
"Hahaha!"
Ashley memegang dadanya yang sakit akibat pukulan barusan. Dia menajamkan penglihatannya, ketika mendengar suara gelak tawa berkumandang saat ini.
Ashley melebar mata, melihat Viola di hadapannya, melayangkan tatapan tajam.
"Viola!" Ashley bangkit berdiri seketika."Apa maumu ha?!" tanyanya mengabaikan rasa sakit di tubuhnya.
Viola mendekat lalu..
Plak!
Sebuah tamparan kuat mendarat tepat di pipi mulus Ashley. Hingga darah mengalir pelan dari sudut bibirnya.
Ashley tersentak kemudian meludah ke sembarang arah. "Cuih!"
"Aku mau menyiksamu terlebih dahulu sebelum kau mati di tanganku, itu yang aku mau darimu!" Viola berseru dengan gigi bergemelatuk satu sama lain. Menahan amarah yang berkobar di hatinya saat ini.
Bukannya takut, Ashley malah tersenyum sinis menanggapi perkataan Viola.
Viola mengernyitkan dahi, melihat respon Ashley. Belum lagi aura yang menguar dari tubuh wanita itu sedikit berbeda.
"Apa kau yakin bisa membunuhku!"
"Tentu saja, bisa, wanita lemah sepertimu pasti tidak akan–"
Plak!!!
Belum sempat Viola menyelesaikan ucapannya. Dia tersentak saat mendapatkan tamparan kuat oleh Ashley barusan.
"Lemah kau bilang!!!"
Viola sedikit bingung sekaligus bergedik ngeri' mengapa sikap Ashley tak seperti sebelumnya, yang sekarang teramat berbeda dan tak ada rasa takut sama sekali. Meskipun begitu rasa ingin melihat Ashley lenyap sangat begitu besar sekarang. Secepat kilat ia melayangkan pukulan di dada Ashley lagi.
Bugh!
Ashley terhuyung ke belakang sejenak. Menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak tersungkur ke lantai. Tanpa banyak kata ia berlarian mendekati Viola kemudian melompat tinggi dan menendang kepala Viola dari samping.
__ADS_1
Bugh!
"Argh!!!" teriak Viola saat tubuhnya terpental ke lantai.
Ashley sangat kaget, bukan karena teriakan Viola. Melainkan karena dirinya sendiri, mengapa tiba-tiba bisa menendang dan memukul balik Viola. Seingatnya dia tidak pandai beladiri. Lalu mengapa saat ini ketika berhadapan dengan seseorang yang ingin membunuhnya, malah bersemangat untuk melakukan perlawanan.
Ada apa denganku?
Ashley melamun sejenak sambil melihat Viola menyemburkan darah ke lantai. Tidak mungkin pula karena tiga hari yang lalu, menonton film pertarungan bersama Darla di rumahnya, dia menjadi lihai beladiri sekarang. Ya walaupun, sejak Darla mengajaknya menonton film tersebut, dia ikut kecanduan sendiri dan kadang kala menonton film seorang diri di dalam kamar sembari menunggu Kendrick pulang.
Asik melamun, sampai-sampai Ashley tak sadar jika kini Viola tengah berlarian mendekatinya.
"Rasakan ini, jal@ng!"
Viola menyentak kasar dada Ashley, hingga Ashley terbaring di lantai. Secepat kilat Viola duduk di tubuh Ashley dan menamparnya berulang kali.
Plak! Plak! Plak! Plak!
"Hahaha! Mati kau! Kendrick akan menjadi suamiku!" seru Viola tanpa menghentikan gerakan tangan. Wanita itu sudah seperti malaikat pencabut nyawa saja.
"Ahk! Si@lan! Kau wanita j@lang!" Viola terpental jauh ke belakang seketika. Dia mendengus kasar, melihat Ashley tengah bangkit berdiri sekarang sambil melayangkan tatapan kematian.
"Kau bilang aku apa tadi? J@lang katamu? Kau yang jal@ng!" Ashley berkata sambil melangkahkan kaki dengan gesit lalu menghampiri Viola yang masih terbaring di lantai.
"Ahk!!" pekik Viola kala rambutnya di jambak Ashley tiba-tiba sekarang.
"Kendrick suamiku! Bukan suamimu! Sadarlah Viola, dia sudah menjadi mantanmu! Mengapa kau bersikap kekanak-kanakan ha?! Lupakan lah masa lalumu!" Ashley menyeret paksa Viola menuju tangga, hendak membawa wanita itu ke kantor polisi. Namun, belum sampai ia membawa Viola ke bawah.
Viola memukul pahanya seketika. Menjadikan Ashley mengaduh kesakitan sedikit. Sementara Viola menjauh dari hadapannya.
"Haha, maka dari itu akan membunuhmu!" Viola mengambil vas bunga yang berada di dekatnya lalu berlarian cepat ke arah Ashley.
Dengan kecepatan cahaya, Ashley menggeser tubuhnya ke sisi kanan seketika.
Prang!!!
Secara bersamaan pula bunyi pecahan kaca berdengung di telinga Ashley.
__ADS_1
"Ahk!!!" teriak Viola sambil berpegangan di kayu jendela besar yang barusan tak sengaja ia tabrak.
Tadi Viola tak memperhitungkan pergerakan yang di lakukan Ashley barusan. Dia saat ini menggantung di luar jendela. Tampak jari-jemarinya menopang di jendela kaca yang sudah pecah.
Ashley panik, dengan hati-hati ia melangkah, berusaha menghindar dari beling-beling kaca yang berserakan di atas lantai.
"Viola, kemarikan tanganmu!" Ashley berusaha membantu dengan mengulurkan tangannya. Namun, Viola malah melayangkan tatapan tajam kepada Ashley saat ini.
"Tidak! Ini semua gara-gara kau! Argh! Kau harus mati!" teriak Viola di depan muka Ashley.
Ashley menggeleng pelan masih dengan posisi tangan terulur keluar jendela.
"Viola, ayolah sudahlah, mari kita berdamai, apa kau tidak capek bersikap seperti ini?" tanya Ashley.
Viola tak langsung menyahut. Kakinya masih bergerak-gerak di luar sana. Senyum penuh arti terukir wajahnya seketika.
"Baiklah, ayo cepat mana tanganmu?" Secara perlahan Viola mengulurkan sebelah tangan kanannya.
Ashley pun menggenggam tangan Viola. Akan tetapi dia tersentak saat Viola menarik tangannya sehingga pecahan kaca di jendela menggores lengannya.
"Ahk!" Tanpa sadar Ashley melepaskan tangan Viola seketika. Secara bersamaan pula Viola terjatuh cepat ke bawah sana.
"Wanita si@lan!"
Terdengar teriakan sesaaat, sebelum tubuh Viola menghantam tanah.
GEDEBUM!
Suara jatuhan terdengar keras dari bawah sana.
Ashley langsung muntah saat melihat otak Viola berhamburan keluar. Viola meninggal di tempat seketika.
"Hoek, hoek, hoek..." Ashley tak mampu mencium bau anyir yang menyeruak ke indera penciumannya sekarang.
"Nona!"
Ashley menoleh sejenak, melihat Tomi melangkah cepat, menghampirinya.
__ADS_1