
Murno benar-benar naas,Toing tak mau berhenti mencarinya , dimana ada info mengenai keberadaan Murno langsung didatangi.Dan Toing berhasil menemukan Murno di sebuah pesta hajat sedang menonton pertunjukan kesenian Jaipong di daerah Antapani.Sekitar jam 17.00 WIB.
Awalnya melihat Toing datang mendekat Murno memohon-mohon ampun,hingga tanpa ia sengaja keluar ucapan yang membuat Toing tercengang.Kemudian Toing membawa Murno masuk ke Warungtegal,di sana Murno berterus terang . " Ampun--- jangan pukul saya cuma suruhan Dono untuk mengganggu Baim ! ".
" Apa ?! ", Toing tercengang.
" Sumpah, saya sekedar disuruh Dono untuk ganggu Baim ", sekali lagi Murno mengaku ." Ampuni saya, tidak akan mengganggu Baim lagi ", suara Murno terdengar tersendat-sendat bersamaan tubuhnya yang gemetar ketakutan.
" Benar kamu disuruh oleh Dono ? ", tanya Toing.
" Benar...saya tidak bohong ", jawab Murno.
" Kamu berani kalau dipertemukan dengan Dono ? ", tanya Toing lagi
" Berani ", sahut Murno.
" Kamu tahu maksud Dono berbuat jahat kepada Baim ? ", tanya Toing.
Murno tertunduk,tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Toing merasa semua kejelasan yang dibutuhkan sudah ia dapati.Ia juga sudah memberi peringatan keras kepada Murno.Bila mengulangi perbuatan jahat kepada Baim,atau kepada semua pedagang koran anak buah Kang Maruli ia tak segan-segan akan mengadukan kepada pihak Kepolisian.
Murno masih tertunduk,tak berani berhadapan wajah dengan Toing.Ia merasa malu mengingat perbuatannya terhadap Baim tempo itu.Sekarang,di hadapan Toing,Murno berdoa kepada Allah supaya Toing tidak memperlakukan ia dengan kekerasan.
" Kamu kenapa diam saja, takut kepada saya ? ", tanya Toing melihat Murno mendadak tak berani bicara." Atau kamu diam saja karena sedang membuat rencana akan menyerang Baim lagi ?".
" Tidak...saya tidak berani lagi ", sahut Murno dengan cepat karena takut tiba-tiba Toing bersikap ringan tangan.
" Kamu mau disuruh menakut-nakuti Baim dikasih apa oleh si Dono ?", Toing mulai mengorek-ngorek keterangan lagi.
" Tidak dikasih apa-apa ", kata Murno,suaranya sangat pelan.
__ADS_1
" Jangan berbohong ?!! ", bentak Toing.
Suasana hening sesaat.Toing hanya menatap geram melihat Murno menunduk ketakutan.Kemudian Toing memaksa Murno agar mau bicara." Saya dapat rokok satu bungkus dari Dono ", ujar Murno.
Toing tertawa.Setelah itu ia membolehkan Murno pergi.
Plong hati Murno.Ia senang hanya dihujani dengan banyak pertanyaan kemudian diperbolehkan pergi.Lalu dengan kedua tangan menyembah-nyembah Murno melangkah mundur sambil tak henti-hentinya berkata terima kasih.
***
Pak Surya yang berbaring tak berdaya di tempat tidur kelihatan sedang batuk-batuk.Matanya menatap botol obat di atas meja.Ia mencoba menjulurkan tangan meraih obat itu namun tak sampai.Ia mengamati sekeliling ruangan sepi.Berteriak teriak memanggil nama istri dan anaknya,lama tak ada yang menyahut.Mencoba lagi mengambil botol obat di atas meja itu dengan meraih ujung alas meja.
Ia berpikir dengan menarik alas meja botol obat itu bergeser ke dekatnya dan ia bisa mengambilnya.Ia bisa minum obat sendiri.Akan tetapi apa yang dipikirkan lain dengan yang terjadi.Saat tangannya menarik alas meja perlahan-lahan tiba-tiba ia batuk,tangannya segera menahan dadanya.Bersamaan itu pula botol obat terjatuh ke lantai.
Botol obat pecah di lantai,obat yang berbentuk sirup tumpah berserakan di bawah meja.Pak Surya hanya bisa menatap obat itu sambil batuk-batuk.Hatinya bersedih manakala teringat istrinya bicara obat itu dibeli dengan harga mahal.
Mendengar suara botol terjatuh istrinya yang baru pulang dari berbelanja di pasar langsung menemui Pak Surya.
Pak Surya tak segera menjawab,ia masih dikuasai batuk.
Halimah melihat ke arah meja,ia terkejut melihat alas meja teronggok di lantai bersama pecahan botol dan genangan sirup obat di bawah meja." Ya Allah Pak....botol obat jatuh kenapa ? ", seru Halimah,lalu ia segera mencari sapu ke dapur.
Pak Surya dengan mata berlinang memperhatikan istrinya sibuk membersihkan beling botol obat dengan sapu,sesudah membersihkan bekas genangan sirup obat dengan kain lap basah.Ia mencoba bicara akan tetapi baru beberapa kata batuknya datang.Berulang - ulang Pak Surya batuk.Saat itu jam menunjukan angka sepuluh.
" Apakah Baim sudah pulang,Bu ? ", tanya pak Surya kepada istrinya.Melihat jam sudah lewat beberapa menit dari jam sepuluh hatinya gusar Baim belum pulang.
" Belum ", jawab Halimah.
" Ada halangan apa ya dia belum pulang,tidak seperti biasanya ? ", pak Surya mengkhawatirkan Baim.
" Mungkin Baim masih dalam perjalanan pulang ke rumah,Pak ", sahut Halimah istri pak Surya." Tidak baik mengkhawatirkan anak berlebihan ".
__ADS_1
Tak lama suami-istri itu membicarakan anaknya,dari luar terdengar suara mengucapkan salam.Assalamualaikum ! Terdengar suara Baim mengucapkan salam dengan tegas.Kedua orangtua Baim itu, pak Surya dan Halimah,membalas salam dengan serentak,meskipun balasan salam pak Surya diakhir dengan batuk-batuk.
" Ibu, Ayah---- lihat saya sudah membeli obat ini untuk ayah ", seru Baim sambil melangkah gembira dengan tangan terangkat memperlihatkan obat.
Hati kedua orang tua Baim bercampur aduk melihat obat yang dibawa Baim itu tergolong obat mahal.Obat itu seharusnya dibeli Minggu kemarin namun karena tidak memiliki uang dalam jumlah yang cukup maka urung membelinya.
Mereka,pak Surya dan Halimah.Hampir tidak percaya Baim membeli obat mahal itu.Dicecarnya dengan berbagai pertanyaan anak itu,untuk memastikan di luar rumahnya Baim tetap menjadi anak baik.
" Kamu punya uang dari mana membeli obat itu,Nak ? " tanya Halimah.
" Kamu habis mencuri ya !? ", pak Surya terdengar bertanya lalu batuk-batuk.
Baim melihat ayahnya batuk sambil menahan sakit di dadanya langsung mendekat dan memeluk ayahnya itu." Tidak ayah. Saya tidak mencuri ", seru Baim.
Sang ayah seperti bersikeras dengan sangkaannya,karena ia sibuk menahan batuk dan rasa sakit.Baim berusaha memberi pengakuannya agar kedua orang tuanya itu tidak berprasangka jelek.Akhirnya salah satu dari kedua orang tua itu mau mendengar kata-kata Baim.
" Kalau begitu kamu bilang pada ibu,dari siapa uang untuk membeli obat itu ?", kata Halimah.
Dengan hati-hati Baim bicara." Saya dan kawan-kawan patungan beli obat ini,Bu..." sahut Baim.Kemudian diceritakannya teman-temannya itu satu persatu kepada kedua orangtuanya itu.
Awalnya Toing melihat Baim berdiri di depan sebuah toko obat sedang memperhatikan orang-orang keluar masuk membeli obat di toko itu,wajah mereka wajah orang banyak duit.Kemudian Toing mendekati Baim : " Kamu sedang apa berdiri saja di depan toko obat ini,Baim ?", tanya Toing.
Yang ditanya seperti gugup,tidak segera menjawab.Lama setelah didesak-desak oleh Toing dengan banyak perkataan akhirnya terucap juga dari mulut Baim sebuah pengalaman yang sangat menyedihkan dari keluarga Baim.
" Obat itu ada dijual di toko ini,tapi harganya sangat mahal jadi ibu saya tidak bisa membelinya ", ujar Baim kepada Toing.
Sejak itu,Toing mengajak kawan-kawan untuk bersatu menyisihkan sedikit keuntungan dari hasil dagangnya untuk membantu Baim membelikan obat ayahnya.
Dan hari ini uang terkumpul cukup untuk membeli obat ayah." Saya tidak mencuri uang,Bu ", ujar Baim menyudahi cerita pengalamannya.
Sontak rasa haru dalam dirinya Pak Surya dan Halimah mengalir,bergejolak membuat air mata menetes tak terasa..dipeluknya Baim dengan penuh kasih sayang melebur persangkaan jelek.Sambil tangan tak henti-henti mengusap kepala Baim.
__ADS_1