Anak-anak Vs Sindikat

Anak-anak Vs Sindikat
Teka Teki ada Hantu


__ADS_3

Setelah berjalan cukup jauh,Baim dan Dono bergantian menuntun sepeda,akhirnya Toing mengajak beristirahat di sebuah kedai kecil.Sambil menunggu Murno yang posisinya sudah tertinggal jauh.Kelihatan Dono,Baim dan Toing lelah dan kehausan.Capek juga berjalan dari proyek sampai di sini , pikir Toing.Sebentar ia mengambil tehbotol dari boxcooller berwarna orange.Membuka tutup botol sejenak lalu meneguknya hingga beberapa kali tegukan.Setelah itu tehbotol ia serahkan kepada Baim.


" Satu botol kita join ", ujar Toing seperti orang tidak punya duit.Ia tidak mau Baim ragu meraih tehbotol yang ia sodorkan.


 


Baim tidak banyak bicara,diperhatikannya tehbotol yang disodorkan oleh Toing.Melihat isinya masih banyak langsung diraihnya tehbotol itu.Sebelum meminum ia membersihkan permukaan lobang botol itu dengan telapak tangannya.


 


Baim tersedak air teh mulutnya hingga terbatuk.Sedang ia meneguk tehbotol Dono merampasnya." Jangan kamu habisin...Saya juga ingin minum ", ujar Dono.


Toing melihat Dono dengan Baim rebutan tehbotol.Akhirnya ia punya niat berhemat luluh,kemudian menyuruh Baim dan Dono mengambil masing-masing satu tehbotol.


" Saya juga satu botol ", ujar Murno,tak diketahui kedatangannya oleh Toing,Baim dan Dono.


Baim memperhatikan Murno dengan perasaan heran.


Sambil minum tehbotol Murno balas memperhatikan.Kemudian setelah merasa mulutnya tidak kering ia bicara banyak.Ia tidak begitu mempercayai kata-kata dari orang tadi yang mengatakan tempat belajar sepeda itu angker,banyak hantunya.


Menurut penilaiannya,orang tadi cuma bermaksud melarang ada orang bermain di sana." Kalian semua penakut ..... dibohongi ada hantu kalian langsung pergi ".


"Sumpah,Murno ", sahut Dono," Tadi setelah orang itu bicara ada hantu langsung kuduk saya merinding ", Dono menjelaskan karena ia tidak mau dibilang takut sebelum bertemu.


" Kalau saya kedua lengan merinding ", sahut Baim sambil menunjukan kedua tangannya.


Memperhatikan Baim dan Dono beralaskan,hanya tidak mau dibilang sebagai penakut.Toing juga tidak mau dibilang serupa penakut,ia kemukakan alasan.Katanya buru-buru pergi karena kasihan melihat Baim dan Dono mukanya pucat karena ketakutan.


Murno tidak mau memberi komentar terhadap alasan-alasan yang disampaikan kawannya.Menurut keyakinannya bila diberi komentar pasti Toing,Baim dan Dono bisa mengelak.Masalah nyali dengan hantu tidak cocok dibuktikannya pakai kata-kata.Ia teringat ucapan Ki Enjon paranormal tempat bertanya ibunya di Ciparay yang tersohor itu." Mau uji nyali datang ke tempat yang betul-betul sangat angker ! ".


Menanyakan jam kepada pemilik kedai, Murno tersenyum.Ternyata hari belum terlalu sore,masih ada waktu buat mengajari Toing,Baim dan Dono naik sepeda lagi.Ia juga akan berusaha mengajari supaya kawan-kawannya cepat bisa naik sepeda.Rencana bergiliran membawa pulang sepeda ke rumah bisa dilaksanakan.


Belajar naik sepeda jika tanggung lama bisanya,pikir Murno.Ia ingin belajar naik sepeda hari ini dilanjutkan.Ia ingin menilai siapa yang cepat bisa dengan yang jeblok.


" Kita teruskan belajar naik sepedanya atau stop ? ", tanya Murno kepada Baim,Toing dan Dono, bergaya seperti seorang instruktur.

__ADS_1


" Teruskan ! ", sahut Dono,ia lebih dulu menyahuti karena punya perasaan tidak sabar pengen cepat bisa naik sepeda.Dengan membawa pulang sepeda secara bergiliran ia berkhayal menjemput Metty pulang sekolah.


" Teruskan ! ", sahut Baim dan Toing.


" Bagus...bagus ", balas Murno sambil mengcungkan jempol tangan." Ingat kawan.....jika kalian tanggung-tanggung belajar naik sepeda...untuk bisanya lama ".


Toing,Baim dan Dono merasa terpacu,dengan muka berseri-seri mereka yakin bisa naik sepeda dalam dua hari belajar.


 


" Baiklah ", kata Murno," Sekarang tuntun sepedanya, kita kembali ke tempat tadi.Kita lanjutkan belajar sepedanya ", ajak Murno.Saatnya saya menguji nyali Toing,ujarnya dalam hati.


 


Baim dan Dono tertegun mendengar ajakan Murno kembali lagi ke tempat tadi.Keduanya seperti minta jaminan dari Murno bahwa mereka tidak akan diganggu hantu.


" Ke tempat itu lagi ??? ", kata Baim dan Dono terdengar tak bersemangat suaranya.


" Ayo kita jalan kembali ketempat tadi ! ", seru Murno dengan serius.Kemudian memberi dorongan semangat dengan mengepalkan tangan." Kita bisa ! Kita bisa naik sepeda ! ".


***


Kecenderungan suasana menghibur,wajah yang saling ramah tamah, anak-anak itu nampak tidak banyak kesulitan belajar naik sepeda.Masing-masing dua putaran memboseh sepeda dengan belakang sepeda dipegangi oleh Murno,pada putaran ke tiga Toing dan Baim sudah bisa lancar.Memboseh sepeda tanpa bantuan dari Murno lagi.Betapa gembiranya hati Toing dan Baim.


Dono iri melihat Toing dan Baim sudah bisa naik sepeda tanpa bantuan Murno.Kemudian ia bernafsu ingin seperti Baim.Melihat ada dataran tinggi ia menuntun sepeda pergi ke sana.Dari ketinggian itu ia naik sepeda meluncur ke bawah.Toing,dan Murno,Baim melihat itu sambil tak henti-henti memberi suport.


Jaga keseimbangan badan !


Rem pelan-pelan ! Rem pelan-pelan !


Awas ada batu,Dono ! Awas ada batu jangan lengah !


Ban depan sepeda yang ditumpangi Dono menggeleng batu, bannya meleset Dono tidak bisa keseimbangan lalu sepeda terguling jatuh bersama Dono.Terdengar suara Dono mengaduh kesakitan.


Toing,Murno dan Baim melihat Dono terjatuh bersama sepeda segera berlari menghampiri untuk memberikan pertolongan.Akan tetapi setelah mereka dekat melihat Dono tidak apa-apa.Dono malah tertawa melihat Toing,Baim dan Murno mengelilingi.

__ADS_1


" Kamu tidak apa-apa,Dono ? ", tanya Murno.


" Tidak ",sahut Dono.Kemudian segera ia berdiri.


Murno mengangkat sepeda yang tergeletak di tanah.Sesudah itu mereka bersama-sama berjalan menuju pohon besar rindang.


Mereka terkejut.Melihat ada dua orang berdiri menunggu.Sorot matanya menunjukan kedua orang itu sedang marah.


" Itu orang yang tadi bilang tempat ini ada hantunya ", kata Murno pelan kepada Toing.


" Iya ", sahut Toing.


" Kita jangan memperlihatkan rasa takut kepada mereka ", saran Murno kepada Toing dan kawan-kawan.


Orang orang itu mulai marah.


" Kalian ini benar-benar sudah nekad..sudah dikasih tahu tempat ini berbahaya malah datang lagi ", ujar orang itu.


" Pergi ! Pergi kalian ! Jangan di sini...pergi ! ", orang yang satunya membentak-bentak.


Murno memberi isyarat supaya tetap tenang,jangan takut.


Tiba-tiba salah seorang dari orang-orang itu roboh ketanah,terjatuh seperti pingsan.Kemudian bergulingan,lalu berdiri seperti bermain pencaksilat.Matanya tajam melihat ke arah anak-anak itu.Mulutnya terdengar meraung.


" Siapa ini ? Siapa ini ? ", tanya orang yang satu,suaranya sangat lantang.


" Mmmmm...saya penghuni kawasan ini..Mmmm mengapa di sini banyak anak-anak ? ".


" Mohon maaf mbah...Saya tidak tahu ", ujar orang yang satu ketakutan.


" Saya tidak mau kawasan ini banyak anak-anak ! Kalau kalian masih melanggar juga saya bawa kalian ke alam saya ".


" Baik mbah...baik mbah ", sahut orang yang satu itu.Kemudian ia mengusir anak-anak dengan suara membentak.


Memperhatikan orang seperti kerasukan lama-lama perasaan takut Murno muncul.Kemudian ia berbisik kepada Toing untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


" Jangan lari, biasa saja ...jangan lari,biasa saja ! ", kata Toing seperti memberi aba-aba kepada Baim,Dono.


__ADS_2