An Ancient Relique

An Ancient Relique
Keputusan yang Salah?


__ADS_3

Nirwana terlelap dalam tidurnya, terbuai mimpi. Tubuhnya lelah setelah menempuh  perjalanan panjang Bukares - Zurich. Darren muncul dari balik gelap, kerinduannya sedikit terobati dengan menatap wajah Nirwana. Begitu damai dan cantik.


"Hai sayang, apa kau merindukanku?" jemari Darren mengusap lembut pipi Nirwana, merapikan rambut cokelat Nirwana dan memberi satu kecupan di keningnya.


"Darren," 


Nirwana membuka matanya perlahan, Darren terkejut, ia pun menghilang dengan cepat. Nirwana mengerjapkan mata, ia yakin mendengar suara Darren tapi tidak ada siapa pun di kamarnya. 


"Darren?"


Nirwana memanggil nama lelaki yang mengisi pikirannya itu sekali lagi, memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Lampu kamar menyala terang, tak ada sosok yang ia cari.


"Mimpi lagi, tapi rasanya nyata. Lucid dreams?"


Kepala Nirwana terasa pusing, jam masih menunjukkan pukul tiga pagi dan matanya belum mau terpejam lagi. Suara Darren mengganggunya, kenangan di kastil itu kembali terulang dalam memorinya. Hati Nirwana kembali berdebar, sesuatu yang hangat menjalar di tubuhnya. Entah mulai kapan tapi Nirwana merindukan Darren.


"Sial! Ada apa dengan hatiku? Sejak kapan aku begini?"


Darren yang bersembunyi dalam bayangan tersenyum melihat Nirwana. Sedari tadi ia belum pergi dan terus memperhatikan Nirwana. "Jadi kau merindukanku juga? Sepertinya perjalanan ini akan menarik."


Nirwana memutuskan membuka laptopnya, memeriksa keberadaan relik di museum Rumania. "Aman, benda itu masih ada disana. Semoga akan selalu begitu, jadi aku tidak harus berhadapan dengannya … lagi," Nirwana menghela nafas, sejujurnya ia berharap relik itu menghilang jadi ia punya alasan untuk bertemu Darren.


"Wah, apa ini? Kau memasang pelacak di relik itu? Gadis pintar!" Darren berdiri di belakang Nirwana, ikut menatap ke layar monitor. Ia mendekatkan wajahnya pada Nirwana. "Kau selalu memiliki kejutan sayang, aku suka itu!"


Nirwana merasakan nyeri di seluruh permukaan tubuhnya, bulu halusnya meremang. "Ada apa dengan tubuhku, apa ada hantu di kamarku?" 


Alarm tubuh Nirwana bekerja cepat mendeteksi keberadaan sosok tak kasat mata seperti Darren saat ini, ia menoleh tepat saat Darren mendekatkan wajahnya. Andai Nirwana bisa melihatnya Darren akan dengan senang hati melu-mat bibir manis Nirwana.


Lelaki tampan berwajah pucat, pemimpin klan vampir terbesar kedua itu tersenyum. Manik mata keduanya bertemu, mata yang merindu. Nirwana merasakan kehadiran Darren tapi ia sama sekali tak melihat sosok lelaki itu dihadapannya. Menyebalkan sekali!


Disaat seperti ini, Nirwana menyesal telah mengikuti permintaan ibunya. Nirwana dilarang mempelajari ataupun melatih kemampuan dirinya yang 'sensitif'. Meski dulu sempat protes dengan hal itu, Nirwana tidak bisa membantah. Sebagai gantinya, sang ibu memberi kalung berliontin batu indah yang akan selalu menjaganya dalam bahaya.


 Aah, andai Nirwana bisa melihatnya … andai dan andai. Dua makhluk berbeda ras ini seperti membeku dalam waktu saling menatap tanpa bisa melakukan apa pun. 


Suara dering ponsel menyadarkan Nirwana dan juga Darren.


"Ya, Gery!"


"Profesor, relik itu bergerak!" 

__ADS_1


"Apa?!" Nirwana menatap layar dan benar saja tanda merah di layarnya berkedip. Berjalan keluar museum. "Sial! Pantau untukku Gery, kita bertemu di kantor jam sembilan tepat!"


Tanpa banyak bicara lagi Nirwana menutup panggilan Gery. Mata indahnya memperhatikan kemana benda antik itu pergi. "Kemana para penjaga museum, aku harus menghubungi tuan Maxim."


Nirwana menghubungi Maxim, tapi panggilannya terabaikan. Tak ada sahutan dari Maxim, hingga berkali-kali Nirwana menghubungi hasilnya nihil. 


"Aaargh, sial! Apa Darren yang mencurinya?" Nirwana frustasi.


"Apa, aku? Tidak, aku tidak mencurinya sayang. Karena aku tahu itu percuma, relik itu hanya bisa digunakan olehmu dan pasti akan kembali padamu." jawab Darren tanpa sepengetahuan Nirwana.


Tentu saja Nirwana tak mendengarnya, ia sibuk dengan mengumpat dan memakinya. Darren sampai tersenyum geli melihatnya. "Kau manis sekali jika marah-marah begitu."


"Baiklah sayang, sebaiknya hentikan ocehan mu itu. Percayalah aku tidak akan menyentuh relik itu kecuali kau sendiri yang menyerahkannya padaku, itu pun jika aku bisa menyentuhnya."


 Darren mendekati Nirwana yang kini terdiam setelah puas memaki lelaki yang menjadi tertuduh. Nafasnya tersengal karena begitu semangatnya meluapkan emosi. Darren menyentuh kedua bahu Nirwana, memberinya kecupan di kening lalu turun ke bibir Nirwana yang menggoda.


Nirwana terkejut setengah mati saat merasakan lagi tubuh dingin Darren memeluknya. Ia masih hafal sekali rasa itu. Darren muncul didepannya secara nyata, tersenyum dan kembali mendaratkan ciuman pada bibir manis Nirwana memancing hasrat wanita yang semula memakinya. 


Sang arkeolog terbius ciuman Darren yang menuntut, kerinduannya muncul tiba-tiba menggantikan kesal yang tadi mendominasi. Tangannya bahkan kini telah berpindah di leher Darren dengan kaki berjinjit untuk mengimbangi Darren yang semakin liar menurunkan ciuman ke leher jenjangnya.


"Darren," Nirwana menyebut nama Darren setelah vampir tampan itu memberinya gigitan kecil di leher, nyaris saja taring Darren keluar menembus kulit tipis Nirwana.


"Aku tahu, aku tak peduli!"


Darren mengusap bibir Nirwan yang semakin memerah karena ulahnya, "Maaf, aku tak bisa menahan diriku lagi." 


Satu kecupan singkat diberikan Darren sebelum ia menghilang. Nirwana terpaku, ia bingung dengan apa yang baru terjadi padanya. Nirwana kembali menyentuh bibirnya, semua terasa nyata. 


"Aku bermimpi? Berhalusinasi Darren datang? Aku pasti sudah gila!"


Darren meninggalkan Nirwana, "Aku akan kembali sayang, ada hal yang harus aku selesaikan!"


*******


Sementara itu di ruangan penyimpanan relik kuno, keadaan kacau. Beberapa guci antik pecah tak berbentuk begitu juga dengan benda peninggalan lain yang tersimpan dalam kaca tebal. Tiga orang penjaga tewas dengan leher berlubang, kehabisan darah. Dua lagi tergeletak tak berdaya setelah bertarung habis-habisan dengan vampir utusan Cesar.


"Jangan, aku mohon ... ampuni aku!" 


Seorang penjaga memohon ampun pada wanita cantik yang berdiri dengan tetesan darah di sudut bibirnya. Sepasang taring mencuat saat ia menyeringai kejam pada petugas yang tubuhnya babak belur penuh luka.

__ADS_1


"Mon Dieu? Je ne reçois de pardon de personne!" (Ampun? Aku tidak menerima pengampunan pada siapa pun!)


Sedetik kemudian, taring wanita itu sudah menancap di leher si penjaga dan menghisap habis seluruh darah ditubuhnya. Lelaki malang itu meronta sebentar sebelum akhirnya terdiam, tewas mengenaskan.


"J'adore cette chasse!" (Aku suka perburuan ini!)


"Bawa relik itu pada tetua!" perintahnya pada vampir lain, "Zurich, bersiaplah aku akan menemukanmu!" ujarnya lagi dengan seringai kejam.


*******


"Apa yang kita dapat, Gery?" suara Nirwana terdengar lantang saat memasuki ruangan kerjanya yang cukup luas. 


"Relik itu berhenti di suatu tempat."


"Dimana?"


"Entahlah, satelit tidak bisa menembusnya, ini aneh sekali. Aku sudah mencobanya berulang kali tapi gagal."


Nirwana mendekati Gery dan menatap beberapa layar monitor yang saling terhubung. "Tidak mustahil jika kekuatan gaib melindunginya Gery!"


"Kekuatan gaib? Apa maksud mu profesor?"


"Relik itu, memang benar milik klan vampir dan aku yakin saat ini sedang diperebutkan."


"Darimana kau tahu? Vampir? Oh come on, itu hanya legenda!" elak Gery.


Nirwana melemparkan kertas yang Gery dapat dari menyelidiki Constantine. "Das ist echt, Gery! Konstantin ist ein Vampir!" ( Ini nyata, Gery! Constantine itu Vampir!)


Nirwana melihat kedua tangannya di depan dada, "Kita salah telah membuka makam itu, Gery. Dan sekarang kita dalam bahaya!"


Sesuatu yang seharusnya menghilang sebaiknya lebih baik dibiarkan saja untuk menghilang. Selalu ada alasan atas sebuah kejadian, dan selalu ada ribuan alasan untuk membiarkan yang hilang tetap ada ditempatnya. 


...❄️❄️❄️❄️❄️❄️...


...selamat siang semuanya, happy weekend yaa...tetap jaga kesehatan, cuaca sedang tidak bersahabat akhir2 ini....


...mohon dukungannya untuk Darwana yaa...novel ini diikutsertakan dalam lomba non human sessions 3 bisa kasih vote, like, nya buat mereka biar semangat kiss nya eeh🙈semangat gigit2an 😂🤭...


...semoga menghibur yaa, jgn lupa maksi karena malming juga butuh tenaga bukan cuma anu doang🤪😂...

__ADS_1


...cium sayang~ Lia❤️...


__ADS_2