An Ancient Relique

An Ancient Relique
Nirwana dan Gigitan Seksi


__ADS_3

Nirwana masih terbaring lemah di kamar Darren. Vampir tampan itu dengan setia menunggu kesadaran arkeolog cantik itu kembali. Tanpa rasa lelah dirinya terus berjaga di sisi Nirwana.


"Sadarlah sayang," ucapnya lembut, dikecupnya punggung tangan Nirwana berharap ada sedikit pergerakan.


"Tuan," Abraham datang membawa segelas darah segar untuknya.


"Kenapa dia belum sadar juga Abraham? Apa aku menguras habis seluruh energi Nirwana? Tapi aku yakin masih menyisakan sedikit darah di tubuh mungilnya itu." Darren tak melepas tatapannya dari Nirwana.


Ia mengusap luka sayatan yang kini sudah berbalut kain kasa. "Seharusnya dia tidak melakukan itu. Dasar bodoh!" Darren berdecak kesal, tapi juga senang karena Nirwana menyelamatkan dirinya.


"Kondisinya terus membaik tuan, dokter selalu memantau keadaan nona Nirwana. Tinggal menunggu waktu saja hingga kesadarannya pulih."


"Apa ada lagi yang bisa saya lakukan? Anda butuh darah lagi atau makan mungkin?" Darren menggelengkan kepala, Abraham kembali membujuknya.


"Setidaknya untuk menjaga nona Nirwana anda juga harus sehat tuan. Anda tidak ingin bukan saat nona Nirwana bangun, anda justru pingsan kelaparan?"


Darren menoleh ke arah Abraham, "Kau benar, aku ingin menjadi orang pertama yang dilihat Nirwana saat ia membuka matanya."


Abraham mengangguk dan segera undur diri menyiapkan makanan untuk Darren. Sebagai abdi setianya Abraham ikut merasakan bahagia saat tuannya peduli dengan dirinya sendiri. Ratusan tahun mengabdi pada Darren, baru kali ini mata tuannya terlihat berbinar saat menatap wanita.


Terakhir kali Abraham melihat binar bahagia itu saat Darren bertemu dengan Rachel. Tapi sayang vampir wanita itu lebih memilih kekuasaan daripada cinta Darren. Rachel memihak Cesar Ferdinand dan menikah dengan keturunan asli Ferdinand. Ia bahkan tega mengolok olok Darren yang hanya seorang vampir campuran (Dhampir) yang memiliki kasta terendah.


Olokan yang menyakiti hati Darren dan membuatnya bertekad untuk menjadi pemimpin klan tertinggi meski ia berdarah campuran. Lecutan semangat dan rasa ingin membalas dendam pada orang-orang yang menyakitinya membuat Darren berubah dingin, tak banyak bicara, dan lebih banyak menyembunyikan diri dalam kamarnya.


Sebagai seorang Dhampir, Darren tak ingin dipandang sebelah mata. Selama ratusan tahun dia membangun kerajaan bisnis yang ditinggalkan keluarga Constantin. Mewarisi sifat manusia dari sang ibu nyatanya membawa berkah tersendiri bagi Darren. Ia sangat pintar dan ahli bersiasat. Bisnisnya di bidang retail dan perumahan berkembang pesat. Kekayaan melimpah, kekuasaan dan kekuatan membuat keluarga Constantin menjadi klan vampir kedua terbesar dari lima keluarga yang ada.


Ambisinya kembali mengembalikan kejayaan kaum vampir dengan merajai bisnis dunia. Keberadaan relik itu akan menguatkan posisinya sebagai calon tunggal penguasa vampir. Dengan relik itu Darren rencananya akan membawa vampir masa lalu untuk kembali dihidupkan di masa sekarang. Tidak ada lagi kata bersembunyi bagi kaum vampir.


Sayangnya takdir berjalan melawan arah, Darren dipertemukan dengan Nirwana. Arkeolog yang sejatinya bekerja untuk Darren. Diam-diam Darren menjadi sponsor utama penelitian relik kuno itu dengan menggunakan budak manusia-nya. Siapa yang menduga jika Nirwana malah ditakdirkan menjadi manusia pilihan yang menguasai relik kuno.


Darren benar-benar beruntung, dan kini ia jatuh hati pada Nirwana.


Nirwana menggerakkan tubuhnya perlahan. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, pegal dan juga nyeri di tangan kirinya. 


"Dimana aku?" ujarnya lirih, matanya mengerjap perlahan berusaha menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk ke retina.


"Ini bukan kamarku," Nirwana bergerak perlahan, berusaha duduk dan mengedarkan pandangan.

__ADS_1


Rasa penasaran membuatnya turun dari ranjang besar itu dan menuju ke arah pintu kaca di sisi kiri. Nirwana menjejakkan kakinya dengan sedikit gemetar, kepalanya masih pusing saat ia mencoba berjalan.


Malam masih enggan pergi, rembulan pun terlihat begitu jelas menghiasi langit cerah berbintang. Debur suara ombak menghantam tebing karang terdengar bagai alunan musik indah menemani hembusan angin malam yang menarikan helai rambut cokelat miliknya.


"Indah sekali, tapi dimana ini?"


"Di rumahku, tepatnya di dalam kamarku sayang." suara Darren mengagetkannya.


"Darren?!" Mata Nirwana membulat sempurna. "Kau baik-baik saja, syukurlah!"


"Hei, bukan aku yang harus kau khawatirkan tapi kau, nona!" Wajah Darren menyembul dari balik gelap, ia menatap kecantikan Nirwana di bawah cahaya rembulan.


"Aku baik, ehm … sedikit pusing dan tentu saja nyeri di tangan." jawab Nirwana yang melirik ke arah tangannya yang terluka.


Darren meraih tangan Nirwana dan mengusapnya lembut, "Maafkan aku,"


Mereka saling menatap, getaran hangat kembali mengisi rongga dada Nirwana dan juga Darren. Tatapan mata Darren sungguh membiusnya dan membuat Nirwana mabuk kepayang. Nirwana mengalihkan pandangan ke arah lain, terlalu lama menatap Darren bisa membuatnya lupa daratan.


Ia menarik tangannya, dan berjalan keluar. Tepat di tempatnya berdiri, Nirwana bisa melihat jelas lautan luas yang membentang. Darren mengikutinya dari belakang. "Disini cukup dingin, kau bisa sakit."


"Ini bukan Zurich, kenapa kau membawaku kemari?"


"Mulai detik ini, aku akan melindungi mu."


"Dari mereka? Aku tak mengerti mengapa mereka mengejar? Apa karena relik itu? Aku bahkan tidak memilikinya?"


Darren menyelipkan anak rambut Nirwana yang tertiup angin. "Karena kau adalah pemilik relik itu."


"Apa?" 


Darren menceritakan hal yang sebenarnya terjadi dan bagaimana Nirwana berproses menjadi pemilik relik kuno meski tidak menjelaskan dengan detail tapi Nirwana bisa mengerti. Ia tentu saja sangat terkejut dengan apa yang diceritakan Darren. 


"Aku tak percaya ini, sungguh ini … terlalu mustahil!"


"Tidak ada yang mustahil di dunia ini Nirwana. Keberadaan kami para vampir juga bukan suatu hal mustahil bukan? Kami nyata dan kami sungguh ada."


Nirwana terdiam sejenak, "Hmm pantas saja relik itu tiba-tiba muncul waktu itu. Jadi dia akan kembali ke pemiliknya?" Darren mengangguk.

__ADS_1


"Aku juga awalnya tak mengira jika relik itu bisa memilih tuannya sendiri. Lalu Abraham menemukan catatan kuno yang ditinggalkan kakek buyutku sebelum ia dihukum mati."


"Constantine ke tujuh?" Darren mengangguk. Ia melanjutkan ucapannya lagi, "Kakekku dan tetua lain yang peduli dengan relik itu mengubah fungsi dan sifat relik yang mereka ciptakan sesaat sebelum satu persatu dari mereka tertangkap."


"Seperti dugaan kakek, relik itu akan menjadi rebutan para tetua terutama Cesar. Padahal awalnya relik kuno itu hanya digunakan untuk pelengkap ritual."


"Tunggu ritual?"


"Yah, ritual suci untuk pemanggilan tetua terdahulu yang sudah mati. Tapi kemudian relik itu disalah gunakan dan dipakai untuk mengembalikan kejayaan masa lalu. Memutar balik keadaan. Awalnya aku berniat untuk memutar keadaan dunia saat ini. Aku ingin klan vampir kembali ditakuti manusia di bawah kuasaku, aku juga ingin membalas dendam pada mereka yang telah mengucilkan keluargaku."


"Jadi kau berniat memakai itu untuk balas dendam? Relik itu berubah fungsi, bagaimana itu bisa terjadi? Aku masih tak mengerti, Darren."


"Entahlah, yang jelas kakek dan tetua lain pendukungnya telah mengubahnya hingga tak ada satupun vampir yang bisa menyentuhnya. Hanya manusia yang bisa dan yang menggunakan kekuatannya pun terbatas pada manusia pilihan saja."


"Wah, cerita yang menarik. Apalagi itu menyangkut diriku juga. Lalu bagaimana sekarang? Aku tak bisa kembali ke kehidupan normal ku?" tanya Nirwana bingung.


Darren menarik nafas panjang, "Sayangnya tidak! Kau harus tetap disini bersamaku. Cesar tidak akan tinggal diam, dia akan mencarimu demi memakai kekuatan relik itu dan menjadikan keturunannya pemimpin klan."


"Siapa Cesar, dari tadi kau mengatakan namanya tapi tak memberitahukan siapa dia." Nirwana penasaran.


"Tetua paling kejam di antara sepuluh tetua lain. Dia pemimpinnya sekarang setelah berhasil menyingkirkan kakek buyutku."


"Tuan, nona, makan malam sudah siap." Abraham muncul tiba-tiba.


"Ayo kita makan, kau membutuhkan banyak makanan untuk mengembalikan energi mu." Darren menarik tangan Nirwana agar mengikutinya.


"Makan? Tunggu apa disini menyediakan makanan untuk manusia? Aku masih normal dan ingin makan daging, sayur, steak mungkin atau seporsi besar hamburger dengan ekstra keju!" Nirwana mengoceh sepanjang koridor menuju ruang makan.


Darren hanya tersenyum dan dengan sabar mendengarkan ocehan wanita cantik yang masih mengenakan pakaian tidur sutra itu.


"Bagaimana jika kau meminum darah sayang, rasanya tidak buruk. Kau bisa mencobanya sesekali." Darren menggoda disambut gelengan kepala Nirwana dengan cepat.


"Tidak, aku buka vampir tuan Darren dan aku tidak akan menjadi vampir kecuali kau telah mengubahku." Nirwana menutup mulutnya dengan cepat, ia kelepasan bicara.


Darren menghentikan langkahnya dan menarik pinggang ramping Nirwana mendekat, "Oh jadi kau ingin aku ubah menjadi vampir? Kau merindukan gigitanku sayang?"


Jantung Nirwana berdetak kencang, wajahnya merona saat Darren menatapnya. Mata merah itu tampak begitu seksi bagi Nirwana, pikiran nakalnya membayangkan lagi gigitan manis yang dilakukan Darren. Arkeolog itu gugup menahan gejolak yang muncul tiba-tiba, dan itu disadari Darren.

__ADS_1


"Rileks sayang, aku tidak akan menggigit mu disaat yang tak tepat. Tapi jika kau menginginkannya aku akan melakukannya dengan lembut dan juga … seksi!" 


Otak Nirwana seketika berpikir mesum, 'Bisakah kau ulangi kata seksi tadi? Itu membuatku melayang, Darren!'


__ADS_2