
Sementara itu di sisi lain.
Kendrick menggandeng tangan Viola memasuki apartment di kota terpencil. Kepala mereka celingak-celinguk, memperhatikan keadaan di sekitar.
Selesai memesan kamar apartment, Kendrick dan Viola menuju lantai sebelas. Kamar 008 menjadi tempat tinggal Viola untuk sementara.
"Ah! Akhirnya!" Viola melempar topi, masker, kacamata ke sembarang arah begitu masuk ke dalam apartment yang lumayan luas itu.
Kendrick menutup pintu lalu mulai mendekati Viola.
Viola memutar badan. "Ken, kunci pintunya!" titahnya sambil menjatuhkan diri di atas sofa.
Langkah kaki Kendrick pun terhenti. Kemudian bergegas kembali ke ambang pintu, mengunci pintu.
"Aku sangat lapar, apa ada makanan di sini?" Viola mengedarkan pandangan ke segala arah.
Kendrick menghampiri. "Kenapa tadi tidak mengatakan padaku kalau kau lapar, di sini belum ada makanan sayang."
"Yah! Maafkan aku, karena aku tidak mau ketahuan pria psyco itu!' Viola memasang muka kesal.
"Viola, dari tadi kau tidak menjelaskan padaku, apa alasanmu meninggalkanku, sekarang kita berdua saja dan sudah di tempat yang aman."
Banyak sekali pertanyaan yang bersemayam di otak Kendrick saat ini, bagaimana Viola bisa tiba-tiba menghilang bagai di telan bumi hingga bisa muncul seperti hantu dihadapannya tadi. Setelah melakukan pencarian yang cukup lama, tak mengira ternyata kekasihnya datang sendiri padanya.
Di tengah perjalanan tadi, Viola hanya mengatakan kalau ia kabur dari orang yang menculiknya tujuh tahun silam dan meminta Kendrick untuk mencari tempat persembunyian.
Tak langsung menjawab, Viola malah beranjak, melangkahkan kaki mendekati Kendrick lalu mengalungkan tangan di lehernya.
"Ken, nanti saja aku menceritakannya padamu, aku sangat merindukanmu, Ken!" Viola mengecup bibir Kendrick seketika.
Kendrick melebarkan mata, melihat sikap sang kekasih yang sedikit lebih agresif tak seperti dulu. Secepat kilat ia mendorong pelan dada Viola. Entah mengapa ada sesuatu yang menjanggal di hatinya saat ini.
"Aku juga merindukanmu, jangan sekarang ya," ucapnya sambil menjauhkan diri dari Viola.
Memanyunkan bibir, Viola kembali menghampiri lalu mengalungkan lagi tangannya dan mengigit kecil bibir Kendrick. Membuat pria itu meringis pelan.
Jangan menuduhku, Ken, aku bukan wanita seperti itu, atas dasar apa kau mengatakan aku wanita yang selalu menggoda para pria?
Daddy nanti sore kita ke mall ya!
Bayangan wajah Ashley dan si kembar melintas di benak Kendrick. Pria itu baru saja teringat kalau Ashley dan anak-anaknya masih di restaurant.
Bruk!
"Awh!" Viola tersungkur di sofa saat Kendrick mendorongnya kuat barusan.
"Viola, maafkan aku!" Kendrick terlihat panik. Secepat kilat menghampiri Viola dan mengangkat tubuhnya ke atas sofa.
"Shfft, kenapa kau menolakku?" Viola bergelayut manja di lengannya dengan memanyunkan bibir.
"Maaf, Viola. Sebenarnya aku sudah menikah." Kendrick sedikit risih. Seharusnya ia senang melihat Viola bersikap manja padanya namun, entah mengapa sikap Viola terlalu berlebihan, menurutnya.
"Apa?" Viola tersulut emosi. "Kau mengingkari janjimu!" Nafasnya terdengar memburu. Dia beranjak sambil melayangkan tatapan kekecewaan.
Kendrick menarik tangan Viola, duduk di sampingnya lagi. Lalu memegang pipinya.
"Viola, dengarkan aku. Aku terpaksa menikahi wanita itu karena dulu sewaktu aku mabuk, aku memperkosanya dan tidak sengaja membuang benih dirahimnya."
__ADS_1
Menyentak kasar tangan Kendrick, mata Viola mulai berembun. "Bohong! Kau jahat, Ken! Mengapa kau tidak bisa menungguku! Apa kau tidak mencintaiku lagi?"
Kendrick menghela napas berat. "Viola, tenanglah, pernikahan ini tidak akan lama. Percayalah padaku sayang, aku sangat mencintaimu, buktinya karena dirimu aku menggila dengan melampiaskan kemarahanku pada wanita lain."
"Hiks, hiks, hiks, hiks, kau jahat Ken! Mengapa kau mengingkari janjimu! Aku tidak terima kalau kau tidur dengannya! Aku sangat mencintaimu, Ken!" Viola menangis tersedu-sedu sambil berusaha menjauhkan diri dari Kendrick.
Kendrick terenyuh melihat sang kekasih begitu sedih. Dia menarik pinggang Viola lalu memeluknya dengan erat. Di dalam dekapannya, tubuh Viola bergetar kuat.
"Viola, dengarkan aku. Kami tidur berpisah. Aku tidak pernah menyentuh tubuhnya. Aku juga mencintaimu, semua ini tidak akan terjadi kalau kau tidak pergi."
Lantas ucapan Kendrick membuat Viola berhenti menangis. Merubah posisi kepala, ia menatap sendu lalu berkata,"Maafkan aku, Ken. Maafkan aku, seandainya saja waktu dapat di putar kembali. Mungkin sekarang kita sudah hidup bahagia. Tapi, kau janji kan akan menikahiku?"
Kendrick tersenyum tipis, melihat Viola mulai mengerti. "Tentu saja, Viola, aku pasti akan menikahimu," ucapnya sambil menyeka air mata Viola.
Viola mendekatkan wajah lalu mengecup pelan bibir Kendrick.
Kendrick hanya diam saja tak membalas pagutan sang kekasih.
"Ken, untuk saat ini jangan beri tahu siapapun tentang keberadaanku ya, termasuk orangtuamu dan orangtua angkatku." Viola menjauhkan wajah seketika.
"Kenapa?" tanya Kendrick heran.
"Aku akan mengatakan semuanya padamu kalau kau menginap malam ini di sini," jawab Viola seketika membuat perasaan Kendrick menjadi kalut.
"Mengapa tidak sekarang, baiklah aku akan menunggumu bercerita, aku tidak bisa menginap di sini, ada perkerjaan yang harus aku selesaikan. Maafkan aku sayang, aku janji akan main ke sini, kapanpun kau menyuruhku ke sini."
Viola terdiam. Lalu membuang nafas. "Baiklah, tapi kau janji jangan menyentuh istrimu itu! Awas saja, aku akan marah dan cemburu!" ucapnya sambil memasang muka cemberut.
Kendrick terkekeh pelan. "Tenanglah, aku tidak akan menyentuh Ashley."
"Ashley, jadi, namanya Ashley, apa wanita yang di restaurant tadi?" Viola menebak.
Dahi Viola berkerut kuat. "Mereka?"
"Anak-anakku juga ada di sana aku pergi dulu, kau beristirahatlah, kalau membutuhkan sesuatu teleponlah aku," ucap Kendrick sambil mengeluarkan kartu atm berwarna hitam dari dompet. Lalu menyodorkan benda kecil itu pada Viola.
"Ohh..." Viola mangut-mangut. Kemudian mengambil atm dari tangan Kendrick. "Ken, ini kurang, aku mau satu kartu lagi."
"Kurang?" Kendrick mengambil lagi kartunya.
"Iya, aku mau membeli baju dan tas. Lihatlah kekasihmu ini memakai baju yang tidak bermerk, hehe."
Kendrick tersenyum lebar lalu memberikan lagi kartu atm berwarna hitam.
"Sayang, aku pergi dulu, baik-baik di sini." Kendrick berdiri di ambang pintu kemudian mengecup singkat kening Viola.
"Oke, sayang, handphonemu harus selalu aktif ya." Viola merekahkan senyum lebar.
Kendrick mengangguk.
*
*
*
Gelisah, Kendrick amat gelisah kala tak menemukan keberadaan Ashley dan si kembar di restaurant. Mengambil handphone, ia mengerutkan dahi melihat sebuah pesan masuk dari Ashley yang sudah terbaca.
__ADS_1
"Aneh, apa aku tadi salah tekan."
Kendrick mengscroll pesan dari Ashley kalau mereka sudah di rumah. Perasaannya seketika merasa lega setelah mengetahui si kembar sudah di tempat yang aman. Bergegas ia pulang ke mansion.
Sesampainya di sana, Kendrick mendesah kasar, mendapati Kenny dan Kevin sudah tertidur pulas. Dia merasa bersalah karena tak bisa menepati janjinya tadi, hendak mengajak mereka berjalan-jalan di mall.
"Ashley, apa kau sedang sibuk?" Kendrick melihat Ashley tengah memasak di dapur.
Ashley mematikan kompor lalu menoleh. "Syukurlah kau sudah pulang, hm, tidak, ada apa Ken?"
"Maaf tadi aku harus mengantar kekasihku, aku mau berbicarakan denganmu."
Ashley tersenyum getir. "Baiklah, tidak apa-apa, boleh, aku juga mau bertanya denganmu."
Saat ini Kendrick dan Ashley berada di ruang tengah, lantai dua.
"Ashley, bisakah kau tidak mengatakan kepada siapapun kalau kau melihat Viola tadi."
Ashley terdiam. Menatap heran pada Kendrick.
"Begini, Viola dalam bahaya besar, aku hanya memintamu untuk tutup mulut saja."
Ashley tampak mangut-mangut. "Oh ya, tenanglah aku akan menutup mulutku, apa ada lagi?"
Sebuah panggilan di handphone Kendrick, mengalihkan atensinya. Secepat kilat ia mengambil ponselnya, melihat nama Viola terpampang di layar.
Senyum lebar terlukis di wajah Kendrick seketika. Kemudian mengeser layar ponsel.
"Hallo, iya, sayang, aku sudah memberitahunya, tenang, baik-baiklah di sana, aku juga mencintaimu."
Ashley menundukkan wajahnya kala mendengar perbincangan Kendrick saat ini. Nampak lelehan bening mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Wanita itu tengah menangis dalam diam.
"Ashley," panggil Kendrick setelah memutus sambungan telepon.
Ashley memalingkan muka ke samping lalu mengusap cepat jejak air matanya.
"Kau kenapa?" Kendrick mendekat lalu menatap Ashley tengah menyembunyikan wajahnya sekarang.
"Em, tidak, ini mataku kemasukan debu." Ashley menundukkan muka, berharap Kendrick tak mengetahui dirinya menangis barusan.
Kendrick penasaran, secepat kilat menarik dagu Ashley dengan satu tangannya.
Deg
Dadanya berdenyut perih saat melihat kedua mata Ashley nampak memerah seperti orang baru saja selesai menangis. "Kau menangis?
Ashley mengibaskan tangan Kendrick lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. "Tidak Ken, tadi mataku kemasukan debu, tidak ada lagi kan yang harus dibicarakan, aku harus masak untuk makan malam si kembar," ucapnya sambil beranjak.
"Tidak ada lagi, em kau mau menanyakan apa tadi?" Kendrick menatap Ashley dengan seksama.
"Itu apa kau pernah mengirimkan aku bunga?"
"Tidak, untuk apa aku mengirimkan kau bunga?"
Ashley terkekeh hambar. Meremas celemek yang masih menempel di tubuhnya, menahan gemuruh di dadanya saat ini. "Iya, kau benar, untuk apa, kalau begitu aku permisi dulu." Sebelum mendengar perkataan Kendrick, Ashley melenggang pergi secepat kilat.
Kendrick terpaku di tempat, menatap punggung Ashley menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Ada apa denganku? Kenapa dadaku sakit?
Kendrick memegang dadanya seketika kala merasa dadanya sangatlah perih entah karena apa.