An Ancient Relique

An Ancient Relique
Pengacau Pernikahan


__ADS_3

Darren dan Nirwana menikmati dansa pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Rona bahagia jelas terlihat di wajah keduanya. Tak ada lagi keraguan di hati Nirwana, Darren kini segalanya bagi Nirwana.


"Hello Mrs. Darren!" 


"Hello Mr. Darren!"


Darren memutar tubuh Nirwana mendekapnya erat dengan kaki terus melangkah mengikuti alunan musik. 


"Jadi, apa yang akan kita lakukan malam ini?" bisik Darren nakal.


"Hmm, entahlah. Menurutmu?" sahut Nirwana dengan senyuman sensual.


Darren kembali memutar tubuh Nirwana, mencuri ciuman singkat di pipi Nirwana.


"Bagaimana jika menghabiskan semalam suntuk dengan bermain Uno lagi?"


"Apa? Tidak, tidak ada Uno lagi karena kau curang." Nirwan tergelak.


"Hhm, aku janji kali ini tidak akan curang. Toh kau sudah menjadi milikku jadi aku bebas melakukannya kapan saja dan dimana saja!" 


Darren mencium leher jenjang Nirwana, sedikit gigitan kecil cukup membuat Nirwana panas dingin. Apalagi kalimat terakhir Darren tadi membuat Nirwana berfantasi liar.


"Dimana saja?" tanya Nirwana memastikan saat mata keduanya beradu.


Darren pun berbisik begitu dekat di telinga Nirwana, "Dimana saja, dengan gaya seliar mungkin. Aku menginginkanmu melebihi apapun di dunia ini sayang."


Nirwana mengaitkan kedua tangan di leher Darren dan menariknya dalam ciuman lembut yang begitu dalam. Saling memagut dan meng-hisap manisnya bibir masing masing.


"I love you Darren Constantin."


"I love you more Nirwana Zehra."


Semua yang hadir tersenyum penuh haru menatap pasangan beda ras yang saling mencintai itu. Abraham menitikkan air mata kebahagiaan. Ia adalah pengganti ayah bagi Darren dan momen tak terduga ini adalah hal yang paling membahagiakan dirinya.


"Baiklah, pesta dimulai!" seru Abraham.

__ADS_1


Para pelayan keluar membawa puluhan jenis makanan untuk dihidangkan pada para tamu undangan. Gery dan Nicole pun ikut menikmati hidangan khusus manusia untuk mereka. Abraham berdiri di tengah-tengah tamu undangan yang sedang menikmati makan malam.


"Perhatian semuanya, mari kita mengangkat gelas dengan tinggi. Kita doakan pernikahan tuan Darren dan nona Nirwana bahagia selamanya. Saling menjaga dan mencintai hingga akhir hayat. Cheers …,"


"Cheers …,"


Di Tengah euforia pesta pernikahan, tiba-tiba saja dua orang pelayan pria Darren terlempar, tubuh mereka menghempas keras meja. Tamu wanita menjerit tak terkecuali Nicole.


"Lihatlah siapa yang berbahagia hari ini!" Rachel datang dengan wajah angkuh sambil bertepuk tangan.


Wanita dengan rambut kemerahan itu berjalan menghampiri Nirwana dan Darren. "Apa kabar, Darren sayang? Akhirnya kau menemukan pengantinmu?" ejeknya sambil melirik Nirwana.


"Apa yang kau lakukan disini? Seingatku, aku tidak mengundangmu?!" Darren menyeringai, dua taring tajamnya terlihat memanjang. Ia menarik Nirwana untuk berlindung di belakang tubuhnya.


"Aku? Aku ... Hanya ingin memberimu selamat itu saja!"


"Pergi dari sini, atau aku tak segan membunuhmu Rachel!"


Keduanya saling menatap dalam kebencian. Rachel kembali menyeringai mengancam. "Cezar menginginkan istrimu! Dia memintaku membawanya ke Bukares sekarang!"


"Dia menginginkannya sekarang!" Rachel setengah berteriak dan menekan Darren.


"Suruh dia menunggu! Tiga hari lagi!"


Mata Darren berubah semerah darah, Rachel menantangnya dan bersiap melawan Darren tapi Ryan suaminya mencegah.


"Rachel!" untuk sesaat Rachel tak bergeming.


"Jangan bertindak bodoh disini Rachel! Kau tahu kekuatan klan ku bisa membunuhmu saat ini juga!" Darren mengancam.


Semua menahan nafasnya, kengerian jelas terlihat di raut wajah Gery dan Nicole. Mereka menunggu apa yang selanjutnya terjadi.


"Rachel, sebaiknya kita pergi!" Ryan kembali memanggil Rachel yang masih menatap Darren.


Para pengawal dan juga anggota klan pilihan Darren mulai mengepung Rachel dan kelompoknya. Tak main-main ditangan mereka, sebilah pedang panjang siap menebas dan menghabisi mereka dalam waktu sekejap.

__ADS_1


"Baiklah, Darren Constantin! Kau menang hari ini, tapi ingatlah pertemuan umum tidak akan memberimu kesempatan untuk menang!"


Rachel menggeser tubuh Darren untuk menatap pengantin wanita yang secantik rembulan malam.


 "Nirwana Zehra, aku harap kau menikmati malam pengantinmu! Bisa jadi itu adalah hal terakhir yang bisa kau nikmati sebagai manusia!"


Nirwana yang terancam sama sekali tak gentar, ia menatap tajam Rachel dengan ekspresi datar.


"Benarkah? Terimakasih sudah mengingatkanku. Tapi, percayalah jika itu adalah malam terakhirku sebagai manusia aku akan sangat menikmatinya bersama suamiku!"


Rachel geram, ia mengepalkan kedua tangannya. Andai tidak ada Darren, Rachel akan menarik tubuh wanita yang membuatnya iri itu dan menghisap habis seluruh darah dalam tubuhnya.


"Kau!"


"Sebaiknya kau pergi, atau …," Darren memasang badan menghalangi Rachel lagi.


Rachel menatap kesal pada Darren, ia pun segera berbalik dan meninggalkan tempat itu diikuti Ryan dan kelompoknya. Ketegangan pun memudar, semua bernafas lega. Nirwana yang kesal menenggak habis segelas wine lagi. Nafasnya memburu menahan amarah. Darren mengusap sisa wine di bibir mungil Nirwana.


"Tenanglah sayang, aku akan mengurus mereka."


"Kau memintaku tenang Darren?! Dia datang tanpa permisi dan mengacaukan pernikahan kita!" 


Darren tertawa, ia menarik tubuh istrinya dalam pelukan. "Hei, wajahmu sangat menggemaskan dengan rona merah itu sayang."


"Derren, ini masalah serius!" Nirwana mengurai pelukan Darren.


"Lalu?" dengan santai Darren merapikan rambut Nirwana yang sedikit berantakan tertiup angin malam.


"Mereka akan menculik ku! Apa kau tidak khawatir?" mata Nirwana membayang.


"Hmm, benarkah? Itu yang aku tunggu dari mereka, menculik mu!"


"Apa?!" Darren tersenyum penuh arti sementara Nirwana memasang wajah kesal.


Beraninya kau berharap hal itu Darren, malam ini kau tidur di lantai!

__ADS_1


__ADS_2