Anak-anak Vs Sindikat

Anak-anak Vs Sindikat
Di buntuti orang.


__ADS_3

 


Malam ini ibu dan ayahnya nampak sudah bisa menikmati tidur dengan pulas.Berbeda jauh jika dibandingkan dengan malam-malam lewat selama berbulan-bulan.Diperhatikannya wajah kedua orang tuanya yang sedang tidur lelap itu.Jam dinding telah menunjukan pukul dua puluh tiga lebih.


Sebelum ayahnya jatuh sakit,bila libur sekolah ia selalu minta diantarkan ke rumah Kakek di Banjar Ciamis. Di sana ia bermain-main dengan anak-anak sebayanya , bermain ke perkebunan kelapa milik kakek.Bila lelah karena berlari-lari di kebun kelapa, ia minta dipetikan kelapa muda kepada mang Ayub pekerja kakeknya yang bertugas menjaga kebun kelapa itu.Sedih hatinya merindukan Kakek dan neneknya yang jauh.Melihat ayahnya lama sakit,ibunya selalu bangun tengah malam membuat kue untuk didagangkan pagi hari dan ia berdagang koran,menetes juga air mata Baim.


Baim berdoa kepada Allah,bersyukur telah memiliki kawan Toing,Dono,Murno seperti anggota keluarga sendiri.Berteman dengan saling tolong-menolong,saling mengingatkan bila ada kesalahan rasanya seperti mempunyai harta yang tidak ternilai.Ia meminta kepada Allah agar pertemanannya itu tetap utuh hingga dewasa.


Ibunya bangun tidur.Melihat Baim sedang berdoa betapa gembiranya hati ibu itu.Namun karena ada aturan yang ditanamkan jam sembilan anak harus sudah tidur maka ibu itu menegur dengan penuh rasa sayang.


" Kamu belum tidur, kenapa ? ", tanya ibunya.Ia melihat kedua mata Baim sembab." Kamu habis menangis ? ".


" Akh tidak ,Bu ", sahut Baim,terpaksa berbohong karena tidak ingin menjadi beban pikiran ibunya.


Ibunya sangat hapal tentang sebuah kesehatan.Tidak baik seorang kurang tidur.Itu akan sangat mengganggu waktu belajar di sekolah. Kurang tidur dapat menyebabkan ngantuk saat sekolah,tidak bisa fokus mengikuti pelajaran berujung mendapat teguran guru yang memberi pelajaran.Karena itu ibunya meminta Baim segera tidur."Besok kamu sekolah,cepat tidur. Ibu tidak ingin mendengar kamu tertidur di sekolah saat belajar ".


" Oh iya----saya lupa Bu ! ", seru Baim.Segera ia setengah berlari menuju kamarnya. Teringat surat undangan dari sekolah masih di dalam tas belum diberikan kepada ibunya.


Ibunya mengira Baim lari ke kamarnya akan tidur.Hatinya senang melihat Baim masih tetap turut apa kata orang tua.Namun beberapa menit kemudian dilihatnya Baim dari dalam kamarnya ke luar membawa surat undangan dari Sekolah.


" Besok saya mulai libur sekolah,Bu . Ini ada undangan untuk orang tua siswa dari sekolah ", Baim memberikan surat dari sekolah itu kepada ibunya.


Setelah menerima dan membaca surat itu,keinginan ibunya tidak berubah,minta Baim cepat tidur.


" Yaaahhhh Ibu..... ", ujar Baim,dengan malasnya ia kembali ke kamarnya.


Ibu Baim pergi ke dapur untuk membuat kue.Besok ia harus menitipkan kue-kue di warung-warung yang lebih jauh lagi.Ia ingin usaha berjualan kue itu menjadi sebuah usaha yang besar,seperti cita-citanya dahulu saat sekolah di Sekolah Kejuruan Keluarga Atas(SKKA).


Sebelum waktu subuh tiba,Kang Maruli sudah sibuk menggelar dagangannya.Beberapa anak buahnya seperti Dono,Baim,Toing, pedagang koran keliling sudah nampak hadir.Setelah melayani permintaan anak-anak itu Kang Maruli bicara kepada Toing :" Kamu bilang Murno mau ambil koran ke saya, mana kok dia tidak datang ? ".


" Dia bilang sih mulai besok,Kang...", kata Toing.

__ADS_1


" Nanti kamu bilang kepada Murno,mau ambil dagangan dari kang Maruli silahkan, syaratnya tidak punya tunggakan di agen yang lama ", ujar kang Maruli.


" Iya Kang,nanti siang saya bilang ke Murno ", sahut Toing.


Kemudian kang Maruli berkata lagi." Biasanya ambil koran di agen mana ? ".


" Katanya sih di agen koran Manurung ", sahut Toing.


Lalu kang Maruli Spontan membuat persyarat lunak.Bila Murno masih punya tunggakan di agen koran Manurung ia akan meminjamkan uang untuk melunasi tunggakan itu.Meskipun itu untuk Murno,Toing, Dono dan Baim menjadi gembira mendengarnya.


Toing,Baim,Dono dan beberapa anak buah kang Maruli mulai menyebar keliling menjajakan koran,di tempat keramaian, di dalam bus kota,di terminal bus Leuwipanjang,stasiun kereta api dan di kantor pos.


Setelah berjualan koran,seperti biasa Toing,Dono dan Baim kumpul di alun-alun untuk Kemudian pergi ke rumah kang Maruli di Cikutra,setor uang koran.


" Hari ini kamu mau menyimpan uang ke saya berapa,Dono ?", Baim mulai lancar kerja sebagai bendahara.


" Rp 15.000,- ", ujar Dono.Kemudian menyerahkan uangnya kepada Baim.


" Saya Rp 20.000,- ", sahut Toing,menghitung uang receh,ada ribuan,dua ribuan.Sesudah itu menyerahkan kepada Baim.


Catatan ini namanya jurnal T , semua yang menyetor uang dicatat satu persatu di sebelah kiri,bila ada uang dipakai dicatat di sebelah kanan.


Toing mengerutkan kening melihat jurnal T ,sebentar memandangi wajah Baim dengan perasaan kagum." Itu kan pelajaran akutansi ? Masa sih Baim sudah bisa akutansi ? Kalau dibilang dia belum bisa nyatanya dia menggunakan itu ? ". setelah itu dengan penasarannya Toing bertanya." Kamu mengerti jurnal T dari mana ? ".


" Ibu saya yang mempelajari ", jawab Baim bangga,katanya,ibu dan ayahnya dulu kuliah ambil fakultas ekonomi.


Dari Cikutra mereka pergi ke Cicadas,dekat RS Santo Yusuf,rumah Murno.Tapi Murno tidak ada,kata ayahnya Murno sedang berada di Buahbatu di rumah ibunya.Untungnya, Dono sudah tahu tempat Murno yang di Buahbatu itu.Dengan hati riang-gembira mereka menyusul Murno.


Sedang menunggu angkot jurusan Leuwipanjang lewat Buahbatu, Dono melihat seorang lelaki dengan pakaian perlente mengawasi, orang itu sebentar memperhatikan Toing,sebentar memperhatikan Baim,bila ia melihat orang itu memelototi.


" Toing,kamu lihat ke sebelah kanan deh ", bisik Dono sambil mencolek-colek lengan Toing." Orang itu dari tadi mengawasi kita ".

__ADS_1


Toing melirik ke kanan,ia merasa pernah melihat wajah orang itu.Mencoba mengingat-ingat tapi tak ketemu.Tatapan mata dari orang itu menunjukkan rasa rasa tidak nyaman.


" Waspada,tapi tunjukkan seakan kita tidak melihat dia...", Toing balas berbisik.


Baim menepak lengan Toing dan Dono karena melihat kedua temannya itu berbisik-bisik."Kalian ngomongin saya,ya ", seru Baim.Melihat Toing dan Dono mengedip-ngedipkan mata sebagai kode maka Baim tidak melanjutkan bicara.Ia melihat sekeliling. Hatinya terkejut ada orang sedang mengawasi, orang itu seperti sedang menyimpan dendam lama.


Sekarang harus bagaimana ? Tanya Baim dan Dono kepada Toing.


Tetap berpura-pura tidak melihat dia.Jalan ke arah perusahaan Philip sambil waspada.Jika orang itu terus membuntuti kita nanti masuk ke pos polisi.


Ketiga anak itu berjalan sambil bertukar pendapat,tapi hatinya jadi sama-sama takut.Dengan jarak puluhan meter orang itu membuntuti.


" Kamu tahu mulai dari mana dia membuntuti kita ", tanya Toing.


Dono dan Baim tidak menjawab karena keduanya sibuk berpikir bagaimana cara untuk mengelabui orang itu.Sementara rasa takutnya perlahan-lahan membesar.


Toing kesel.Ia tepuk pundak Dono dan Baim dengan keras." Kalian ditanya pada diam saja ! ".


Dono dan Baim mengaduh,keduanya berhenti.Toing melihat orang yang membuntutinya juga berhenti sambil melihat ke sebrang jalan,tangannya melambai-lambai memanggil kepada dua orang yang ada di sebrang jalan sana.


Toing hafal wajah salah seorang yang ada di sebrang jalan sana,wajah pencopet yang aksinya di bus kota digagalkan di alun-alun oleh Murno beberapa hari yang lalu.


Sekarang Toing harus berpikir mencari jalan,ia takut bila orang itu bersatu akan melampiaskan dendamnya.Lalu dengan cepat ia menarik lengan Dono dan Baim melanjutkan perjalanannya.


Dua orang dari sebrang jalan tadi menghampiri kawannya yang memanggil.Mereka sebentar berunding.Sesudah itu orang yang membuntuti menunjuk ke arah Toing,Baim dan Dono.Kelihatan mereka marah,dengan setengah berlari mereka membuntuti anak-anak.


Ada pos polisi, Toing mengajak Dono dan Baim masuk ke pos itu.Tiga orang polisi yang sedang bertugas di pos itu melihat wajah Toing,Baim dan Dono seperti sedang ketakutan. Ditanya anak-anak itu satu persatu.


Tiga orang yang membuntutinya seperti menelan kekecewaan melihat anak-anak berbicara dengan polisi.Sambil melirik ke arah pos polisi mereka berjalan melewati sampai jauh...


Toing memutuskan harus berbalik arah,agar tidak bertemu dengan orang-orang tadi.Dengan berpura-pura merubah diri sebagai anak-anak sedang tersesat Toing menanyakan kemana arah menuju Cicaheum.

__ADS_1


Oh alaaah , kalau kalian mau ke Cicaheum kalian harus kembali lagi.Naik angkot saja dari sini , ujar petugas polisi itu dengan penuh kebaikan kepada Toing,Baim dan Dono.


 


__ADS_2