Anak-anak Vs Sindikat

Anak-anak Vs Sindikat
Agen koran di Cikapundung itu marah besar


__ADS_3

 


Pagi itu rupanya sedang datang bintang terang Baim,Toing,Dono dan Murno.Digangan koran punya mereka habis terjual.


Seperti biasanya mereka bila akan setor uang koran terlebih dahulu berkumpul dulu di alun\-alun.Menyaksikan ramainya orang berkunjung di alun\-alun dan disputaran masjid Agung.


Pedagang makanan yang berjejer dipinggir pagar alun\-alun sedang ditertibkan oleh satuan Polisi Pamong Praja dengan dakwaan mengganggu ketertiban umum.


Melihat situasi diseputar alun\-alun memang banyak celah tempat untuk berdang menjanjikan keuntungan bagi masyarakat bawah yang senantiasa berpikir ekonomi.


 


Salah satu dari mereka berdagang di situ dan mendapat keuntungan yang lumayan berikutnya banyak yang berdagang.Banyak lapak dagang di tempat itu mengganggu kebersihan dan keindahan kota." Makanya pedagang-pedagang itu ditertibkan oleh Pol PP ", kata Toing memberi pengertian kepada Baim,Dono dan Baim." Nanti kalau kalian sudah menjadi orang dewasa ingin membuka usaha dagang seperti mereka sebaiknya mencari lokasi yang ada penyewaan kiosnya ",Toing memberi pengertian lebih lanjut.


" Mereka itu yang disebut PKL ya ? ", Baim bertanya,matanya melihat ke arah pedagang berlari sambil mendorong gerobak dagangannya.


Belum sempat Toing menjawab pertanyaan Baim tadi,terdengar Dono bicara : " Kalau pedagang koran keliling seperti kita apa disebut PKL juga ? ".


" Bukan ! ", terdengar Murno menimpali.


" Kalau bukan mengapa kawan-kawan kita yang berdagang koran di lampu merah sering ditertibkan juga ? ", sahut Dono.


Murno tidak bicara lagi, kemudian Dono mengejek Murno.Selanjutnya kedua anak itu saling mengejek.


Toing khawatir ejek-mengejek antara Dono dan Murni bila tidak segera dilerai bisa menjadi pertengkaran,kemudian buru-buru Toing bicara menengahi Dono dengan Murno." Pedagang koran seperti kita ini beda dengan PKL ", kata Toing.


Murno langsung berjingkrak kegirangan mendengar kata-kata Toing,melihat Murno langsung Dono cemberut.Ia berpikir Toing telah membela Murno.


" Namun ada tetapinya ", Toing melanjutkan kata-katanya tadi.Seketika Murno berhenti berjingkrak.


" Apa tuh ? ", tanya Murno.

__ADS_1


" Kita sering dianggap sebagai anak putus sekolah.Ada juga yang menganggap kita anak jalanan dan tunawisma ", Toing menyampaikan pengetahuannya yang ia dapat dari pendapat umum.


Baim,Murno dan Dono menjadi kecil hati.


" Kita jangan berkecil hati.Mereka salah besar bila menganggap kita seperti itu.Buktinya saya,Baim dan Murno masih bersekolah.Kita semua punya tempat tinggal ", Toing menyemangatkan kembali Baim,Dono dan Murno.


Akan tetapi saat mereka sedang dalam perjalanan ke rumah kang Maruli untuk setor uang koran mendadak Baim,Dono dan Murno patah semangat.Ketiga anak itu kurang begitu percaya dengan ucapan Toing tadi.


" Apa kita harus berhenti jadi pedagang koran ? ", tanya Baim kepada Dono dan Murno..


Tetapi tidak ada seorang pun mau menjawab kebimbangan Baim.Karena mereka mengakui dari hasil dagang koran selama ini bisa membantu meringankan beban biaya orang tuanya.Seperti Dono, ia membantu ibunya soal kebutuhan jajan adeknya dari hasill dagang koran.


Lalu dengan malu-malu salah satu dari ketiga kawan Toing berkata : " Bukan maksud kita berhenti jadi pedagang koran,tetapi dianggap sebagai anak jalanan tunawisma yang menjadikan saya berkecil hati ".


Setelah menyetor uang koran anak-anak mendapat sanjungan yang luar biasa dari kang Maruli.Mereka bergembira.Tapi sekejap mengamati suasana gembira itu kang Maruli melihat anak-anak itu menyembunyikan suasana hati tidak gembira,kecuali Toing.


" Mengapa kalin seperti tidak semangat, Dono,Baim dan Murno apa kalian lagi sakit ? ", tanya kang Maruli,ia tidak menyukai melihat anak buahnya tidak bersemangat.


" Ayo Baim,kamu harus bicara apa yang menyebabkan kita kurang semangat ", Dono mendorong-dorong Baim untuk bicara.


Kang Maruli mengerutkan kening memperhatikan wajah anak buahnya satu persatu.Saat itu ia langsung intropeksi diri barangkali ada perkataan yang sudah-sudah menyinggung hati dari anak buahnya.


Toing juga merasa tidak mengerti apa yang akan diutarakan Baim dengan dorongan Dono dan Murno.


Lalu Baim memberanikan diri bicara kepada kang Maruli,agen koran di Cikapundung bosnya itu.Ia berbicara soal apa yang sudah membuat hatinya ragu jadi pedang koran keliling.


Dan Kang Maruli menjadi marah." Siapa yang bilang pedagang koran seperti kalian ini anak jalanan tunawisma ?! ", suara lantang. " Ini tidak benar ! " .


Baim,Dono dan Murno terdiam.


Toing memperhatikan Baim,Dono dan Murno sedang dalam hati yang ciut.

__ADS_1


" Lain kali jika ada yang menyebut kalian anak jalanan tunawisma langsung lapor kepada saya ", ujar kang Maruli.Menyadari dirinya terbawa emosi langsung ia bersikap seperti semula.Senyum khasnya yang membuat anak buahnya senang kembali berkembang bersama kata-katanya yang ramah.


" Pokoknya bila ada orang bilang pedagang koran keliling itu tidak bagus suruh datang orang itu kepada saya ", ujar kang Maruli. " Toing, Murno,Baim dan Dono ----- kalian siap ya ? ".


Serentak anak-anak itu berucap : " Siap Bos ! ".


Siap melawan orang yang melecehkan pekerjaan dagang koran keliling.Apalagi terhadap orang yang selalu menganggap Toing,Baim,Dono dan Murno sebagai anak jalanan tunawisma.Mereka harus siap melawan.


Kang Maruli memberi semangat kepada anak buahnya.Tidak ada seorang pun anak buahnya yang tunawisma.


" Perlu diketahui oleh kalian,tidak gampang menjadi pedagang koran di saya,kalian semua anak-anak pilihan saya,kalau ada orang meremehkan kalian berarti orang itu meremehkan pilihan saya juga dan saya pasti marah ", kata-kata kang Maruli akhirnya mengembalikan percaya diri anak-anak.


***


Pulang dari rumah kang Maruli anak-anak itu pergi ke rumah Murno.Disana mereka beristirahat sambil membicarakan soal Ucup tukang copet yang menemui pak Mandor kemarin malam.


Dono mengaku bertemu Ucup tapi orang itu tidak mengenali wajah Dono membuat Toing,Murno dan Baim heran.Sebenarnya kemarin malam,di pesta ultah Dewi, mereka ingin membicarakan keanehan itu.Namun mereka berjaga-jaga agar Metty tidak terusik karena menyebut nama ayahnya,maka mereka sepakat untuk membahas pengakuan Dono itu pada kesempatan lain waktu.


" Apakah mungkin Ucup itu anak buahnya pak Mandor,ayahnya Metty ? ", tanya Toing.


" Tidak mungkin ", jawab Baim. " Ayah Metty itu seorang Mandor , artinya ayah Metty orang yang memiliki pekerjaan. Kalau Ucup itu pencopet, orang yang suka mencopet artinya orang yang tidak punya pekerjaan tetap.Jadi akan menjadi fitnah kalau menyimpulkan ayahnya Metty sebagai pimpinan copet ".


" Terus apa dong tujuan Ucup itu mendatangi ayahnya Metty ? ", tanya Murno kepada Dono.


" Mana aku tahu ", jawab Dono.


" Ya sudah,jangan kita membicarakan pencopet itu bertemu dengan ayahnya Metty ", sahut Baim.


Tetapi Murno tidak sependapat dengan ucapan Baim.Ia nampak bersemangat untuk membicarakan Ucup pencopet itu dan mencari tahu apa hubungannya dengan pak Mandor.Murno seperti tidak mau melupakan pertengkarannya di Ciparay beberapa waktu yang lalu.Ia menyimpan dendam karena lebih dulu mendapat bogem mentah dari Ucup.


Toing mengeluarkan pendapat tengah-tengah, agar Murna mau menerima,Baim dan Dono juga menerima pendapatnya.

__ADS_1


Sebuah kesepakatan mereka akan mencari tahu hubungan ayahnya Metty dengan pencopet itu.Untuk terkumpulnya data informasi itu mereka menugaskan Dono karena memiliki hubungan dekat dengan Metty.


Meskipun itu dirasa sangat berat,Dono siap menerima tugas dari kawan-kawannya.Walau ia sendiri belum tahu untuk apa menelusuri Ucup dengan pak Mandor.


__ADS_2