
Toing dan Murno naik sepeda berboncengan,sangat kencang ngeboseh pedalnya.
Dengan perasaan was-was ke dua anak itu seperti sedang dibayangi oleh Daklan dan Husen.
" Saya yakin ke dua orang tadi anggota komplotan pencuri itu ", kata Toing.Ia punya alasan meminta Murno supaya lebih cepat lagi mengendarai sepedanya.
" Mudah-mudahan perbuatan kita menggembosi dua ban mobil dapat memperlambat aksi pencurian itu ", kata Murno,memperkirakan sampai besok pagi mobil itu masih berada di sana.
" Kamu memang pandai seperti James Bon,Murno ", Toing memuji setelah ia tahu maksud Murno mengempesi sekaligus dua ban mobil itu.
Jarang mobil dilengkapi banserep dua unit,rata-rata mobil dilengkapi banserep satu unit ." Kalau satu bannya kempes pengemudi bisa segera mengganti.Tapi bila yang kempesnya sekaligus dua ? Pengemudinya pasti kebingungan,karena kekurangan banserep.Dia memerlukan waktu berjam-jam untuk mengatasi ban mobilnya yang kempes....".
Dalam hati Toing terkejut karena tiba-tiba Murno mengerem sepeda.
" Saya capek ngeboseh sepeda ngeboncengin kamu Toing....istirahat dulu ", ujar Murno lalu meminta Toing turun.
Setelah Toing turun Murno melihat ke depan tak jauh ada warung Bubur Kacanghijau,lalu sambil menuntun sepeda Murno berjalan menuju warung itu.
Toing mengikuti dari belakang sambil matanya mengamati tempat sekitarnya.
" Ini bukan jalan yang biasa kita lewati ", kata Toing memperlambat jalannya lantaran ragu mengikuti Murno.
Murno menghentikan langkah dan menoleh kepada Toing ," Kamu benar Toing ", sahut Murno.
" Apakah kita salah jalan ? ", ujar Toing
Murno menggelengkan kepalanya sesudah itu ia meneruskan langkah menuju warung Bubur Kacanghijau.
" Kita makan Bubur Kacanghijau dulu,sambil istirahat...nanti saya jelaskan mengapa lewat jalan ini ", ujar Murno.
Murno meletakan sepeda di pinggir warung Bubur Kacanghijau sesudah itu masuk memesan Bubur Kacanghijau campur Ketanhitam.
" Saya minta santannya yang banyak,Mang ", kata Murno.
Tukang bubur melayani pesanan Murno.
Toing datang dan duduk di sebelah Murno.
" Mang, pesan satu mangkok lagi ", Murno memesankan bubur untuk Toing.
Tukang bubur itu jadi lebih giat melayani pembelinya.
Tak lama tukang bubur itu sudah melayani Murno dan Toing.
Kemudian sambil makan bubur Kacanghijau Murno dan Toing melanjutkan pembicaraan.
" Kamu bilang tadi kita salah jalan ? Tidak,Toing.Saya memang memilih lewat jalan ini karena kita akan datang ke kantor Polisi... ", kata Murno
" Mau apa ke kantor Polisi ? ", tanya Toing
__ADS_1
" Kita melaporkan komplotan pencuri semen itu ", jawab Murno.
Toing kaget dalam hati,dengan hati ragu diperhatikannya wajah Murno." Bukankah bila kita melaporkan adanya pencurian harus membawa bukti ? ".
Murno tersenyum," Kamu memang betul ", katanya." Tapi saya tidak akan melaporkan adanya pencurian ".
" Terus mau apa ke kantor Polisi ? ", Toing heran.
" Mau memberi tahu kan ada mobil kempes ban pengemudinya memerlukan bantuan ", kata Murno ini terdengarnya oleh Toing seperti bergurau.
Toing bertanya-tanya dalam hati.
Murno mengulang kata-katanya yang pernah diucapkan tadi.
" Kebanyakannya mobil cuma dilengkapi banserep cuma satu unit.Mobil tadi di dekat gudang sana ban depannya kempes dua-duanya...pengemudinya sekarang pasti lagi bingung karena cuma punya satu banserep...kalau ada petugas polisi datang mereka melihat pasti kabur ketakutan karena mereka kira petugas itu datang mau menangkap...", kata Murno.
Toing menahan tertawa dengan menutup mulutunya dengan telapak tangannya.
" Dengan suasana seperti itu, petugas yang datang mau memberi pertolongan jadi curiga...sesudah itu akhirnya dapat terbongkar komplotan pencuri itu ", kata Murno lagi.
" Wakh....Kamu benar-benar hebat mirip James Bon, Murno ", Toing mengagumi jalan pikiran Murno.
" Saya kagum....Saya kagum pada kamu Murno ", ujar Toing sambil menunjukan jempol tangannya.
" Biasa sajalah Toing...Tidak boleh memuji saya seperti itu.Saya malu ", sahut Murno.
Toing mengingat mobil yang bannya ia kempesin.
" Yakin ", jawab Murno kemudian ia melanjutkan makan bubur kacang miliknya yang tinggal dua sendok makan lagi.
Murno mengeruk-ngeruk bubur yang menempel di dinding mangkok dengan sendok hingga mangkok itu kelihatan bersih.
Tak ada sebutir kacang yang menempel di dinding mangkok itu.
" Kamu mau nambah lagi buburnya tidak ? ", kata Murno.
" Tidak----- Saya sudah kenyang ", sahut Toing.
Murno menatap Toing.
" Kalau begitu kamu harus mau nungguin saya,ya ", kata Murno kemudian ia menyodorkan mangkoknya kepada pedagang bubur seraya berkata." Mang, nambah lagi setengah saja ".
Toing menghela nafas melihat Murno nambah makan bubur.
" Saya nunggu di luar sambil ngejagain sepeda ", ujar Toing sambil langsung berdiri dan pergi ke luar.
Di depan pintu warung Toing berdiri dengan matanya melihat ke jalan yang nampak sepi.
Dari arah jalan yang dilaluinya tadi nampak sedang berggerak sebuah mobil dengan lampunya yang terang-benderang menyilaukan mata Toing.
__ADS_1
Jalan mobil itu kelihatan sangat pelan seperti berat oleh beban muatan dalam baknya.
Setelah beberapa meter melewati warung mobil itu berhenti di bahu jalan.
Pengemudi mobil segera keluar,dua orang turun dari bak mobil langsung menghampiri dan mereka segera berunding selama lima menit sesudah itu berjalan memasuki warung.
Toing di luar asyik memperhatikan mobil dari jarak sedikit jauh.
" Mobil itu...mobil itu seperti pernah pernah saya lihat,tapi dimana ya ? ", pikir Toing sambil matanya mengamati.
Di dalam warung bubur Kacanghijau Murno sedang asyik menikmati bubur mangkok kedua.
Pengemudi mobil bersama dua orang kawannya datang dan duduk di bangku di sebelah Murno.Mereka saling bicara dan tertawa.
" Mudah-mudah pak Mandor benar akan memberi kita uang seratus ribu rupiah ", ujar pengemudi mobil itu.
" Ternyata pak Mandor itu sangat baik ya ? ", kata kawannya pengemudi.
Seorang kawan pengemudi tidak begitu tertarik dengan pembicaraan mengenai pak Mandor.Ia diam saja.
" Kamu ada apa,diam saja ? ", tanya pengemudi itu .
" Saya lagi mikirin orang yang sudah berani ngempesin ban mobil kita pakai paku ", jawab kawannya pengemudi itu , wajahnya kelihatan cemberut.
Percakapan orang-orang itu terdengar oleh Murno lalu ia melirik dan mengamati tampang orang-orang itu sambil telinganya mencuri dengar.
" Gawat. Mereka ternyata komplotan pencuri semen itu..", ujar Murno dalam hati.Raut mukanya mendadak pucat seperti orang kekurangan darah mendengar ungkapan kemarahan karena ban mobil kempes.
" Besok akan saya cari tahu orang yang ngempesin ban mobil kita...kalau ketemu langsung saya bikin babakbelur ! ", terdengar suara orang itu begitu mendendam.
Murno buru-buru menghabiskan bubur kacanghijaunya.Setelah membayar ia cepat pergi menemui Toing di tempat ia menyimpan sepeda.
" Kita harus cepat pergi dari sini,Toing ", kata Murno sambil meraih sepeda.
" Sebentar----Murno . Sepertinya kita harus menyelesaikan kerjaan kita belum kelar nih ", ujar Toing sambil memberi isarat dengan kerlingan mata.
Murno memandang Toing ." Menyelesaikan kerjaan apa ? ".
" Lihat di sana tuh ! ".
Toing menunjuk ke arah mobil yang sedang berhenti di bahu jalan.
" Iya saya tahu,mobil muatannya semen....", ujar Murno,lalu berbisik : " Kamu akan ngempesin ban lagi kan ? ".
Toing mengangguk.
" Paku sisa tadi kamu bawa apa tidak ? ".
" Iya, saya bawa ", jawab Murno lalu merogoh saku celananya, mengambil dan memperlihatkan .
__ADS_1
" Ada tiga lagi ". kata Murno kemudian menyodorkan paku itu kepada Toing.