Anak Kembar Tuan Dingin

Anak Kembar Tuan Dingin
Habis Kesabaran


__ADS_3

Masih terdengar umpatan Ashley di dalam mobil. Sementara Kendrick masih menyunggingkan senyuman tipis. Tak ada yang melihat ekspresi wajahnya saat ini terkecuali Maximus.


Sedari tadi Maximus mencuri-curi pandangan, memperhatikan interaksi antara Kendrick dan Ashley. Dia gelagapan saat ini, kala Kendrick meliriknya di kaca. Secepat mungkin ia mengalihkan pandangan ke depan.


"Kendrick, itu ada halte bus, turunkan aku di situ," ucap Ashley kemudian setelah puas mengomel dan mengeluarkan semua keluh kesahnya barusan.


"Untuk apa? Mulai dari sekarang kita semobil," kata Kendrick.


Ashley melonggo. "Ha? Bukannya kemarin kau tidak mau satu mobil denganku, nanti para karyawan bingung melihat kita berangkat bersama-sama."


Kendrick menarik nafas dalam. Tak mengubris perkataan Ashley barusan.


"Ken, jelaskan padaku, kenapa? Nanti aku bisa menjadi buah bibir di kantor karena kedapatan satu mobil denganmu, aku tidak mau, turunkan aku di sini, Ken." Ashley memohon sambil menangkup kedua tangan di dada.


Tak ada sahutan. Kendrick malah menyenderkan kepala di kursi mobil lalu memejamkan mata.


"Ken, ish!" Ashley mencebikkan bibir, menahan sabar akan sikap Kendrick saat ini.


"Nona, jangan pikirkan tentang hal itu, anda Sekretaris pribadi Mr. K jadi orang tidak akan curiga, lagipula kalau naik mobil, anda tidak akan terlambat," ucap Maximus tiba-tiba, berusaha menenangkan Ashley.


Ashley mengendus pelan. "Baiklah, semoga saja Max, aku hanya tidak mau menjadi bahan gosip para karyawan."


"Tenanglah, Nona. Hal itu tidak akan terjadi, percayalah padaku."


"Hmm, iya, Max."


Suara getaran pesan masuk handphone Ashley di dalam tas mengalihkan atensinya. Secepat kilat ia mengambil benda pipih itu lalu membaca pesan ternyata dari Madam Brunet.


...Ashley, terima kasih kiriman uangnya, aku berdoa agar kau dan anak-anakmu dalam keadaan baik-baik saja. Aku berharap kau dapat menemukan Unclemu itu dan mencebloskannya penjara. Oh, ya, Ashley, bisakah kau sampaikan salamku kepada Rita. Wanita gila itu tidak membalas pesanku semalam....


...Salam hangat untuk cucu-cucuku juga di sana....


Ashley tersenyum tipis, saat membaca pesan balasan dari Madam Brunet. Semalam ia mentransfer uang untuknya dan bercerita pada Madam Brunett bahwa Uncle Martin sekarang tak tahu berada di mana.


Kemarin sore, sebelum pulang ke rumah. Ashley menyempatkan diri ke rumah orangtuanya dulu. Dan betapa terkejutnya saat melihat rumahnya digembok dari luar dan terpasang plang tulisan di SITA.


Ashley menebak jika Unclenya mengadaikan rumah milik mendiang orangtua ke Bank. Entahlah, Ashley begitu sedih karena tak dapat memasuki rumah penuh kenangan bersama kedua orangtuanya dulu.


"Ashley, kenapa senyum-senyum sendiri? Turun, kita sudah sampai." Kendrick berucap tepat di telinga Ashley.


Ashley tersentak. Lalu melotot ke arah Kendrick. "Bukan urusanmu, iya, iya, aku turun."


Kendrick menyeringai lalu keluar dari mobil. Diikuti Ashley di belakang.


Di pintu utama, para karyawan yang melihat kedatangan Ashley bersama Kendrick. Tampak syok dan langsung memusatkan perhatian pada Ashley. Bertanya-bertanya ada hubungan apa di antara keduanya.


"Apa kalian tidak ada kerjaan? Bubar! Ashley, menjadi Sekretaris pribadi Mr. K sekarang!"


Maximus lantas menjawab semua pertanyaan yang bersarang di benak para karyawan. Sebagian karyawan nampak mangut-mangut, sebagian pula khususnya wanita, menaruh curiga dan iri kepada Ashley karena baru saja masuk berkerja sudah dinaikan jabatannya.

__ADS_1


Ashley tampak salah tingkah melangkah di belakang tubuh Kendrick. Melihat banyak pasang mata memandangnya dengan sinis.


"Aku bilang bubar!" Maximus melihat para karyawan tak kunjung bergerak.


Setelah situasi kondusif di lantai satu. Kendrick melangkah masuk ke dalam lift pribadi miliknya. Lalu melihat Ashley tengah berjalan menuju lift khusus karyawan.


"Nona Ashley, masuklah ke lift pribadi, Mr." Maximus mempersilahkan Ashley masuk ke dalam lift di sebelah kanan lift umum.


Dahi Ashley berkerut kuat. "Tapi aku kan–"


"Masuk atau kau, aku suruh naik tangga!" sela Kendrik seketika membuat Ashley melangkahkan kaki menuju lift dengan tergesa-gesa.


"Menyebalkan!" gerutu Ashley saat sudah di dalam lift.


Maximus langsung masuk dan menekan tombol angka 6, di mana ruang Kendrick berada. Selang beberapa menit kemudian, ketiganya sudah sampai.


Kendrick melangkah keluar sambil menoleh ke arah Ashley. "Kau sudah tahu kan apa saja tugasmu?"


Ashley mengangguk. "Sudah," jawabnya cepat.


Kendrick menyeringai tipis. "Karena kau masih baru, mejamu akan dipindahkan di ruanganku dan tugasmu sekarang, membawa sendiri meja mu ke dalam."


"What? Kenapa harus di dalam? Di luar saja seperti Rosa kemarin?" Ashley tampak syok.


"Tidak usah banyak membantah! Lakukan saja perintahku!" Lagi, lagi seringai tipis terlukis di wajah Kendrick.


Ashley kehabisan kata-kata. Kendrick selalu saja membuatnya kesal. "Ish, meja itu sangat berat, Ken?"


Ashley merengut. "Tapi Ken, aku–"


"Aku tunggu lima menit di ruanganku, aku pergi."


Sebelum Ashley menyelesaikan kata-katanya. Kendrick berlalu pergi, berjalan masuk ke ruangan. Meninggalkan Ashley kini tengah melempar tas ke lantai dan menyumpah Kendrick.


"Pria gila! Pria psyco!" Ashley menarik nafas dalam lalu melirik Maximus tengah tersenyum melihat tingkahnya barusan.


"Sepertinya bosmu itu sangat suka melihat aku kesusahan," ucap Ashley, sambil cemberut.


Maximus terkekeh kecil."Maafkan aku, Nona, karena tidak bisa membantumu, menurutku Mr. K mulai jatuh cinta dengan anda makanya dia selalu membuat anda kesusahan, semoga saja anda bisa mengubah sikapnya yang dingin itu."


Ashley memutar mata malas. "Hush, ada-ada saja, alasanmu sangat tidak masuk akal, mana ada orang jatuh cinta sikapnya seperti itu! Sudahlah, aku mau mengangkat mejaku, sebelum bosmu itu mengaum seperti singa," ucapnya lalu berjalan cepat mendekati meja di depan ruangan Kendrick.


Maximus mengubah ekspresi wajahnya kala Ashley sibuk sendiri saat ini. Secepat kilat ia melenggang pergi ke suatu tempat.


Maximus menoleh ke kiri dan ke kanan. Melihat suasana di sekitar lalu menekan bluetooth wirelless di telinga.


"Nyonya Lily, aku memiliki kabar baik untukmu."


"Apa itu?" sahut Lily di sebrang sana.

__ADS_1


"Sepertinya, Mr. K sudah mulai jatuh cinta dengan Ashley," ucapnya.


"Really?" Suara Lily terdengar senang.


"Iya, Nyonya."


"Good, aku senang mendengarnya, apa ada lagi yang mau disampaikan Max?"


"Hm, Nyonya, apa Viola masih bersama pria itu?" tanya Maximus kemudian.


"Masih, kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Viola?" Nada Lily terdengar sinis.


"Kita seperti orang berdosa yang memisahkan dua anak manusia saling mencintai, Nyonya. Bagaimana kalau Kendrick sampai tahu?"


"Cukup! Kau tidak tahu apapun tentang Viola. Aku tahu yang terbaik untuk anakku, tugasmu hanya menjalankan perintahku! Sudahlah, jangan kau bahas lagi." Lily memutus sambung telepon seketika.


Maximus menarik nafas dalam. Kedua matanya berubah sendu sekarang.


Sementara itu, di sisi lain. Lily mengotak-atik ponselnya sejenak. Lalu menempelkan benda tersebut ke telinga.


"Hallo, bagaimana pantauanmu? Laporkan padaku, apa yang mereka lakukan sekarang?"


"Buenos días señora, mereka sedang sarapan di cafetaria," jawab seorang pria suruhan Lily di ujung sana.


Buenos días, señora : Selamat pagi, Nyonya


Bahasa Spanyol.


"Oke, awasi mereka terus!" titah Lily lalu mematikan sambungan.


*


*


*


*


Di kota lain, tepatnya di Madrid, Ibukota Spanyol.


"Viola, are you okay?" tanya pria berperawakan tinggi di hadapan wanita bermata coklat yang tengah merenung.


Viola tersadar. "Im fine, Alejandro, bisakah kau memesankan aku roti lagi, aku sangat lapar," ucapnya, sambil mengulas senyum tipis.


Alejandro di baca Alehandro


Alejandro tersenyum lebar. "Conforme a su solicitud, Senora." Lalu beranjak, melangkah cepat menuju kasir cafetaria.


Conforme a su solicitud : sesuai permintaanmu, Nyonya.

__ADS_1


Selepas kepergian Alejandro, Viola mengeluarkan sebuah kalung liontin berbentuk love di saku coatnya. Dia membuka liontin tersebut, melihat foto kekasihnya tengah tersenyum lebar.


"Kendrick, i miss you...." Viola menitihkan air mata seketika hingga cairan bening itu menetes di foto Kendrick.


__ADS_2