
Hari masih terlalu pagi untuk anak-anak seperti Baim dan beberapa teman pergi ke Cikapundung tempat agen-agen koran beraktifitas.Saat suara adzan subuh berkumandang,Baim bangun dan ikut salat subuh berjamaah di Masjid tak jauh dari rumahnya.Setelah itu ia pergi ke Cikapundung mengambil koran dari Kang Maruli agen besar koran dan majalah untuk ia jajakan keliling tempat keramaian hingga jam 11.00 WIB.
Setiap pagi Baim menjajakan dagangan korannya di kantor Pos,di Statsiun Kereta Api, di Terminal bus Leuwipanjang.
Bila menjelang jam 11, Baim dan tiga orang kawan sesama pedagang koran,bertemu di Taman Alun-alun di kawasan Masjid Agung Bandung,untuk selanjutnya mereka bersama-sama mendatangi Kang Maruli di rumahnya di daerah Cikutra.Setor koran yang habis terjual.
Sejak masuk bergabung menjadi penjaja koran Baim pandai mengambil perhatian Kang Maruli,selain dagangan korannya selalu habis terjual ia sangat jujur.Bila ada salah hitung yang menyebabkan kerugian dipihak kang Maruli selalu disampaikan Baim." Kang Maruli salah hitung ,banyak sekali...hampir Rp 50.000....ini saya kembalikan ", kata Baim membuat agen koran itu tertegun..antara percaya dan tidak.Akhirnya Kang Maruli mengambil sikap harus menguji kejujuran Baim..bila dalam ujian ini ia jujur berarti benar di jaman sekarang masih banyak anak-anak yang jujur.
Kang Maruli mulai menguji kejujuran Baim.Semua catatan permintaan Baim jumlah koran yang akan dijualnya dilebihi 5 eksemplar.Koran Pikiran Rakyat, koran Kompas, Media Indonesia, Berita Buana, Gala Media,Pos Kota.Kang Maruli memperkirakan sebelum pergi berjualan koran-koran itu dihitung terlebih dahulu oleh Baim,bila ia tetap dengan kejujurannya kelebihan koran itu saat itu dikembalikan." Bila dasarnya tidak jujur,ia akan bilang pas hitungan, 10 eksemplar untuk.masing-masing nama koran ", ujar Kang Maruli dalam hati.
Hasil pengujian Kang Maruli salah.Ternyata setelah menerima koran dagangan Baim langsung berangkat,ia tidak menghitung ulang.Menghadapi kenyataan seperti itu Kang Maruli menepuk jidatnya beberapa kali, dia mau menerima resikonya kehilangan sekitar 30 eksemplar terbawa Baim.
Seperti biasanya Baim dan tiga kawannya setelah mendapat koran dagangan dari Kang Maruli langsung terburu-buru pergi.Mereka setengah berlari mulai menyebar,akan tetapi pagi itu Baim tidak bisa berjalan cepat-cepat,hingga tertinggal puluhan meter dari ke tiga kawannya itu.Ia merasa ada yang aneh dengan koran dagangannya sekarang,dibawanya terasa berat.Ia kemudian dengan suara lantang memanggil-manggil tiga orang kawannya yang sudah jauh itu.
" Kenapa kamu,Baim ? ", tanya Toing,seorang dari tiga orang kawannya yang peduli kepada kawan.Melihat dua kawannya sudah jauh kemudian mendekati Baim.
" Aku mau menghitung ulang koran daganganku ini,kamu jadi saksi ya ?! ", ujar Baim.
" Memangnya kenapa dengan koran dagangan kamu ? ", tanya Toing
" Berat,To -------- berbeda dengan kemarin pagi ", jawab Baim.
" Kalau begitu jumlah sekarang lebih, ya baiklah aku saksikan ", sahut Toing ,mendekati Baim.Ia melihat Baim mulai menghitung koran dagangannya.
Setelah beberapa menit menghitung,Baim menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berucap." Pantasan berat dibawanya,ada koran lebih 30 eksemplar ", kata Baim kepada Toing.
" Kamu mau kembalikan koran 30 eksemplar itu sekarang ? ", tanya Toing.
" Nanti saja,setelah ngider jualan ", sahut Baim,dilihatnya Toing setelah menyaksikan tadi berlari menuju seorang pria yang memanggil mau membeli koran.Kemudian terdengar suara Toing lantang,seperti berteriak,seperti mengejek-ngejek perasaan Baim." Laris manis tanjung kimpul ! Koranku habis untungnya kumpul ! ".
Jam 10 Baim sudah kumpul dengan tiga orang kawannya.Mereka bersiap-siap akan pergi ke rumah Kang Maruli di kawasan Cikutra.Mereka semua hari ini sedang gembira lantaran dagangannya pada habis.
Di sebuah kursi di ruang faviliun di rumahnya Kang Maruli kelihatan sedang melamun.Pikirannya berputar-putar memikirkan 30 eksemplar koran yang terbawa oleh Baim." Ternyata tidak begitu mudah untuk menguji kejujuran orang ", pikir Kang Maruli.Oleh sebab perkiraannya meleset ia terpaksa merelakan koran 30 eksemplar itu.
Melihat Baim dan kawan-kawannya datang dengan riang gembira Kang Maruli berpikir suasana hari ini sedang mentertawakan nasibnya.Lalu dengan sedikit sewot ia menanyakan apa sebab semua anak-anak itu tertawa.
" Kami sedang merayakan rasa gembira,Kang Bos ", kata Dono,kawan Baim yang badannya kelihatan besar.
Kang Maruli mengerutkan kening,diperhatikan wajah anak-anak satu persatu." Kalau begitu bagus lah ! ", ujarnya sambil melirik ke arah Baim.
__ADS_1
" Kamu knapa,Baim ? ", Kang Maruli langsung bertanya melihat Baim sedang memikirkan sesuatu.
" Saya mau laporan, tadi ada koran tidak masuk dalam hitungan, jumlah nya 30 eksemplar Kang... ", sahut Baim dan membuat Kang Maruli terkagum-kagum.
" Luar biasa kejujuran anak ini ! ", seru Kang Maruli dalam hati.
" Benar jumlahnya 30 ? ", tanya Kang Maruli berpura-pura sungguhan.
Belum sempat Baim menjawab langsung Toing bicara." Benar,Kang------- Saya tadi pagi menyaksikan Baim menghitung. Koran yang tidak terhitung oleh kang bos ada 30 ! ".
" Ya sudah ", ujar Kang Maruli," Saya sangat percaya kepada kalian ".
Pulang dari rumah Kang Maruli seorang kawan mencoba membujuk Baim untuk jangan terlalu jujur." Kali lain kalo ada koran yang terbawa kamu serahkan ke saya saja, jangan bilang ke Kang Maruli lagi... ", hasut Dono.
Baim tidak begitu terpengaruh oleh hasutan Dono tadi.
" Korannya saya yang menjual,nanti kamu saya kasih ", ujar Dono lagi.
Baim masih tetap diam.Ia tidak mengerti dengan yang diucapkan Dono itu.Dalam urusan yang ada sangkut pautnya dengan milik orang Baim mengikuti kata-kata ibu dan ayahnya.
" Jangan ingin memiliki kepunyaan orang lain..jangan menjadi orang panjang tangan ", kata-kata ibunya itu yang selalu mengingatkan Baim sehingga ia menjadi anak disukai oleh banyak guru di sekolah.
Dono menghubungi kawannya murno sama-sama penjual keliling koran,badanya besar sedikit bertatoo.Seringnya berdagang koran di kawasan terminal bus Cicaheum dan Kantor Pos Asia Afrika.Murno berdagang koran sudah tahunan,setelah ia memilih berhenti bersekolah.
Selain dagang koran,Murno dikenal oleh banyak supir angkot sebagai calo penumpang di Cicaheum.Menurut pengakuannya ia dibackingi oleh preman pasar Ciroyom.Keberanian Murno memang sungguh luar biasa.Karena itu ia kerap juga dimintai untuk mengikuti acara unjuk rasa oleh oknum anggota masyarakat.
Dono sudah menghitung laba dan ruginya bila suatu saat nanti ada yang mengetahui bahwa Murno adalah orang suruhannya.Jika terjadi sesuatu terhadap Baim teman-temannya akan berkata itu adalah perbuatan Dono.
Perbuatan jahat,walaupun dilakukan dengan cukup bersembunyi tetap tidak disukai oleh Allah." Bila Allah tidak menyukai perbuatan jahat manusia maka bersiaplah untuk menerima ajab ! ".
Suatu hari Baim berdagang koran di halaman depan gedung kantor pos.Ia menawarkan koran dan majalah kepada setiap orang yang datang.Lumayan laku dagangannya.Dari arah dekat pos parkir sepasang mata memperhatikan Baim.Mata itu seperti mengikuti gerak aktifitas Baim.
" Ini sih pedagang koran masih baru....", kata pemilik mata yang sedang mengawas-awasi Baim." Brengsek banget si Dono nyuruh Gw buat ngerjain anak kecil ". pikir Murno,di kawasan parkir kantor pos ia juga sedang berdagang koran dan majalah.
Seorang wanita keluar dari mobilnya menuju loket penjualan benda pos.Melihat ada pedagang koran wanita itu kemudian teringat kawannya yang minta dibelikan majalah dan koran Pikiran Rakyat lalu ia memanggil. " Koran ! ", seru wanita itu.
Baim dan Murno sama-sama merasa yang dipanggil.Keduanya langsung berlari mendekati wanita itu,Murno kalah cepat, Baim lebih dulu sampai di hadapan sang wanita.
" Perlu koran apa,Bu ? ", tanya Baim
__ADS_1
" Pikiran Rakyat ! ", sahut wanita itu.
Baim menyodorkan koran Pikiran Rakyat kepada wanita itu,Setelah menerima koran ia langsung membayar.Membuka-buka halaman koran sebentar kemudian melanjutkan tujuannya ke loket penjualan benda pos.
Melihat wanita pembeli koran sudah jauh Murno dengan marah menghampiri Baim.
" Kamu kenapa nyerobot ? Wanita tadi itu memanggil saya ", ujar Murno sambil memelototkan kedua matanya.
Baim diam saja.Ia ingin bicara juga bahwa ia yang dipanggil oleh wanita itu tadi.Namun melihat Murno berbadan besar Baim memilih diam,tidak menyahut,hatinya takut.
Pletok ! Tiba-tiba Murno menjitak kepala Baim hingga mengaduh kesakitan.Rasa sakit di kepala belum hilang Murno menambah jitakan berturut-turut melampiaskan kemarahannya,Baim tak kuasa menahan rasa sakit ,koran dagangan di tangan jatuh berserakan.Ia berjongkok sambil mengelus-elus bekas jitakan menahan rasa sakit.
Toing dari arah Barat melihat perbuatan Murno kepada Baim,segera menghampiri Baim yang masih kesakitan.
" Salah kamu apa,Baim ? ", tanya Toing.
Baim menggelengkan kepalanya.
Toing melihat ke arah Murno dan memberi teguran." Kalau berani jangan kepada anak kecil ! ".
Murno yang masih emosi mendengar perkataan Toing tadi tambah emosinya ,ia mendekati Toing bermaksud hendak mendorong ke belakang." Kamu jangan ikut campur ! ", gertak Murno.
Toing tak gentar digertak begitu,ia balas menggertak." Kalau kamu merasa jagoan jangan melawan anak kecil ! Lawan aku ! ".
" Kamu menantang ?! ", ujar Murno berhadapan.Dan dengan tiba-tiba melayangkan tinju ke wajah Toing.
Dengan cepat Toing mengelak,dan membalas pukulan ke arah rahang Murno.Kemudian perkelahian pun tak terelakan.
Karena Toing selalu berhasil memukul hingga Murno kewalahan.Akhirnya Murno punya nyali ciut,ia lari ke arah jalan Banceuy.
Orang - orang yang melihat perkelahian Toing dengan Murno tadi ada yang meneriaki Murno lari,ada juga yang prihatin melihat kepala Baim benjol berkat jitakan keras dari Murno.
Melihat Toing hendak mengejar Murno Baim melarang.Sudah cukup membalas perlakuan Murno itu.
" Saya doa kan Murno sadar berbuat jahat kepada anak kecil itu tidak baik ", kata Toing,ia sangat heran melihat Baim." Kamu tidak dendam ? ".
Baim mengangguk," Untuk apa dendam ? ".
Toing menarik nafas lega, ia mengagumi pribadi Baim.Jujur dan tidak suka menyimpan dendam kepada orang yang telah berbuat jahat kepadanya.
__ADS_1
" Jika kamu dijahatin oleh Murno lagi nanti cepat bilang kepada saya,.... ya ", kata Toing sebelum ia pergi untuk meneruskan jualannya.