An Ancient Relique

An Ancient Relique
Cinta = anti-Iritasi


__ADS_3

Setelah mandi dan sarapan yang kesiangan, Nirwana berjalan jalan di taman bunga yang terletak di bagian belakang rumah Darren. Labirin yang terbuat dari tanaman perdu di tengah taman cukup menarik perhatian Nirwana. Ia pun bertanya pada salah satu pelayan yang diutus Abraham untuk menemaninya.


"Bentuk yang unik, kenapa ada labirin disini? Apa kau tahu?"


"Maaf nona, saya juga kurang paham kenapa tuan Darren menginginkannya. Tapi sesekali tuan Darren melatih kekuatannya dengan masuk ke dalam labirin buatan ini."


Sang pelayan menjawab dengan ramah dan sopan layaknya seorang petugas hotel yang melayani tamu, Nirwana pun menahan tawa.


"Bisakah kau menjawab seperti biasa saja, ini terdengar menggelikan."


Pelayan itu tersenyum dan membungkukkan sedikit badannya layaknya menghormat ala bangsawan jaman kerajaan. "Maaf nona, saya tidak berani melakukannya. Apalagi nona adalah calon istri tuan Darren."


"A-apa katamu? Calon istri, siapa yang mengatakannya?"


"Tuan Abraham sendiri, beliau mendapatkan perintah langsung dari tuan Darren agar kami menjaga calon istrinya dengan baik."


Vampir sialan! Kapan aku bilang mau jadi istrinya, tidur denganku semalam bukan berarti aku tunduk padamu tuan vampir!


Nirwana menahan geram, Darren terlalu jauh mengartikan perbuatan mereka semalam. Memutuskan menikah bukan perkara mudah bagi Nirwana, apalagi Darren seorang vampir!


Nirwana tak pernah membayangkan akan bersuamikan vampir. Berhubungan dengan manusia saja sulit apalagi dengan vampir yang jelas berbeda ras. Ayah dan ibunya pasti akan shock mendapati calon menantu mereka adalah vampir. Bisa dipastikan sehari semalam sang ibu akan mengomel panjang lebar padanya.


Meskipun ibu Nirwana terbiasa menghadapi makhluk dari kegelapan tapi jika seorang vampir diperkenalkan sebagai calon menantu, bisa dipastikan ibunya akan menolak. Tapi entahlah terkadang takdir berjalan tak sesuai dengan harapan bukan? Siapa yang bisa menebak jodoh kita sendiri?


Nirwana tak ingin berlama lama di taman, mood-nya jelek seketika mendengar kata calon istri. Dia belum siap menikah, apalagi dengan vampir. 


Nirwana kembali ke dalam rumah, Darren benar kaca-kaca besar di rumahnya telah dirancang sedemikian rupa dan menghalangi sinar matahari masuk ke dalam tiap ruangan. Meski siang hari, tapi di dalam rumah cahaya tetap redup sehingga lampu di beberapa sudut tetap dinyalakan.


Abraham menghampirinya dengan senyuman, "Apa anda menikmati jalan-jalan di taman nona?"


"Ehm ya dan tidak." jawab Nirwana tegas.


Abraham mengerutkan kening lalu berjalan mengikuti Nirwana. 

__ADS_1


"Bolehkah aku bicara sebentar denganmu Abraham … berdua?" Nirwana memberi kode pada Abraham agar pelayan laki-laki yang tadi menemuinya tidak mengikuti mereka.


Abraham mengangguk dan tanpa banyak bicara pelayan itu pun pergi. "Kita bisa bicara di ruangan kerja tuan Darren."


Abraham membawa Nirwana menyusuri koridor rumah dengan hiasan kaca besar. Nirwana dibuat takjub dengan hiasan yang begitu indah. 


"Tuan Darren yang merancangnya sendiri nona." Abraham sepertinya memahami rasa penasaran Nirwana sehingga ia menjelaskan tanpa perlu diminta.


Sesampainya diruangan Abraham dan Nirwana duduk berseberangan, secangkir teh hangat telah disediakan pelayan Darren.


"Saya yakin ada yang ingin anda ketahui nona, dan saya siap untuk menjawabnya."


"Hhm, apakah semua pelayan disini bersikap formal seperti anda tuan Abraham?" Nirwana terkekeh geli, dan Abraham tersenyum menanggapi pertanyaan arkeolog cantik didepannya.


"Baiklah, aku hanya ingin memastikan keselamatan ku disini. Mengingat … semua yang ada disini adalah vampir." ujar Nirwana merendahkan suaranya.


Lagi-lagi Abraham tersenyum, pria paruh baya dengan jenggot dan kumis tebal dan berkacamata itu pun menjawab. 


Nirwana cukup terkejut dengan pernyataan Abraham, asisten pribadi Darren itu kembali menerangkan.


"Tuan Darren lebih suka menyebut mereka dengan para pekerja, sedikit lebih manusiawi ketimbang budak darah untuk era sekarang."


"Manusia? Bukankah itu berbahaya, maksudku kalian bangsa vampir pasti ingin menggigit, makan dan meminum darah manusia bukan?"


Abraham terkekeh, "Tuan Darren memiliki aturan ketat nona, kami yang bekerja padanya tidak boleh sembarangan memangsa manusia. Kami hanya diperkenankan berburu satu kali dalam setahun itu pun tidak diperbolehkan membunuh. Kami hanya mengambil sedikit darah manusia untuk menjaga insting kami."


"Wow, cukup mengejutkan. Rupanya Darren sangat ... bijaksana."


"Itu karena darah manusia yang diwarisinya nona. Tuan Darren adalah vampir campuran, vampir anakan yang darahnya dibenci vampir murni."


"Kau serius Abraham, Darren memiliki darah manusia? Bagaimana mungkin?"


"Ya nona, ibu tuan Darren adalah manusia dan tuan Darren adalah seorang Dhampir. Setengah manusia setengah Vampir. Dia bisa terluka, berdarah, makan, minum layaknya manusia tapi dia juga memiliki kekuatan layaknya vampire." Abraham menjelaskan.

__ADS_1


Nirwana termenung sesaat, Darren seseorang Dhampir ini hal yang baru diketahui Nirwana. Selama ini ia hanya tahu semua vampir sama.


"Apa dia juga memiliki kelemahan sama seperti vampir pada umumnya?"


"Ya, tentu saja. Tuan Darren memiliki kelemahan dan juga kekuatan yang sama dengan vampir murni hanya saja dia sedikit istimewa. Darah Dhampir bisa membunuh vampir murni. Hanya sedikit saja terkena darah Dhampir, tubuh vampir murni akan meleleh dan mati perlahan."


Nirwana tercengang, "Mengerikan sekali, jadi darahnya mematikan bagi kaum vampir lain?"


"Betul nona, itu sebabnya Cesar begitu membenci tuan Darren. Meski secara kekuatan tuan Darren layak memimpin klan vampir tapi secara keturunan tuan Darren tidak akan bisa mengubah aturan kuno para tetua."


"Maksudmu? Darren tidak bisa memimpin karena dia bukan berdarah murni vampir?"


"Tepat sekali nona, dan sayangnya relik kuno sebagai penguat statusnya kini tak bisa disentuh. Hanya nona saja sebagai yang terpilih yang bisa menyentuh dan menggunakan kekuatan besarnya."


Nirwana terdiam sesaat, kini dia semakin mengerti mengapa dirinya menjadi incaran para vampir gila itu. Pantas saja Darren membawanya ke rumah besar keluarga Constantin. Semua demi keselamatan dirinya. 


"Ehm, ini tentang pelayan manusiamu. Apa kau yakin mereka tidak akan menjadi sasaran vampir lain?"


"Tentu saja kemungkinan itu ada nona. Setiap pelayan kami memiliki tanda keluarga Constantin, mereka akan segera diketahui jika diserang. Sejauh ini tak ada yang berani menyerang mereka."


"Bagaimana denganku Abraham? Apa jaminanku aman disini?"


Abraham tersenyum, ia kembali menuangkan teh ke dalam cangkir Nirwana. "Anda ditakdirkan menjadi pemilik relik. Ini akan sangat sulit mengingat relik itu diperebutkan semua klan."


Abraham menjeda kalimatnya lalu menatap Nirwana dengan wajah serius. "Satu satunya jalan untuk menghindarkan anda dari buruan klan lain hanya dengan menikahi tuan Darren."


Nirwana tersedak, "Apa?! Menikah?!" 


Abraham mengangguk pelan, "Dengan menikahi tuan Darren tak ada yang bisa menyentuh anda nona. Kalian secara otomatis terikat hukum bangsa vampir. Kau akan aman dalam perlindungan keluarga Constantin."


Nirwana mengerjap tak percaya, bukankah seharusnya pernikahan itu didahului masa pacaran atau setidaknya Darren melamarnya dulu sebagai tahap awal. Bagaimana bisa tiba-tiba saja ia menikah dengan Darren? Ini bukan zaman Victoria dimana bangsawan bisa memilih seenaknya saja pasangan tanpa rasa cinta.


Tunggu cinta? Aku rasa, aku memiliki sedikit rasa itu. Tidak banyak memang, belum. Jika tidak ada rasa cinta bagaimana mungkin aku semalam bisa bercinta dengannya, karena aku sendiri tidak merasa gatal-gatal saat menikmati sentuhan Darren … ups!!

__ADS_1


__ADS_2