An Ancient Relique

An Ancient Relique
Akhir dari Vasile


__ADS_3

"Wah, wah … romantis sekali! Aku turut berbahagia melihatnya!"


Cezar muncul dari balik pilar bersama Ryan. Keduanya tersenyum mengejek, ditangan kanan Ryan sebilah pedang indah mengalihkan perhatian Darren. Matanya terbelalak, itu adalah pedang milik Constantin ketujuh yang menghilang bersamaan dengan kematiannya.


"Ada apa Darren? Kau mengenalinya?" Ryan berkata sinis, dan Darren menatapnya tajam.


"Huh, benar apa yang dikatakan kakek berhati-hati lah dengan peliharaanmu. Salah memilih jenis maka dia akan menggigit mu tak peduli betapa besar kau menyayanginya!" 


"Kau!" Ryan hendak menyerang Darren tapi dicegah Cezar. "Tahan emosimu atau permainan menarik selanjutnya tak bisa kita nikmati."


"Pak tua, nyalimu cukup besar juga berhadapan denganku! Atau demo kemampuanku tadi, kurang meyakinkan?" Nirwana berkata setengah mengejek.


"Aku tidak akan tunduk padamu! Aku, Cezar Ferdinand tetua dari para tetua adalah pemimpin sah dari bangsa vampir dan bukan dirimu!" Cezar berteriak lantang, matanya membelalak, Nirwana bisa merasakan tekanan energi cukup kuat dari Cezar.


"Ya, ya itu menurutmu. Tapi jaman sudah berganti pak tua! Saatnya melakukan perubahan, kau juga melakukan hal yang sama. Menentang aturan bangsamu sendiri. Jadi aku anggap kau sebagai … pengkhianat!" Nirwana bersiap hendak menyerang Cezar begitu juga dengan Darren.


"Bersiaplah mati pak tua!" Darren menghunuskan pedangnya.


Saat sepasang suami istri itu hendak menyerang, Maxim muncul dengan membawa serta relik kuno. Tapi bukan itu yang mengejutkan Nirwana, Nicole dan juga Gery ada bersama mereka.


Kedua asisten setia Nirwana terlihat gemetar ketakutan. Bagaimana tidak sebilah pedang panjang dan tajam melekat di leher mereka. Luka lebam dan darah mengering terlihat menghiasi wajah keduanya.


"Mendekat atau mereka akan mati. Percayalah darah mereka begitu menggoda." ancam Cezar yang membuat darah Nirwana mendidih.


"Darren, aku ingin sekali membungkam mulutnya! Bisakah aku memberinya pelajaran?" bisik Nirwana geram.


"Tentu sayang, kau pemilik relik. Kau bisa menghukum tua bangka yang tak tahu diri itu!"


"Kau urus Ryan biar aku urus Maxim dan pria botak tak tahu diri itu." 


"Dengan senang hati istriku," Darren menoleh sejenak pada Nirwana memperhatikan wajah istrinya yang terlihat semakin cantik saat amarah menguasai.


"Boleh aku minta sesuatu sebelum kita mulai pertunjukan?" pinta Darren yang membuat Nirwana mengernyit.


"Apa?"


Darren mengecup lembut bibir Nirwana dengan cepat, menambahkan sedikit gigitan disana lalu tersenyum.


"I love you sayangku, mari kita habisi mereka!"

__ADS_1


Ciuman singkat yang membakar semangat Nirwana, ia pun tersenyum dan mengangguk. Tingkah keduanya membuat Cezar jengah.


"Kalian membuang waktuku!" serunya kesal.


"Jangan salahkan kami pak tua! Salahkan dirimu yang betah melajang ribuan tahun, boleh kuberi saran? Bercintalah supaya awet muda!" balas Nirwana yang disambut hentakan energi besar dari Cezar yang nyaris melukai Nirwana jika saja tidak ada kubah pelindung yang tiba-tiba muncul.


'Apa?! Bagaimana bisa dia melakukannya, dia hanya seorang penipu!' batin Cezar.


"Cezar Ferdinand, beraninya kau menyerang ku! Jangan salahkan aku jika aku tak mengampuni mu!"


Nirwana berdiri tegak, bibirnya memanggil relik itu dalam alunan mantra khusus yang dibisikkan suara misterius dengan lirih. Relik kuno itu bereaksi, benda itu bergetar dan perlahan memancarkan sinar kuning kehijauan. Awalnya redup tapi semakin lama semakin terang dan menyilaukan mata. Cahaya hijau kekuningan itu melesat dan menghilang dengan cepat.


"A-apa yang terjadi?" Maxim kebingungan, relik kuno di tangannya menghilang begitu saja.


Cezar terkejut dan terbakar amarah, ia menyerang Nirwana dengan pedangnya dan Nirwana dengan gesit menghindari amukan Cezar. Ujung mata pedang Cezar  nyaris mengenai jantung Nirwana jika saja arkeolog cantik itu tidak melentingkan tubuhnya.


"Ups, maaf. Aku pastikan kali ini pedangku tak salah lagi!" ujar Cezar kembali menyerang.


Nirwana melirik ke arah Nicole dan Gery yang duduk bersimpuh dengan bertumpu lutut. Maxim masih mengancam keduanya dengan pedang, sementara Darren bertarung sengit dengan Ryan. 


'Tak ada pilihan lain, maafkan aku Maxim!" ia bergumam lirih merapatkan mantra,


"Ignis flagellum!" 


Tubuh Maxim melorot, tatapannya nanar ke arah Nirwana dan juga kedua asistennya. Ia terisak dan pasrah dengan nasibnya. 


"Maafkan aku …," ucapnya sesaat sebelum tubuhnya terbakar utuh dengan cepat dan merubahnya menjadi abu.


Nicole dan Gery terbelalak, mereka ketakutan. Nirwana bergerak mendekati memastikan kedua asistennya selamat. Ksatria vampir dari keluarga Constantin membantu Nirwana menghadapi Cezar.


"Lynch, bawa mereka pergi dari sini cepat!" teriaknya pada kesatria vampir andalan Darren.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Nirwana pada Nicole dan Gery yang memucat.


Keduanya mengangguk, Nirwana memeluk mereka. "Pergilah bersama Lynch!"


Setelah memastikan keamanan mereka, Nirwana berbalik ke arah Cezar yang baru saja membabat habis satu vampir muda. Ia menyeringai bengis ke arah Nirwana.


"Sayang, cepat selesaikan dia! Aku ingin pulang dan segera tidur!" seru Nirwana pada Darren yang berhasil mendesak Ryan ke sudut ruangan.

__ADS_1


"Kau dengar itu Ryan? Istriku memberi perintah dan aku dengan senang hati menurutinya. Menyerahlah atau mati!" ujar Darren pada Ryan, pedang keduanya saling menahan.


"Lebih baik mati daripada tunduk pada manusia dan Dhampir!" tolak Ryan keras.


"Baiklah, jika itu maumu!"


Mereka melanjutkan kembali pertarungan, Nirwana menatap sinis pada Ryan. Dilihat dari kekuatan jelas Darren lebih unggul, apalagi dalam darah Darren juga sudah mengalir darahnya.


"Vampir bodoh, sepertinya kau ingin menyusul istrimu ke neraka!" gumam Nirwana.


"Kita selesaikan sekarang pak tua, aku lelah dan mengantuk!" lanjutnya sambil berlari menyongsong Cezar yang juga bergerak ke arahnya.


Pedang keduanya beradu, Nirwana berkelit memutar, menendang tubuh vampir tiran yang sudah menguasai klan vampir selama berabad abad itu, dan dengan cepat menebas leher Cezar tanpa memberi kesempatan untuk berbalik menatapnya.


Tubuh Cezar terdiam sejenak dan akhirnya tumbang dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Bersamaan dengan itu Darren berhasil menusuk jantung Ryan dan membunuhnya.


"Geschafft, Zeit für Familientreffen!" (Selesai, waktunya reuni keluarga!)


Darren menghampiri Nirwana dan memeluknya. "Kau hebat sayang, terimakasih sudah melakukannya untukku!"


Nirwana membalas pelukan Darren, mereka mewujudkan ramalan penyihir vampir. Mengembalikan kejayaan vampir pada tempatnya. Kejayaan baru yang tidak berlandaskan kengerian. Dunia vampir bersiap dengan aturan baru yang mengikuti perkembangan zaman di bawah kepemimpinan Darren dan Nirwana.


Para pendukung Nirwana dan Darren bersorak gembira. Setelah berabad-abad akhirnya mereka terbebas dari kekuasaan tirani Cezar dan keluarga Vasile. Ksatria yang tersisa berkumpul di ruang pertemuan. 


Empat Strigoi yang tersisa berhasil dibunuh dan dibakar habis. Sementara sisa pendukung keluarga diringkus dan dikurung di penjara khusus menanti hukuman yang tepat dari sang pemimpin baru.


Malam bersejarah bagi bangsa vampire telah usai. Periode super blood moon telah berakhir, tepat saat sinar matahari mengintip dibalik cakrawala. 


"Kita pulang sayang, aku sangat lelah." Nirwana menggamit lengan suaminya, sesekali ia menguap lebar membuat Darren terkekeh geli.


"Virus vampir rupanya menular juga, lihat dirimu sayang. Tidur saat siang?"


"Darren, kita bertarung semalam suntuk dan aku masih manusia! Tentu saja aku lelah!" 


Darren menghentikan langkahnya lalu menatap Nirwana memperhatikan dengan detail wajah Nirwana.


"Coba kulihat," tangannya meraup wajah sang istri, "Matamu normal, warna merahnya menghilang, taring juga tidak tumbuh, lalu …,"


Darren mengendus leher Nirwana, memberinya gigitan kecil yang membuat Nirwana geli. "Tubuhmu masih hangat, dan manisnya darahmu masih tercium, kau memang masih manusia sayang."

__ADS_1


Nirwana tergelak, gigitan Darren memancing hormon wanitanya. "Mr. Darren aku harus menghukum mu untuk ini!"


"Uugh, aku sangat mengharapkannya. Ayo kita pulang dan bermain Uno sebentar!" bisiknya sensual pada sang istri.


__ADS_2