
Kembalinya artefak kuno itu tentu membawa kebahagiaan dihati Nirwana dan juga timnya. Kekacauan yang terjadi saat presentasi akhirnya berbuah manis setelah relik kuno itu kembali ke tangan Nirwana. Meski ia dibuat penasaran, pikirannya tidak bisa me-logika bagaimana relik yang menghilang bisa muncul lagi di kamarnya dalam kondisi utuh.
"Oke, baiklah sayang. Tetaplah disini, jangan pergi lagi dan jadilah anak baik!" Nirwana meletakkan artefak berharga itu dalam kotak kaca tebal yang dilengkapi sistem pengaman ganda.
Kepala Museum, Maxim ikut lega dengan ditemukannya kembali relik tak ternilai itu. "Bagaimana benda ini bisa kembali padamu nona?" ia bertanya dengan sopan sekali berbeda dengan sikapnya saat mendapati vas bunga di dalam peti kayu.
"Hhhm, anggap saja ini keajaiban."
Nirwana menatap takjub pada relik yang ia temukan beberapa hari lalu. Artefak berbentuk jam pasir terbalik itu terlihat semakin indah dibawah tata cahaya lampu. Setelah memastikan sistem alarm berjalan baik, Nirwana pergi meninggalkan relik kuno itu disana. Tugasnya selesai.
Mata Nirwana berbinar saat kepala museum memberikan sebuah cek bernilai tinggi untuknya. "Senang membantu anda tuan Maxim."
"Anda layak mendapatkannya nona. Kinerja tim mu luar biasa." senyum Maxim mengembang sempurna seperti mentari pagi.
Nirwana pamit undur diri untuk mengejar pesawat ke Zurich. Nicole dan juga Gery sudah menunggunya di luar.
"Semua siap profesor." ujar Gery saat membuka pintu mobil untuk Nirwana.
"Baiklah, kita pulang. Nicole apa alat pelacak sudah terpasang baik?"
"Tentu, semua sesuai perintahmu!"
Nicole menunjukkan layar komputer jinjingnya pada Nirwana. Tanda merah terlihat disana menandakan posisi relik kuno masih ada ditempatnya. Nirwana tersenyum puas.
"Apa kau yakin, lelaki pucat itu akan kembali?"
"Aku yakin Darren Constantin ada hubungannya dengan ini. Kita lihat saja beberapa hari ke depan. Untuk sementara kita kembali ke Zurich, ada pekerjaan baru disana." terang Nirwana sambil membuka email masuk.
"Hhm, baiklah kau bosnya sekarang." Nicole dan Gery saling pandang, mereka menatap Nirwana bersamaan.
"Apa? Kenapa kalian melakukan itu?" tanya Nirwana tanpa mengalihkan matanya dari layar ponsel.
__ADS_1
"Kau sedikit berbeda," sahut Nicole lirih.
Jawaban Nicole membuat Nirwana menatap kedua asistennya. "Berbeda?"
Keduanya mengangguk bersamaan, "Pakaianmu dan scarf itu? Sejak kapan jadi favoritmu profesor?" Nicole menunjuk pada kain bermotif cerah yang selalu dikenakan Nirwana.
Nirwana berdehem, tenggorokannya terasa gatal saat mendapat sindiran dua asistennya. Sejujurnya ia tak tahu sejak kapan berubah selera, hanya saja setelah malam yang mendebarkan hatinya itu Nirwana merasa nyaman dalam gelap. Ciuman Darren yang membuatnya panas dingin seringkali membuat bulunya meremang.
Nirwana terhanyut dalam pesona Darren yang acap kali muncul dalam mimpi dan membawanya dalam kemisteriusan. Nirwana yang tak suka warna gelap kini mulai menyukainya, menyerupai tingkah sang vampir yang selalu hadir saat gelap menyapa.
Scarf selalu digunakan untuk menutupi bekas gigitan Darren dari tatapan mata yang lain, meski kini bekas gigitan itu tak begitu terlihat tapi tetap saja Nirwana merasa tak nyaman jika harus membukanya. Itu membuatnya teringat pada ciuman liar mereka.
Ah, Nirwana bahkan ingin mengulanginya lagi dan lagi jika perlu ia pun rela melakukan lebih dari itu. Sungguh membayangkan ciuman dan gigitan itu lagi saja seketika hasrat Nirwana naik ke permukaan. Uups …,
Ia merindukan Darren, dan berharap bisa bertemu lagi dengannya.
Hal itu sepertinya akan segera terwujud. Darren diam-diam mengirimkan anak buahnya untuk mengawasi dirinya. Informasi yang didapat Darren, para pemimpin klan mulai menemukan nama Nirwana sebagai peneliti yang melakukan ekskavasi artefak kuno.
"Awasi terus, perketat penjagaan Nirwana!" perintah Darren dari kediamannya.
"Bodohnya gadis itu, relik itu tetap akan kembali padanya."
"Sepertinya nona Nirwana tidak mengetahui kekuatan dirinya setelah bersentuhan dengan relik kuno." ujar Abraham lagi.
"Hhm, butuh pemantik untuk memunculkan kekuatan sang penjaga. Aku tak yakin dia bisa menerima kekuatan itu Abraham."
"Jika tuan Darren dan nona Nirwana bisa bekerja sama maka keinginan dan rencana tuan akan berhasil dengan mulus. Kekuatan tuan ditambah relik kuno dan juga sang penjaga akan memperkuat posisi tuan sebagai calon pemimpin klan." Abraham memberikan saran.
Darren terdiam, pendapat abdi setianya memang benar. Nirwana dan relik itu adalah kunci keberhasilannya, mendapatkan keduanya berarti mendapatkan kekuasaan. "Apa itu artinya aku harus menikahinya Abraham?"
Abraham menarik garis simpul di sudut bibirnya. "Saya rasa itu lebih baik, ikatan pernikahan akan kekal selamanya. Apalagi nona Nirwana juga bukan gadis sembarangan. Dia memiliki darah immortal yang entah diwariskan oleh siapa. Bukankah jika kelak kalian memiliki keturunan akan lahir keturunan yang luar biasa?"
__ADS_1
Tawa Darren pecah saat Abraham mengatakan hal itu, keturunan? Yah, Darren tak pernah memikirkan hal itu. Ia bahkan belum pernah sekalipun jatuh hati selama ratusan tahun berlalu.
Nirwana, satu satunya gadis yang membuatnya kembali mencecap manisnya sebuah ciuman yang pernah ia lupakan. Aroma darah yang manis, denyutan nadi di leher Nirwana yang begitu menggoda, lembutnya bibir kemerahan gadis itu bercampur dengan aroma vanilla dari tubuhnya membuat hati Darren berdesir.
Jika dalam cerita-cerita legenda vampir digambarkan berhati dingin dan kejam, berbeda dengan Darren. Ia jenis vampir yang lebih manusiawi. Ia juga bisa berhati lembut, karena sang ibu juga bukan murni seorang vampir. Dirinya berdarah campuran, sisi manusia nya terkadang muncul lebih dominan.
Itu sebabnya Darren bisa terluka dan merasakan sakit. Hal ini juga yang mendasari Cesar Ferdinand membenci dirinya. Cesar tak sudi jika klan Vampire di pimpin oleh vampir campuran, itu akan mengotori tahta kepemimpinan.
"Siapkan segalanya, Abraham. Aku akan menjemput piala ku!" titah Darren dengan seringai penuh arti.
Dalam hati kecil Darren, ia merindukan Nirwana. Tujuannya ke Zurich bukan hanya tentang relik saja tapi juga tentang hati. Ia ingin memastikan perasaannya pada Nirwana. Apakah benar ia menyukai gadis itu ataukah hanya hasrat liar semata.
Pesawat yang ditumpangi Nirwana mendarat dengan selamat di Zurich tepat pukul tujuh malam waktu setempat. Nirwana merindukan apartemen miliknya, merindukan kamarnya dan segala hal tentang privasinya. Ia lelah setelah misi menegangkan yang nyaris merenggut nyawanya lagi.
Nirwana berjalan menuju keluar hendak memanggil taxi saat seseorang menabraknya tanpa sengaja.
"Hei!" Nirwana protes karena lelaki yang menabraknya berlalu begitu saja tanpa mengucap kata maaf. "Ccck, ada apa dengannya!"
"Taxi!"
Ia membuang jauh rasa kesalnya, dan segera masuk ke dalam taxi. Memberi alamat pada pengemudi taxi yang berpenampilan rapi dan berkacamata hitam. Awalnya Nirwana tak peduli tapi ekor matanya menangkap sang sopir terus memperhatikan dirinya lewat kaca spion.
"Apa ada masalah tuan?"
"Tidak nona," seringai di wajah sang sopir mencurigakan, Nirwana mulai waspada.
Tapi kemudian wajah Nirwana berubah, matanya jelas menangkap sepasang taring yang mencuat di antara barisan gigi sang sopir. Nyali Nirwana seketika menciut, untunglah jarak apartemennya tinggal beberapa meter lagi, ia bergegas turun dengan hati tak karuan.
"Aku benci vampir!" umpatnya sambil menekan tombol lift.
Sang sopir taxi mengambil ponsel di sakunya, "Aku menemukannya, dia ada di …,"
__ADS_1
Belum selesai sopir itu berkata, satu tusukan pedang panjang sukses menembus jantungnya dari belakang. Sopir itu terbakar perlahan, hilang menjadi debu. Darren meraih ponsel yang tergeletak dan menghancurkannya.
"Tak ada yang boleh menyentuh wanitaku!"