
Di rumah Toing tidak lama.Setelah ganti baju langsung berangkat pergi ke rumah Baim. Seperti Toing tidak ingin Dono dan Baim berada agak lama di rumahnya. Dono memang agak kritis kalau urusan sangka-menyangka seperti itu.Lalu ia memprotes Toing.
" Kok buru-buru pergi,Toing ? Kamu tidak suka saya dan Baim berlama -lama di rumah kamu ya ! ", kata Dono, disambut oleh Toing dengan menjenggung jidatnya hingga kaget.
" Kamu jangan asal bicara ! ", ujar Toing setelah menjenggung jidat Dono." Acara kita masih panjang...dari rumah saya kita ke rumah Baim...kemudian kita ke rumah Murno.Kalau lama di rumah saya kita keburu malam dan tidak jadi ke rumah Murno ",
" Bawel amat kamu Dono, protes melulu ", sahut Baim menambah perkataan Toing tadi.
Merasa tidak ada yang sependapat Dono tidak mau bicara lagi sepanjang perjalanan menuju rumah Baim di Kiaracondong.
Menjelang Maghrib Baim bersama Toing dan Dono tiba di rumah.Pak Surya dan Halimah, ayah ibu Baim gembira menyambut kehadiran mereka.
" Ibu senang kalian mau berkunjung ke rumah Baim, Toing---Dono ", ujar ibunya Baim sambil menyuguhkan minuman teh dalam botol.
Toing dan Dono gembira melihat kedua orang tua Baim sangat ramah.
" Ayo diminum airnya !", kata ibu Baim,lalu katanya lagi," Jangan malu-malu ".
Sementara Toing dan Dono menikmati suguhan air teh dalam botol,ibunya Baim bicara, ia menyampaikan kata-kata terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada Baim waktu membeli obat buat ayahnya.
" Akh itu biasa kami lakukan membantu kawan-kawan, Bu ", kata Toing.
Terdengar suara batuk-batuk ayah Baim di dalam kamar,Baim memanggil-manggil ibunya.Sepertinya Baim ketakutan melihat ayahnya bluding[1].Ibu Baim segera masuk ke kamar dan segera memberi pertolongan.Lalu dengan cepat meminumkan obat yang dibelikan Baim.Sesudah itu ayah Baim kelihatan tenang .
Melihat Baim gelisah,ibunya berusaha menghibur supaya Baim jangan terlalu khawatir.Lalu ia ceritakan hasil Konsul dengan dokter.Obat yang diminum ayah akan menyebabkan bluding.Itu tanda obat bekerja dengan baik." Ini bluding yang ketiga selama ayah minum obat yang kamu beli ", kata ibunya." Kata dokter setelah bluding tiga kali insya Allah ayah mendapat kesembuhan ".
Melihat ayahnya tertidur Baim ke ruang tamu menemui Toing dan Dono." Tunggu satu jam lagi ya,baru kita pergi ke Rumah Murno ", ujar Baim.
" Tenang saja,Baim ", sahut Dono.
__ADS_1
Tiba-tiba ibu Baim dari kamar bertanya." Kalian mau pergi lagi kemana ? ".
Baim dan Dono terdiam,takut ibu Baim tidak memberikan ijin.Saat itu Toing memberikan penjelasan dengan sedikit berbohong supaya ibu itu mau memberikan ijin kepada Baim." Kami akan menjenguk kawan sedang sakit di rumahnya, Bu ", mata Toing.
" Dimana ? ", tanya ibu Baim.
" Di Cicadas,Bu ", jawab Toing dan Dono kompak.
Ibu Baim memperhatikan Toing dan Dono,setelah itu melihat ke pada Baim merengek minta diijinkan." Kamu harus makan dulu...ajak juga tuh kawannya makan ", kata ibu Baim, lalu ia kembali masuk ke kamar mendengar ayah Baim mendehem.
Toing dan Dono saling dorong masuk ke ruang makan mengikuti Baim.Toing dan Dono seperti malu-malu,namun melihat nasi lengkap dengan lauk-pauk diatas meja makan keduanya berebutan sendoknasi.
Hari ini memasuki tiga bulan suaminya sakit.Melihat perkembangan kondisinya setelah meminum obat mahal itu hati Halimah mulai tenang.Pak Surya sudah bisa tidur nyenyak.Tanda-tanda kesembuhan sudah terlihat.
Tiba-tiba terdengar ada suara orang mengucapkan salam di luar, ibu Baim melongok dari pintu kamar,melihat ke arah ruang makan Baim,Toing dan Dono nampak asyik makan sambil bicara.Ia tidak jadi akan menyuruh Baim untuk melihat siapa orang yang mengucapkan salam di luar.Lalu dengan tergesa ia membuka pintu sambil menjawab salam.
Waalaikum salam.Pintu terbuka.Dilihat seorang anak laki-laki tak dikenal berdiri dengan sikap yang sopan.
" Assalamualaikum, Ibu ", ujar anak itu
" Saya Murno,Bu...kawannya Baim..apakah Baimnya ada ? ", tanya Murno.
Tanpa banyak bicara lagi ibu Baim menyuruh Murno masuk, kemudian ia memberi tahukan Baim ada kawan yang datang." Baim,apakah kalian sudah makannya ? Itu ada kawanmu datang...ngakunya sih bernama Murno ".
" Murno !??? ", serentak Baim, Toing dan Dono menemui Murno .
Murno kaget melihat Toing dan Dono." Toing, Dono kalian ada di sini ? ", tanya Murno menunjuk-nunjuk jarinya.
Toing dan Dono tertawa." Kamu mau ala datang ke rumah Baim ? ", tanya Toing.
" Saya sengaja ke sini mau menyerahkan uang kepada bendahara ", jawab Murno." Kalian lagi apa di sini ? ", Murno balik bertanya.
__ADS_1
Toing bercerita, hari ini sengaja keliling mengunjungi rumah kawan masing-masing.Pertama berkunjung ke rumah Toing di daerah buah Batu.Setelah itu ke rumah Baim." Dari rumah Baim rencananya mengunjungi rumah kamu,Murno ". Toing menjelaskan.
" Kalau tahu kalian akan kerumah ,saya tidak ke rumah Baim ", sahut Murno seperti menyesali keputusannya sendiri.
" Walau kita bertemu di rumah Baim, Saya dan Baim,Dono tetap datang ke rumah kamu ", kata Toing. Acaranya, hari ini kita saling mengenal tempat tinggal.Dan Murno senang bukan kepalang.
Setiap pagi selalu bertemu, orang mungkin menilainya mereka sebagai anak-anak jalanan.Bertemu di jalan,akrab di jalan namun tidak saling mengetahui dimana rumahnya masing-masing.Baim menyampaikan gagasan kepada Toing supaya saling mengetahui alamat Dono,Toing,Murno dan kawan-kawan sesama pedang koran.
Gagasan tadi dinilai sangat bagus kemudian disampaikan kepada kang Maruli oleh Toing." Kang Maruli sangat setuju dan menyuruh untuk segera dilakukan ", kata Toing." Tapi kalau boleh saya memberikan saran,kamu ambil koran pindah aja ke kang Maruli ", Toing memberikan saran kepada Murno.
Suasana anak-anak itu bicara sangat riuh terdengarnya.Membuat ayah Baim terbangun dari tidur.Kemudian dengan dipapah oleh ibu Baim,ayah Baim pindah ke ruang tamu.Melihat Baim dengan tiga orang kawannya saling bicara penuh dengan persahabatan.
Dono, rumah tinggal di daerah Dayeuhkolot.Tidak punya ayah.Ia putus sekolah saat belajar di kelas tujuh.Punya seorang adik.Ibunya berjualan sayuran di pasar Dayeuhkolot.
Toing,rumah tinggal di daerah Buahbatu. Ayah dan ibunya bekerja sebagai tenaga honorer di PDAM.Toing anak bungsu dari tiga bersaudara. Sekolah kelas sebelas di SMA Bhakti. Aktif sebagai ketua OSIS.
Murno,rumah tinggal di daerah Cicadas.Kedua orang tuanya telah bercerai. Ia tinggal bersama ayahnya.Sekolah kelas delapan dua tahun berturut-turut di SMP Kujang.
Baim,tinggal di daerah Kiaracondong. Bersama ayah dan ibu. Ayahnya sudah tidak bekerja. Ibunya berdagang kue di titip-titipan ke warung. Sekolah kelas delapan di SMP Angkasa.
Pak Surya,ayahnya Baim sangat gembira mengenali kawan-kawan anaknya.Melihat kekompakan anak-anak itu semangat untuk sembuh dari penyakit yang diderita menjadi sangat besar.Dan sore ini ia bisa duduk lama di kursi sambil bercerita masa-masa lalunya.Sebuah masa dimana ia bekerja di sebuah proyek besar.Ia meraih kesuksesan dengan kejujuran.
Pak Surya tidak akan pernah melupakan, kehadiran orang-orang yang mengajak melakukan perbuatan merugikan perusahaan kemudian membuat fitnah hingga ia terpental dari tempat pekerjaan.
"Ayahnya Baim difitnah,perusahaan langsung memberhentikan tanpa pesangon ", kata ibu Baim menambahkan cerita.
" Kalian harus ingat dan yakin.Kalau kalian hidup dengan kejujuran jangan kalian gadaikan kejujuran itu dengan perbuatan bohong.Sekarang boleh tersingkir kejujuran itu oleh iklim berbohong.Tapi kita harus percaya kejujuran akan kembali dicari orang karena sesungguhnya kejujuran itu selalu diridhoi oleh Allah ". kata ayah Baim,bola matanya berbinar-binar.
Ibu Baim kemudian mengingakan kepada anak-anak yang antusias mendengarkan kata-kata dari ayah Baim.
" Sudah ngobrolnya, bukankah kalian akan main ke rumahnya Murno ? Pergi sana,mumpung masih sore..ibu minta Baim diantar pulang ya ", kata ibu Baim kepada Toing.
__ADS_1
----------------
[1] Batuk yang mengeluarkan darah.