
Ashley tertegun mendengar Kendrick mengucapkan nama Viola barusan. Karena terhalang tubuh besar Kendrick, ia tak dapat melihat dengan jelas rupa wanita dihadapan mereka.
Kepala Ashley bergerak sedikit, melirik Kendrick dan Viola tengah beradu pandang satu sama lain saat ini. Entah mengapa, gelanyar aneh mulai merasuki relung hatinya kala melihat mata Kendrick tersirat kerinduan mendalam.
"Viola..."
Sekali lagi Ashley mendengar nama itu terlontar dari bibir Kendrick.
"Kendrick!"
Viola berlarian mendekati Kendrick dan memeluknya tiba-tiba.
Deg.
Nafas Ashley tercekat seketika. Ia bagaikan sebuah patung yang tak dianggap saat ini. Tepat dihadapan matanya, Kendrick mengecup kening Viola berulang kali lalu mendekapnya dengan sangat erat.
Tanpa sadar Ashley mengigit bibir bawahnya, menahan sesuatu dari balik bola mata agar tak keluar. Membuang muka ke samping, Ashley meredam dadanya yang bergemuruh kuat sekarang.
"Ken, aku merindukanmu, maafkan aku pergi meninggalkanmu." Viola menelusupkan wajah di dada Kendrick. Lalu melepas pelukannya seketika.
"Aku juga merindukanmu." Kendrick tersenyum lebar tanpa melepaskan pandangan mata dari wanita yang berhasil memporak porandakan hatinya selama ini.
Viola menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti memastikan sesuatu. "Ken, kita harus pergi sekarang."
Tanpa mendengar tanggapan, Viola langsung menarik tangan Kendirck kemudian menuntunnya keluar dari restaurant. Meninggalkan Ashley masih bergeming di tempat dengan perasaan kalut. Detik berikutnya ia berlarian keluar hendak menemui Kendrick.
"Kendrick! Tunggu aku!"
Sesampainya di luar, Ashley mengedarkan pandangan di sekitar. Matanya menyipit ketika melihat Viola dan Kendrick berjalan cepat di parkiran. Reflek, melangkah kakinya menuju parkiran.
Kedua tungkainya terhenti tiba-tiba manakala melihat pemandangan yang membuat hatinya berdenyut perih. Melihat Kendrick dan Viola tengah berpelukan kembali. Secepat kilat Ashley bersembunyi di balik pilar.
"Ada apa denganku?" gumamnya sambil memegang dadanya yang terasa sesak sekarang. Tanpa permisi cairan bening menerpa pipinya tiba-tiba.
Heran, Ashley di buat heran dengan dirinya sendiri. Mengapa pula dia menangis hanya karena melihat suaminya berpelukan bersama wanita lain.
Bukankah dari awal pernikahan ini sebatas bentuk tanggungjawab Kendrick saja dan sifatnya hanya sementara. Lalu mengapa dadanya terasa perih seperti ada sebilah pedang menghujam jantungnya saat ini.
"Ashley, kau bodoh, kenapa denganmu?" Ashley tersenyum hambar sambil mengusap cepat pipinya. Lalu keluar dari balik pilar.
Ashley dilanda gelisah saat melihat mobil Kendrick melaju meninggalkan restaraunt.
"Kemana mereka?" gumamnya melihat kendaraan merk Rolls-Royce Sweptail milik Kendrick menghilang di penglihatannya.
"Mommy!" panggil Kenny dari belakang.
Ashley membalik tubuhnya. Kemudian mendekati Kenny. "Kenapa di luar sayang, di mana adikmu?"
"Di dalam, Mom. Mommy dan Daddy lama sekali, jadi aku keluar mencari Mommy. Mngapa Mommy ada di sini? Daddy di mana?" tanya Kenny beruntun.
Ashley meneguk ludah berulang kali. Tak mungkin dia mengatakan kalau Kendrick pergi bersama wanita lain.
"Maafkan Mommy, Nak. Tadi Daddy ada urusan sebentar, kita tunggu di dalam yuk," kilah Ashley lalu menggandeng tangan Kenny masuk ke dalam restaurant.
Sesampainya di dalam. Ashley mengajak si kembar makan lagi sambil menunggu kedatangan Kendrick. Setengah jam pun berlalu, ia semakin gelisah ketika Kendrick tak membalas pesannya sama sekali dan hanya di baca saja.
__ADS_1
"Mom, kenapa Daddy lama?" tanya Kevin mulai cemberut.
"Em, sebentar lagi ya sayang, mungkin Daddy terkena macet di jalan." Ashley mengelus pipi gembul Kevin. Menatap sendu putra bungsunya itu.
"Hooaaamm, baiklah, kita menunggu saja di sini, Mom. Aku sangat mengantuk Mom." Kevin menguap lebar sambil mengucek-ucek mata sejenak.
Ashley tersenyum tipis. Lalu menoleh ke arah Kenny tengah diam saja dari tadi.
"Kenny, sudah selesai makannya?" tanya Ashley kemudian.
"Sudah, Mom. Mengapa Daddy lama sekali Mom? Apa pekerjaan Daddy belum selesai? Setahuku di jam segini keadaan jalanan tidak macet lagi. Hmm, apa Daddy lupa kalau ada janji sama kami tadi, akan mengajak kami ke Mall, Mom."
Lidah Ashley sulit sekali untuk bergerak. Ia menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan kritis Kenny.
"Terkadang jalanan bisa macet kapan saja sayang, bersabarlah sedikit ya, apa kalian mau tidur dulu," ucapnya dengan pelan.
"Tidak! Daddy sudah ingkar janji, kita pulang naik taksi saja Mom." Kenny memasang mula kesal.
Ashley serba salah. Sebenarnya ia ingin naik taksi namun, mengingat uang di dalam dompetnya saat ini tak cukup. Karena jarak tempuh restaurant dan mansion sangatlah jauh.
"Ashley, kau kah itu?"
Mendengar namanya di panggil, Ashley menoleh ke sumber suara.
"Darla!" Ashley mengulas senyum, melihat Darla di hadapannya. Berharap Darla dapat mengantarnya pulang ke mansion.
"Ada acara apa kau di sini, Ashley? Di mana Kendrick?" Darla celingak-celinguk mencari keberadaan sepupunya itu.
Ashley menggaruk kepala sedikit. "Kami tadi ada rapat di sini, tapi sudah selesai, Kendrick sedang ada urusan di luar, Darla. Kau sendiri kenapa ada di sini?"
"Oh...." Darla mengangguk-angguk pelan. "Biasa, aku mengantar pesanan pelangganku ke sini, pemilik restaurant ini kan langgananku juga, hehe."
"Tentu saja!"
"Hm maaf kalau aku sedikit merepotkanmu, bolehkah aku menumpang mobilmu untuk pulang, sepertinya Kendrick masih lama, Si kembar sudah mengantuk."
"Astaga, aku pikir apa, oh come on, Ashley, kenapa kita seperti oranglain, ada-ada saja kau ini, ayo aku akan mengantar kalian." Darla melemparkan senyuman pada Kenny dan Kevin yang dari tadi menguap lebar.
*
*
*
Sesampainya di mansion. Ashley segera mengantar Kenny dan Kevin ke kamar untuk beristirahat. Setelah itu pergi lagi ke ruang tamu menemui Darla.
"Darla, maaf membuatmu menunggu lama, aku sangat berterimakasih karena kau mau mengantar kami."
"Its okay, OMG! Ashley, ada apa denganmu, kita seperti oranglain saja! Ckckck, aku malah senang karena dapat membantu istri sepupuku, hihi!" Darla mengambil minuman dingin di atas meja yang disuguhkan maid tadi.
"Istri..." Mendengar kata istri, Ashley menundukkan wajah seketika, teringat kejadian tadi siang.
Darla mengerutkan dahi, melihat perubahan wajah Ashley. "Ashley, kau kenapa? Ceritalah padaku."
Ashley menoleh. "Em, aku baik-baik saja Darla, hanya sedikit kecapean karena perkerjaan."
__ADS_1
Darla menaruh cangkir di meja kemudian menaikkan sebelah alis mata. "Ashley, Ashley, kau tidak bisa berbohong denganku, ceritalah, bukankah aku kemarin sudah mengatakan padamu, anggaplah aku seperti kakak kandungmu."
Ashley terdiam dan bimbang.
"Ashley, bibirmu bisa saja mengatakan kau baik-baik saja tapi matamu tak bisa membohonginya. Aku bisa melihatnya. Ada apa? Apa ini menyangkut Kendrick, ayolah jangan sungkan untuk bercerita denganku. Aku akan tutup mulut." Darla memegang pundak Ashley sambil mengulas senyum.
Ashley melirik Darla. "Baiklah. Darla, kenapa hatiku sakit kalau melihat Kendrick berpelukan bersama wanita lain ya? Padahal kami tidak saling mencintai."
"Itu tandanya kau cemburu, Ashley, ada-ada saja." Darla menggeleng pelan. "Tunggu dulu, kau bilang Kendrick berpelukkan, memangnya dengan siapa?"
"Dengan Viola. Cemburu? Atas dasar apa aku cemburu, lagipula kami menikah hanya sementara."
"Ckck, lihatlah dirimu, menjadi wanita bodoh dengan menyangkal hatimu sendiri, tentu saja atas nama cinta, kau sudah mencintainya. Bukannya Viola tidak ada di sini?" Darla terlihat heran.
"Tidak, Darla. Tadi aku melihat Viola ada di restaurant dan mereka berpelukan di depan mataku." Ashley langsung menundukkan wajah. Menarik nafas dalam. Baru menyadari jika ia sudah jatuh cinta pada Kendrick. Namun, sayangnya cintanya tak terbalaskan.
"What?" Darla mengedipkan mata cepat. "Dasar sepupu laknat, berani-beraninya dia memeluk wanita lain di depan istrinya sendiri!"
"Tapi Darla, itu wajar saja karena Kendrick kan mencintai Viola."
Darla tertegun sejenak. "Oh Ashleyku yang malang ternyata cintamu bertepuk sebelah tangan. Aku tak mengira kalau Kendrick tidak bisa melupakan wanita itu padahal Viola yang duluan meninggalkan Kendrick."
Lily sudah menceritakan padanya kalau Violalah yang mengkhianati Kendrick dan pergi darinya. Ashley hanya diam saja. Bayangan Kendrick dan Viola berpelukan tadi menari-nari dibenaknya saat ini.
"Ashley." Darla memegang kedua pundak Ashley lalu menatanya iba. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku tidak tahu Darla, yang pasti aku akan tetap menjalani pernikahan ini sampai Kendrick sendiri yang menyudahinya."
Darla menghela nafas kasar. "Kau yakin?"
Ashley mengangguk.
"Ashley, bolehkah aku bertanya, selama kalian menikah apa kau sudah pernah tidur dengan Kendrick?" tanya Darla seketika membuat Ashley tersipu malu.
"Tidak pernah." Ashley menunduk lagi.
Darla tampak syok. "Wah, Kendrick benar-benar pria yang tahan godaan, aku tak menyangka, oh ya bagaimana sikapnya denganmu?" tanyanya penasaran.
"Sikapnya menyebalkan, dia selalu berbuat semau hati, suka menciumku tiba-tiba dengan alasan membuatku diam," jelas Ashley cepat.
"Menciummu? Menyebalkan? Ha?" Darla tampak berpikir. "Selain itu apakah ada lagi?"
Ashley mengangkat muka. "Ada, aku tidak tahu apakah bunga itu kiriman dari Kendrick atau bukan, selama seminggu ini aku menemukan bunga di atas mejaku dari pengagum rahasiaku, inisialnya Mr. K."
Dahi Darla berkerut kuat. Lalu berkedip cepat. "Oh my God, Ashley, sepertinya itu dari Kendrick."
"Entahlah Darla, banyak orang yang memiliki inisial huruf K, tidak hanya Kendrick."
Darla menghela napas. "Iya juga sih, kenapa kau tidak langsung bertanya dengannya?"
"Bertanya langsung?"
"Iya, Ashley, dengarkan aku, Kendrick bukanlah pria yang peka terhadap perasaannya sendiri, mengapa kau tidak mengutarakan juga perasaanmu kalau kau mencintainya." Darla memberi usulan.
"Tapi..." Ashley tampak berpikir, tentang perkataan Darla barusan.
__ADS_1
"Ashley, zaman sudah modern, tidak ada salahnya kita sebagai wanita mengungkapkan perasaan terlebih dahulu. Pria itu adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang tidak peka. Mereka lebih banyak menggunakan logika daripada perasaan. Lagipula memulai terlebih dahulu tidak akan membuatmu menjadi wanita rendahan."
"Kau istri sahnya, kaulah yang berkuasa atas suamimu, jadilah wanita yang tegas! Jangan kalah dengan masa lalunya. Utarakan perasaanmu secepatnya, Ashley, sebelum kau menyesal di kemudian hari." Darla kembali menambahkan dengan mengangkat dagunya sedikit sambil tersenyum lebar.