Anak Kembar Tuan Dingin

Anak Kembar Tuan Dingin
Gagal


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain. Rasa panas dan gerah mulai menyelimuti tubuh Rita seketika. Wanita berambut pendek itu mempercepat langkah kakinya agar sampai ke dalam kamar.


"Aduh, kenapa badanku panas sekali, ah..."


Tanpa sadar Rita mengeluarkan suara des@han pelan, dia melebarkan mata.


"Oh my God, aku kenapa sih!?" gerutu Rita tanpa menghentikan gerakan kedua tungkai kakinya. Sesampainya di lorong menuju kamar, langkah kaki Rita terhenti tiba-tiba.


"Eh tadi kamarku yang mana?"


Rita lupa kamar mana yang akan ia tempati. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat dua pintu ukuran besar berlawanan satu sama lain.


Rita berpikir keras berusaha mengingat-ingat perkataan Maid tadi. Sembari mematung di tengah ruangan, ia mengipas-ipas wajah dan lehernya sejenak, berharap sensasi panas yang dirasakan sekarang dapat segera hilang.


"Kiri apa kanan ya? Hmm, aku lupa, sepertinya kanan," gumamnya pelan. "Oh my God! Sebaiknya aku langsung saja mandi, ada yang salah dengan tubuhku ini, mungkin aku alergi makanan."


Tanpa pikir panjang Rita melangkah cepat, mendekati pintu sebelah kanan kemudian membuka kamar tersebut.


"Tuh kan benar ini kamarku!" sahut Rita sambil mengedarkan pandangan di sekitar. Melihat tempat tidur kosong dan tak tanda-tanda ada orang menempatinya.


Setelah melempar tas ke lantai, Rita langsung membuka cepat kaos dan celana panjangnya. Hingga menyisakan kacamata dan kain berbentuk segitiga.


"Aduh badanku kenapa sih?!"


Rita mengumpat kesal, saat rasa panas semakin menjadi-jadi sekarang. Dengan cepat ia berjalan menuju toilet, hendak mengguyur tubuhnya. Namun, belum juga sampai di ambang pintu, Rita berteriak histeris, melihat Reza di hadapannya hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang. Tampak tetesan-tetesan air mengalir di dada bidang Reza sekarang.


"Ahk!!!" teriak Rita seketika sembari menyilangkan tangan di dada. "Apa kau lakukan di sini, Reza?!"


"Seharusnya akika yang bertanya, kenapa you ada di sini?!" Berjalan cepat, Reza mencekal tangan Rita, hendak menuntunnya untuk keluar dari kamar. Namun, saat tangan keduanya saling bersentuhan, gelanyar aneh merasuk ke tubuhnya seketika.


Reza menurunkan tangan dan memundurkan langkah kakinya. Sejak menegak minuman di atas meja tadi. Tubuhnya pun terasa panas. Jadi, Reza memilih untuk mandi terlebih dahulu.


Perasaannya semakin kalut sekarang, apalagi ada Rita di hadapannya, dalam keadaan setengah tel@njang. Reza membuang muka ke samping.


"Rita, keluarlah, kamarmu di sebelah."


Tanpa menatap lawan bicara, Reza berkata dengan suara normalnya. Pikirannya sudah melanglang buana entah kemana.


Tak ada sahutan, Reza mulai memundurkan langkah kakinya lagi, ingin masuk ke kamar mandi. Sebab dia tak mau menerkam Rita. Walapun dia pria lemah gemulai tapi Reza, 100 % normal.


Sementara Rita, napasnya terdengar terengah-engah saat tangannya di sentuh Reza barusan. Ada sesuatu yang ingin dilepaskan sekarang juga tapi dia sendiri tak tahu, apakah itu. Dalam sepersekian detik, Rita berlarian mendekati Reza dan memeluknya.


"Rita! Apa-apaan kau?!" Kali ini suara asli Reza terdengar. Dia panik sekaligus was-was.


Reza berusaha mendorong tubuh Rita.

__ADS_1


Rita mendongak. "Reza, touch me," ucapnya, dengan mata menahan gairah.


"Jangan Rita! Sadarlah kita–hmf!" Kedua mata Reza terbelalak, ketika Rita mengecup bibirnya tiba-tiba. Bak tersengat listrik, Reza terkejut, tanpa sadar ia mendorong tubuh Rita dengan kuat.


Bruk!


"Ahk!" Rita tersungkur ke lantai.


"Maafkan aku, Rita," ucap Reza tanpa mendekati Rita.


Rita langsung berdiri lalu berjalan cepat, menghampiri Reza.


Reza benar-benar takut setengah mati. Tanpa banyak kata melangkah cepat menuju pintu utama, hendak keluar dari dalam kamar. Namun, belum juga sampai, kakinya tersandung tas Rita yang berada di atas lantai.


Bruk!


Reza tersungkur dengan posisi badan tertelungkup.


Di belakang, Rita langsung menarik handuk Reza.


Reza membalikkan badan. "Ahk!" pekiknya saat handuknya di tarik-tarik.


"Ah... Reza touch me! Bantu aku Reza, tubuhku panas."


Sedari tadi Rita menahan hasratnya, meminta untuk dituntaskan. Dia sudah tak peduli lagi jika Reza yang akan menjadi sasaran empuknya. Lagipula saat di Mississipi, dia sudah pernah bercinta bersama mantannya dulu.


Kedua mata Rita sudah berkabut. Dalam satu kali hentakan handuk Reza pun terlepas.


"Ahkkkkkkkkkkkk!!!" Untuk kesekian kalinya Reza menjerit. Cairan bening di pelupuk matanya semakin mengalir deras.


Rita menatap seksama pemandangan di hadapannya, tanpa mengedipkan mata.


Saat merasa tak ada pergerakan di sekitar, Reza menoleh ke bawah dan langsung terdiam.


"Ternyata burung pipit akika bisa berdiri juga," gumamnya pelan, melihat benda pusakanya yang semula kecil nan imut ternyata bisa bangkit berdiri.


"Maka dari itu, burungmu harus di tes Reza!" teriak Rita kemudian. Dengan gesit duduk di atas perut Reza.


Reza tersentak saat wanita itu bergerak sangat cepat dan sekarang menguasai tubuhnya.


'Tidak! Jangan! Rita, sadarlah! Geli, hiks, hiks, hiks..." Reza mengeliatkan tubuhnya kala Rita mulai mengecup leher dan dada bidangnya.


Seakan tuli Rita mengindahkan perkataan Reza. Dia malah mencumbu kasar tubuh Reza. Mengabaikan tangisan Reza yang menggema di ruangan.


***

__ADS_1


Di luar pintu, Kenny dan Kevin menempelkan telinga ke daun pintu. Mendengar suara teriakan dan tangisan Reza.


"Bagaimana ini Kak?" tanya Kevin was-was sebab rencana mereka ternyata gagal.


"Ya mau bagaimana lagi, sudahlah lebih baik kita pergi ke kamar, jangan sampai orang tahu perbuatan kita," ucap Kenny seenak jidat tanpa merasa bersalah.


"Ha?" Kevin melonggo, tak mengerti isi pikiran Kenny saat ini. "Tapi Kak–"


"Shft, sudahlah ayo kita pergi," potong Kenny cepat kemudian menarik tangan Kevin, menjauhi lorong khusus kamar tamu.


Sementara itu.


Bruk!


"Ahk!" pekik Reza.


Lagi dan lagi di saat Rita hendak membuka **********. Reza mengambil kesempatan, mendorong tubuh Rita kemudian berlarian ke sembarang arah.


Dengan cepat Rita berdiri lalu mengejar Reza yang sekarang berlarian dalam keadaan telanj@ng bulat. Alhasil keduanya berlarian di dalam kamar.


"Mami! Tolong akika! Anakmu mau di perkosa!" pekik Reza sambil menoleh sesekali ke belakang, melihat Rita melemparkan senyum penuh arti.


Cukup lama terdengar kegaduhan di bilik kamar, sampai pada akhirnya Reza mulai kelelahan dan Rita langsung mendorongnya ke atas kasur.


"Rita! Hiks, hiks, hiks, mengapa kau lakukan ini padaku?!" Dengan sisa tenaga Reza berusaha bangkit berdiri namun, kalah cepat dengan gerakan Rita. Sebab wanita itu sudah duduk lagi di atas perutnya, sambil melepas semua kain yang menempel di tubuhnya.


Reza terpaku sejenak, melihat lekukan tubuh Rita nampak menggoda. Akan tetapi, dia segera tersadar lalu menangis kembali.


"Rita, hiks, hikss, jangan..." lirihnya dengan berusaha menjauhkan tubuhnya.


"No! Kau harus memuaskan aku!" Rita mengangkat bokong sedikit lalu mulai duduk di atas paha Reza.


Jleb!


Reza melebarkan mata, saat kue lapis itu menyatu dengan burung pipitnya.


"Tidak!!! Mami aku ternoda, hiks, hiks, hiks..."


Rita malah tertawa keras, melihat wajah Reza seperti anak kecil. Detik selanjutnya dia menggerakan pinggulnya.


Secara bersamaan pula terdengar suara tangisan bercampur rintihan kenikmatan dari mulut Reza dan Rita sekarang.



Reza

__ADS_1



Rita


__ADS_2