
Nirwana dengan susah payah menelan makanan yang disediakan pelayan Darren. Bukan karena rasanya tidak enak tapi ia makan di bawah tatapan Darren yang tak berkedip. Nirwana dibuat salah tingkah, setiap detail gerakannya selalu diperhatikan vampir tampan dengan jambang dan kumis tipis itu.
"Darren!" Nirwana menggertak Darren dan meletakkan pisaunya dengan keras di meja.
"Apa, kau tidak suka makanannya? Abraham bisa menggantinya untukmu, A …,"
"Stop!" Nirwana menghentikan teriakan Darren, "Bukan makanannya tapi kau!"
"Aku, apa yang salah denganku?"
"Ya Tuhan!" Nirwana mengurut keningnya lalu menghela nafas, "Bisakah kau berhenti menatapku? Bagaimana aku bisa menelan makanan jika kau terus terusan menatapku tanpa berkedip!"
"Salahku dimana? Aku baru kali ini melihat seorang wanita makan dengan lahapnya seperti orang kelaparan. Selera makanmu luar biasa sekali sayang." sahutnya enteng sambil meminum darah dari gelasnya.
Nirwana menatap tak percaya pada Darren, ia kesal karena Darren menyindirnya tentang selera makan. "Hei siapa yang membuatku kehilangan begitu banyak darah?! Kau lupa itu, aku harus banyak makan untuk mengembalikan energi ku. Kau sendiri yang bilang, tapi kau …,"
Kalimat gerutuan Nirwana terhenti saat ia merasakan benda lembut dan dingin menempel di bibirnya. Menggigitnya sedikit lalu melu-matnya perlahan. Nirwana menikmatinya, sensasi lembut dan dingin. Rasanya seperti memakan es krim dengan sedikit asin dan aroma karat yang membuatnya … berhasrat nakal.
Cara Darren memperlakukannya begitu manis, meski itu mengganggu selera makannya tapi Nirwana menikmatinya. Ia bahkan tak tahu bagaimana ia bisa bertukar posisi dan berada diatas pangkuan Darren. Keduanya tangannya bergerak tanpa menunggu perintah menekan kepala Darren agar semakin memberinya ciuman dalam yang dirindukan.
"Jangan mengomel lagi, kau semakin cantik saat marah dan itu membuatku semakin bernaf-su untuk memakan mu." Darren mengusap bibir Nirwana yang memerah akibat ulahnya.
"Kau mencuri ciuman lagi tuan Darren," balasnya dengan senyuman.
"Benarkah? Kau yang memulainya sayang, haruskah kita mengulanginya lagi? Aku dengan senang hati melakukannya untukmu, atau kau … menginginkan hal lain, maksudku memakan hal lain?" kerlingan Darren membuat wajah Nirwana memerah.
Darren membuat hatinya hangat, berlama lama di pangkuan Darren membuat otak mesumnya bekerja cepat apalagi sesuatu dibawah sana berkedut hangat dan membuatnya malu tapi juga mau.
"Darren, jangan memikirkan sesuatu yang lebih dari ini!" Matanya membulat sempurna, bibirnya berkata tidak tapi hatinya berkata, 'Aku menginginkanmu!'
Nirwana terlalu naif dengan memungkiri keinginannya. Darren membuatnya gila, vampir tampan ini sungguh menggiurkan untuk sekedar berciuman. Apalagi tangan Darren mengusap lembut punggungnya naik turun seperti aliran darahnya yang seenaknya berfluktuasi tak jelas.
"Tuan," suara Abraham membuat Nirwana terkejut, ia hendak berdiri tapi Darren justru mempererat pelukannya dan menahan agar tetap berada di pangkuannya.
"Ada apa Abraham?"
"Utusan dari Bukares datang."
"Ccck, menggangguku saja! Baiklah suruh dia menunggu!"
Abraham mengangguk lalu segera pergi. Nirwana yang masih duduk di pangkuan Darren menatapnya penuh tanya.
"Tenanglah sayang, mereka orang-orang ku. Kau pergilah ke kamar dan beristirahat lah, atau masih ingin makan sesuatu?"
__ADS_1
"Makan? Tidak aku perutku sudah cukup kenyang apalagi …,"
Uups! Hampir saja Nirwana kelepasan bicara. Sebenarnya tadi ia ingin mengatakan bahwa ciuman Darren adalah dessert ternikmat dan termanis sebagai penutup makan malam.
Pikiran gila Nirwana sudah melambung tinggi membayangkan sentuhan yang lain, ia tak menyadari jika Darren memperhatikan Rina kedua pipinya yang kini pasti semerah udang rebus.
"Otak mesum!" Darren menyentil kening Nirwana menyadarkan sang arkeolog agar menjejak bumi.
"Pergilah, dan tunggu aku dikamar!" titah Darren tegas.
"Hei jangan seenaknya saja memerintahkan tuan Darren aku bukan budakmu!" protes Nirwana yang dibalas kecupan singkat di bibirnya.
"Pergilah," bisiknya lembut.
Setelah saling menatap dalam, Nirwana turun dari pangkuan Darren dan pergi mengikuti perintah sang Vampir.
"Gadis pintar, aku semakin menyukainya!" gumam Darren lirih, senyumannya berubah saat utusan dari Bukares menghampirinya.
Wajah Darren berubah dingin dan datar. Ia menatap tajam utusan Bukares yang membawa titah Cesar.
"Tetua mengirimkan undangan untukmu," lelaki muda dengan rambut pirang sebahu mendekat menyerahkan gulungan berwarna coklat.
Darren tak bergeming untuk sesaat dan masih menatap utusan itu. "Mereka mendapatkan relik itu bukan?"
Darren melirik ke arah gulungan lalu meraih dan membacanya. Tulisan dalam bahasa latin kuno itu jelas menggarisbawahi jika Darren harus membawa Nirwana bersamanya. Pertemuan umum itu akan diadakan tepat saat malam purnama tiba, dua Minggu dari sekarang.
"Katakan pada Cesar, aku akan datang tepat waktu!"
Utusan itu membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan Darren tanpa banyak bicara. Abraham mendekat menanti perintah tuannya.
"Mereka tahu aku memiliki Nirwana, ia dalam bahaya jika aku membawanya ke pertemuan itu."
"Lalu apa rencana tuan?"
Darren terdiam sejenak, satu satunya jalan untuk menyelamatkan Nirwana dari incaran klan lain hanya menikahinya. Ide gila yang terlintas begitu saja. Ia menatap Abraham, "Apa ada ide?"
"Menikahinya tuan. Saya pikir itu yang terbaik. Atau jika memang sulit jadikan nona Nirwana budak darahmu. Mereka tidak akan berani mengganggu nona."
Pikiran Abraham sejalan dengan Darren, tapi itu bukan perkara mudah. Nirwana belum tentu setuju dengan ide gila ini.
"Bagaimana jika dia menolak?"
Abraham tersenyum, "Tidak jika tuan mendekatinya dengan perlahan. Saya lihat nona Nirwana juga menyukai tuan."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Apa tuan juga menyukainya?" selidik Abraham meski ia tahu jawabannya.
Abraham tahu persis sifat tuannya sejak lahir, Darren sedang jatuh hati.
Ditanya begitu Darren hanya tersenyum, ia memang tertarik pada arkeolog cantik itu. Kecerdasan, kecantikan, yang dipadu dengan kekerasan hati membuatnya ingin selalu ada di dekatnya. Apalagi pengorbanan Nirwana sebagai manusia biasa begitu besar padanya. Tiba-tiba saja Darren merindukan Nirwana.
"Persiapkan segalanya dengan baik Abraham, aku akan mengurus wanitaku." Darren bergegas pergi.
Abraham menggelengkan kepala dan tersenyum, "Akhirnya rumah ini memiliki warna kembali."
Sementara itu di dalam kamar kamar, Nirwana gelisah bukan main. Perintah Darren untuk menunggunya di kamar membuat jantungnya berdetak tak karuan. Tangan dan kakinya mulai berkeringat. Ia gugup.
"Aku tidak salah dengar kan, menyuruhku menunggu? Ini gila, ada apa dengan jantungku? Apa kehilangan kesadaran juga membawa pergi kewarasanku?"
Nirwana berjalan mondar mandir di dalam kamar. Ia menggigit bibir bawahnya, menyentuh keningnya dengan frustasi. Sungguh lututnya terasa gemetar tak sanggup menopang tubuhnya.
"Ich bin verrückt, was ist los mit mir!" ( Aku gila, ada apa denganku!)
Terdengar suara langkah kaki yang menggema di lorong, jantung Nirwana semakin kencang berdetak.
"Itu pasti dia, ayolah kita harus bekerja sama hai tubuh mungilku!"
Dengan berjingkat, Nirwana berpura-pura tidur. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas dada dengan posisi memunggungi pintu masuk. Semakin dekat suara langkah kaki semakin keras pula degupan jantungnya.
"Apa kau tidur sayang?"
Mati aku!
Nirwana mengumpat dalam hati, ia benar-benar tak bisa mengontrol dirinya. Ciuman panas di ruang makan tadi sungguh membuatnya merinding setengah mati dan kini Darren kembali ke kamarnya. Nirwana merasakan tubuh Darren naik ke atas ranjang dan ikut menyusup dalam selimut.
"Aku yakin kau belum tidur sayang, aku bisa mendengar suara jantungmu berdetak … sangat cepat," hembusan nafas Darren di telinga terasa meremangkan bulu halus di tubuh Nirwana.
Aku mohon jangan lakukan itu lagi! Sekali lagi kau berbisik aku sangat yakin tubuhku akan berkhianat Darren!
"Sayang," Darren mengecup lembut tengkuk Nirwana.
Sang arkeolog muda itu bagai tersengat aliran listrik, ia membuka matanya perlahan. Darren sepertinya menekan panic button di tubuh Nirwana. Wanita cantik itu menggigit bibirnya lagi, dan pertanyaan bodoh pun terlintas pikirannya.
Aku benci situasi ini, jika berduaan yang ketiga adalah setan lalu bagaimana dengan situasi ku?
Apa berduaan dengan vampir yang ketiga juga setan? Vampir bagian dari kegelapan, jadi siapa yang ketiga?
__ADS_1