An Ancient Relique

An Ancient Relique
Pemilik Sah


__ADS_3

Saat semua mata memandang Nirwana dan Darren, Cezar memberi kode pada Rachel untuk bersiap. Tujuan mereka membunuh si pemegang relik, Nirwana Zehra.


"Darren Constantin, aku pikir kau melupakan pertemuan ini dan memilih bersembunyi di dalam selimut bersama … istri manusiamu?" 


Perkataan Cezar sontak membuat para anggota klan lain bergumam. Sebagian besar dari mereka menatap rendah pada Nirwana. Sebagian lagi mencibir keberanian Darren membawa manusia ke dalam pertemuan.


"Oh, maafkan aku jika terlambat dan membuatmu kecewa Cezar. Tapi pertemuan ini adalah momen penting bagiku dan juga istriku, Nirwana."


 Darren dan Nirwana saling menatap dengan senyuman penuh arti. Tak ada keraguan pada diri mereka. Nirwana menoleh ke arah Rachel yang mengawasinya dengan tatapan penuh kebencian.


"Para tetua dan juga yang lainnya, aku Darren Constantin telah menikahi istriku yang sangat cantik dari keturunan manusia, Nirwana Zehra. Mulai hari ini Nirwana Zehra adalah bagian dari keluarga Constantin!"


"Beraninya kau!" Cezar berteriak lantang, ia berdiri dari singgasana tetuanya.


"Darren Constantin, putra dari Edward Constantin, keturunan keempat belas Count Dracula! Kau pengkhianat, sama seperti kedua orang tuamu! Dan kini kau datang membawa manusia sebagai istrimu? Sungguh tak tahu malu!" lanjutnya lagi penuh emosi.


Darren terkekeh sementara Nirwana hanya tersenyum sinis tak terlihat ketakutan sedikitpun mendapat hardikan Cezar.


"Hhm, malu katamu? Kenapa aku harus malu? Nirwana istriku adalah pemilik sah relik kuno, itu berarti kedudukannya lebih tinggi dari dirimu bukan?"


Mendapat jawaban demikian Cezar naik pitam, "Kau!"


"Kalau begitu buktikan kebenarannya!" suara Rachel terdengar lantang menantang Nirwana. "Buktikan pada kami jika kau benar pemilik relik ini!"

__ADS_1


Ia memerintahkan seorang lelaki untuk memindahkan relik ke hadapan Nirwana. Rachel mendekati Nirwana, menatapnya dengan angkuh dan berbisik.


"Jika kau membohongi kami, aku yang akan pertama menghabisi mu!"


"Benarkah? Bagaimana jika aku yang benar? Aku akan melakukan kebalikannya terhadapmu!" 


Nirwana menatap mata merah Rachel tanpa takut. Ia mengintimidasi lawannya dengan baik terbukti dengan ekspresi keraguan dan senyum angkuh yang memudar. 


"Aku tak yakin kau bisa lolos dari gigitan ku sayang!" gertak Rachel lagi menutupi keraguan.


"Uugh, aku takut sekali! Aku pun tak ragu untuk menebas lehermu, Rachel!" balas Nirwana.


"Beraninya kau …,"


Super Blood Moon telah mencapai titik puncak. Bulan kini tertutup warna merah darah sempurna, dan terlihat dua kali lebih besar. Nirwana menoleh ke arah Darren dan mengangguk samar padanya. Tubuh Nirwana menghangat saat relik itu didekatkan padanya. Kilasan memori masa lalu relik dan kaum vampir muncul dan membayang di mata Nirwana.


Aliran energi yang entah darimana datangnya mulai mengisi tubuh Nirwana, mantra kuno yang ia dengar saat di makam kembali terdengar. Berbisik merdu di telinga Nirwana, mantra pembuka portal dimensi masa lalu dan masa kini. Tanpa sadar Nirwana mengucapkannya lirih menirukan suara yang hanya bisa didengar olehnya.


Pintu dua dimensi terbuka perlahan bagaikan pusaran lubang hitam yang terbentuk di atas relik kuno. Nirwana terus merapalkan mantra dengan lirih. Angin bertiup semakin kencang.


Mata coklat Nirwana berubah semerah darah sama seperti kaum vampir. Ia berjalan mendekat dan menyentuh relik itu tanpa terluka. Nirwana bahkan membuka medan energi pelindung yang diberikan para tetua dengan mudah.


Cahaya kuning kehijauan muncul dari pintu dua dimensi dan melesat cepat menyinari relik kuno. Angin berputar disekitar Nirwana dan relik itu, mengaburkan pandangan yang lain, dan saat tangannya menyentuh relik hempasan energi kuat menyapu seluruh ruangan.

__ADS_1


Para tetua dan perwakilan klan vampir terhenyak. Beberapa dari mereka bahkan terhempas karena tak sanggup menahan kekuatan energi yang muncul secara tiba-tiba. Nirwana tak bergeming, matanya menatap lekat relik dan mengangkatnya tinggi di hadapan yang lain. Setelah pintu dua dimensi menutup dan keadaan normal kembali, Nirwana berkata lantang.


"Per benedictiones predecessor senior, Ego Nirvana Zehra sum legitimus hujus reliquiae!"


(Atas berkat para tetua pendahulu, aku Nirwana Zehra adalah pemilik sah benda ini!)


Semua yang hadir menatap tak percaya. Mereka saling memandang dan juga menatap ke arah tetua Cezar yang tak terima dengan kenyataan yang benar-benar nyata terjadi di depannya.


"Kau penipu! Semua orang bisa memegang relik dengan mudah!"


Nirwana menurunkan relik, lalu menoleh ke arah Cezar yang dengan pongahnya menuduh Nirwana berbohong.


"Decessoris tui sententia insultas!" ( Kau menghina keputusan pendahulumu!)


Nirwana berjalan mendekati Cezar, dan tetua paling kejam di antara yang lain itu pun terperanjat. Cezar mundur beberapa langkah saat Nirwana mulai mendekatinya.


"Kenapa tetua Cezar? Kau takut?" ejek Nirwana.


"Berhenti di tempatmu, penipu!"


Nirwana seketika berhenti dan menyeringai bengis. Selarik mantra terucap dari bibir tipisnya, dan dengan sekali gerakan tangannya, Cezar terhempas membentur dinding, lalu terseret naik ke atas dengan cepat. Sesuatu tak kasat mencekik lehernya. Tubuh Cezar bergerak sesuai dengan gerakan tangan Nirwana.


Kini Cezar melayang di tengah ruangan dalam posisi tercekik. "Aku akan dengan sangat mudah mematahkan lehermu pak tua!" Nirwana berseru dan semua yang hadir mulai ketakutan.

__ADS_1


"Hentikan!"


__ADS_2