
Semua persoalan mereka anggap sudah selesai,tidak ada lagi perasaan iri dan dengki dalam hati mereka.Tak ada lagi orang saling mengganggu ketentraman dunia dagangnya.
Toing mengajak Baim berkunjung ke rumahnya Dono,karena sudah lewat satu Minggu tidak melihat Dono berdagang koran.Kang Maruli pun merasa kehilangan karena Dono dianggap anak pandai berdagang dan tidak memiliki catatan tunggakan koran.
Tentu saja ketidak hadiran Dono semua kawannya menjadi kehilangan.
" Coba kamu tengok Dono ke rumahnya,Saya khawatir anak itu sakit " kata kang Maruli kepada Toing.
Setelah itu Toing pergi mencari Baim untuk diajak menemui Dono..
Selama dalam perjalanan kedua anak itu saling bercerita tentang situasi sekolah masing-masing .
Baim siswa kelas delapan di SMP Angkasa,ia dikenal oleh kawan sekelasnya sebagai anak berpendirian teguh.Setia kawan dan memiliki kepandaian dibidang beberapa mata pelajaran sekolah.
Toing siswa kelas sebelas di SMA Bhakti,ia dikenal oleh seluruh siswa di sekolah itu karena sebagai pengurus OSIS.Toing tidak pernah merasa malu dengan kehidupan orang tuanya yang serba pas-pasan.Berdagang koran karena punya keinginan membeli hape android.Tapi setelah memiiliki hape itu ia ketagihan menjadi pedagang koran.
Di sebuah perkampungan dekat bantaran sungai tak jauh dari pasar Dayeuhkolot seorang anak berlari dengan tangan menjinjing kantong kresek berisikan kue gorengan dan dua Batang rokok serta satu bungkus kopi plus gula.Anak itu dengan semangat berlari masuk ke sebuah rumah kontrakan.Rumah tinggal orang tua Dono.
Anak itu menyerahkan kantong kresek kepada Dono," Ini kak--- kue dan kopinya ".
" Lama sekali kamu beli kopi nya---beli dimana ? ", tanya Dono,lalu ia meraih kantong kresek itu.Memeriksa isinya.Kue,kopi plus gula dan rokok dua Batang." Uang kembaliannya mana ? ", tanya Dono namun anak itu dengan cepat pergi.
" Adek !!! ", Dono berteriak memanggil membuat anak itu berhenti berjalan,kembali arah mendekati Dono dengan sedikit ketakutan.
" Mana uang kembaliannya ?", tanya Dono.
" Untuk Adek", jawab anak itu,kemudian dengan ragu-ragu mengeluarkan uang kembalian dari saku celananya dan menyodorkan kepada Dono.
Melihat Adek ketakutan uang itu akan diambil,tak tega juga hati Dono untuk mengambilnya.Kemudian setelah melihat uang dari kepalan tangan Adek ia bertanya : " Adek mau beli apa ? ".
__ADS_1
" Mau beli bubur ayam,Kak ", jawab Adek,lalu katanya lagi ," Adek lapar kak ".
" Ya sudah , cepat kamu beli buburnya ", ujar Dono.Spontan wajah Adek ceria,dan berlari keluar menuju tempat penjual bubur.
Setelah melihat Adek pergi dengan ceria hati Dono merasa senang.Baru hari ini ia melihat Adek gembira.Sambil senyum-senyum Dono melangkah mencari gelas di dapur,hatinya tak sabar ingin menyeduh kopi untuk segera menyeruputnya.
Sambil menyeruput kopi Dono berjalan dari dapur menuju tempat semula yang ia duduki tadi.Di tempat itu ia menikmati kue gorengan dan air kopi.Saat itu juga angan Dono melayang jauh kepada saat-saat berkumpul dan berdagang koran bersama kawan-kawan,Toing,Baim,Agus.Dan sekali-kali bertemu Murno pedagang koran di Cicaheum.
Sekarang Dono tersadar,ia mengakui telah melakukan kesalahan menginginkan dan mengajak Baim untuk berbuat tidak baik.Meminta bantuan Murno menakut-nakuti Baim setiap hari.Setelah Baim menjadi takut Dono berpura-pura memarahi Murno di hadapan Baim,Murno diminta untuk berpura-pura bertekuk lutut supaya terbangun kepercayaan dari Baim kepada Dono.
Semua rencana jahat Dono tidak kesampaian.Baru kali pertama Murno menakut-nakuti Baim, Tuhan melindungi Baim dengan perantara Toing.Hadir membela Baim dengan kepandaian ilmu kanuraganya,Toing terlalu kuat hingga Murno lari tunggang-langgang.
Sekarang Dono selalu berdoa memohon kepada Allah agar Toing tidak berhasil mencari Murno supaya ia aman.Ia sedang mencari sebuah alasan kuat bila suatu ketika Toing dapat menemukan Murno dan mendapat pengakuan dari Murno mengganggu Baim atas suruhan Dono.
Dono menggaruk-garuk kepalanya,panik juga bila mengingat Toing dan Murno itu.Dan saat ingatannya kepada Baim ada rasa sedih di hati,seperti sebuah pengakuan dosa.
Di luar Adek datang diikuti oleh Toing dan Baim.Dari kejauhan Adek seperti berteriak memanggil Dono." Kak Dono-----Kak Dono ada kawannya mencari ! ", seru Adek dengan wajah gembira.
" Dekat,Kak ", jawab Adek.
" Dono nya ada ? ", tanya Baim.
" Ada ", sahut Adek.Lalu mempercepat langkahnya,sambil berseru :" Kak Dono-----Kak Dono ada kawannya mencari ! ".
Dono menengok ke arah Adek.Ia terkejut melihat Baim dan Toing berdiri tersenyum di belakang Adek.Hatinya berdebar-debar dihinggapi perasaan takut yang luar biasa.
" Tuh, Kak Dono nya ada ", ujar Adek kepada Toing dan Baim,sambil menunjuk ke arah Dono sedang duduk.
Toing dan Baim mendekat seraya mengucap salam." Assalamualaikum ! ".
Tapi yang di dalam rumah menjawab salam dengan perlahan. Berdiri dengan penuh keraguan karena suasana hati tidak karuan.
__ADS_1
" Ehh. Toing--- Baim mari masuk ! ", ujar Dono,gerakannya seperti kaku.
Toing dan Baim masuk,mereka bersalaman.Sesudah itu mereka sama-sama duduk.Setelah itu terdengar suara kesedihan dari Dono.Ia menubruk dan merangkul badan Baim disusul suara tangis." Maaf kan saya Baim ", ujarnya disela-sela tangisan.
Baim heran mengapa Dono meminta dimaafkan. Ia melihat Toing memberikan isyarat anggukan supaya memaafkan.
" Iya, saya sudah memaafkan kamu Dono ", kata Baim,namun ia belum tahu duduk persoalannya mengapa Dono meminta maaf.
Wajah Dono mulai seperti biasa,hatinya sudah tidak gelisah.
Toing tersenyum senang setelah melihat Baim memaafkan Dono.Namun di dalam hatinya tidak menghilangkan pengetahuan rencana jahat Dono kepada Baim yang diperoleh dari pengakuan Murno beberapa waktu lalu di Warungtegal. Dan ia juga tidak ingin pengakuan Murno di sampaikan kepada kang Maruli dan Baim.Ia ingin semuanya tetap melihat baik seperti semula.
" Saya dan Baim datang ke rumah kamu menjalankan perintah kang Maruli ", kata Toing kepada Dono.
" Perintah apa ? ", tanya Dono penasaran.
" Karena kamu sudah satu Minggu tidak dagang koran Kang Maruli khawatir kamu sakit ", sahut Toing.
Dono tersenyum,ia gembira karena kang Maruli ternyata punya perhatian.Lalu melihat Toing mengeluarkan amplop dari saku baju,katanya amplop itu titipan dari kang Maruli." Ini ada titipan dari kang Maruli untuk bantu-bantu beli obat ", ujar Toing sambil menyodorkan amplop itu.
Dono ragu-ragu mau menerima amplop itu,lama ia menolak,kemudian Baim membujuk agar Dono mau mengambil amplop itu dari Toing.
" Ambil Dono, itu rejeki jangan kamu tolak ", bujuk Baim.
" Iya, ini rejeki tidak baik ditolak ", sahut Toing.
Akhirnya amplop itu diterima juga oleh Dono,dan segera dilihat isinya.Dono terharu,tak terasa air matanya menetes.Toing dan Baim terbawa haru melihat Dono menangis.
Toing merasa bebas pikirannya,sekarang ia bisa tenang seperti semula.Tidak lagi ingin mencari tahu kebenaran pengakuan Murno lagi.Baginya,melihat Dono mengungkapkan rasa penyesalan itu sudah cukup bukti Murno itu berkata benar.
Keesokan harinya, Dono sudah mau berdagang koran lagi seperti biasa.Kang Maruli senang.Dan yang membuat anak-anak lebih senang lagi Dono menjadi sangat perhatian kepada Baim,keduanya bagaikan kakak dan adik.
__ADS_1
Toing melihat kehadiran Dono seperti sebuah kekuatan baru buat Baim.