Anak-anak Vs Sindikat

Anak-anak Vs Sindikat
Anak buah pak Mandor


__ADS_3

Dono sangat gembira bisa dengan mudah mendapatkan informasi tujuan kedatangan Ucup menemui pak Mandor.Dono pandai memanfaatkan situasi hubungan persahabatannya dengan Metty.Ia datang membawa bakso.


Di teras rumah sambil menikmati bakso pemberian nampak Metty tak segan-segan menjawab setiap Dono bertanya.Kata Metty , Ucup datang membawa surat dari pak Bobi,isinya gar pak Mandor menempatkan Ucup bekerja dibagian gudang sebagai penjaga malam.


" Ada apa kamu nanya-nanya,kamu pengen kerja juga ya ? ", tanya Metty kepada Dono.Ditatapnya muka Dono,sesudah itu Metty berkata," Kamu masih kecil,tidak mungkin diterima melamar kerja di proyek ".


" Saya cuma ingat sama orang yang bernama Ucup,itu saja ", sahut Dono.


" Kenapa ? ", tanya Metty penasaran.


" Orang itu sudah bikin hati saya kesal ", jawab Dono dengan asal bicara.Ia berharap Metty tidak banyak bertanya lagi.Diperhatikannya Metty yang sedang asyik menikmati bakso yang pedasnya sangat luar biasa.Ia tersenyum melihat Metty seperti orang menangis karena menahan rasa pedas di mulutnya.Setelah tersenyum Dono melanjutkan bicara," Orang itu menyuruh saya ke warung beli rokok tidak memberi saya upah ".


" Ihhhh kamu mata duitan, disuruh ke warung inginnya dapat upah ", Metty langsung menimpali,setelah itu memperolok Dono sampai tersipu malu.


Dono tidak membiarkan dirinya diperolok lama,ia segera menepisnya.Yang memperolok seperti kehabisan bahan.Hati Dono jadi senang.


Walaupun Metty menganggap Dono sebagai mataduitan, ia mengakui Dono sebagai pribadi yang sangat menyenangkan.Di masa-masa libur sekolah sekarang ia berharap Dono selalu datang membawa bakso.


" Sering-sering lah kamu datang ke rumah saya ", ujar Metty saat tahu Dono beberapa menit lagi berpamitan pulang.


" Apakah kamu tidak merasa terganggu bila saya sering main ke rumahmu ? ", tanya Dono,ia seperti ingin memastikan apakah perkataan Metty yang didengarnya tadi benar sungguh-sungguh atau hanya sekedar basa-basi.

__ADS_1


" Kenapa kamu bicanya begitu,Dono ? ", Metty sedikit tersinggung dengan kata-kata Dono,lalu ia cemberut dan memalingkan muka membuat Dono merasa bersalah.


" Ops bicara saya salah ya ? Saya minta maaf ya ", Dono buru-buru membujuk supaya Metty tidak cemberut.


Metty masih memalingkan mukanya,lalu tanpa ada keraguan Dono meraih tangan Metty sambil berulang-ulang mengutarakan permintaan maaf." Maaf kan saya,ya ...maafkan saya.Please maaf kan saya ".


Suasana di teras rumah pak Mandor itu nampak seperti adegan percintaan film India.Yang wanita ngambek kepingin dimanja,dan yang lelaki ketakutan sambil memegang tangan wanita merengek meminta dimaafkan.Itulah Metty dengan Dono.


Tiba-tiba keduanya terkejut melihat dua motor datang.Motor pertama dikemudikan oleh Ucup.Motor ke dua dikemudikan oleh Samardi berboncengan dengan Jarwon.Setelah memarkir motornya masing-masing langsung Ucup ,Samardi dan Jarwon berjalan menuju teras.


Dono melihat Ucup datang bersama kedua orang kawannya mendadak tidak punya nyali.Namun karena posisinya sedang berdua dengan Metty otak Dono bisa berpikir sehat.Sambil mengawasi gerak-gerik dari kedua orang kawan Ucup dalam benak Dono berlangsung mencari bentuk penolakan kalau-kalau satu orang dari kawan Ucup mengenali.Dono menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.Berharap sebuah ide datang.


Sementara itu,sambil berjalan di belakang Ucup mata Jarwon seperti tidak berkedip memperhatikan Dono.Lalu Jarwon berbisik kepada Ucup." Saya seperti pernah melihat anak lelaki itu,Cup ".


" Kalau saya tidak salah,anak itu salah satu pedagang koran yang kita buntuti di jalan Kiaracondong ", jawab Jarwon.


Samardi mengamati wajah Dono.


" Bukan dia ", tiba-tiba Ucup bicara." Saya sudah ketemu dia di sini....dia teman sekolah anaknya pak Mandor ".


" Kamu yakin anak itu bukan pedang koran yang sedang kita cari ? ", tanya Jarwon kepada Ucup.Ia masih yakin dengan ingatannya sendiri.

__ADS_1


" Ya ", jawab Ucup,lalu meyakinkan dan mengingatkan Jarwon supaya tidak ceroboh kalau berbuat tidak salah sasaran.


Sementara itu,melihat Ucup bersama kedua kawannya semakin mendekat Dono merasa dalam dadanya bergetar.Nyalinya semakin ciut.Ia masih bingung kalau temannya Ucup mengenali.Saat posisi Ucup dan kawannya berjarak satu meter dari teras rumah tiba-tiba Dono mendapat ide cemerlang.Ia berdiri tegak,menyambut kedatangan Ucup bersama kawannya itu.Dengan wajah gembira,menebar senyum Dono berkata : " Pucuk dicinta ulam tiba,Bang -----baru saja dibicarakan oleh pak Mandor Abang datang.Panjang umur,panjang umur.. Pesan pak Mandor kepada saya berdua jika abang datang disuruh menunggu di dalam..jangan di teras...sekarang pak mandor sedang ke rumah pak Bobi...tidak lama lagi beliau pulang ".


Mendapat sambutan begitu Ucup jadi bisa berbangga hati kepada Samardi dan Jarwon.Lalu ia berbisik kepada Jarwon," Kalau dia itu salah satu dari pedagang koran yang kita cari tidak mungkin dia tahu nama pak Bobi....apakah kamu masih yakinan dengan hasil penglihatan kamu ".


Jarwon tidak menyahut.Ia masih terus memperhatikan Dono.Namun karena Ucup turut apa kata-kata dari sambutan tadi,masuk ke ruang tamu ia pun ikut masuk menunggu pak Mandor pulang di sana.


Metty seperti terkena sebuah hipnotis,melihat Dono mempersilahkan Ucup langsung masuk ke ruang tamu di dalam rumah di dalam hatinya sangat marah.Namun ingin bicara ia tidak bisa,mulutnya seperti terkunci untuk bicara.


Setelah Ucup dan kedua kawannya masuk ke dalam rumah.Ia kemudian membuat tipu-muslihat supaya Ucup betah duduk menunggu di dalam,ia tidak ingin Ucup dan kawan-kawannya duduk pindah ke teras.Lalu dengan suara dikeraskan,terdengar oleh Ucup kata-kata Dono kepada Metty.


" Sekarang kamu ke dalam kasih tau kepada ibumu supaya menyuguhi tamu air minum...saya mau ke rumah pak Bobi menyusul ayah kamu ! ", ujar Dono.Setelah bicara ia buru-buru pergi.


Metty masih seperti dihipnotis,tidak bicara melihat Dono terburu-buru pergi.Setelah Dono menghilang dari pandangan mata baru Metty berseru." Jangan lama-lama ya ! ".


Sebelum benar-benar jauh meninggalkan rumah pak Mandor sepertinya Dono tidak ingin berjalan santai.Ia berlari khawatir Ucup menyuruh kawannya untuk mengejar,ia berlari karena rasa takut di hatinya.Sebelum ia naik angkot menuju rumah Toing hatinya belum bisa tenang.


***


Toing,Murno sedang berkumpul di rumah Baim.Kali ini mereka berbincang-bincang dengan ayah Baim.Ayah Baim yang kuat memegang prinsif kejujuran berbicara berapi-api memberi petuah.

__ADS_1


" Jujur dalam kehidupan kita itu sangat penting..orang yang hidup dengan kejujuran akan menjadi pribadi yang menyenangkan...walaupun jaman sekarang orang yang jujur banyak menghadapi tantangan ", kata ayah Baim,sambil disertai beberapa kali batuk.


" Perbuatan jujur itu seperti prosesnya sebuah ilmu.Berbuat jujurlah dari sejak kecil jika menginginkan menjadi orang-orang yang amanah ", kata ayah Baim lagi.


__ADS_2