Nirwana mendengar Darren tertawa mengejeknya, "Kalau begitu peluk aku jika kau takut." 


Suara Darren terdengar berbisik di telinga Nirwana, deru nafasnya menyapu kulit sensitif Nirwana membuatnya merona dan … tergoda.


"Kau boleh mengejekku tuan, tapi siapa yang sekarang yang tubuhnya sedingin balok es!" sekarang gantian Nirwana yang mengejek, meski dalam gelap Darren bisa melihat jelas wajah menggemaskan Nirwana saat mengatakannya.


Darren mendekatkan wajah pada Nirwana dan semakin mengeratkan pelukan. "Kalau begitu hangatkan aku dengan … darahmu."


Bau anyir darah tercium dari mulut Darren membuat Nirwana bergidik, "Darah? Apa kau sejenis vampir atau makhluk penghisap lainnya? Kau lucu sekali tuan Darren!"


"Jika benar aku sejenis vampir apa kau takut?" Darren masih belum melepaskan pelukannya, wajahnya masih menelisik kecantikan Nirwana dalam gelap.


Nirwana tak menjawab, ia terkikik geli."Dengar Tuan Darren, meski berbagai literatur menjelaskan tentang keberadaan vampir, dracula, strigoi, dan sejenisnya … aku tetap tidak percaya makhluk itu ada di bumi ini."


Jawaban Nirwana sontak membuat Darren geram, ia tak terima jenisnya dianggap tak ada oleh gadis secantik Nirwana. Terlintas ide untuk membuktikan jika vampir itu ada dengan memberikan satu gigitan manis dileher Nirwana. Ia tak tahan lagi menahan godaan aroma manis darah Nirwana yang sedari tadi merembes dari lukanya.


Darren mengusap lembut pipi Nirwana, membuat hati gadis itu berdesir tak karuan. Meski baru mengenalnya tapi sosok Darren yang misterius dan tampan membuatnya terpesona. Nirwana menyukai segala hal yang berbau misteri dan saat bertatapan dengan Darren. Instingnya mengatakan, Darren adalah misteri terindah yang membuat jantungnya berdegup tak wajar.

__ADS_1


Meski dengan pencahayaan minim, Nirwana masih bisa melihat jelas ketampanan Darren. Wajah khas Eropa yang tegas, mata yang berubah dan … tunggu, Nirwana melupakan bagian perubahan warna mata Darren!


Aah, sepertinya hal itu tak lagi sempat Nirwana pikirkan karena Darren kini mulai mencicipi bibir lembut Nirwana yang tak kalah manisnya dengan darah. Darren memberinya sensasi ciuman yang berbeda, memagut dan ******* dengan gigitan kecil yang membuat Nirwana kewalahan.


Ia tak peduli dengan bau anyir darah yang sempat menyusup indra penciuman nya, Darren membiusnya dengan ciuman yang menuntut dan membawanya melayang menembus hasrat primitif nya sebagai wanita.


Darren merayu dengan jilatan lidah dan pagutan yang memanaskan gairah Nirwana. Ia tak peduli dengan dinginnya tubuh Darren, itu malah memberinya sensasi baru dalam berciuman.


"Darren," 


Nirwana menyebut nama Darren disela ciuman panas mereka. Darren tak memberi jeda Nirwana, ia terus menjajah bibir dan rongga mulut gadis itu hingga turun ke leher. Darren tak tahan lagi mendengar denyut nadi Nirwana yang menggoda nya untuk segera menancapkan kedua taringnya pada pembuluh nadi Nirwana.


Darren melakukannya dengan lembut dan halus hingga Nirwana tak menyadari jika Darren tengah menggigit dan mulai menghisap darahnya. Nirwana hanyut dalam hasrat berlebih yang terangkat naik ke permukaan, ia melenguh panjang menikmati gigitan vampir tampan bernama Darren.


Darren tak berniat mengubah Nirwana menjadi kaumnya, ia hanya ingin memberi gadis pintar itu sedikit suvenir agar mengingatnya kelak. Memberikan bukti bahwa vampir itu ada. Sedikit hisapan cukup untuk mencicipi darah manis Nirwana. Darren menghentikannya sebelum ia kehilangan kendali dan menghisap habis darah arkeolog cantik itu.


"Bernafaslah, cantik," bisiknya setelah sesi gigitan manis usai.


Hasrat Nirwana yang naik tanpa permisi membuatnya tersengal. Darren mengusap bibir Nirwana dan mendaratkan satu kecupan singkat. "Kau manis sekali."


Dahi keduanya saling menempel sambil mengatur nafas agar kembali normal. Dalam hati, Nirwana merutuki dirinya sendiri yang begitu menikmati ciuman penuh sensasi dengan Darren. Tangan Darren masih melingkar di pinggang Nirwana, mengusap punggungnya lembut.


Suara aneh diiringi getaran tanah, menguraikan pelukan dua makhluk berbeda ras itu. Nirwana dan Darren saling memandang, cahaya hijau kekuningan itu kembali muncul dari dalam peti batu. Menyinari ruangan gelap dengan indah, semakin lama semakin terang. 


Darren dan Nirwana berjalan perlahan mendekati peti batu. Keduanya terbelalak, relik kuno itu muncul diselubungi cahaya hijau kekuningan berputar perlahan dan mengambang di tengah peti batu.


"Tuan Daren apa kau lihat itu? Apa perlu kita berciuman lagi agar relik lain muncul?" 


 


 

__ADS_1


__ADS_2