Anak-anak Vs Sindikat

Anak-anak Vs Sindikat
Perlu Bukti Yang Kuat


__ADS_3

Ayah Baim menilai semua yang diceritakan oleh Baim,Toing dan kawannya memang benar kegiatan pencurian semen di gudang proyek tempat ia kerja dulu.


Ada nama pak Bobi,dan pak Mandor disebut-sebut oleh para pencuri itu bagi ayah Baim merupakan kabar yang menguntungkan.


Dan akan mengejutkan pak Gunawan sendiri tentunya.


Bukan kah pak Gunawan pernah bicara kepada ayah Baim bahwa ia sedang menugaskan pak Mandor guna mencari tahu siapa pelaku pencurian semen .


Sekarang bukti pengelakan ayah Baim semakin kuat,fakta ia bukan pelaku pencurian semen akhirnya muncul dibawa oleh teman-teman Baim.


" Saya harus memberi tahu dengan segera kepada pak Gunawan ", ujar Baim dengan semangat kepada ayahnya.


" Kalau kamu akan melapor harus ngajak kami, jangan sendirian ", sahut Murno


" Memangnya kalian sudah tahu alamat rumah pak Gunawan ? ", tanya Dono kepada Baim dan Murno.


" Untuk apa alamat rumah pak Gunawan ? ", kata Toing.Ia berpendapat kalau melaporkan adanya pencurian itu datang ke kantor proyek sudah cukup.


Ayah Baim tersenyum melihat anak-anak berdebat pendapat menyampaikan laporan kepada pak Gunawan boss proyek.


" Kalau menurut saya melaporkan pencurian semen itu belum tepat ", kata Toing.


Kemudian Murno,Baim dan Dono menilai Toing tidak setuju dengan rencana melapor kepada pak Gunawan.


Ayah Baim memahami kemana maksud perkataan dari Toing.Kemudian ia bicara menjelaskan kepada Murno,Baim dan Dono supaya tidak ada salah paham.


" Toing berbicara seperti tadi cukup beralasan...Murno,Baim dan Dono ingin segera melaporkan pencurian itu kepada pak Gunawan juga cukup beralasan ", kata ayah Baim.


" Kalian menceritakan kepada saya soal pencurian semen itu juga rasanya sih sudah cukup ", ayah Baim meneruskan kata-katanya.


" Tetapi kalau kalian masih punya keinginan untuk melaporkan kepada pak Gunawan atau kepada Polisi harus disertai dengan bukti yang cukup ", ayah Baim memberi pencerahan.


Bila ingin melaporkan kasus harus mempertimbangkan tiga unsur,seperti pelaku,korban dan alat bukti.


" Rasanya sulit diterima oleh akal sehat bila orang melaporkan ada pencurian tanpa membawa alat bukti ", ujar ayah Baim.


Anak-anak kemudian berpikir betapa telitinya menanggapi sebuah laporan pencurian.


" Tidak semudah yang kalian bayangkan ", ujar Toing ." Kalau kita melaporkan pencurian semen harus membawa bukti...memang kita melihat dengan mata kepala kita sendiri tapi bila melaporkan tanpa alat bukti kita tidak akan dianggap...jadi akan sia-sia niat baik kita ".

__ADS_1


Anak-anak jadi paham.


" Saya baru mengerti sekarang ", kata Murno." Kalau begitu kita jangan terburu-buru melapor kepada pak Gunawan..".


" Sekarang kita pikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan alat bukti ", sahut Toing mengajak kawan-kawannya untuk berusaha mendapat alat bukti.


Pak Surya membayangkan ganasnya orang yang melakukan pencurian semen itu,ia jadi punya perasaan khawatir bila mereka mengetahui aksinya diintip oleh anak-anak.


" Saya harus melarang anak-anak mengintip pencurian itu ", ujar pak Surya dalam hatinya.


" Saya punya ide, untuk punya alat bukti pencurian itu.... saya punya ide ", tiba-tiba Baim bicara mengejutkan.


" Coba kamu ceritakan ide kamu itu seperti apa ", sahut Murno


" Mereka yang sedang mencuri kita foto,setelah itu kita serahkan fotonya kepada pak Gunawan ", kata Baim dengan wajah gembira.


" Boleh juga ide kamu,Baim ", ujar Toing,ia sangat setuju untuk menjalankan ide itu dengan secepatnya.


" Tapi siapa yang menjadi tukang fotonya ? ", tanya Murno


Soal tukang foto Toing kemudian menyarankan bisa memanggil seorang tukang foto amatir yang setiap hari mangkal di taman alun-alun.Mereka sering mengerjakan pemotretan untuk dokumentasi kegiatan rapat atau acara pernikahan.


" Tukang foto amatir yang di alun-alun itu mau apa tidak memotret kegiatan orang sedang mencuri ", sahut Murno tidak yakin.


" Kita coba bicara dulu sama mereka ", Dono menimpali dengan semangat.


" Kalau pendapat saya lebih baik kita memotretnya sendiri ", kata Baim.Kemudian ia meminta Toing buat meminjam kamera poket kepada kang Maruli." Saya pernah melihat kang Maruli membawa kamera...Kalau kamu yang minjam pasti diperbolehkan,Toing ".


"Terus yang memotretnya siapa? Saya tidak bisa ", Dono menimpali pendapat Baim dengan tidak semangat karena khawatir teman-temannya akan mempercayakan ia menjadi tukang potret.


" Kamu bicara apa Dono ? ", kata Baim, " Setelah kita ada kamera soal siapa yang akan mendapat tugas memotret itu soal nanti... ".


" Baiklah,Saya nanti malam ke rumah kang Maruli untuk pinjam kamera ", sahut Toing,setelah itu ia seperti sedang memikirkan sesuatu." Nanti kalau kamera itu setelah kita pinjam ada kerusakan ganti bersama ya ".


" Kamu jangan takut ,Toing ", balas Murno.


" Iya Toing ", Dono ikut bicara.


Mereka sepakat akan memotret pencuri itu menggunakan kamera yang akan dipinjam dari kang Maruli.

__ADS_1


Tapi ayah Baim melarang anak-anak untuk melakukan rencananya yang ia nilai penuh dengan resiko.


Para pencuri bila sedang beraksi melihat ada orang lain tahu mereka akan membuat babak belur orang itu.Apalagi kalian akan dengan sengaja memotret , jangan...jangan lakukan itu ...bila mereka mengetahui kalian akan dikejar dan kamera akan mereka hancurkan..kata ayah Baim.


" Bapak tidak mau kalian melakukan rencana gila berujung runyam ", ujar ayah Baim. " Dengan mau menceritkan pencurian yang kalian lihat itu kepada bapak sudah cukup ".


Baim,Toing,Dono dan Murno terdiam.


" Bapak berjanji akan menyampaikan kepada pak Gunawan soal apa yang kalian lihat itu ", kata ayah Baim.


" Iya Pak ", sahut anak-anak bersahutan.


Ayah Baim mengalihkan topik pembicaraan dengan menanyakan soal kesiapan belajar di sekolah karena masa liburan sebentar lagi berakhir.


" Bapak berharap kepada kalian menjadi pelajar yang berprestasi di sekolah meskipun sambil berjualan koran ", kata ayah Baim, ia begitu sangat memuji teman-teman Baim.


" Mumpung masih muda sekolah lah dengan rajin...karena dengan keberhasilan sekolah orang mudah mengejar cita-cita ", ujar ayah Baim lagi.


Dono tersenyum,dengan hati pedih ia menyadari dan menyesal karena sudah lama memutuskan keluar sekolah.


" Ada apa kamu tidak gembira,Dono ? ", tanya ayah Baim, diperhatikannya muka Dono seperti penuh dengan kesedihan.


Dono tertunduk malu untuk menjawab pertanyaan dari ayah Baim.


Baim melihat Dono lalu berbisik : " Dono, kamu ditanya oleh ayah saya jangan diam saja...jawab ".


" Saya malu ", sahut Dono.


Baim terkejut.. " Malu kenapa ? ".


" Kalian semua bersekolah...saya sendiri yang tidak sekolah ", kata Dono


Baim memandangi muka Dono, ia terkejut karena selama bergaul baru sekarang mengetahui Dono sudah tidak sekolah lagi.


" Iya,Dono.. mengapa kamu tiba-tiba kelihatan tidak gembira ", kata Toing dan Murno.Keduanya merasa heran Dono mendadak berubah.


" Ayah------ Dono malu karena dia sudah berhenti sekolah ", ujar Baim kepada ayahnya membuat semua mata memandang kepada Dono.


" Tetapi..... dia mau masuk sekolah lagi tahun depan ", Baim menambah-nambah ucapannya.

__ADS_1


Semua yang ada di situ menarik nafas lega.


__ADS_2