
Setelah mengutarakan perasaannya, sikap Kendrick berubah menjadi lebih hangat. Tapi hanya dengan Ashley saja. Sudah seminggu pula, Ashley terlihat kurang tidur dan kelelahan sebab harus memenuhi kebutuhan suaminya itu. Bagaimana tidak' hampir setiap hari Kendrick menggauli Ashley, tanpa mengenal waktu. Pagi, siang, sore, malam, dan tengah malam bahkan subuh. Tentu saja sebagai istri yang baik, Ashley tak bisa menolak. Walaupun Ashley sudah menolak tegas permintaan Kendrick, namun pada akhirnya dia hanya bisa tetap pasrah.
Seperti pagi ini, setelah menghabiskan malam panas tadi malam. Rasanya Ashley enggan sekali untuk beranjak dari tempat tidur. Dia masih memejamkan matanya rapat-rapat,
tubuhnya terasa remuk seperti habis di tinju, walau sudah terbangun sejak pukul lima tadi.
Kendrick mengulas senyum, melihat istrinya masih menutup mata. Padahal dia tahu kalau Ashley sudah terbangun sedari tadi.
"Honey, bangun, sepertinya si kembar sudah di ruang makan sekarang, ayo kita mandi bersama-sama." Kendrick tersenyum jahil kemudian membuka selimut putih yang menutupi tubuh polos Ashley.
Dengan cepat Ashley membuka mata saat merasakan radar marabahaya terdeteksi. "Ken! Jangan, aku masih capek!" Ashley menatap tajam Kendrick dengan mencebikkan bibir.
Kendrick malah tertawa, melihat wajah Ashley yang lucu di matanya.
"Ken, kenapa malah tertawa?" tanyanya sambil menarik kembali selimut.
Kendrick bergeser sedikit kemudian membawa tubuh Ashley ke dalam pelukan. Mengecup singkat kening sang istri, lalu menatap dalam.
"Honey, wajahmu sangat lucu, aku tahu kau capek, maka dari itu akan mengendongmu ke kamar mandi."
Ashley mendengus pelan, bertanya dengan wajah polosnya, "Benarkah? Kau tidak berbohong?"
Kecupan singkat Kendrick labuhkan di bibir Ashley. "Iya, aku tidak berbohong, ayo sekarang kita mandi bersama-sama."
Gelengan cepat sebagai tanda penolakan Ashley. "Aku mau mandi sendiri." Setelah menyampaikan penolakan barusan, dia beranjak cepat dari tempat tidur kemudian berlarian menuju kamar mandi. Meninggalkan Kendrick terperangah' melihat tingkah Ashley.
"Hihi."
__ADS_1
Sebelum menutup pintu, Ashley cekikikan sesaat. Ketika dari sela pintu' mengintip Kendrick tengah menggeleng-gelengkan pelan.
"Rasakan itu! Dia selalu menyiksaku setiap saat. Hari ini aku tidak boleh kalah dengannya!" sahut Ashley sambil menekan tombol shower di dinding dan mulai mandi.
Ketika sedang asik-asik menyirami tubuhnya, Ashley tersentak kala tangan kekar dan kokoh melingkar di perutnya. Secepat kilat ia berbalik, melebarkan mata, melihat Kendrick tersenyum penuh arti di hadapannya.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Ashley, heran. Seingatnya dia sudah mengunci pintu dari dalam tadi dan tak lupa menaruh kunci di meja kecil, dekat wastafel.
Bukannya langsung menjawab, Kendrick malah tersenyum jahil lalu mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan sebuah kunci berwarna kuning emas.
"Ish!" Ashley berdecak kesal, ternyata Kendrick membuka kamar mandi mengunakan kunci serap. "Ya sudahlah, kau mandilah dulu! Aku mandinya nanti saja," ucapnya lalu hendak menggerakan kaki. Namun, Ashley terkejut ketika Kendrick memutar tubuhnya tiba-tiba dan mendekapnya erat.
"Mau kemana? Kita mandi sama-sama." Saat ini Kendrick tak memberikan ruang untuk Ashley. Pria itu semakin menempelkan tubuhnya.
"Aku mau keluar, Ken. Tidak mau, nanti kau pasti mau menghajarku lagi kan." Ashley merengek sambil berusaha menjauhkan dirinya dari Kendrick. Tapi karena kurang tenaga, dia kewalahan sendiri.
"Ken, jangan ya, please..." Setelah Kendrick menjauhkan wajahnya, Ashley memohon ampun.
Kendrick mengulas senyum. "Honey, tenanglah hari ini kau aku liburkan, tapi kita harus tetap mandi bersama."
Mendengar hal itu, kedua mata Ashley berbinar-binar. "Yes! Baiklah, ayo sekarang kita mandi,"ucapnya, semangat sambil mengambil spons di dalam kotak bulat yang menempel di dinding ruangan. Kemudian mulai menggosok-gosokkan spons itu ke dada Kendrick.
Kendrick mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum lebar yang tak hilang dari wajahnya dari tadi.
*
*
__ADS_1
*
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, Kendrick dan Ashley sudah berada di kantor. Sebagai sekretaris pribadi, Ashley langsung melakukan tugasnya, walaupun istri pemilik perusahaan. Dia tak mau berbesar hati. Dengan teliti dia memeriksa file-file penting di email sambil melihat jadwal Kendrick untuk nanti siang.
"Honey, aku keluar sebentar ya." Selesai memeriksa file, Ashley mengalihkan pandangan ke arah Kendrick tengah zoom meeting melalui laptop.
Kendrick mengangguk pelan.
Ashley pun bergegas keluar, hendak mengambil bunga kiriman lagi. Sekarang dia sudah tahu siapa pelaku tersebut yaitu adalah buah hatinya. Dia sangat senang memiliki anak-anak yang cerdas seperti Kenny dan Kevin.
Sesampainya di luar, Ashley mengerutkan dahi, melihat para karyawan khususnya wanita, menatap tajam ke arahnya. Dia berjalan pelan di koridor sambil mengedarkan pandangan di sekitar.
"Wah, wah coba lihat jal@ng itu, untuk bisa naik jabatan dia melakukan segala macam cara!"
"Iya, kau benar, belum setahun saja sudah menjadi sekretaris! Modal cantik saja bangga! Masih besar punyaku!"
"Ckckck, kemarin saat masuk kerja pertama kali' mukanya sok-sok polos padahal pemain handal! Hahaha!"
Tiga orang wanita berbincang-bincang satu sama lain sambil memandang sinis Ashley.
Mendengar hal itu, Ashley mengepalkan kedua tangan. Kemudian secepat kilat menghampiri mereka.
"Jaga ucapan kalian!" seru Ashley seketika.
Wanita bertubuh agak berisi, melipat tangan di dada.
"Oh my God! Lihatlah teman-teman wanita ini berani melawan kita yang jelas-jelas seniornya!" serunya dengan mengangkat wajah angkuh.
__ADS_1