
Pak Mandor takut kejadian kempes ban karena perbuatan orang lain itu terdengar oleh pak Bobi.
Lalu diajaknya Ucup berbicara menyiasati bagaimana membuat pak Bobi tetap baik bila mendengar ada yang menghalangi kegiatannya.
" Harapan saya kejadian malam ini jangan sampai didengar oleh pak Bobi ", kata Ucup kepada pak Mandor.
" Tapi bagaimana bisa ? Di Tim ini ada enam orang.Kamu dengan Saya bisa merahasiakan,tapi dengan yang lainnya ? ", sahut pak Mandor.
Pak Mandor berpendapat membungkam orang untuk tidak mengumbar rahasia itu berbiaya mahal.Ia tidak memiliki uang jadi kurang yakin orang mau menuruti kata-katanya.
" Saya tidak yakin ", keluh pak Mandor.
" Jangan pesimis Pak..Semuanya bisa diatur ...asalkan bapak sendiri yang bicara kepada mereka ", Ucup menimpali ucapan pak Mandor, ia setia memberi semangat.
" Tapi orang mau menuruti keinginan kita itu tidak gratis ", kata pak Mandor.Ia penuh keraguan bila mengikuti ucapan Ucup.
" Pak Mandor , sebaiknya mencoba dulu ", sahut Ucup.
Beberapa menit kemudian Ucup melanjutkan bicara seperti sebuah teori ," Kalau sudah diminta tutup mulut kemudian mereka bocor juga, baru pak Mandor bicara pakai biaya ".
Pak Mandor terdiam,dipandangnya muka Ucup.Kemudian dengan berat hati pak Mandor berterus terang .
" Saya tidak punya uang untuk biaya ", ujar pak Mandor.
" Bicara dulu saja ,Pak ", sahut Ucup.
Pak Mandor memandangi Ucup untuk ke sekian kali.
" Kalau soal biaya supaya mereka mengikuti kemauan bapak bisa dengan janji dimuka ", ujar Ucup.
Pak Mandor ragu-ragu.
" Ayo bicara pada mereka Pak, mumpung masih banyak waktu ".
Pak Mandor menjadi bimbang, melihat Ucup terus memaksakan saran pendapatnya.
" Kalau pak Mandor segan bicara bagaimana jika saya yang bicara atas nama bapak kepada mereka ? ", kata Ucup menawarkan jasa.
Sebentar pak Mandor berpikir sebelum menerima tawaran Ucup.
" Kamu yakin , kamu bisa ? ".
Ucup menganggukan kepala.
" Baiklah ", ujar pak Mandor.
Ucup mengambil sebotol air minum yang masih dalam karton persediaan minum pak Mandor.Kemudian sambil menjinjing botol air ia berjalan mendekati beberapa orang yang sedang sibuk mengganti banmobil kempes dengan banserep di luar gudang sana.
__ADS_1
" Kapan beres ganti ban nya nih ? ", Ucup masih jauh udah bicara.
Pengemudi itu baru selesai memasang banserep sudah kecapekan, lalu menyuruh salah seorang untuk mengencangkan baut.
Sesudah itu berdiri melihat ke arah Ucup datang.
" Sudah beres masing banserep nya ? ", tanya Ucup sambil memberi botol air minum.
Pengemudi itu dengan gembira menerima botol air dan langsung ia membuka tutupnya, dengan hati senang ia meneguk air dalam botol itu.
" Saya mau bicara ", kata Ucup setelah melihat pengemudi itu sudah dua kali meneguk air botol.
" Siap ", sahut pengemudi itu.
Ucup mengamati wajah pengemudi itu setelah itu ia melihat ke arah tiga orang yang sedang sibuk mengencangkan baut ban mobil.
" Kita kumpul dulu,ini pembicaraan penting ", kata Ucup.
Pengemudi itu melihat Ucup sangat serius lalu segera berkata kepada orang - orang yang sedang mengencangkan baut ban di sana.
" Sudah kencang semua bautnya ? ", ujar pengemudi itu.
Seorang menyahut," Sudah Kang ".
Dua orang menaikan ban-ban kempes ke atas bak mobil,setelah itu menyimpan kuncisock bekas mengencangkan baut ban di bawah jok mobil.
" Kalian kemari dulu ! ", kata pengemudi itu serara melambaikan tangannya.
Tapi Ucup malas balik ke gudang mengambil air minum,akhirnya botol air yang sedang dipegang pengemudi itu mereka rebut dan bergantian meneguk.
Sebelum bicara Ucup bisik-bisik kepada pengemudi itu.
"Begini kawan-kawan ------- pak Mandor minta kepada kita jangan membicarakan mobil kempes ban karena ulah orang lain ", kata Ucup." Anggap saja tidak mengalami kempes ban ".
" Kalau bos Bobi menanyakan mengapa kita terlambat datang,bagaimana ? ", tanya satu orang dari mereka.Dari wajahnya kelihatan takut dan bingung.
"Jawab saja mobil kehabisan BBM ", jawab Ucup." Kita harus kompak ".
Pengemudi itu lalu ikut bicara karena melihat tidak ada kesepakatan diantara ke dua kawannya.
" Kalau kita kompak kali lain pak Mandor akan meberi kita uang tambahan...masing-masing seratus ribu rupiah....ya lumayan lah buat beli susu anak ". ujar pengemudi itu,kedua kawannya sepontan tersenyum.
Ucup tersenyum senang hatinya melihat kekompakan terwujud diantara mereka.
" Kalau kita sudah sepakat kompak,sekarang cepat bawa mobil itu pergi ", ujar Ucup." Kita sudah terlambat lama ".
Pengemudi itu bersama kedua orang kawannya segera melangkah menuju mobil.
__ADS_1
Ucup melihat mereka,dua orang naik dan duduk di atas tumpukan semen di bak.Pengemudi itu masuk di ruang kemudi ditemani oleh satu orang.
Ucup tersenyum lebar memandang mobil memuat semen bergerak.Setelah mobil jauh ia sambil bersiul jalan kembali ke gudang menemui pak Mandor.
Hu hu huuw...Hu hu huuww
Suara siul terdengar dari mulut Ucup.Sementara hatinya senang , terbayang di benaknya sebuah ke untungan.
" Saya akan bicara kepada pak Mandor perorang minta uang tutup mulut duaratus ribu rupiah....dengan demikian ada sisa untuk saya ".
Pak Mandor dipastikan oleh Ucup akan mengikuti mengeluarkan uang duaratus ribu untuk satu orang,dari pada ia dimarahi dan dipecat oleh pak Bobi karena kejadian mobil dikempesi tadi bannya oleh orang sebagai keteledoran.
Tiba di gudang Ucup melihat pak Mandor masih duduk termenung.
" Sudah aman Pak ", kata Ucup," Pak Mandor tidak perlu khawatir kejadian tadi tidak akan terdengar oleh pak Bobi ".
Pak Mandor langsung bangun dari duduknya, hatinya senang.Ia kemudian tak henti-hentinya memuji Ucup.
" Saya menjanjikan duaratus ribu perorang kepada mereka Pak ", ujar Ucup.
" Tidak mengapa.....tidak mengapa ! ", sahut pak Mandor dengan raut wajah memancarkan kegembiraan dari dalam hatinya.
***
Murno bersama Toing seperti sedang serius membicarakan Daklan dan Husen dua orang asing yang dilihatnya tadi.
" Dua orang tadi pasti anggota komplotan pencuri semen itu ", kata Murno.
Namun Toing tidak sependapat,kalau mereka anggota dari komplotan pencuri semen bertemu kita pasti langsung marah mengancam ", sahut Toing.
" Jadi siapa mereka ? ", tanya Murno
Mungkin mereka dua orang petugas polisi sedang mengawasi pencurian tadi ? ", tanya Murno lagi.
Toing berpikir sejenak, kalau mereka dua orang petugas polisi tentu pencurian tadi langsung mereka grebeg.
" Seperti mereka bukan dua orang petugas polisi ", jawab Toing.
Akh pusing saya memikirkan mereka,ujar Murno dalam hati.
Toing mempercepat jalannya ketika melihat tempat ia menyembunyikan sepeda tinggal beberapa langkah lagi.
Murno terkejut setelah sebentar diam berpikir melihat Toing berjalan sudah jauh.Ia mengira Toing meninggalkan lalu menyusul.
" Toing----tunggu saya ! ", seru Murno sambil berlari.
Toing mengeluarkan sepeda dari semak belukar langsung menuntun sepeda itu ke luar pagar menuju bahu jalan.
__ADS_1
Menoleh ke belakang Murno masih tertinggal jauh.
Hmmm... Toing menghela nafas panjang.