Anak Kembar Tuan Dingin

Anak Kembar Tuan Dingin
Ke Makam Orangtua Ashley


__ADS_3

Ashley duduk di tempat tidur lalu menarik napas panjang.


"Mom, aku hanya ingin bertemu mereka sebentar saja, ingin bertanya di mana makam kedua orangtuaku."


"Hanya itu?"


"Iya, Mom."


Dengan sabar Ashley menanti jawaban Lily. Meskipun Uncle Martin dan Amora telah melakukan hal keji terhadap si kembar. Tapi bagi Ashley, mereka adalah keluarganya dan berharap Uncle Martin dapat berubah setelah mendapatkan ganjaran yang telah dilakukan mertuanya tadi malam.


Lily menatap dalam ke dua bola mata Ashley.


"Ashley, apa boleh Mommy bertanya sesuatu?"


"Boleh, Mom. Silakan," ujarnya cepat.


"Apa kau tahu kalau Unclemu lah dalang di balik kematian orangtuamu?"


Perkataan Lily barusan barusan membuat Ashley menautkan alis mata.


"Maksud Mommy?" tanyanya keheranan.


Lily menarik napas panjang. Benar praduganya, ternyata Ashley belum mengetahui kejahatan yang dilakukan pamannya sendiri terhadap mendiang orangtuanya. Walaupun Lily sibuk dengan kedua anak kembarnya, Lily menyempatkan diri meminta Maximus mengulik lebih dalam lagi tentang keluarga Ashley.


Sewaktu mengetahui Martin di balik kematian orangtua Ashley. Lily sama sekali tak terkejut sebab dari awal dia sudah menduga kalau Martin adalah pelaku utama atas kematian orangtua Ashley.


Dari informasi yang didapatkan Lily. Pria itu ternyata tamak dan serakah. Akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan uang. Sejak dulu Martin selalu memeras orangtua Ashley sebagai keperluan membeli narkoba dan memasok ke sebagian orang' tanpa sepengetahuan Daddy Ashley.


Saat ketahuan, tentu saja Daddy Ashley marah besar dan berniat akan melaporkan Martin ke polisi. Namun, naas, nasib berkata lain. Nyatanya Martin lebih gesit dan picik. Dia menyewa seorang pembunuh untuk membunuh saudara kandung sendiri dan istrinya. Lalu menjual Ashley ke situs online prostitusi.


Betapa kejam dan gilanya Martin, demi materi, rela membunuh saudara kandungnya sendiri. Akan tetapi, uang yang didapatkan sirna dalam sekejap. Dia jatuh miskin dan terpaksa menggadaikan rumah peninggalan mendiang orangtua Ashley ke Bank sebagai jaminan. Tapi, karena tak rutin membayar akhirnya rumah tersebut di sita oleh pihak Bank.


"Mom, kenapa diam?"


Sedari tadi, Ashley merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Terlebih lagi tatapan Lily menyiratkan kemarahan saat melamun barusan. Entah apa yang dipikirkan mertuanya itu. Ashley hanya bisa menerka-nerka dibenaknya.


Lily menarik napas panjang. Menatap sendu Ashley. Lalu mulai menceritakan semuanya tanpa di kurang ataupun di tambah-tambahkan.


Raut wajah Ashley berubah drastis setelah mendengar penjelasan Lily. Dia tak menyangka pamannya, tega melakukan hal seperti itu kepada saudara kandungnya sendiri.


"Ashley, Mommy tahu di mana makam orangtuamu dan untuk rumah orangtuamu sekarang sudah menjadi milikmu sepenuhnya, kunci rumah ada di tempat Mommy, kau tak perlu bertemu lagi dengan pria gila itu, dia sudah di tempat yang pantas," ucap Lily setelah bercerita panjang lebar barusan.


Lily teringat interogasi dan penyiksaan Martin dan Amora yang di lakukan oleh anak buahnya di markas. Dia sangat menyayangkan sikap keduanya yang malah meludahi dirinya dan Leon tiba-tiba.


Leon tentu saja murka. Tanpa banyak kata langsung menebas kepala Martin dan Amora seketika. Lily hanya bisa menghela napas kasar saat melihat sikap suaminya yang tak berubah sedari dulu.

__ADS_1


Ashley terdiam, tak menyahut ataupun menyanggah perkataan Lily. Bayangan-bayangan orangtuanya di tembak mati tepat di hadapannya, menari-nari di pikirannya kini.


Sedari awal Ashley sudah mengetahui yang menculik dirinya adalah suruhan Uncle Martin tapi untuk pembunuhan orangtuanya, dia sama sekali tak tahu. Mengira itu adalah sebuah kecelakaan di jalan raya. Sebab saat kejadian pembunuh itu mengambil barang berharga milik mereka juga.


Setitik air bening mengalir perlahan dari pelupuk matanya tiba-tiba. Betapa terpukulnya Ashley, mendapati kenyataan pahit yang akhirnya terkuak juga.


"Ashley..." panggil Lily lirih kala melihat Ashley berlinang air mata.


Kendrick pun mendekat kemudian membawa tubuh Ashley ke dalam pelukan. Dia tak mengucapkan satu patah katapun, membiarkan Ashley meluapkan semua perasaannya.


"Mommy, keluar Ken, tenangkanlah dulu istrimu, Mommy mau menyusul Daddymu sebentar. Dia di kamar si kembar dari tadi," ucap Lily sambil bangkit berdiri.


Kendrick mengangguk paham.


Lily pun berlalu pergi dari ruangan. Meninggalkan Kendrick dan Ashley berpelukan satu sama lain.


"Honey, sekarang ada diriku, aku janji akan selalu berada di sisimu," ucap Kendrick sambil mengusap punggung Ashley.


Ashley semakin menelusupkan ke wajah ke dada. Mendekap erat tubuh suaminya.


Selang beberapa menit, Ashley sudah tenang dan kedatangan Reza membuat Kendrick mau tak mau melepas pelukan. Setelah selesai diobati, Ashley mengatakan kepada Kendrick, ingin bertandang ke makam kedua orangtuanya.


Kendrick pun mengabulkan permintaan Ashley dan mengajak si kembar pula untuk ikut bersama mereka.


*


*


Dengan ditemani suami dan anak-anaknya, Ashley menggenggam erat tangan Kendrik saat keluar dari dalam mobil.


"Ayo, Honey, hati-hati di sini licin," ucap Kendrick kala melihat tanah kuning di sekitar makam umum.


Ashley mengulas senyum. "Iya Honey."


"Mommy, Daddy, apa di sini makam Grandpa dan Grandma?" tanya Kevin turun dari kendaraan mewah tersebut. Diikuti Kenny di belakangnya.


Kendrick dan Ashley tersenyum tipis.


"Iya, Kevin. Ayo sekarang kita ke sana," jawab Kendrick sambil menunjuk ke arah selatan, menampakkan pemakaman tua dan rumput-rumput liar di sekitarnya.


Kenny dan Kevin mengangguk cepat lalu mengikuti langkah kaki orangtuanya.


"William Silverstone dan Mia Frances? Jadi itu nama Grandpa dan Grandma ya, Mom." Kevin melihat batu nisan yang cukup besar di hadapannya kini.


Sementara, Kenny hanya diam saja. Menampilkan wajah sendu. Karena akhirnya dapat bertemu kakek dan neneknya karena sejak dulu hanya mendengar cerita saja dari Mommynya.

__ADS_1


"Iya sayang," ucap Lily. Lalu melirik Kendrick sekilas.


"Ayo sekarang kita bersihkan dulu rumah Grandpa dan Grandpa, setelah itu kita berdoa bersama-sama," cetus Kendrick seketika.


"Oke Daddy!" sahut Kenny dan Kevin serempak.


Setengah jam kemudian, rumah terakhir orangtua Ashley sudah terlihat bersih. Mereka pun mulai memanjatkan doa kepada Semesta.


Setelah selesai, Lily berjongkok perlahan di makam kemudian menaruh dua bunga anyelir putih di atasnya.


"Daddy, Mommy sudah lama kita tidak berjumpa, ini aku, sekarang aku sudah menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki, aku merindukan kalian, Dad, Mom...."


Ashley menitihkan air mata seketika. Saat tak mampu lagi membendung rasa sesak dihatinya karena kini dirinya benar-benar tak memiliki keluarga. Namun, dia teramat bersyukur, setidaknya sekarang ada Kendrick dan si kembar akan menjadi pelipur laranya.


Jedar! Jedar!


Di atas pencakar, kilat menyambar-menyambar. Langit yang semula hanya mendung kini berubah cepat menjadi gelap gulita. Seakan ikut berkabung atas kesedihan yang dialami Ashley.


"Honey, ayo kita pulang, sebentar lagi hujan, kasihan si kembar." Kendrick berjongkok di samping Ashley lalu mengusap pelan jejak tangisnya.


"Ada aku di sini, jangan bersedih, percayalah mereka di atas sana pasti bahagia karena sekarang memiliki cucu-cucu yang sangat tampan." Kendrick berusaha menguatkan istrinya.


Ashley mengangguk pelan lalu bangkit berdiri kemudian mengajak si kembar kembali ke mansion.


"Bye Grandpa, Bye Grandma!" seru Kenny dan Kevin bersamaan kemudian melangkah cepat mendekati Kendrick dan Ashley.


Sesampainya di mobil, hujan membasahi tanah seketika. Ashley melihat makam kedua orangtuanya melalui kaca jendela, menatap sendu dan menyenderkan kepalanya di bahu Kendrick.


*


*


*


Sementara itu, di sisi lain. Di penjara Los Angeles.


Bilik balik ujung penjara.


"Aku harus kabur dari tempat ini!"


Viola duduk di lantai dengan menatap lurus ke depan, melayangkan tatapan tajam dan dingin. Napasnya terdengar memburu, bayangan Kendrick dan Ashley melintas dibenaknya sekarang. Matanya melotot seakan ingin keluar. Jejak kemarahan tergambar jelas di dua bola matanya saat ini.


"Tidak ada yang bisa memilikimu, selain aku! Kau hanya milikku, Kendrick! Hanya milikku! Hahahaha!" Viola meracau sendiri sambil tertawa-tawa tak jelas.


__ADS_1


__ADS_2