
Menggagalkan pencopetan rasanya sangat berbeda dengan menggagalkan pencurian besar.Dengan berteriak melihat ada pencopetan itu tukang copet sudah kabur,tetapi untuk menggagalkan pencurian besar seperti yang dilihat waktu malam itu diperlukan keberanian.Dan harus bersama dengan petugas dari Kepolisian, pikir Toing,kemudian ia mengambil keputusan untuk bersama-sama mengadukan kepada pak Surya ayah Baim.
Murno,Dono dan Baim mengikuti apa yang sudah dijadikan keputusan oleh Toing.Mereka pergi menemui pak Surya.
Dalam perjalanan,Murno memikirkan kemungkinan pak Surya senang atau sebaliknya mendengar keberanian dirinya dengan Toing mengintai pencurian barang di gudang itu.Orang tua itu pasti beranggapan mencari-cari persoalan yang membahayakan keselamatan.Yang dipikirkan Murno sekarang bagaimana awal penyampaian berita pencurian di gudang itu kepada pak Surya yang kondisinya masih sakit.
" Kamu setuju dengan keputusan saya tapi kelihatannya kamu tidak semangat,ada apa ? ", tanya Toing.
" Saya memikirkan ayah Baim,Toing ", sahut Murno.
Dan Toing langsung mengerutkan keningnya.Ia berharap apa yang dipikirkan oleh Murno tentang ayah Baim tidak menyurutkan semangat Dono.
Toing mencoba menerka-nerka," Apa kamu takut ayah Baim tidak menganggap kita ? ", tanya Toing. " Kalau hal itu yang kamu takutkan,biar saya yang berbicara dengan ayah Baim ".
Diluar dugaan Toing dan Murno, rupanya Dono diam-diam sedang memikirkan ayah Baim juga.
" Sebaiknya Baim saja yang bercerita,kamu berdua memperkuat Baim bila diperlukan ", kata Dono kepada Toing dan Murno
Toing merasa terkesan dengan usulan Dono," Begitu juga boleh ", kata Toing,ia memahami maksud yang sebenarnya dari cara berpikir Dono.
Murno belum yakin dengan saran dari Dono," Kita lihat situasi nanti di sana ", ujar Murno.
Toing dan Dono , " ........... ".
" Ada apa, Toing ? " tanya Baim setelah lama memperhatikan Toing bercakap-cakap dengan Dono dan Murno.
Toing tidak segera menjawab Baim bertanya tadi,setelah lima menit berlalu dengan suara pelan ia berkata," Tidak ada apa-apa ".
Mereka tiba di rumah Baim.Situasi rumah kelihatan sepi.
Ayah baim berada di dalam kamarnya,sementara ibunya belum pulang mengirim kue ke warung.
"Assalamualaikum .... ", depan pintu rumah Baim mengucap salam.Setelah mendengar suara ayahnya menjawab salam Baim mengajak Toing,Murno dan Dono masuk ke dalam kamarnya.
Kamar Baim sangat kecil, tapi sangat rapih.Kawan-kawannya sembarang duduk.Toing duduk di pinggir tempat tidur, Dono dan Murno duduk di lantai dekat tempat tidur itu.
__ADS_1
" Kalian di sini saja ya, saya mau menemui ayah saya dulu ", kata Baim,setelah itu ia pergi menemui ayahnya.
Baim membuka pintu kamar, terlihat ayahnya sedang duduk berbaring sambil membaca surat kabar di atas tempat tidurnya.
" Ayah ", sapa Baim lalu meraih dan mencium tangan ayahnya.
" Ayah dengar tadi ada suara kawan-kawan kamu, ajak makan dulu sebelum mereka pulang ," kata pak Surya,kemudian meneruskan membaca berita di surat kabar itu.
" Iya Ayah ", sahut Baim." Tapi kawan-kawan saya ingin bertemu dengan ayah ".
Pak Surya menghentikan kegiatan membaca surat kabarnya,menatap Baim dengan rasa penasaran mengapa kawan-kawan Baim ingin bertemu dengannya.
" Bukankah mereka sudah sering ketemu dengan ayah, sekarang mereka bilang ingin bertemu ? Aneh teman-teman kamu itu ", ujar ayah Baim.
Baim terdiam." Apa sebaiknya saya sampaikan maksud kawan-kawan kepada ayah sekarang ya,biar ayah tidak kaget ", pikir Baim.
Setelah beberapa menit berpikir Baim berkata," Kali ini mereka mau serius,Ayah... tidak hanya bicara ".
Ayah Baim mengerutkan kening,aneh memang mereka seperti orang dewasa saja mau bicara serius.Tetapi mereka mau serius dalam hal apa ? Akh paling juga mereka mau meminta saran soal kegiatan menyisihkan keuntungan dagang mereka..
" Kamu ajak makan dulu mereka, setelah itu kita berbicara di ruang tamu ", terdengar ucapan pak Surya yang sedang dinantikan oleh Baim.
" Terima kasih ya Allah, disaat Engkau memberi cobaan hidup kepada hamba, Engkau telah memberi kekuatan dan kebahagiaan pada anak dan istri hamba ", pak Surya berdoa.
Sebelum Baim pergi menemui kembali kawan-kawan yang menunggu di dalam kamarnya, ia berkata : " Ayah...waktu ayah berkerja di gudang proyek apakah ada nama barang Zak ? ".
Ayah Baim dibuat bingung,dahinya berkerut.Pikirannya melayang pada masa ia berkerja di gudang proyek dulu :
Pak Gunawan datang meminta satu ruangan dalam bangunan gedung dikosongkan.
" Saya sudah order semen lagi sebanyak 500 zak dari pabrik, pak Surya atur tempat penyimpanannya ," ujar pak Gunawan.
" Baik Pak ", sahut pak Surya.
Pak Surya tersenyum kepada Baim,lalu dengan menahan-nahan tawa ia berkata.
__ADS_1
" Zak itu packing Semen.Beratnya 50 kilogram.. tidak ada bahan bangunan bernama zak... ".
" Berarti mereka malam itu mencuri semen ", ujar Baim tanpa disadari.
" Mencuri semen ? Siapa yang mencuri semen ? ", pak Surya hatinya tergoda.
Baim terdiam,ia tidak mengerti harus menjawab pertanyaan ayahnya tadi.
" Coba kamu cerita kepada ayah ", ujar pak Surya dengan melembut - lembutkan ucapannya.
Baim bercerita,kemarin malam kawannya melihat ada kegiatan orang melakukan pencurian di gudang proyek.
" Toing dan Murno ingin ketemu ayah karena mau menceritakan itu ... ", kata Baim dengan sangat hati-hati.
Pak Surya belum percaya bila kawan-kawan Baim melihat kegiatan orang mencuri di gudang proyek itu.Sebatas pengetahuannya pencuri-pencuri itu sangat pandai beraksi dan rapi meninggalkan jejak.
Bila kawan-kawan anaknya benar telah melihat adanya pencurian itu buat pak Surya ini merupakan berita bagus untuk memperbaiki nama baiknya di depan pak Gunawan boss proyek.
Setelah beberapa menit berpikir," Baiklah,Ayah bersedia dengan senang hati mendengarkan cerita kawan kamu itu ", ujar pak Surya
Baim langsung gembira, dengan cepat ia pergi ke kamarnya menemui kawan-kawannya di sana.
Pak Surya tersenyum memperhatikan Baim begitu penuh semangat.
Di kamar Baim.
Murno,Toing dan Dono dengan banyak pertanyaan menyambut kedatangan Baim yang mereka lihat gembira." Sekarang saya tahu apa yang mereka curi dari gudang ", kata Baim.
" Kamu sudah bicara dengan ayahmu,Baim ? ", tanya Dono
" Kata ayahmu apa ? ", tanya Murno
" Apakah ayahmu bersedia mendengarkan kita-kita bercerita soal pencurian itu,Baim ? ", tanya Toing.
" Tenang Kawan ", ujar Baim." Ayah saya sangat gembira mendengar kabar tentang pencurian itu... Sekarang kita semua makan dulu,setelah makan kita sama-sama bicara dengan ayah saya ".
__ADS_1
Toing,Murno dan Dono terdiam beberapa saat sampai akhirnya Baim menarik-narik mereka ke ruang makan dekat dapur untuk makan bersama-sama.
" Ternyata yang dicuri oleh mereka itu semen ", kata Baim kepada kawan-kawannya sambil makan.