
Kang Maruli agen koran Cikapundung menghitung uang setoran dari Baim,Toing,Murno dan Dono.Dengan muka berseri ia tak henti-henti bicara memberi semangat kepada anak-anak itu.Ia berharap anak-anak bisa mempertahankan omzet penjualan sampai akhir tahun dengan iming-iming hadiah.
" Hadiah saya berikan sesuai keinginan kalian.Kalau kalian ingin hadiah berbentuk barang saya kasih barang.Kalau ingin hadiahnya berupa uang,saya kasih uang ", kata kang Maruli dengan bangganya.
Ia bangga karena merasa sebagai pelopor agen-agen koran di Cikapundung yang berani mengeluarkan hadiah buat anak buahnya." Silahkan kalian cari ada tidak agen lain yang mengeluarkan hadiah seperti saya ", kata kang Maruli lagi harapannya Toing,Baim,Dono dan Murno menyambut gembira adanya hadiah itu.
Tetapi anak-anak itu tidak menunjukan respon,alis kang Maruli berkerut,diperhatikannya muka anak-anak satu persatu.Sesudah itu ia menarik nafas dan berkata : " Kalian ini anak buah yang aneh...Orang lain banyak merindukan hadiah...Kalian ditawari hadiah malahan biasa-biasa saja ".
Melihat kawan-kawannya diam menundukan kepala saja lalu Toing memberanikan diri untuk bicara : " Bukan seperti itu,Kang...Kami senang hati kok dikasih hadiah....masalahnya apakah kami bisa setiap hari menjual koran habis ".
" Nah ini yang saya suka dari kalian ", sahut kang Maruli menyambut ucapan Toing.Kemudian ia memperhatikan Toing,lalu dengan senyum khas ia mengangkat jempol tangan kanan,acungan jempol itu buat Toing dan kawan-kawannya." Kalian selalu berendah hati....saya suka...saya suka ".
***
Pak Surya beranjak dari tempat pembaringannya,ia sudah merasa tidak betah sepanjang waktu berbaring.Dengan kaki masih gemetar ia melangkah ke sebuah kursi yang ada di ruang tamu.Sementara Halimah,istrinya, sedang asyik dengan kesibukan di dapur membuat adonan kue donat untuk digoreng pada malam hari.
Setelah merasa nyaman duduknya,pak Surya memanggil istrinya.Dan dengan cepat istrinya menghentikan kegiatannya di dapur datang menemui pak Surya." Iya Pak....Ada apa ? ".
" Baim sudah pulang belum ? ", tanya pak Surya kepada istrinya.
" Suaranya tadi ibu dengar di kamar,Pak ", sahut Halimah,kemdian ia memanggil-manggil Baim sambil menuju ke kamar.Namun setibanya di kamar itu Baim tidak ada.Hanya ada satu eksemplar koran tergeletak di atas tempat tidur." Pergi kemana lagi anak itu ? ", tanya Halimah dalam hati.Kemudian ia mengambil koran di atas tempat tidur itu,saat koran diangkat sebuah amplop kabinet terjatuh dari lipatan koran.Diambil amplop yang terjatuh tadi oleh Halimah lalu dengan hati penasaran ia buka amplop itu.Uang ???? Perasaan Halimah jadi tak menentu.
Halimah terkejut bukan kepalang melihat uang dalam amplop.Dihitungnya uang itu.Seratus, duaratus, tigaratus....sampai jumlahnya mendekati satu juta rupiah." Uang apa ini ? ", ia tidak percaya uang sebanyak ini milik Baim.
__ADS_1
Takut keberadaan amplop berisi uang itu akan mendatangkan masalah dikemudian hari.Segera Halimah memberitahukan kepada suaminya." Pak, coba bapak lihat isi amplop ini ", kata Halimah sambil menyerahkan koran.
Pak Surya nampak tenang menerima koran dan amplop berisi uang.Sejenak ia membaca judul berita utama,dan beberapa rubrik konsultasi hukum,lalu halaman demi halaman judul berita tak terlewatkan ia baca.
Istrinya masih berdiri menunggu,ingin melihat pak Surya membuka amplop dan melihat bagaimana reaksinya.
Setelah meletakan koran di atas meja dengan tenang ia membuka amplop.Memeriksa isi amplop." Uang ? Ini uang siapa ? ", ujar pak Surya sambil melihat wajah Halimah nampak penuh ketegangan.
Beberapa kali pak Surya bertanya soal uang dalam amplop itu kepada istrinya.Jawabnya hanya sebuah kronologi.Sepertinya amplop diselipkan dalam lipatan koran yang ditaruh di atas tempat tidur,dan amplop terjatuh saat diambil.
" Ini pasti uang miliknya Baim...tapi darimana ia mendapat uang sebanyak ini ? ", kata pak Surya.Uang dalam amplop itu terlalu banyak jumlahnya dan tidak mungkin uang itu merupakan keuntungan dagang koran,pikir pak Surya.Pelan-pelan hatinya menjadi gusar,memikirkan Baim juga, takut Baim terpengaruh oleh kawan-kawannya di luar rumah melakukan perbuatan yang merugikan orang lain.
Halimah teringat beberapa waktu lalu Baim bercerita bahwa oleh kawan-kawannya dijadikan bendahara,tugasnya setiap hari mengumpulkan uang kawannya dari keuntungan dagang yang mereka sisihkan.Semua yang ia ingat diceritakan kepada pak Surya suaminya itu.Dan saat itu juga pak Surya merasa tidak ada rasa gusar lagi dalam hatinya.
Pak Surya mengamati amplop yang sedang ia pegang,hatinya masih belum percaya dengan cerita dari Halimah,istrinya.Mudah-mudahan bukan uang hasil kejahatan anak-anak,pikir pak Surya.Ditatapnya wajah istrinya yang masih berdiri di sebelahnya,amplop yang sedang dipegang kemudian ia serahkan kepada istrinya untuk menyimpannya kembali di kamar Baim.
***
Keluar dari rumah kang Maruli seketika Baim teringat amplop yang ia terima dari pak Gunawan bos proyek.Amplop itu untuk ayahnya.Baim menyelipkan dalam koran tapi ia lupa menyimpannya.Takut amplop itu hilang maka setelah pamitan kepada kawan-kawannya Baim tergesa-gesa pergi naik mobil angkot,pulang.
Dalam mobil angkot.Dengan raut wajah penuh ketegangan duduknya gelisah.Yang ada dalam benaknya amplop.Ingin segera menyerahkan amplop itu kepada ayahnya.Ingin segera ia tiba di rumah.Tapi sayang di sayang mobil angkot yang dinaiki jalannya terasa lambat.Sebentar sebentar Baim menarik nafas.
Setiba di rumah ia lupa ucapkan salam,langsung menuju kamarnya.Ayahnya yang lagi duduk di kursi membaca koran melihat Baim seperti berlari dikejar hantu.
__ADS_1
" Ada apa,Baim ? ", tanya ayahnya, namun yang ditanya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Tidak berapa lama Baim keluar dari dalam kamar,melihat korannya sedang dibaca oleh ayahnya ia mendekati." Ayah..... koran yang ayah baca dari kamar Baim ya ? ".
" Iya,Baim ....ayah pinjam ingin baca berita ", sahut ayahnya.
" Koran itu ada amplopnya,ayah taruh dimana ? ", wajah Baim mulai kelihatan berseri.
Ayahnya memperhatikan ekspresi muka Baim.." Tapi ayah ingin tahu dulu,kamu dapat dari mana uang dalam amplop itu ".
Apa ayah, uang ??? Baim sungguh terkejut mendengar amplop itu ternyata berisi uang.Ia benar-benar menyesal sudah melanggar pesan ayahnya jangan menerima pemberian apa pun dari orang-orang proyek.
Sekarang Baim dalam bingung,melihat sorot mata ayahnya ia tak berani berkata.
" Jawab Baim ! ", ayahnya tegas berkat.
" Saya kira isi amplop itu surat ,Ayah...jadi saya mau menerimanya ". ujar Baim sambil menundukan kepala.Lalu ujarnya lagi," Amplop itu untuk ayah dari pak Gunawan ".
" Apa,pak Gunawan ? ", ayahnya terkejut." Kamu jumpa pak Gunawan dimana ? ".
Lama Baim diam, setelah ibunya datang membujuk,dengan perasaan masih takut ayahnya akan marah Baim bercerita.Seperti yang ia ceritakan kepada kawan-kawannya.
Sekarang pak Surya pikirannya terasa tenang.Tidak lagi ada kekhawatiran terhadap Baim dan percaya anaknya itu tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan hukum.
__ADS_1
" Pak Gunawan juga bicara, jika ada waktu ia akan menjenguk ayah ", ujar Baim.Melihat ayahnya duduk merenung,matanya melihat ke lantai.Terdengar ibunya berkata," Mudah-mudahan kehadiran pak Gunawan merupakan pertanda baik buat kita Pak ".
Pak Surya mengalihkan pandangannya kepada wajah Halimah,lalu ke wajah Baim.Setelah itu melihat ke depan,terdengar ia menghela nafas...