Anak-anak Vs Sindikat

Anak-anak Vs Sindikat
Kebingungan di Kedai


__ADS_3

 


Sepanjang perjalanan dari rumah pak Mandor menuju rumah Toing perasaan Dono tidak tenang.Rasa curiga kawan\-kawan Ucup tadi membuat Dono bernyali kecil.


 


Namun bila melihat tanggung jawab dari tugas yang diberikan oleh kawan-kawannya Dono bisa dibilang bisa dipercaya.


Sampai di rumah Toing ternyata Dono masih belum tenang,ia gelisah karena harus menunggu Toing sedang keluar rumah.Mengamati suasana rumah Toing sangat sepi.Ia jadi bimbang apakah akan menunggu Toing pulang atau tidak ? Lama Dono menimbang-nimbang keptusan apa yang harus ia lakukan.


Melihat ke sebrang jalan tak jauh dari rumah Toing ada sebuah kedai menjual minuman dan jajanan langsung Dono mendatangi kedai itu,ia memutuskan untuk diam di kedai sambil menunggu Toing pulang.Beberapa air teh dalam botol ia pesan.Pemilik kedai geleng-geleng kepala menyaksikan Dono dengan dahaganya minum airteh empat botol.


Sudah lama menunggu,namun ia belum melihat Toing pulang.Ingin membayar air teh merogoh saku uangnya dilihat kurang.Dono kembali bingung.Melirik,pemilik kedai tengah mengamati gerak-geriknya ,seperti berjaga-jaga kalau-kalau Dono tidak bisa membayar.


Dono melawan rasa bingungnya,menenang-nenangkan perasaan agar pemilik kedai tidak curiga.Ia menambah air minumnya satu botol lagi..


Menikmati airteh botol ke lima,dengan santai.Matanya tak pernah berpaling melihat ke arah rumah Toing.Sambil sebentar-sebentar bertanya posisi waktu kepada pemilik kedai itu.


Dono gembira melihat Toing bersama Murno dan Baim.Kemudian Dono berseru memanggil-manggil : " Hai Toing ! Murno,Baim saya di sini ! ", serunya terdengar lantang.


Mendengar ada yang memanggil namanya Toing menghentikan langkah.Murno dan Baim mengikuti.Mereka melihat kearah kedai nampak Dono sedang melambai-lambaikan tangannya.


" Sedang apa Dono di kedai itu ? ", ujar Baim kepada Toing dan Murno.


Toing menggelengkan kepalanya.


Murno tersenyum kearah Toing dan Baim.Kemudian segera mengajak Baim dan Toing cepat menghampiri Dono di kedai.Murno sudah paham dari cara memanggilnya Dono itu sedang menghadapi kesulitan di kedai itu.


" Dono tidak akan bisa pergi dari kedai itu ", ujar Murno.


Toing dan Baim heran mendengar ucapan Murno.

__ADS_1


" Memangnya ada apa ? ", tanya Baim


" Kebiasaan buruk Dono kambuh ", sahut Murno.


Toing dan Baim jadi penasaran.


 


Datangnya Baim,Toing dan Murno ke kedai menjadikan Dono merasa terlepas dari bingung.Dari kawan\-kawannya itu Dono bisa meminjam sejumlah uang untuk menambah uang miliknya yang kurang untuk membayar ke pemilik.kedai,membayar air teh yang sudah ia minum.


 


Kepada ketiga kawannya itu dengan bangga Dono bercerita ia kekurangan duit karena habis membelikan Metty bakso.


" Dengan satu porsi bakso saya bisa mendapat informasi mengenai pencopet itu dan pak Mandor dengan mudah ", kata Dono.


" Hebat kamu,Dono ", ujar Baim menyanjung.


" Terus, apakah kamu sudah dapat informasi apa hubungan pak Mandor dengan pencopet itu ? ", tanya Baim


Tapi yang ditanya malahan jadi tidak sabar,Dono kepingin cepat-cepat kawan-kawannya meminjamkan uang untuk membayar air teh yang sudah diminum kepada pemilik kedai." Ayo lah cepat bayarin air teh yang saya minum ", kata Dono.


" Tenang...pasti dibayarin...ada bendahara kita ", sahut Murno matanya sambil melirik ke arah Baim.


" Baiklah...tapi ceritanya jangan di kedai ", sahut Baim.


Setelah membayar kepada pemilik kedai kemudian mereka bersama-sama meninggalkan kedai itu menuju rumah Toing.Di rumah Toing itu Dono menceritakan semua yang ia peroleh dari keterangan Metty.


" Pencopet itu sekarang ikut bekerja di proyek,jadi anak buah pak Mandor ", kata Dono.


Dono juga bercerita,sebenarnya ia tidak akan cepat-cepat pulang dari rumah Metty.Ia kabur dari rumah Metty karena kehadiran Ucup bersama kawan-kawannya membuat Dono takut dikenal oleh mereka.

__ADS_1


" Apa ? Mereka datang lagi bertiga ? ", serentak Toing,Murni dan Baim terkejut.


" Mereka semua sudah menjadi anak buah pak Mandor ? ", tanya Toing.


" Siapa yang memasukan mereka bekerja di proyek itu ? ", tanya Baim


" Menurut keterangan dari Metty, seseorang bernama Bobi menyurati pak Mandur agar menerima mereka jadi penjaga malam di gudang proyek ", sahut Dono.


" Pak Bobi !?? ", Baim terkejut mendengar nama Bobi.Ia tahu nama Bobi dari ayahnya satu pekan sebelum diberhentikan bekerja.


Pak Bobi adalah adik tiri pak Gunawan bos proyek.Orang itu gemar mengambil bahan bangunan tidak mau melapor ke bagian pembukuan gudang.Orang itu juga yang membuat fitnah sehingga pak Gunawan memberhentikan ayah Baim sebagai karyawan tidak dengan hormat.


" Kamu tahu alamat rumahnya bos proyek itu ? ", tanya Toing kepada Baim.


" Rumahnya sih saya tidak tahu...tapi kalau orangnya saya hafal ", jawab Baim.


Toing merenung,seperti memikirkan sesuatu.Suasana sementara jadi sepi tidak ada yang bicara.


" Kalau menurut saya,pak Mandor itu belum mengenal pencopet itu lebih jauh ", tiba\-tiba Dono bicara memecah suasana sepi.


Toing,Murno dan Baim melihat ke arah Dono.


Dono melanjutkan bicaranya," Yang kenal dengan mereka itu sebenarnya pak Bobi itu ".


" Baiklah kawan\-kawan,besok setelah jualan koran kita jalan\-jalan ke lokasi proyek ", ujar Toing. " Baim, kamu tahu kan dimana alamat proyek itu ? ".


" Iya, saya tahu...tapi mau apa kita pergi ke lokasi proyek itu ? ", ujar Baim.


" Iya untuk apa kita ke proyek ? ", Murno dan Dono bertanya.


Toing tidak menjawab, ia hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2