
Dari Ciparay Murno,Toing,Dono dan Baim tidak bersama lagi.Dono dan Baim langsung pulang ke rumah masing\-masing.Toing ikut Murno ke rumah ibu Murno menyerahkan pemberian dari Ki Enjon.Dari rumah ibunya Murno diantar Toing menemui Kang Maruli di Cikutra,menyatakan keseriusan menjadi pedangang koran keliling dan meminta bantuan menutup tunggakan di agen koran Manurung.
Di rumah Kang Maruli sore hati Murno sangat gembira karena mulai besok pagi ia sudah menjadi anak buah Kang Maruli yang dikenal sangat loyal kepada anak buah.
Baim tiba dirumah nya sekitar jam19.30 WIB.Ibunya menjadi marah.Keinginan ibunya itu bila libur sekolah tidak larut bermain." Mulai besok,pulang dari berdagang koran kamu harus membantu ibu ", tegur ibu Baim.
Mendapat teguran dari ibunya tadi Baim diam saja.Kemudian terdengar ibunya berkata lagi.Hati seorang ibu menjadi sangat tidak tenang bila anaknya barmain jauh sepanjang hari.Yang dikhawatirkan oleh ibu itu takut anaknya terpengaruh oleh pergaulan bebas,menjadi anak yang tidak beretika,tidak menurut kepada nasehat orang tua.
Baim mendengar semua kata-kata ibunya,ia tidak berani menjawab satu katapun.Karena nasehat Kakek dan Neneknya seorang anak dilarang membantah atau menyahuti perkataan orang tua yang sedang kesal.Lantaran ia mengikuti nasehat dari nenek atau kakeknya itu Baim memilih berdiam diri didepan ibunya yang lagi marah.
Setelah melihat ibunya tidak bicara lagi Baim kemudian berjalan ke kamar dimana ayahnya sedang tidur.Ditatapnya raut wajah ayahnya sebentar,lalu ia duduk di pinggir tempat tidur dekat kedua kaki ayahnya.Dipijatnya betis kaki ayahnya ,seperti seorang dukun pijat sedang mengobati fasien.Ibunya tersenyum melihat Baim memijat kaki ayahnya.
Belum lama dipijat ayahnya terbangun.Senyumnya berkembang melihat Baim seperti dukun pijat lagi bekerja.Dan ia tidak banyak berkata karena sudah hafal bila melihat tiba-tiba Baim memijati itu karena habis dimarahi oleh ibunya.
" Ehemmm ", dehem ayahnya menggoda.Dan Baim pun malu-malu.
Dono mengenakan baju serba bagus.Adiknya merengek minta ikut sambil memperhatikan baju bagus yang sedang dipakai oleh Dono itu.
Dono membujuk adiknya dengan meberi uang." Adek belikan kakak eskrim dulu sana ", ujar Dono membujuk.
Yang dibujuk berhenti merengeknya. Mulutnya menyeringai melihat Dono menyodorkan uang dan dengan cepat uang itu disambarnya.Lalu dengan senang adek Dono berlari keluar rumah menuju toko yang menjual eskrim.Saat itu Dono melihat ibunya pulang dari bejualan di pasar,tanpa banyak pikir ia segera pergi." Bu,saya pergi ke rumah kawan ! ", seru Dono berpamitan.
Di dalam mobil angkot Dono mebayangkan suasana acara ulang tahun Dewi kawan sekolah Baim.Ia merasa dengan mengenakan baju baru akan menjadi pusat perhatian Metty.Ini akan ia jadikan sebagai kesempatan bersama Metty bisa berlama\- lama.Ia bisa bincang\-bincang ke soal hati.
Wajah Metty tiba\-tiba hadir di pelupuk mata Dono,siswi SMP Angksa berbadan gendut anak pak Mandor itu seperti melambai\-lambai memanggil untuk segera bertemu.
Membayangkan Metty,membuat Dono berubah pikiran.Tujuan akan berkumpul di rumah Baim dulu untuk kemudian bersama menghadiri acara ulang tahun Dewi, ia memutuskan pergi langsung ke rumah Metty.Di sana ia bisa bertemu dengan Toing,Baim dan Murno sebelum pergi ke acara ulang tahun.
Di teras rumahnya Metty pangling melihat kehadiran Dono.Hampir tidak mengenali.Angan\-angan Dono tentang suasana mesra Metty menyambut kedatangannya jadi buyar.Dono malahan gugup menghadapi pertanyaan curiga dari Metty.
__ADS_1
" Kamu siapa ya kok tahu nama saya ? ", tanya Metty setelah disapa Dono.
Dono bengong.Semua angan yang ada di benaknya buyar." Saya,Dono...tempo hari kamu bersama Dewi mengundang saya untuk hadir di ultah Dewi malam ini ", jawab Dono.
Metty mengerutkan kening belum yakin dengan kata\-kata Dono.
" Tempo hari saya bertiga ke tempat kamu ini ", ujar Dono
Metty menatap dengan kening berkerut.Diingat\-ingatnya muka Dono.
" Saya bersama Baim..", ujar Dono untuk kesekian kalinya.
" Owh,Kamu ", baru Metty teringat.Ia ingat jelas saat itu berpegangan tangan dengan Dono. " Sumpah , saya pangling melihat kamu sekarang ", ujar Metty. " Kamu tunggu ya saya mau ganti baju dulu ".
Dono tersenyum,hatinya senang.Sambil duduk di teras ia melihat Metty berjalan masuk ke dalam.Dilihat dari belakang,badan Metty yang gembrot itu pinggulnya bergoyang seperti melambai\-lambai memanggil hati Dono.Serrrrrr. Terasa magnit desiran dalam dada Dono.
" Permisi,Dek ", ujar orang itu.
Dono menoleh,hatinya terkejut.Orang yang datang itu sudah ia kenal.Pencopet bernama Ucup.Nasib baik Dono , Ucup tidak mengenali Dono malam itu.
" Ada apa Kak ? ", tanya Dono,sambil menenang\-nenangkan jantungnya yang bedebar.
" Apakah benar ini rumahnya pak Mandor ? ", tanya Ucup lagi sambil memperlihatkan secarik kertas bertuliskan alamat rumah.
" Benar Kak ", jawab Dono.
" Pak mandornya sudah pulang belum ? ", tanya Ucup.
" Wah saya tidak tahu kak...kalau nanya pak mandor sudah pulang belum, ke anaknya saja..sebentar lagi juga dia keluar ", jawab Dono.
Ucup manggut\-manggut mendengarkan jawaban Dono tadi.Matanya memperhatikan muka Dono.
__ADS_1
Metty ke luar,Dono langsung bertanya.," Metty,ayah kamu sudah pulang belum ? Ini ada tamu mau bertemu ayah kamu ".
" Sudah ", jawab Metty,lalu beciara kepada Ucup," Tunggu ya,saya kasih tahu ke ayah ", lalu masuk lagi.
Ucup berjalan ke teras.Dono khawatir Ucup akan mengenali lalu ia memilih menjauh,ke pintu halaman sambil menunggu Baim,Toing dan Murno datang.Baru Dono melangkah tiba\-tiba Ucup memanggil.
" Hei,Dek ! Kemari ! ", ujar Ucup sambil melambaikan tangan.
Dono berhenti melangkah.Menoleh ke arah Ucup dada Donor berdebar.Lalu dengan langkah sedikit gemetar Dono mendekati Ucup." Ada apa Kak ? ", tanya Dono suaranya pelan.
" Saya minta tolong kamu belikan rokok ya ", kata Ucup,mengeluarkan dompet dari saku belang celananya,mengambil uang selembar Rp.50 ribu lalu menyerahkan kepada Dono.
" Baik Kak ", sahut Dono,kemudian ia cepet\-cepat pergi mencari warung yang menjual rokok.
Dalam perjalanan membeli rokok,Dono berpikir soal kedatangan Ucup menemui pak Mandor ayahnya Metty.
Warung yang menjual rokok di kawasan rumah pak Mandor sangat jarang.Setelah berjalan jauh baru Dono menemukan warung menjual rokok.
Saat Dono tiba lagi di rumah Metty, ia tidak melihat Ucup di teras.Hanya Metty di teras itu.
" Orang yang tadi duduk di sini kemana ? ", tanya Dono kepada Metty.
" Pindah ke dalam, lagi ngobrol sama ayah saya ", sahut Metty.
Dono menyerahkan rokok dan beberapa rupiah uang kembalian kepada Metty." Ini rokoknya orang itu,tolong kamu kasihkan ". ujar Dono,entah kenapa tiba\-tiba setelah Metty menyerahkan rokok dan uang kembalian Dono merasa tentram.
" Baim,dan kawannya kok belum datang ? ", Metty sedikit gusar ," Apa kita duluan saja ke rumah Dewi ".
" Ya baiknya sih begitu ", kata Dono,ia juga ingin cepat\-cepat pergi dari rumah Metty.Karena tidak ingin bertemu dengan Ucup yang sedang bicara dengan ayah Metty di dalam rumah." Soal Baim,Toing dan Murno bertemu di rumah Dewi tidak akan jadi masalah ".
Akhirnya Metty memutuskan pergi berdua ke tempat acara ulang tahun Dewi.Bergandengan tangan.Saat ke luar pintu halaman rumah,dari arah kanan datang Baim,Toing dan Murno.Awalnya dari jarak sedikit jauh mereka samar melihat Dono...namun setelah berdekatan meledaklah candaan mereka.
__ADS_1