
"Entahlah, Mommy juga tidak tahu, mungkin saja selera makan Ashley sudab berubah. Kau beristirahatlah dulu, kalau Daddy sudah sampai, dia akan menghandle urusan perkerjaanmu, habiskanlah waktumu untuk anak dan istrimu sekarang, Ken. Maaf kalau Mommy selalu merepotkanmu."
"Baiklah, tidak apa-apa, Mom. Untuk apa meminta maaf, sebagai anak pertamamu, sudah seharusnya aku membantu Mommy dan Daddy."
Senyum manis terlukis di wajah Lily ketika mendengar ucapan putra sulungnya itu.
"Baiklah, kalau begitu, Mommy tutup dulu ya teleponnya, sampaikan salam Mommy kepada Ashley dan si kembar."
"Oke, Mom."
Sambungan pun terputus, Kendrick menaruh kembali benda pipih itu ke tempat semula. Kemudian mencium lagi kening Ashley dan mulai menutup matanya perlahan-lahan.
*
*
*
Keesokan harinya, hari weekend, Kenny dan Kevin sangat senang karena akhirnya sudah bisa bebas di rumahnya sendiri dan bisa bermain di belakang taman. Keduanya terlihat riang, menikmati waktu bermainnya sekarang. Sambil sesekali memandangi Kendrick dan Ashley di gazebo, tengah bercengkrama bersama Reza dan Rita yang tadi pagi datang ingin melihat keadaan Ashley.
"Kak," panggil Kevin sambil menaruh bola di dekat gawang.
Kenny menoleh lalu mengelap keringat di dahinya. "Hmm. Ada apa?"
"Menurut kakak apa Mommy dan Daddy sudah jatuh cinta?" tanya Kevin penasaran sebab dia mengira selama ini kemesraan yang ditampilkan Kendrick dan Ashley di hadapan mereka hanyalah pencitraan semata.
Kenny mengedikan bahu sedikit. "Entahlah, sepertinya kita harus mencari tahu tanda-tanda orang jatuh cinta itu seperti apa."
Kevin nampak mangut-mangut. "Iya kau benar kak, apa usaha kita kurang ya kak."
"Mungkin saja," Kenny memandang ke atas langit, melihat matahari mulai redup.
Sedangkan Kevin tengah berpikir keras. Entah apa yang dia pikirkan. Namun, senyum licik tiba-tiba muncul di wajah bulatnya.
"Kak, aku punya ide!" Kevin melompat dengan begitu semangat. Dan hampir saja terjatuh.
Dari ujung sana, Ashley berteriak,"Kevin, hati-hati!"
Wanita itu menggeleng pelan, melihat tingkah putra bungsunya itu sedari tadi. Sementara Kendrick, Reza dan Rita tersenyum simpul, memperhatikan gelagat si kembar.
"Hehe, iya Mom!" seru Kevin lalu mengalihkan pandangan ke samping.
"Ide apa yang kau maksud?" tanya Kenny, penasaran.
"Ide untuk membuat Daddy dan Mommy jatuh cinta, aku pernah mendengarnya dari teman kelas kita Kak dan sepertinya akan berhasil!"
Alis mata Kenny sebelah kiri terangkat sedikit. "Memangnya apa rencanamu?"
Kevin tak langsung menjawab. Dia malah mendekati Kenny kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Kakaknya.
"Kau yakin?" tanya Kenny seketika, setelah Kevin menjauhkan wajahnya.
Kevin mengangguk cepat. "Iya Kak, tentu saja aku sangat yakin!" serunya semangat.
Kenny tak langsung menanggapi, tengah berpikir amat keras. "Tapi bagaimana caranya?"
"Hehe, serahkan semua padaku Kak, sekarang kita ke dalam mencari barang itu di situs." Kevin cekikikan, membayangkan rencananya untuk membuat Daddy dan Mommy akan berhasil.
"Oke! Ayo sekarang kita masuk ke rumah." Kenny mengiyakan rencana adiknya kemudian.
Dalam sepersekian detik, Kenny dan Kevin berlarian cepat menuju mansion.
Di Gazebo.
Ashley menautkan alis mata, melihat Kenny dan Kevin terburu-buru masuk ke rumah.
"Ada apa, Honey?" tanya Kendrick saat melihat Ashley tiba-tiba kebingungan.
Ashley menoleh. "Tidak seperti biasanya Kenny dan Kevin masuk ke rumah tiba-tiba, bukankah masih banyak waktu untuk mereka bermain, Honey," ujarnya.
Kendrick mengalihkan pandangan. Dan benar saja Kenny dan Kevin berlarian cepat hingga hampir saja menabrak pilar mansion. Kemudian dia melirik ke atas, melihat langit tampak mendung.
"Mungkin karena mau hujan, Honey."
__ADS_1
"Iya, Honey. Mungkin saja." Ashley beralih menatap Rita dan Reza tengah berbicara juga. "Reza, Rita, kalian menginaplah di sini sesekali."
Reza dan Rita menoleh.
"Bagaimana ya?" Rita tampak berpikir sesaat. Begitupula dengan Reza.
"Ayolah, malam ini saja. Mumpung besok hari minggu, sekalian kita barbeque-an malam ini di rumah."
Ashley menunjukkan mata memelas. Kendrick yang melihat ekspresi istrinya, ingin sekali membawa Ashley ke kamar sekarang juga. Di mata Kendrick, istrinya terlihat amat menggemaskan.
"Reza, Rita, kamar di rumah banyak, lagipula sebentar lagi hujan, menginaplah di sini, kasihan istriku." Akhirnya Kendrick bersuara, berusaha membujuk Rita dan Reza.
Setelah menimbang-menimbang. Rita dan Reza akhirnya mengiyakan permintaan Ashley.
*
*
*
Malam harinya, pesta barbeque pun di mulai. Dengan gesit Ashley memanggang sapi, sosis dan lainnya di atas alat khusus pemanggang. Tak lupa pula Kendrick membantunya.
Sementara Reza dan Rita bercengkrama ria di atas meja bersama si kembar. Sembari menunggu makanan datang, Kenny dan Kevin berbisik-bisik pelan.
"Bagaimana apa sudah sampai barangnya?" tanya Kenny sambil melirik-lirik Reza dan Rita berebut mengambil buah di atas meja.
Kevin mendekatkan bibir di telinga Kendrick. "Sudah Kak, tadi penjaga di depan rumah memberikannya padaku."
"Good, setelah makan malam kita mulai melancarkan serangan." Kenny menyeringai tipis.
"Hei apa yang kalian bicarakan? Ngomongin akika ya?" Reza menyelipkan rambut yang pendek ke telinga sambil menggerakan tangannya dengan begitu gemulai.
Kenny memutar mata malas. Sementara Kevin mencebikkan bibir.
"Ihh kegeeran, kami sedang membicarakan robot yang diciptakan Elon Musk!" sahut Kevin.
"Yei! Sok pintar you!" Reza mendengus sejenak.
"Yei!!!" Kenny dan Kevin mengepalkan tangan ke udara, melihat makanan sudah tersedia di atas meja.
*
*
*
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, acara panggang-panggang telah selesai. Kendrick terpaksa meninggalkan ruang makan, hendak menyusul Ashley ke dalam kamar. Beberapa menit yang lalu Ashley kembali muntah. Meninggalkan Reza dan Rita serta si kembar yang masih di ruangan.
"Hei, aku ke toilet dulu ya! Mau kencing," sahut Rita seketika.
Reza dan si kembar mengangguk cepat.
Selepas kepergian Rita, Reza menepuk cepat dahinya saat mengingat file dokumen kerja yang seharusnya ia kirim malam ini lewat email belum di kirim. Masalahnya dokumen tersebut tersimpan di laptop' dan sekarang di dalam mobil. Jadi, mau tak mau pun harus keluar sebentar.
"Akika keluar sebentar ya mau ke mobil. Di sini saja you berdua, oke?" ucap Reza.
"Oke!" sahut Kenny dan Kevin serempak.
"Kak, bagaimana kalau sekarang saja menjalankan aksi kita, sepertinya Mommy sedang sakit, jadi kita bisa memberikan Mommy minuman!" Kevin bersuara setelah punggung Reza tak nampak lagi.
Tanpa banyak kata Kenny mengangguk cepat. "Oke, sekarang kita ke dapur membuat air untuk Mommy dan Daddy."
Lima menit kemudian, Kenny dan Kevin sudah berada di dapur. Maid yang berada di dapur pun bertanya ketika melihat kedatangan mereka.
"Mau apa Tuan kecil?" tanyanya dengan tersenyum tipis.
"Kami mau membuat minuman, Aunty ke ruang makan saja membereskan piring-piring kotor, kami sudah selesai makan. Biarkan kami saja yang membuatkan Mommy dan Daddy minuman," jawab Kevin.
Maid mengangguk saja lalu melenggang pergi ke depan.
"Ayo Kak, kita buatkan empat minuman untuk Aunty Rita dan Uncle Reza juga." Kevin menarik tangan Kenny mendekati kulkas, mengambil bahan minuman.
Selang beberapa menit, empat gelas panjang sudah tersaji di meja.
__ADS_1
"Yummy, enak!" sahut Kevin sambil mencicipi air berwarna orange tersebut.
"Oke, sekarang kau bawa dua gelas ini ke ruang makan, sisanya aku yang bawa, aku mau kencing dulu." Kenny menyuruh Kevin untuk membawa dua gelas terlebih dahulu ke bilik makan.
"Okidoki, Kak!" sahut Kevin lalu mulai mengambil dua gelas di atas meja.
"Oh ya, jangan lupa kau taburi serbuk itu!" Kenny kembali bersuara sebelum pergi ke toilet.
Kevin mengangguk lalu berjalan dengan sangat hati-hati kembali ke ruang makan.
Sesampainya di sana, ia melirik-lirik maid tengah sibuk menumpuk piring kotor. Kemudian meletakkan gelas di atas meja.
"Aunty, Kevin minta tolong kecilkan suhu AC ini, Kevin kedinginan!" titahnya seketika.
Maid menoleh, mengangguk pelan. Kemudian melangkahkan kaki ke lemari buffet hendak mengambil remote control AC. Di saat bersamaan Kevin mengambil sesuatu di saku celana lalu menuangkan serbuk berwarna putih ke dalam gelas masing-masing.
"Apakah sudah pas Tuan?" Maid memutar kepala, melihat Kevin tampak gelagapan dengan posisi tangan di belakang.
Kevin merekahkan senyuman. "Sudah, terimakasih Aunty."
"Sama-sama, Tuan." Maid pun kembali mengerjakan tugasnya.
"Fiuh, hampir saja," Kevin bergumam pelan sambil mengelus dadanya sejenak. Dalam sepersekian detik, ia kembali memusatkan perhatian ke pintu yang terhubung ke ruang dapur, sedang menunggu kedatangan Kenny. Semenit pun berlalu, akhirnya Kevin memutuskan pergi ke dapur sebab Kenny tak kunjung nampak batang hidungnya.
"Yuhu, hampir saja, eh Kenny sama Kevin kemana ya?" Reza baru saja tiba. Melihat keadaan ruangan hanya ada Maid yang sibuk sendiri. "Hello, permisi Nona," panggil Reza.
Maid menoleh. "Iya Tuan."
"Kenny dan Kevin kemana?" tanya Reza.
"Sepertinya ke dapur, Tuan."
"Oh gitu, kamar akika di mana ya? Kayaknya Kendrick sama Ashley lupa sama teman-temannya," sahut Reza dengan mata mendelik, menebak pasangan suami istri itu asik sendiri di atas sana.
"Di lorong ujung sana, Tuan. Di sana ada dua kamar, sebelah kanan untuk Tuan, sebelah kiri untuk teman Nona Ashley."
"Oke, thanks," sahut Reza sambil melemparkan senyuman. Matanya tiba-tiba fokus ke atas meja, melihat air jeruk yang segar seakan menggodanya. Tanpa bertanya, dia langsung meneguk air tersebut namun, saat mencecap rasa yang sedikit aneh. Reza tak melanjutkan lagi minumnya.
"Ish, nggak enak! Udah ah, akika mau mandi!" Reza melenggang pergi dari ruangan.
Belum sampai semenit, Rita kembali ke ruangan. Ekspresi yang sama dengan Reza tadi' tergambar jelas diwajahnya sekarang.
Rita pun bertanya kepada Maid yang hendak ke dapur, dan mendapatkan jawaban sama pula seperti Reza tadi.
"Oke deh, oh ya kamarku di mana ya?" tanyanya lagi sebelum Maid berlalu pergi.
"Di lorong ujung sana, Nona. Di sana ada dua kamar, di sebelah kiri untuk Nona, kalau sebelah kanan punya Tuan Reza."
"Oh oke, terima kasih." Rita menebarkan senyuman.
"Baik Nona, saya permisi dulu." Maid pun menghilang dari penglihatan Rita.
"Wow, ada minuman." Mata Rita berbinar-binar, melihat orange juice di atas meja. Secepat kilat ia meneguk minuman hingga tandas.
"Kenapa rasanya aneh ya?" Rita menaruh gelas ke tempat semula dengan dahi berkerut kuat karena rasa orange juice sedikit berbeda.
"Ah sudahlah, lebih baik aku ke kamar saja, mau mandi!" Rita memutuskan untuk pergi ke kamar.
Selang beberapa menit, Kenny dan Kevin berjalan mendekati meja sambil membawa gelas di tangan masing-masing. Maid mengekori mereka dari belakang. Wanita paruh baya itu masih belum menyelesaikan tugasnya.
Kenny dan Kevin saling melemparkan pandangan sejenak, melihat satu gelas nampak kosong dan satu gelas lainnya, airnya terlihat berkurang.
"Kevin, siapa yang minum?" tanya Kenny mulai panik.
Kevin menggeleng cepat. Dengan raut muka yang sama seperti Kenny.
Kenny pun menoleh ke arah Maid. "Aunty, apa Aunty tahu siapa saja yang minum, minuman ini?" tanyanya sambil mengangkat dua gelas yang di minum tadi ke udara.
Maid menoleh, lalu berkata,"Sepertinya Nona Rita dan Tuan Reza tadi."
"Apa??!"
Kenny dan Kevin tampak syok.
__ADS_1