An Ancient Relique

An Ancient Relique
Aku Membencimu!


__ADS_3

Pagi di hutan Hoia Baciu tidak seperti pagi di hutan sub tropis pada umumnya. Sinar matahari terhalang tabir tipis tak kasat mata hingga tidak bisa sepenuhnya menembus kedalaman hutan. Kabut tipis masih enggan hilang meski matahari mulai merambat naik.


Nirwana masih lelap dalam tidurnya saat terjadi keributan di luar tenda. Tim yang tersisa kebingungan karena delapan mayat yang sedianya akan diangkut pulang menghilang. Tak seorang pun tahu kemana perginya jasad tak bernyawa itu. Para penjaga yang ditugaskan semalam juga tidak mengetahui sejak kapan mayat-mayat itu menghilang.


"Profesor Nirwana!"


Nirwana yang masih memeluk mimpi tak mendengar teriakan Gery. Asisten kepercayaan Nirwana itu masuk ke dalam tendanya dengan panik, ia kembali berusaha membangunkan Nirwana dari tidurnya.


"Profesor! Sesuatu telah terjadi!"


Dengan malas Nirwana menggeliatkan tubuhnya, "Ada apa Gery? Kau mengganggu tidurku, aku butuh tidur sebentar lagi saja." Nirwana hanya membalikkan tubuh dengan mata terpejam. 


"Mayat tim kita menghilang!"


"Apa?!"


Gadis cantik berambut coklat itu sontak terbangun dan segera keluar tenda. Diluar, tim dan kru pendukung saling memandang dan berbisik.


"Apa yang terjadi?"


"Entahlah nona, saat kami terbangun tadi pagi mayat-mayat itu sudah menghilang. Tak ada satupun dari kami yang tahu bagaimana ini bisa terjadi." salah satu kru menjawab dengan wajah bingung.


"Kalian yakin berjaga dengan baik semalam?" Nirwana menatap satu persatu para penjaga yang bertugas dan semuanya mengangguk.


"Ehm, sebenarnya semalam kami semua terlelap tidur. Padahal biasanya kami semua bisa terjaga sampai pagi." penjaga yang lain mengaku ada kabut aneh yang datang dan membuat mereka terlelap tidur.


Nirwana mengerutkan dahi, ibunya dulu pernah bercerita tentang mantra penidur yang sering digunakan penyihir atau sejenis makhluk gaib untuk melancarkan aksinya. Tapi itu di tanah kelahiran Nirwana, ia tak yakin hal yang sama juga digunakan di negeri seperti Rumania. Meski ia tahu jika di Rumania ada beberapa kota yang dikenal dengan julukan kota penyihir.


"Sudahlah, semuanya sudah terjadi dan kita tidak bisa berbuat banyak. Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum malam tiba."


Mereka pun menjalankan perintah Nirwana, dalam waktu singkat seluruh tenda dan peralatan telah siap dimasukkan ke dalam mobil pengangkut barang. Nirwana menatap kastil yang runtuh itu untuk terakhir kalinya. Bayangan wajah Darren tiba-tiba saja melintas.


"Ccck, kenapa aku mengingatnya! Lupakan Nirwana, lupakan lelaki tampan sedingin es itu!"


Ia pun bergegas meninggalkan lokasi menyusul yang lain. Dari balik pohon oak, Darren mengulas senyum. Sedari tadi ia sengaja bersembunyi di sisi gelap hutan hanya untuk memandang Nirwana. Ia bahkan rela meninggalkan kamar dan jam tidurnya demi melihat wanita si pencuri hatinya.


Nirwana dan timnya tiba di Bukares setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan. Mereka beristirahat di hotel yang sudah dipesan khusus dari lembaga penelitian. Lusa, Nirwana dijadwalkan untuk menyerahkan relik dan juga laporan penelitian.

__ADS_1


"Letakkan kotak kayu itu di kamarku, Nicole!" perintah Nirwana pada dua orang lelaki bertubuh tegap, diiringi anggukan sang asisten.


"Nicole apa kau dan Gery sudah menyiapkan laporan penelitian?"


"Kami akan menyelesaikannya hari ini profesor."


"Bagus, ehm … bagaimana lukamu?"


"Tidak pernah lebih baik dari ini prof. Kau bisa mengandalkan ku!"


Nirwana tersenyum, ia kembali menuju kamar. Sesuatu yang menggelitik di tubuhnya rasanya sedikit mencurigakan. Rasa panas dan gatal sedari tadi ia rasakan. Sepanjang perjalanan ke Bukares, tubuhnya semakin tak karuan. Ia merasa demam dan tak enak badan.


Nirwana memutuskan untuk berendam air hangat, berharap dengan berendam tubuhnya terasa lebih baik. Tapi ternyata pilihannya juga salah, bukan semakin baik tapi justru terasa semakin panas.


"Apa yang terjadi denganku? Demam, atau … tunggu dulu?!"


Nirwana mengingat sesuatu, ia keluar dari bathtub dan memperhatikan dirinya di cermin. Ia kembali mengingat ciuman liarnya bersama Darren sebelum relik itu ditemukan. Dengan tangan gemetar Nirwana meraba lehernya, ia mendekatkan diri ke cermin memperhatikan dengan seksama dua lubang kecil yang terlihat kemerahan.


"Ini?! Darren, jangan-jangan dia …," matanya membulat sempurna, ia menggosok luka kecil itu dengan jemari lentiknya.


Suara Nirwana bergetar, otaknya mulai berasumsi liar dengan luka menyerupai gigitan itu, dari kemungkinan terburuk jika Darren adalah vampir hingga kemungkinan normal lain seperti gigitan serangga.


Nirwana menyambar bathrobe, memakainya asal, tangannya gemetar, ingatannya kacau. Ia berusaha menghubungi Gery, dan berharap apa yang ia pikirkan salah.


 "Gery, apa yang kau dapat dari Constantine!"


"Constantine? Aah, ya aku lupa memberitahukan padamu. Hasil temuan sudah di kirim ke kamarmu ada di meja, profesor."


Tanpa berpikir panjang Nirwana melemparkan ponselnya ke ranjang dan meraih kertas yang tergeletak di atas meja. Ia membacanya dengan cepat, dan kemudian … memaki dirinya sendiri.


"Sial, bodoh! Bagaimana aku tidak menyadarinya! Dia mengaku jika Constantine adalah leluhurnya? Wah, hebat sekali tuan Darren!" 


Nirwana kembali membaca ulang hasil temuan Gery, nama Constantine tercatat sebagai salah satu dari lima klan vampir yang dipercaya pernah hidup pada zamannya. Lima klan terbesar Fiera, Constantine, Vasile, Balan dan Gheorghe.


"Verdammt, Mann mit Eisblock! Du hast mich reingelegt!" (Sialan kau lelaki bertubuh es balok! Kau menipuku!)


"Argh, aku membencimu Darren! Aku membencimu!" Nirwana mengumpat Darren meluapkan emosinya. "Aku tidak akan memaafkan mu Darren!"

__ADS_1


Hari presentasi pun tiba, Nirwana dan timnya sudah siap dengan laporan penelitian dan juga relik kuno yang tersimpan dalam peti kayu. Museum Nasional Sejarah Rumania mempersiapkan ruangan presentasi khusus untuk Nirwana dan timnya. 


Berita penemuan relik kuno itu menyebar cepat, banyak pihak yang memberikan penawaran luar biasa untuk relik kuno penemuan Nirwana. Mereka juga ada yang berniat memberikan dana pengembangan penelitian lanjutan untuk Nirwana, menyokong semua kegiatan Nirwana dan timnya asalkan relik kuno itu bisa jatuh ke tangan mereka.


"Profesor, apa kau baik-baik saja?" Nicole berbisik pada Nirwana saat melihat penampilan Nirwana yang sedikit berbeda.


"Yup, aku baik-baik saja Nicole. Jangan khawatir." sahut Nirwana tanpa berpaling.


"Kau yakin?" Nicole menatap Nirwana dari ujung kaki sampai rambut. 


Syal bermotif cantik, kacamata hitam, setelan baju hitam yang memadukan celana panjang dan kemeja sungguh diluar kebiasaan Nirwana. Ia tak pernah memakai celana panjang setiap presentasi, ini benar-benar diluar kebiasaan dan pakaian hitam? Itu melanggar aturan Nirwana yang anti Women in Black.


"Kau selalu menutupi lehermu dari kemarin, apa kau sehat profesor? Aku sungguh khawatir,  jika kau sedang tidak enak badan biarkan aku dan Gery yang menggantikan mu." ujar Nicole lagi.


"Tidak, aku baik-baik saja dan aku sendiri yang akan melakukan presentasi!" kali ini Nirwana menjawab tegas, Nicole dan Gery hanya saling memandang.


Sejujurnya Nirwana sedang tidak baik baik saja, dua malam ia lewati dengan tersiksa. Badannya terasa tak karuan, gatal di bagian leher dan sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya akibat aliran energi dalam tubuh Nirwana yang tidak selaras. Gigitan Darren nyatanya membawa dampak untuk Nirwana, meski tidak parah tapi cukup menyiksanya.


Bagaimana tidak, selain rasa demam ia juga dilanda rasa rindu yang teramat sangat pada sosok Darren. Bayangan Darren menyiksanya, apalagi jika Nirwana membayangkan sentuhan lelaki yang dicurigainya sebagai vampir itu. Seketika tubuhnya akan menggigil dan kepanasan lebih tepatnya … bergairah, ups!


Seperti biasa Nirwana memberikan presentasi yang memuaskan untuk semua pihak. Para ilmuwan, sponsor, lembaga penelitian dan juga beberapa tamu undangan dibuat terkesima dengan penemuan relik kuno itu.


"Baiklah tuan dan nyonya sekalian, dengan bangga kami persembahkan pada kalian untuk pertama kalinya. This is An Ancient Relique, the myth of Vampire!"


(Ini adalah Relik Kuno, sebuah mitos tentang Vampir!)


Nirwana membuka peti kayu, seketika tamu undangan bergumam. Suara mereka berdengung bak lebah. Nirwana tersenyum puas tapi lain halnya dengan para audience.


"Profesor Nirwana, apa ini lelucon? Jika iya, ini sangat tidak lucu!" Maxim, kepala Museum Nasional Sejarah Rumania berkata lantang memudarkan senyum Nirwana.


"Apa? Lelucon?" Nirwana hendak berbicara tapi Gery buru-buru menghampiri dan berbisik padanya.


Seketika Nirwana terbelalak, ia melongok ke dalam peti kayu. Nirwana terkejut mendapati relik kuno itu berubah menjadi vas bunga antik. Tangannya mengepal menahan geram.


"Darren Constantine!"


 

__ADS_1


__ADS_2