Anak-anak Vs Sindikat

Anak-anak Vs Sindikat
Ayah Baim Semakin Mantap


__ADS_3

Daklan dan Husen tidak bisa bersabar setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri,ada aktifitas orang mencuri semen.


Alasan pertama yang membuat ke dua orang itu tidak bisa bersabar karena ada pak Mandor terlibat dalam pencurian itu.


"Waktu belum terlalu malam sebaiknya kita segera menemui pak Surya ", kata Daklan,ia tidak sependapat dengan kemauan Husen yang menunda-nunda waktu untuk bertemu dengan pak Surya mantan atasannya itu.


Husen merasa berat hati bila malam ini pergi ke rumah pak Surya.Tapi ia tidak berani menolak ajakan Daklan.


Mmmm


" Kenapa kamu diam,Husen ? ", Daklan memperhatikan Husen seperti berat melangkah.


Cara mengajak orang yang ragu-rugu harus pegang tangannya,tarik ajak ia berjalan pasti terbawa,pikir Daklan.


" Ayo kita ke rumah pak Surya ", ujar Daklan,tangannya kuat menuntun paksa Husen.


" Baiklah..Baiklah ", kata Husen tak berdaya mau melepas tangannya dari pegangan Daklan." Baiklah, kita ke tempat pak Surya, tapi lepaskan tangan saya jangan ditarik-tarik begini ", Husen meneruskan ucapannya sambil setengah meronta.


Daklan tak mau lepas tangan Husen,sebelum pergi jauh dari areal kawasan proyek ia terus menarik Husen.


" Ini mumpung masih hangat,kita sampaikan kepada pak Surya benar Mandor itu terlibat pencurian semen ", kata Daklan.


Daklan lalu melepas tangan Husen, dan ia bicara lagi supaya Husen semangat.


" Kamu masih ingat tidak waktu itu perlakuan Mandor menuduh kita sebagai pencuri semen ? Dia menghinakan kita begitu rupa , pak Surya sampai sock dan jatuhsakit ".


Husen terdiam,benaknya mengingat kembali bagaimana Mandor dengan congkak memperlakukan pak Surya,Daklan dan dirinya dengan hina.


" Sekarang waktunya kita menyemes Mandor.. Kebenaran yang sesungguhnya perlu diketahui oleh orang-orang di proyek ", kata Daklan wajahnya memancarkan kegembiraan.


Daklan dan Husen berjalan cepat meninggalkan tempat itu.


****


Pak Surya sedang menonton Berita Malam dari sebuah siaran Station Televisi ,di ruang tamu bersama istrinya.


Di dalam kamar Baim.


Baim baru menyelesaikan Pekerjaan Rumah,membereskan buku-buku lalu memasukan buku itu ke dalam tas.Setelah itu ia naik ke tempat tidurnya.


Terdengar suara orang mengucapkan salam di luar rumah.Berulang-ulang ,dari suara pelan sampai sedikit kencang.


Pak ! Pak Surya !


Assalamualaikum !


Tok tok tok...tok tok tok


Pak Surya ------- Pak Surya !


" Seperti suaranya Daklan sama Husen ? ", pikir pak Surya,kemudian ia mengecilkan volume suara Televisi.

__ADS_1


Assalamualaikum !


Waalaikumsalam , sahut pak Surya sambil bergegas membuka pintu.


Pak Surya tidak terkejut dengan kedatangan Daklan dan Husen.


" Daklan, Husen ----- Kalian mau memberi hasil melakukan pengamatan di sekitar gudang itu ya ? ", ujar pak Surya setelah mempersilahkan ke dua orang itu masuk dan duduk.


Tanpa harus berpikir lagi,Daklan dan Husen sambung menyambung bercerita.


" Informasi yang Bapak terima dari anak-anak memang benar adanya ", kata Husen


" Mandor itu terlibat ..tadi kami melihat mereka mencuri semen dari gudang langsung dimuat ke bak mobil ", sahut Daklan


Pak Surya tidak kaget mendengar penyampaian dari Daklan dan Husen.


" Sekarang kita sudah bisa segera membuat surat buat pak Gunawan ", kata pak Surya." Kalian berdua harus tetap membantu saya ".


" Siap Pak ", sahut Daklan.


" Sekarang saja Bapak menulis suratnya, supaya besok kami berdua menyampaikan kepada pak Gunawan ", Husen menimpali kata-kata Daklan tadi.


Pak Surya tersenyum dia mendengar dan melihat ke dua orang bekas anakbuahnya itu begitu berapi-api.


" Sabar, kita jangan terburu-buru..dua atau tiga hari lagi baru saya bisa menulis surat ", kata pak Surya.


"Baiklah kalau keinginan bapak seperti itu...tapi yang menyerahkan surat itu tetap kami berdua ya Pak ? ", sahut Daklan


Pak Surya membalas kata-kata dari bekas anakbuahnya itu dengan tersenyum,setelah itu ia menyuruh istrinya untuk segera menyuguhi minum dengan kue-kuenya.


***


Pengemudi mobil itu memperhatikan kawannya satu persatu.Ia khawatir ada kawan yang makan bubur Kacanghijau tidak cukup satu mangkok.Lalu ketika melihat bubur yang dimakan oleh kawan-kawannya akan habis ia buru-buru menyuruh tukang bubur menghitung.


" Mang, jadi berapa semua ? ", ujar pengemudi itu kepada penjual bubur. " Bubur empat mangkok.Saya makan roti dua.. ".


Tukang bubur Kacanghijau mengambil kalkulator dari laci meja,lalu ia menghitung.


Pengemudi itu bertanya kepada kawan-kawannya yang baru selesai makan buburnya. " Hei kalian makan roti berapa ? "'


Saya satu


Dua


Saya tiga


"Bubur empat, roti delapan..semua jadi Rp 80 ribu ", ujar tukang bubur, tak lama ia menaruh kembali kalkulatornya ke dalam laci meja.


Pengemudi itu mengambil satu lembar uang ratusan ribu dari saku celananya langsung menyerahkan kepada tukang bubur.


Sementara ia menunggu uang kembalian ,melihat kawan-kawannya bergegas pergi naik mobil.

__ADS_1


Dua orang naik ke bak duduk di atas tumpukan semen,satu orang naik di depan.


"Ini kembaliannya Pak ", ujar penjual bubur sambil menyodorkan tiga lembar uang,dua lembar uang lima ribu dan satu lembar uang sepuluh ribu.


Pengemudi itu mengambil uang kembalian dan menyimpannya di dalam saku belakang celana.Sesudah itu ia berjalan cepat menuju mobilnya .


Murno dan Toing masih berdiri di samping warung,melihat mobil itu bergerak meneruskan perjalanannya.


Murno dan Toing memutuskan putar balik.Tidak meneruskan perjalanan pulang lewat jalan itu.Dan mereka juga membatalkan niat mau singgah di kantor Polisi.


Murno memboseh pedal sepeda dengan semangat supaya bisa ngebut.Toing yang membonceng jadi merasa was-was.


" Jangan terlalu ngebut,Murno ", seru Toing sambil menupuk bahu Murno.


Ciesssss sssss ,suara ban kempes.


Lalu disusul lagi dengan suara ciieeessssss ssss.


Ban luar belakang mobil kiri dan kanan kempes.


Mengejutkan dua orang yang naik di bak mobil.


" Sial, ban kempes lagi ! ", ujar pengemudi itu,segera turun dan melihat ban belakang dua-duanya kempes.


Pengemudi itu tak bisa menahan kekecewaan ,ia marah-marah sendiri.


"Kurang Aj*r !! ", kakinya menendang-nendang ban kempes.


Kawan-kawan pengemudi segera turun dari mobil,mendekati dan melihat ban kempes dua-duanya mereka ikut kaget.


"Cepat ambil dongkrak ! ", perintah pengemudi itu,melihat posisi mobil berat ke belakang.


Seorang kawan pergi mengambil dongkrak di bawah jok.


Dua orang kawan memeriksa ban yang kempes.


"Ketusuk paku ". ujar dua orang kawan pengemudi.


" Ketusuk paku lagi ? ", tanya pengemudi lalu ia merasakan seluruh dengkulnya lemes.


Terbayang dalam benak pengemudi pak Bobi murka mendamprat Mandor, lalu Mandor juga marah kepadanya.


" Kalau menurut firasat saya,paku ini dipasang ketika kita sedang di dalam warung bubur kacanghijau tadi ", kata seorang kawan pengemudi sambil memasang dongkrak.


" Tapi saya tidak melihat ada orang lain yang mencurigakan ", sahut kawan yang lain." Di warung itu hanya kita berempat,dan tukang bubur ".


" Ada dua orang anak-anak ! ", sahut pengemudi itu.


Tiga orang kawan itu tersentak,mereka seperti orang habis kecolongan.


" Ini pasti perbuatan anak-anak itu ...Ayo kita kejar mereka siapa tahu masih ada di warung ", ujar kawan-kawan pengemudi itu.

__ADS_1


Dua orang kawan pengemudi kemudian berlari menuju warung bubur Kacanghijau.


Mencari Murno dan Toing di sana.


__ADS_2