
Pengemudi itu bersama tiga orang kawannya cuma bisa pasrah.Kempes ban kali ke dua mereka tidak bisa cepat mengatasi,banserep nya juga sudah kempes.Satu-satunya jalan mereka mencari tukang tambal ban mobil.
" Sekarang mikir mudah-mudah di sepanjang jalan ini ada tukang tambal ban ", kata pengumudi itu.
Dua orang kawannya sedang menurunkan banserep dari atas bak mobil.
Sementara seorang kawannya lagi sibuk memasang dongkrak.
"Kalau menurut saya banserep jangan diturunkan, cari tukang tambal dulu ada apa tidak ? ", ujar kawan pengemudi itu setelah memasang dongkrak.
Dua orang kawan pengemudi ragu-ragu menurunkan banserep.
" Bagaimana ini ?",tanya seorang dari mereka kepada pengemudi itu."Turunkan atau tunda dulu ? ".
Pengemudi itu tidak segera memberi persetujuan,ia sebenarnya sangat resah dengan kondisi yang sedang dialami.Ia juga harus mengambil keputusan yang tepat supaya tidak mengecewakan kawan-kawannya.
" Ya ya cari tukang tambalnya dulu, kalian berdua ke arah sana ", kata pengemudi sambil menjukan arah.
Kedua kawan pengemudi itu dengan sigap bergerak mengikuti arah telunjuk menunjuk.
Tidak kurang dari sepuluh menit yang mencari tukang tambal kembali dengan wajah berseri.
" Alhamdulillah, ada tukang tambal 24 jam di sana ".
Kemudian tanpa menunda-nunda waktu kedua kawan pengemudi membawa banserep untuk ditambal.
***
Jam menunjukan pukul 4:30..
Suara adzan Subuh terdengar berkumandang dari menara-menara Masjid dan Mushola.
Pak Bobi dengan raut muka merah padam berjalan mondar-mandir di depan sebuah rumah kosong yang dikontrak sebagai tempat ia menyimpan semen curiannya.
" Celaka duabelas ----- sudah jam segini mereka belum datang ", pikir pak Bobi,ia mengkhawatirkan kegiatan usahanya terganggu.
Pak Bobi berpikir keras,mencari alasan yang tepat bila aksinya lewat orang-orang yang dibayar selama ini terbongkar.
"Perbuatan jahat itu tidak selamanya jaya, meskipun engkau jalankan bertahun-tahun tiada orang yang tahu pada akhirnya diketahui orang juga ", terdengar hati kecil pak Bobi bicara mengajak supaya menanggalkan segala bentuk pikiran jahatnya.
Nafsu serakah dan pikiran jahat pak Bobi tidak mau menerima ajakan kata hati.
"Semen yang aku curi selama ini milik kakak sendiri,bukan milik siapa-siapa.Mengapa aku harus berhenti mengikuti kata hati ? Perset*n ! Yang penting dari kesuksesan kakaku aku ikut senang ! ", seru nafsu serakah.
__ADS_1
Pikiran salah akan membawa kamu ke dalam api neraka jangan diikuti.
Akh perset*n kau hati ! Bisanya melankolis saja.Apa kebutuhan gaya hidup anak dan istri,juga mengangkat gengsi mau dengan melankolis ?!
Sudah, kamu diam jangan mengganggu pikiran dan nafsu serakah !
Pak Bobi tidak punya hati.Tidak berprikemanusiaan.
Jam 06:15 mobil memuat 30 zak semen itu datang,pengemudi dan tiga orang kawannya dimarahi habis-habisan.
"Kerja kalian semakin jelek saja...cepat turunkan semen-semen itu ! Upah kalian saya potong setengahnya ! ", pak Bobi seperti orang kebakaran jenggot marahnya.
" Tidak bisa potong upah begitu saja Pak...Keterlambatan ini bukan kesengajaan kami...", seorang kawan pengemudi tidak terima upahnya akan dibayar setengah.
Pak Bobi terkejut berhadapan dengan anak buahnya ada yang berani menyanggah.
" .......... "
Kawan pengemudi itu bukan berani menyanggah saja.Ia berbalik gertak kepada pak Bobi bila masalah upahnya oleh pak Bobi dengan semena-mena akan dibayar setengahnya
" Mau motong upah kami silahkan Pak..Kami juga akan menghancurkan usaha Bapak lewat petugas Kepolisian ", ujar kawan pengemudi itu.
Pak Bobi menjadi takut.
" Betul Pak, mobil mendadak kempes ban berturut-turut ", sahut pengemudi bermaksud supaya pak Bobi menjadi cepat percaya.
Pak Bobi belum mau bicara,sambil manggut ia memperhatikan wajah pengemudi.
"Ya sudah, cepat turunkan semen-semen itu ", ujar pak Bobi memberi perintah.
Kawan-kawan pengemudi mulai kerja menurunkan semen itu dan menumpuknya di sudut ruangan besar dalam rumah kosong itu.
Ruangan besar dalam rumah kosong itu menyerupai ruang gudang,di lantainya nampak ada palet-palet dari kayu,di atas palet yang lain terdapat beberapa zak semen.
Pak Bobi masih memikirkan gertakan dari kawan pengemudi tadi.
"Orang yang satu itu ternyata pemberani,saya harus bersikap baik kepada dia...sewaktu-waktu saya manfaatkan untuk urusan lain", pikir pak Bobi,setelah itu ia meminta pengemudi itu dengan seorang kawannya untuk ikut dengannya.
Dua orang kawan pengemudi sibuk menurun-nurunkan zak semen.
" Kalian ikut dengan saya....", kata pak Bobi kepada pengemudi itu dan kawannya.
Dua orang kawan yang sedang sibuk menoleh ke arah pak Bobi-sedang berjalan diikuti oleh pengemudi itu dan seorang kawan.
__ADS_1
" Mereka mau pergi ke mana,Tuh ? ".
" Paling juga mencari warung nasi uduk,untuk kita berdua juga ".
" Ayo kita tuntaskan menurunkan semennya,biar cepat bisa istirahat kita ".
Kedua orang itu kembali bekerja menurunkan zak semen dengan semakin semangat.Pikirannya membayangkan bungkusan nasi uduk datang.
Tidak kurang dari satu jam pengemudi itu bersama seorang kawannya kembali,membawa beberapa bungkus nasi uduk dibelikan oleh pak Bobi tadi di luar sana.
Nafsu makan ke dua orang habis bekerja menurunkan semen tadi itu kelihatan menunjukan mereka sedang lapar.
" Air minumnya beli sendiri ya ", ujar pengemudi setelah menyerahkan bungkusan nasi uduk.Ia memberi uang untuk membeli air minum.
"Pak Bobi tidak ke sini lagi ? ", tanya seorang kawan sambil sibuk makan.
" Tidak ", jawab pengemudi itu,sejenak pandangannya memeriksa ke arah tumpukan semen.Lalu katanya lagi," Tadi pak Bobi bicara,pemberian honor tidak jadi pagi ini...".
" Kapan ? ".
" Nanti malam,sekitar jam 21.00..di rumah pak Mandor...", sahut pengemudi itu.
Kedua orang kawan yang sedang makan nasi uduk bungkus itu nampak gembira.Mereka berpikir akan mendapat uang yang dijanjikan oleh pak Mandor juga.
" Rp 100 ribu dari pak Mandor lumayan lah ", ujar seorang kawan pengemudi itu.
***
Pak Bobi setelah mengajak pengemudi itu ke tukang penjual nasi uduk ia langsung ke proyek, menemui pak Mandor dan Ucup.
Melihat kedatangan pak Bobi perasaan pak Mandor dan Ucup menjadi tegang.Kedua orang kepercayaan pak Bobi itu jadi pendiam,mereka takut salah bicara karena sedang menutupi kejadian tadi malam,soal ada gerakan yang mengempesin ban mobil.
" Mandor, dan Ucup---- baru pertama ini saya sedikit kecewa ", ujar pak Bobi.Menyampaikan kekesalan pengangkutan semen tidak sesuai dengan waktu yang sudah diperhitungkan.
Mandor dan Ucup kaget,hatinya berdebar.
" Jam 6 mobil baru masuk, alasan pengemudi dan anak buahnya mobil mengalami kempes ban sekaligus kiri dan kanan ", kata pak Bobi,ia menceritakan kembali cerita dari pengemudi tadi itu kepada Mandor dan Ucup.
" Kempesnya di daerah mana Pak ? ", tanya Mandor,ingin memastikan apakah perbuatan orang mengempesin ban itu terdengar oleh pak Bobi apa tidak.
" Menurut pengakuan pengemudi kempes ban di tengah perjalanan, setelah mereka makan bubur kacang ", jawab pak Bobi tidak semangat.
Mandor dan Ucup menarik nafas lega.
__ADS_1