
Murno dan Toing sepertinya sudah tidak sabar ingin segera berbicara dengan pak Surya,terlihat dari cara keduanya makan dengan terburu-buru.
Baim dan Dono saat itu teringat kata-kata dari ibunya yang bawel mengingatkan kalau makan harus tertib tidak boleh terburu-buru.Keduanya berpura-pura tidak melihat Murno dan Toing pergi ke ruang tamu lalu balik lagi ke ruang makan.
Ruang tamu itu masih belum ada orang,ayah Baim belum ke luar dari dalam kamarnya.
" Kita bicara dengan ayahmu dimana,Baim ? Di ruang tamu apa di kamarnya ? ", tanya Toing kepada Baim yang masih menghadapi piring makannya.
" D ruang tamu ", jawab Baim." Memangnya kenapa,Toing ? ".
"Ayah kamu kok belum keluar juga dari kamarnya ", sahut Toing,sementara kedua matanya melirik ke arah ruang tamu.
" Sabar,Kawan....Saya masih makan.Tunggu beberapa menit lagi ", ujar Baim,lalu melihat Dono baru selesai makan ia buru-buru melanjutkan makan,dengan tiga suapan sisa nasi di piringnya langsung habis.
Dari kamarnya, ayah Baim menggunakan alat bantu berjalan menuju ruang tamu.Setibanya ia di sana,sebelum ia duduk di kursi tamu anak-anak itu datang menghampiri.Mereka seperti berlomba-lomba menggeser sebuah kursi untuk pak Surya supaya duduk dengan mudah.
" Alhamdulillah ", ujar pak Surya setelah ia duduk,lalu ia melihat wajah anak-anak itu satu persatu." Ayo kalian juga duduk ", ujar pak Surya lagi.
Toing dan kawan-kawan duduk dengan santun di kursi yang ada di hadapan pak Surya.
Pak Surya tersenyum melihat Toing,Murno,Dono dan Baim," Terima kasih ya anak-anak ", ujar pak Surya sambil menggeser posisi duduknya.
Murno dan Toing berbisik saling menyuruh bercerita kepada pak Surya.Rupanya keberanian kedua anak itu menjadi kendor setelah berhadapan dengan pak Surya.
" Kamu saja yang bicara,Toing ", bisik Murno.
" Tenang dulu Murno,jangan tergesa-gesa ", balas Toing,lalu ia menarik nafas dalam-dalam,cara ia mengatur keseimbangan emosi sebelum berbicara dengan ayah Baim.
Pak Surya, ayah Baim melihat sikap anak-anak itu jadi tersenyum.Murno,Dono dan Baim memperhatikan Toing sedang menghirup udara dengan mata terpejam.
Toing tidak perduli menjadi perhatian kawan-kawannya." Saya harus tenang berbicara dengan ayah Baim ", kata Toing dalam hati.Ia harus memanfaatkan kesempatan waktu untuk berkonsentrasi supaya ia bisa mengumpulkan kata-kata pembuka pembicaraan.
Toing akhirnya merasa konsentrasinya buyar,kata-kata yang dikumpulkan dalam benaknya tiba-tiba menghilang karena ayah Baim lebih dulu bicara.
" Kawan Baim yang bernama Murno yang mana ? ", tanya ayah Baim membuat Toing gagal konsentrasi, dan Murno gugup.
" Saya Pak ", sahut Murno dengan gugup.Sejenak menengadah kemudian menundukan kepala.
Toing tersenyum dalam hati melihat Murno seperti belum siap berbicara.Lalu ia berbisik kepada Murno," Maaf Murno, kamu yang diajak bicara...Saya tidak mau asal menyahut... ".
__ADS_1
" Kalau yang bernama Toing, kamu ? ", kata ayah Baim menerka dan menunjuk ke arah Dono.Ia mengira Dono sebagai nama Toing.
" Bukan Pak...Saya Dono...Kalau yang bernama Toing itu Dia ", sahut Dono sambil mengarahkan telunjuk kepada Toing yang duduk di sebelah Murno.
" Iiiikh ayah apa-apaan sih ! ", Baim memberikan protes kepada pak Surya..Ia bermaksud membela melihat kawan-kawannya pada gugup.
Pak Surya tertegun melihat Baim protes menyadarkan ia dari kesalahan.Dan saat itu ia mendengar Murno berkata : " Saya,Toing Pak ".
" Maafkan Bapak ya Toing...maklum bapak hanya tahu nama kalian tapi melihat orangnya masih belum hafal... ", kata ayah Baim kepada Toing.
" Sama-sama Pak.... Saya juga mohon maaf bila tingkah laku saya kurang berkenan di hati bapak ", sahut Toing sangat ramah sehingga memberi kesan sangat baik di hati pak Surya, ayah Baim.
Pak Surya bertambah senang melihat Toing kawan Baim sangat santun bicaranya.Ia jadi percaya anak-anak itu tidak akan pernah membawa Baim kepada perbuatan-perbuatan tercela.
" Tadi kata Baim------ Kalian mau bercerita melihat kegiatan sekelompok orang melakukan pencurian di gudang, betul kah itu ? ", kata pak Surya.
Toing dan Murno hampir bersamaan menyahuti perkataan pak Surya.
" Betul Pak ".
" Kami tidak dengan sengaja melihat pencurian itu ,Pak... ", kata Murno.
Toing mencoba mengingat hari-hari sebelum melihat ada kegiatan pencurian itu.
" Begini Pak ", ujar Murno,sejenak seperti berpikir lalu ia bercerita : " Awalnnya saya dan kawan-kawan sedang belajar naik sepeda di lokasi dekat gudang proyek.. tiba-tiba datang seseorang marah-marah dan melarang belajar naik sepeda di sekitar lokasi itu... ".
Ayah Baim heran, " Apa alasan kalian dilarang bermain di situ ? ".
" Tempat itu angker Pak...banyak hantunya ", sahut Dono.
Pak Surya : " ......... "
" Tapi saya tidak percaya,Pak ", Murno menambah kata-kata Dono." Kami terus belajar naik sepeda di tempat itu ".
Orang tadi datang lagi bersama kawannya,melihat kami tidak takut ditakut-takuti kemudian salah seorang tiba-tiba tersungkur ke tanah,dengan mata terpejam orang itu meraung dengan gerakan pencaksilat, sangat menakutkan.
" Kata kawannya, orang itu kerasukan hantu jahat yang tidak senang dengan keberadaan kami di tempat itu ", ujar Toing.
" Tapi saya tidak percaya,Pak... ", sahut Murno.
__ADS_1
Ayah Baim penasaran dengan Murno kawan Baim yang satu ini." Alasan kamu tidak mempercayai Kenapa ? ".
Murno berpikir sejenak,ia harus mengatakan atau tidak di balik keberaniannya selama itu, melihat pak Surya, dan Toing,Baim,Dono seperti sedang menghakimi.
" Tempat itu bersih, tidak dihuni oleh hantu jahat ", kata Murno.Kemudian ia mengambil sebuah batu mirip batu jambrut dari dalam saku celananya dan memperlihatkannya kepada ayah Baim.Batu itu pemberian Ki Enjon paranormal tersohor dari Ciparay.
Sambil tangannya memegang batu mirip batu jambrut Murno menjawab pertanyaan dari ayah Baim : " Kemana-mana saya selalu membawa batu ini dalam saku,Pak. Bila saya melewati tempat yang ada hantunya batu ini terasa panas...kemarin di tempat kami belajar naik sepeda batu ini tetap adem ".
Kawan-kawan Murno seperti terhipnotis.
" ....... "
Pak Surya memperhatikan batu itu sangat menarik hati, " ......... ".
" Karena orang itu menakut-nakuti dan ngotot melarang kami belajar naik sepeda, saya berpikir pasti ada sesuatu yang disembunyikan di tempat itu kemudian saya bersama Toing malam harinya mencari tahu ", kata Murno.
Gelap.Lampu-lampu penerang di area luar bangunan gudang yang terang-benderang tiba-tiba dimatikan.
Terdengar dengan jelas percakapan orang dalam gelap.
" Cukup 30 zak saja. Perintah dari pak Bobi tidak boleh lebih dari 30 zak ".
"Mobilnya mana ? Kenapa belum datang ?
" Kamu jangan mikir soal mobil ! Tugas kita hanya memindahkan 30 zak dari dalam gudang ".
"Baiklah ".
Tak lama kemudian terdengar suara mobil datang tanpa lampu menyala.Sopirnya seperti sudah mahir mengendarai mobil dengan lampu dimatikan dalam suasana gelap.
Mereka berjumlah lima orang.
Setelah mereka selesai menaikan barang-barang itu ke atas bak mobil, terdengar ada yangg berseru.
" Tutup lagi pintunya,Ucup ! Kuncinya jangan hilang ".
" Baik pak Mandor ".
Wajah pak Surya nampak semangat berapi-api setelah Murno selesai bercerita.
__ADS_1
" Itu pencurian semen ", ujar pak Surya..kemudian ia memberi saran kepada anak-anak itu." Kali lain jangan lakukan mengintip orang sedang mencuri...itu sangat membahayakan diri kalian ".
Kecurigaan saya terhadap pak Bobi dan Mandor telibat dalam pencurian semen akhirnya terbukti,tapi ada nama Ucup, siapakah dia ? ujar pak Surya dalam hati.