
Hari ini Murno dan Dono merasa lebih dulu dagangan korannya habis.Mereka menunggu Toing dan Baim di taman alun-alun untuk kemudian mereka bersama setor uang koran kepada kang Maruli di Cikutra.
Setelah lama menunggu mereka melihat Toing datang dengan langkah tidak bersemangat.Toing sedang bingung memikirkan uang untuk setoran karena dagangannya tidak terjual habis.
Murno dan Dono pernah mengalami keadaan yang sedang dialami oleh Toing.Namun karena Baim selalu membantu menjualkan sehingga tidak membuat keduanya pusing.Kemudian Murno dan Dono memberi saran kepada Toing agar mau meminta bantuan dari Baim.Dengan penuh harapan mereka menunggu Baim datang.
" Kalau Baim tidak cepat datang bagaimana ? ", tanya Toing tiba-tiba seperti tidak yakin dengan saran dari Murno dan Dono." Koran harian pagi dijual dengan harga sesuai bandrol waktu jam sepuluh ke bawah.Bila dijual pada jam sebelas ke atas orang tidak mau beli,diobral juga jarang orang mau beli ", ujar Toing mulai tidak yakin karena hari semakin siang Baim belum ada datang.
Melihat Toing semakin kebingungan lalu Murno dan Dono berembug.Keduanya mulai memberi saran lagi kepada Toing.Saran Murno dan Dono,untuk menutupi kekurangan uang setoran bisa pinjam uang yang dikumpulkan oleh Baim.Rencana jalan-jalannya diundur sampai uang terkumpul lagi.
Tapi Toing merasa tidak setuju bila memakai uang yang ada pada Baim.Ia perlu memikirkan hal itu dengan tenang walaupun dengan waktu yang sangat singkat." Saya perlu berpikir dulu ", kata Toing kepada Murno dan Dono.
" Tapi itu saran saya yang terbaik,kawan ", sahut Murno.
Beberapa menit kemudian setelah berpikir tenang akhirnya Toing mau menerima saran itu." Baiklah.... saya ikuti saran kalian berdua ", kata Toing.Dono dan Murno langsung tersenyum senang persoalan yang dihadapi Toing dapat teratasi.
Jam hampir menunjukan pukul duabelas, suara adzan duhur mulai terdengar berkumandang dari menara Masjid Agung yang tidak jauh dari alun-alun.Toing,Murno dan Dono kelihatan gelisah.Mereka kehilangan Baim karena belum datang-datang juga.Mereka bingung, tidak tahu harus mencari Baim kemana.
" Tadi pagi sekitar jam delapan saya ketemu Baim di jalan Banceuy...korannya tinggal sedikit ", kata Murno.
" Kamu tanya dia tidak,mau kemana ? ", tanya Toing kepada Murno,hati Toing mulai mengkhawatirkan Baim.
" Tidak... karena saya tergesa-gesa ada orang manggil mau beli koran ", jawab Murno dengan suara pelan.Kelihatan Murno menyesal mengapa tidak menanya Baim waktu itu.
" Mungkin tidak kalau Baim sudah pulang duluan ? ", ujar Dono berharap Murno jangan terlalu sensitif.Kemudian menyarankan kepada Toing dan Murno supaya bersama menyusul ke rumah Baim." Ayo kita ke rumah Baim sekarang ", ujar Dono.
Toing tidak sepakat.Ia punya alasan,bila menyusul ternyata Baim tidak ada,takut perasaan kedua orang tua Baim terganggu.Ia mengajak Murno dan Dono untuk tetap menunggu Baim di alun-alun." Kita tunggu Baim satu jam lagi... bila tidak datang juga , kita langsung ke rumah kang Maruli...saya akan bilang terima hutang karena setoran saya kurang ".
" Kalau begitu kita nunggu Baim di rumah kang Maruli saja ", ujar Dono seperti memberi sebuah ide.
__ADS_1
" Bagus bagus... ide kamu bagus " sahut Murno.Setelah itu ia mengajak pindah tempat ke selter bus depan kantor BRI.
Mereka duduk di selter bus,melihat banyak orang menunggu bus datang.Ada yang berdiri dan duduk.Mereka juga menyaksikan padatnya arus lalu lintas di jalan Asia Afrika itu.
Dari arah Timur,sebuah mobil sedan keluar dari kepadatan mobil di jalan Asia Afrika,dengan sinar lampu sen yang terang mobil itu berhenti.Pengemudinya mengenakan baju warna putih berdasi.Di samping pengemudi itu Baim.Sebelum Baim turun pengemudi mobil sedan itu menyerahkan sebuah amplop kabinet berisikan sejumlah uang." Sampaikan amplop ini kepada ayah kamu,Baim ", ujar pengemudi mobil sedan itu." Minggu besok bapak akan menjenguk ayah kamu,tapi kamu tidak boleh bilang kalau saya akan datang ".
" Iya Pak ", kata Baim sambil kepalanya menunduk.Baim tidak berani melihat ke arah muka pengemudi itu.Ia menundukan kepala, orang itu terasa sangat penuh wibawa.
Baim membuka pintu mobil sedan,ia segera turun dari dalam mobil kemudian menutupnya kembali.Pada saat itu tiga pasang mata dari selter bus sedang memperhatikan Baim.Setelah mobil sedan itu berjalan Baim melangkah menuju taman alun-alun, melihat ke arah selter bus nampak Toing,Murno dan Dono sedang mentertawainya.Baim menghampiri mereka.
" Hebat kamu Baim,naik mobil sedan ", ujar Dono.
Baim hanya tersenyum mendengar ucapan Dono.
" Siapa orang yang membawa mobil sedan tadi,Baim ? ", tanya Toing." Sepertinya dia sudah lama mengenal kamu ".
" Kamu benar,Toing...Orang tadi sudah lama mengenal saya ", sahut Baim." Orang tadi adalah pak Gunawan bos proyek ".
" Nanti saya cerita ke kamu.Sekarang hari sudah siang,saya belum setor uang koran ke kang Maruli ", kata Baim,wajahnya memperlihatkan hatinya lagi gusar.
" Tenang kawan, saya bertiga juga belum setor uang koran ", sahut Murno.
Baim ragu mempercayai ucapan Murno,ditatapnya wajah kawan itu." Kamu tidak boleh bohong,Murno ".
" Benar,Baim.Saya,Dono dan Murno belum menyetor uang koran..Kami menunggu kamu ", Toing bicara." Saya kepingin bicara sungguhan sama kamu ".
" Mau bicara apa ? ", tanya Baim,diperhatikan wajah Toing dan kawan-kawannya.Pikiran Baim menjadi tegang menunggu soal apa yang akan dibicarakan oleh Toing dengannya.
Toing seperti kesulitan mau bicara.Dono dan Murno mengojok-ojok Toing agar cepat bicara.Baim semakin tegang,Murno dan Dono terus mengojok.
__ADS_1
Akhirnya Toing bicara,pertama yang ia bicarakan soal jumlah uang yang sudah terkumpul.Lalu ia menyampaikan maksudnya akan memakai uang itu buat menalangi kekurangan uang setoran koran.
" Kalu begitu sebelum kita ke rumah kang Maruli ke rumah saya dulu ", ujar Baim.Uang sudah banyak terkumpul tapi disimpan di rumah.Diambil untuk keperluan Toing sisanya masih ada.
Baim berharap kepada Toing,Murno dan Dono kegiatan menyisihkan uang dari keuntungan dagang koran terus berlanjut.Tidak hanya saat liburan sekolah saja.
Baim mengajak Toing,Murno dan Dono pergi ke rumahnya.Mereka naik mobil angkot menuju daerah Kiaracondong.Dalam mobil angkot itu Baim bercerita tentang pertemuannya dengan pak Gunawan bos proyek, dahulu bos ayahnya.
***
Bentuk gudang matrial bangunan itu sudah tidak bagus lagi.Beberapa mobil truck memuat ratusan zak semen sedang antri menunggu muatannya dibongkar.Orang-orang sedang bekerja membawa barang dari dalam gudang dan menaruhnya di atas bak mobil kecil.Pak Mandor kelihatan sibuk mengawasi kegiatan orang bekerja di gudang itu.
Setelah berjalan mondar-mandir pak Mandor berdiri di diantara mobil-mobil truck diparkir.Ia memanggil-manggil beberapa orang yang sedang bekerja di dalam bangunan gudang. Tidak lama kemudian tiga orang keluar dari gudang menghampiri pak Mandor.Setelah diberikan petunjuk tiga orang itu kembali ke dalam gudang.
Jauh dari bangunan gudang,terhalang oleh pagar kawat berduri,Baim sambil sembunyi memperhatikan ke arah kesibukan orang bekerja di gudang itu.
Tanpa diketahui kehadirannya oleh Baim seseorang datang dari belakang menepuk pundak Baim." Kamu sedang memperhatikan apa,Nak ? ", sapanya membuat Baim terkejut,lalu perlahan-lahan memalingkan mukanya melihat wajah yang menepuk bahunya.
" Kamu, anaknya Surya ?Sedang apa di sini ? ", sapa orang itu dengan senyum.
Baim menundukan kepala,ia malu dan takut.Orang yang menyapa itu ia kenal pernah menjadi bos ayahnya." Pak Gunawan ???? ".
Kemudian pak Gunawan mengajak Baim makan di sebuah restoran di jalan Dago.Sesudah itu dengan mobil sedan ia mengantar Baim pulang,tetapi Baim minta diantarkan ke selter bus dekat alun-alun.
Alis Toing berkerut setelah mendengar cerita panjang Baim." Kalau saya jadi kamu saya sampaikan kepada bos proyek itu tentang ayahmu sakit ", ujar Toing.
Harapan Toing,bos itu proyek itu memberi perhatian.Ia yakin para bos yang sudah melakukan pemecatan terhadap karyawannya masih punya empaty..Apalagi setelah menyadari mengeluarkan keputusan pemecatan tidak berdasarkan fakta yang sesungguhnya.
" Banyak bos memecat karyawan dasarnya hanya dari laporan yang belum tentu benar ", kata Toing,ia mengeluhkan kenyataan-kenyataan yang berkembang dalam kehidupan.Seperti ayah dia sendiri juga sering mendapat perlakuan kurang menggembirakan hati.
__ADS_1
Baim juga punya keinginan seperti yang disarankan Toing,menyampaikan soal kesehatan ayahnya kepada bos proyek.Tapi ia dihalang\-halangi oleh perasaan takut ayahnya tidak menyetujui.Menjadi anak yang menjaga perasaan orang tuanya itu yang sedang dilakukan Baim.Itu juga rasanya sangat berat.
Mobil angkot yang dinaiki Baim,Dono,Toing dan Murno berhenti tak jauh dari perempatatan jalan Kiaracondong.Setelah membayar ongkos kepada sopir angkot lalu anak-anak itu dengan semangat keluar dari angkot.Selanjutnya mereka bersusah payah menyebrangi jalan karena arus kendaraan sangat padat.