
Nirwana merasa kesepian, rumah seluas itu hanya ada Nirwana dan beberapa pelayan manusia saja yang berlalu lalang untuk melayaninya. Abraham sudah menghilang entah kemana, dari seorang pelayan diketahui ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Begitulah para vampir jika pagi menjelang. Nirwana berusaha memahami itu. Ia dihadapkan pada kenyataan bahwa mitos vampir yang selama ini hanya tertulis dalam literatur adalah benar adanya. Arkeolog cantik itu menghela nafas berat, ia tak pernah menyangka akan terlibat dalam situasi rumit.
"Nona, ini peralatan yang anda butuhkan."
Salah satu pelayan wanita meletakkan laptop baru diatas meja kerja Darren. Ia juga memberikan ponsel baru untuk Nirwana.
"Ehm, tunggu darimana kau tahu aku membutuhkannya?" Nirwana yang tak merasa memesan semua itu dibuat heran.
"Tuan Abraham yang menyiapkan segalanya nona, atas perintah tuan Darren tentu saja."
Pelayan wanita itu pun undur diri dan meninggalkan Nirwana sendirian. Sebuah kartu terselip di dalam laptop.
Nikmati harimu sayang, maaf aku tidak bisa menemani. Dari aku yang merindukanmu.
Nirwana tersenyum simpul, Darren merencanakan semuanya dengan detail. "Thanks tuan vampir kau membuatku terkesan."
Nirwana membuka layar ponselnya dan menemukan nomor ponsel Gery dan juga Nicole menjadi salah satu icon di menu utama. Arkeolog cantik itu kembali tersenyum, "Hmmm, apalagi setelah ini? Literatur buku sejarah, pengetahuan vampir atau …,"
Pintu tiba-tiba saja terbuka lebar, dua orang pelayan diikuti dua lainnya masuk ke dalam ruangan membawa tumpukan buku yang memang diperlukan Nirwana. Makanan dan juga minuman disediakan di atas troli yang masuk tak lama setelah buku-buku tersusun rapi.
Nirwana berdecak tak percaya, Darren seolah membaca pikirannya. Ia berjalan mendekati tumpukan buku dan membaca judulnya satu persatu.
"Sejarah Vampir, Cara Menghadapi Vampir, Silsilah Keluarga?" Nirwana terkekeh, "Aku tak akan membutuhkan buku ini Darren,"
Ia kembali melihat beberapa judul buku dengan tulisan kuno, matanya tertarik pada satu judul yang ditulis dalam bahasa latin kuno.
"Sanguis Lunae, bulan darah? Apa maksudnya? Ritual tertentu?"
Nirwana segera mengambil buku kecoklatan yang tebalnya hampir sama dengan kamus bahasa Jerman miliknya. Tanpa sengaja ia menyenggol buku lain hingga tumpukan buku itu terjatuh ke lantai.
"Aah, sial! Berantakan semua!"
Mata Nirwana tertuju pada buku yang terbuka, ada gambar relik kuno itu disana. Ia pun memungutnya. Rasa penasaran membuatnya meraih buku itu, dan dalam hitungan menit Nirwana sudah melupakan kesepiannya. Dengan perlahan dan teliti ia membaca dua buku yang ternyata saling berkaitan itu.
Relik kuno itu hanya bisa digunakan pada saat bulan darah. Waktu terkuat yang paling baik untuk memanggil arwah para tetua dan mentasbihkan pemimpin baru. Kedua buku itu juga menyebutkan bagaimana tata cara melakukan ritual suci klan vampir sebelum menggunakan relik kuno.
__ADS_1
Persembahan darah dilakukan sebelum membangkitkan para tetua dari masa lalu, termasuk mereka yang telah mati.
"Constantine ketujuh dan tetua lain yang mati juga bisa dibangkitkan?" gumamnya disela membaca.
Nirwana kembali membaca, disebutkan jika pemilik relik adalah penguasa mutlak dan penentu kebijakan tetua baru. "Itu berarti aku?" ia berkata lagi dalam hati.
"Tapi disini disebutkan pemiliknya adalah vampir terkuat, sementara aku manusia? Jadi mana yang benar?"
"Kau sibuk sekali!"
Nirwana menjerit, suara Darren terdengar tepat ditelinga membuatnya terkejut bukan main. "Darren, sejak kapan kau disitu!"
Darren tersenyum dan memeriksa buku yang Nirwana baca, "Hhm, sejak … kau menjatuhkan buku ini dan sejak … aku memimpikan mu dalam tidurku."
Nirwana membulatkan matanya, "Ini belum malam dan kau sudah kembali terjaga?" selidiknya hati-hati tentu saja dengan hati berdebar.
Nirwana tak ingin kecolongan lagi, Darren jelas bisa membuatnya kembali terpesona dan itu berbahaya. Melihat Darren dengan wajah tegas yang dihiasi jambang tipis dan mata biru laut yang indah dari jarak dekat saja sudah membuat jantung Nirwana abnormal.
Darren kembali mendekat, ia tak menjawab pertanyaan Nirwana. "Ini sudah sore sayang, apa kau tak menyadarinya? Lihatlah matahari bahkan mulai terbenam."
Darren menarik tangan Nirwana, membuka pintu kaca di sisi barat dan memperlihatkan indahnya senja pada Nirwana. Senja di atas deburan ombak yang menggulung indah.
"Apa kau ingin mandi? Aku rasa waktunya kita berkencan malam ini?" Darren mengerlingkan mata sebelah, menarik pinggang Nirwana ke tubuhnya yang hanya berbalut kemeja tidur tipis.
"Mandi? Tentu, aku rasa aku memerlukan sedikit …," seketika Nirwana menghentikan ucapannya, ia baru menyadari ide gila yang hampir ia ucapkan.
"Sedikit … pijatan? Dengan senang hati aku akan melakukannya sayang."
"Apa, tidak! Bukan, ehm maksudku jangan! Aku bisa mandi sendiri!" wajah Nirwana merona, ia berusaha melepaskan pelukan posesif Darren tapi vampir tampan itu tak rela melepaskannya.
"Kenapa, apa kau malu? Kita sudah melihat tubuh masing-masing bukan?" tatapan Darren sungguh membuat Nirwana salah tingkah.
Darren kembali mendekatkan wajahnya dan menatap kedua mata coklat Nirwana. "Kau membohongiku lagi,"
"Darren, kita harus bicara." Nirwana mendorong tubuh Darren, dan kali ini berhasil.
"Pernikahan?" Darren bertanya dengan tepat, Nirwana pun mengangguk.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara lain selain menikah?" Nirwana sangat berharap jika Darren akan menjawab, ada.
Darren tak menjawab ia masuk kembali ke dalam ruangan lalu duduk di sofa. "Hal yang terpenting saat ini adalah menjagamu Nirwana. Mereka tahu kau ada disini, dan mereka juga memiliki relik itu. Cepat atau lambat kau akan diperebutkan mereka. Tidak menutup kemungkinan kau akan diperlakukan bak sapi perah."
Darren berhenti menjelaskan dan menatap Nirwana tajam, "Mereka bisa mengubah mu menjadi budak darah. Selamanya bergantung pada mereka."
"Lalu?" Nirwana mendekat dan duduk disebelah Darren.
"Meski kau memiliki kekuatan sebagai pemegang relik tapi kau tidak memiliki kekuatan apa pun yang bisa melindungi mu dari mereka. Kau saat ini hanya manusia biasa."
"Tapi di buku itu disebutkan jika aku penguasa relik, maka aku juga akan memiliki kekuatan!" Nirwana menyanggah perkataan Darren.
"Hanya saat bulan darah terjadi kau bisa memakai kekuatan tanpa batas itu, tapi sebelum bulan darah terjadi kau bukan siapa-siapa!" ucapan Darren kembali mematahkan semangat Nirwana.
"Tapi buku itu …,"
"Buku itu dibuat saat kakekku dan tetua lain sebelum mengganti fungsi dan kegunaannya Nirwana. Untuk saat ini kita betul-betul tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang kita tahu hanya satu, relik itu tidak bisa tersentuh bangsa kami. Selebihnya adalah misteri."
"Lalu bagaimana mereka bisa mendapatkan relik itu jika kalian tidak bisa menyentuhnya?"
Darren berdiri berjalan mendekati tumpukan buku sebelum menoleh ke arah Nirwana yang bersandar ke meja kerja. "Budak darah, sekutu manusia lain."
Nirwana mengerutkan kening, Darren kembali melanjutkan. "Aku menduga ada orang dalam yang membantu Cesar mendapatkan relik itu. Seseorang yang mengerti tentang sistem keamanan museum, dan orang itu jugalah yang membawa relik keluar dengan selamat."
"Relik itu ada di Renndolsetra," sahut Nirwana yakin.
Darren menatap Nirwana, "Darimana kau tahu relik itu disana?"
"Hmm, aku tidak bodoh Darren. Pelacak, aku memasangnya diam-diam sebelum meletakkannya dalam kotak super tebal itu. Tadinya aku berharap jika relik itu … kau yang mencurinya, maaf."
Darren tertawa mengingat ekspresi wajah Nirwana saat ia menyelinap di kamarnya malam itu, ia mendekati wanita cantik dalam balutan mini dress berwarna salem yang menunjukkan keindahan lekuk tubuhnya. Meraih pinggangnya untuk mendekat padanya.
"Kau menggemaskan sekali, diam-diam merindukanku tapi kau selalu menolaknya."
Sial, ada apa dengan vampir satu ini? Dia selalu membuatku … enthusiastisch! (Bergairah!)
Darren berbisik, "Aku harus menghukummu untuk itu, aku vampir sopan yang tidak seenaknya mencuri sayang."
__ADS_1
Menghukum? Tunggu aku curiga dengan kata itu, apa dia akan menggigitku lagi dan … oh tidak!