An Ancient Relique

An Ancient Relique
It's Show Time


__ADS_3

Cezar Ferdinand berada di kamarnya saat Rachel dan Ryan datang memberikan kabar terbaru Darren. Mereka kembali dengan kabar yang membuat Cezar murka.


"Beraninya anak itu kembali mengulang kesalahan yang sama!" teriaknya lantang.


"Sepertinya dia sengaja melakukan hal itu untuk memprovokasi kita." sahut Ryan yang menambah emosi Cezar.


"Orangtuanya telah menodai kemurnian keluarga Constantin dan kini putra bodohnya juga melakukan hal yang sama! Sepertinya pengusiran dan penghinaan pada mereka tidak membuat jera keturunannya!"


"Sudah sepantasnya kita menghukum keluarga Constantin atas penghinaan pada klan vampir!" Ryan semakin memanaskan hati Cezar.


"Masalahnya jika wanita itu adalah benar pemilik sah relik kuno maka Darren akan menjadi pemimpin kita." Rachel menambahkan bumbu.


"Tidak! Tidak jika kita membunuh wanita itu. Tak ada satupun keluarga yang bisa mendapatkan relik selain keluarga Vasile!" Cezar menegaskan dan itu membuat Rachel dan Ryan tersenyum. 


Keinginan mereka menguasai bangsa vampir tinggal menunggu waktu saja. Seorang prajurit berpakaian hitam elegan masuk ke dalam ruangan Cezar.


"Pertemuan umum siap dilaksanakan tuan."


"Bagus, jangan ada kesalahan lagi. Darren dan wanita itu harus masuk dalam jebakan kita. Mereka harus dihukum mati atas pengkhianatan berulang!" 


"Baik, tuan!" Prajurit vampir itu pun pergi menjalankan tugas sesuai perintah Cezar.


"Aku tak sabar lagi untuk melihat wajahnya mengiba padaku memohon ampun."


"Apa kita akan menggunakan strigoi?" tanya Rachel.


"Tentu saja, aku ingin melihat sejauh mana kemampuan Darren melindungi pemilik relik itu. Kita lihat apakah dia bisa mengalahkan makhluk mengerikan itu!" seringai licik Cezar menghiasi wajah pucatnya.


...----------------...


"Ayolah sayang, aku hanya bercanda!" seru Darren yang kini tengah merayu istrinya di dalam kamar.


Nirwana masih kesal dengan kata-kata Darren yang mengharapkannya diculik. "Belum sehari kita menikah dan kau mau melepas ku pergi! Ini sangat tidak bisa aku percaya!" 


"Dengar dulu penjelasanku sayang, ini hanya siasat!"


"Siasat katamu? Aku menangkapnya sebagai caramu untuk mengubah status menjadi duda tampan!" Nirwana menepis tangan Darren yang ingin mengusap pipinya.


Darren tersenyum, "Apa salahnya menjadi duda tampan sayang, itu gelar yang cukup keren juga."


Sontak Nirwana membelalak, dan semakin kesal. "Kau!"

__ADS_1


Nirwana merajuk, ia meninggalkan Darren dan pergi keluar. Ia tak peduli meski Darren terus memanggil namanya. Nirwana melewati Abraham yang juga kebingungan saat melihat pasangan pengantin baru itu.


"Ada apa dengan mereka? Harusnya malam ini dilewati dengan indah bukan?" Abraham bertanya pada salah satu pelayanan yang menggelengkan kepala.


"Hmmm, mungkin mereka ingin berolahraga sebentar sebelum … aah, lupakan!"


Abraham kembali sibuk dengan pekerjaannya dan hanya menggelengkan kepala saat tuannya, Darren berlari melewatinya begitu saja.


"Anak muda sekarang sulit dimengerti bukan?" gumamnya geli.


Nirwana berhenti di tepian tebing. Menikmati suara deburan ombak yang menenangkan. Ia tak peduli dengan udara dingin menggigit. Nirwana butuh ketenangan untuk merilekskan pikirannya yang kacau. Darren membuatnya kesal.


"Kau bisa membeku disini sayang." Darren menutupi tubuh Nirwana dengan coat tebal berbulu. 


Darren sempat meraihnya saat tahu kemana tujuan Nirwana yang sedang kesal padanya. Nirwana tak bergeming, ia masih diam menatap jauh ke depan. Di langit, bulan menampakkan cahaya indahnya meski belum sempurna.


"Dua hari lagi bulan darah tiba," Darren menatap ke arah bulan.


"Pertemuan umum dilakukan tepat saat bulan darah." Darren menoleh pada Nirwana yang masih tak peduli padanya.


"Saat itu, untuk kali pertama … kau akan mendapatkan kekuatanmu."


Darren akhirnya mendapatkan perhatian Nirwana. "Bulan darah? Apa yang dimaksud gerhana bulan total?" Darren mengangguk.


Nirwana kembali bertanya, ia merapatkan Coat tebal mengusir hawa dingin yang mulai membuatnya tak nyaman. "Kau ingin menjadi pemimpin?"


Darren tersenyum, di bawah cahaya rembulan wajah pucat Darren terlihat begitu tampan dengan mata kemerahan dan sepasang taring kecil yang mencuat. Darren selalu berubah saat terkena sinar bulan. 


"Dulu aku menginginkannya untuk membalas kematian kakek dan penderitaan ibuku. Tapi sekarang aku hanya ingin menjagamu. Tak ada yang lebih berharga selain dirimu." Darren meraih kedua tangan Nirwana dan menciumnya lembut.


"Benarkah? Kau tak ingin kekuasaan, aku pemegang relik, aku juga yang bisa memutuskan siapa pemimpin mereka bukan?" 


"Ya, kau benar tapi tujuanku telah berubah sayang. Aku hanya ingin bersamamu. Tak peduli dengan dinasti vampir yang membuatku muak." ujar Darren meyakinkan.


"Lalu kenapa kau datang ke pertemuan itu? Menunjukkan pada mereka bahwa kau memiliki aku?"


Darren mengusap pipi Nirwana yang mulai terasa dingin. "Tidak, aku hanya ingin memberi mereka sedikit pelajaran. Selama ini mereka menindas ku, menganggap ku sebagai keturunan campuran yang menjijikkan. Aku hanya ingin menunjukkan pada mereka bahwa aku yang menjijikkan ini bisa menjadi seseorang yang mereka hormati."


Nirwana menatap mata Darren, ada kesedihan dan dendam disana. "Kalau begitu, aku akan membantumu."


Darren memeluk Nirwana dengan erat, "Aku tahu sayang, kau akan membantuku. Kita ditakdirkan untuk bersama."

__ADS_1


"Tapi kenapa kau berharap mereka menculik ku!" protes Nirwana lagi, ia masih tak terima dengan ucapan Darren.


Darren tertawa kecil, "Ini hanya lelucon kecil sayang, mana mungkin aku membiarkan kau diculik. Kau milikku dan aku akan selalu melindungimu dengan cara apa pun!"


Darren menaikkan dagu Nirwana dan memberinya kecupan lembut di bibir. "Kau kedinginan, lebih baik kita masuk sebelum tubuhmu membeku."


"Aku rasa begitu, aku butuh coklat hangat."


"Bagaimana dengan sedikit permainan Uno yang menggairahkan?" bisik Darren sensual.


Nirwana tergelak, "Uno? Itu ide bagus, jika kau kalah kau harus …,"


"Tetap mengalah untukmu," sambung Darren.


"Aku suka itu, bawa aku kedalam cepat. Rasanya sudah tidak sabar." pinta Nirwana yang mulai menggoda suaminya.


"Gern geschehen meine Süße!" (Dengan senang hati, sayang!)


...----------------...


Para pemimpin klan beserta rombongan telah hadir memenuhi ruangan luas dengan atap terbuka. Kelima tetua juga sudah hadir dan duduk di tempatnya masing-masing. Relik kuno ditempatkan tak jauh dari Cezar.


"Dimana Darren?" bisiknya pada Ryan.


"Tak ada informasi jelas darinya, apa perlu aku mengutus salah satu anak buahku?"


"Huh, tidak! Aku tak peduli meski dia datang atau tidak! Malam ini seorang pemimpin baru harus disahkan. Bersiaplah Ryan, kau harus menjadi Raja!"


Cezar memberi kode pada pria aneh bertudung coklat. Pria aneh itu mengangguk lalu berjalan ke tengah. Gumaman terdengar menggema saat pria aneh itu berdiri.


"Malam ini, kita semua berkumpul di bawah sinar bulan darah! Kita akan memilih pemimpin baru yang akan membawa kejayaan bangsa vampir kembali!"


Pria itu berhenti sejenak menatap satu persatu perwakilan keluarga yang hadir.


"Fiera, Vasile, Balan, Gheorghe, empat keluarga telah berkumpul disini …,"


"Kau lupa menyebutkan Constantin, Shaun!" seru Darren dengan lantang.


Darren berjalan dengan penuh keyakinan, disampingnya ada Nirwana yang terlihat begitu memukau dengan gaun hijau lembutnya. Lynch dan Steven ksatria pelindung Darren berjalan di belakangnya diikuti puluhan kesatria dari keluarga Constantin.


Semua mata memandang ke arah Darren dan Nirwana, suara gumaman kembali terdengar. Kehadiran Nirwana membawa aura tak biasa yang menekan para vampir yang hadir disana. Bulan darah mulai terbentuk, Nirwana menatap ke atas sejenak sebelum tersenyum dan menoleh ke arah Darren. 

__ADS_1


"Ayo kita beri mereka pelajaran sayang!" 


 


__ADS_2