Anak Kembar Tuan Dingin

Anak Kembar Tuan Dingin
Siapa?


__ADS_3

Lima hari telah berlalu, sejak kabar yang berhembus mengenai Viola. Ashley tak bebas bergerak sama sekali. Dia bagaikan terpenjara sendiri di mansion. Tak hanya dirinya saja, buah hatinya pun lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, kalaupun ada pelajaran tambahan. Guru khusus yang di kirim ke rumah oleh mertuanya, untuk mengajari si kembar.


Ashley sedikit bosan, walau segala kebutuhan tersedia tapi dia tak bisa berbuat sesuka hatinya. Gerak-geriknya selalu diperhatikan para bodyguard sekarang. Apalagi, perkerjaannya sebagai sektetaris sudah digantikan oleh Maximus saat ini.


Dia sungguh kasihan kepada pria paruh baya itu karena harus melakukan tugas yang cukup melelahkan, menurutnya. Kini Kendrick pun sedang sibuk dengan pembukaan cabang perusahaan baru di kota lain. Jadi, sekarang waktunya bersama suami hanya di malam hari saja. Itupun terkadang dia sudah tertidur pulas saat Kendrick sudah pulang ke rumah.


Seperti hari ini, sedari tadi Ashley menunggu kedatangan Kenny dan Kevin di ruang tengah sambil menyeduh teh camomile. Dia melirik sekilas di sisi kanan dan kirinya. Melihat pria berkulit hitam dan bertampang sanggar, tengah berdiri tegap seperti patung. Pria setinggi 187 cm itu mengedarkan pandangan dan menatap lurus ke depan, bersikap waspada di sekitarnya.


Oh my God! Ini sudah hampir seminggu, tapi mengapa Viola belum juga ketemu. Kemana wanita itu sih?!


Ashley mendengus pelan. Sedikit geram sebab sampai saat ini Viola belum juga ditemukan. Wanita itu seperti bunglon saja yang bisa berkamuflase. Padahal wajahnya sudah bertebaran di mana-mana, di televisi, sosial media dan baliho.


"Mommy!"


Kenny dan Kevin menyelonong masuk ke ruang tamu, membuyarkan lamunan Ashley seketika.


Ashley menoleh, merekahkan senyuman pada si kembar.


"Anak-anak Mommy sudah pulang ternyata, bagaimana hari ini di sekolah, apa ada yang menarik?" tanyanya sambil mencium gemas pipi Kenny dan Kevin secara bergantian.


"Sama seperti hari biasa, Mom, tidak ada wanita cantik," Kevin berkata dengan bibir menguap lebar.


Ashley terkekeh sejenak tatkala melihat Kevin mulai mengantuk. "Kalau Kenny? Apa ada yang menarik di sekolah tadi?"


"Tidak ada Mom." Kedua mata Kenny tampak sayup, sama seperti adiknya.


Melihat Kenny dan Kevin yang sudah mengantuk. Ashley pun mengajak keduanya ke kamar untuk beristirahat.


Malam harinya, Ashley dan kedua buah hatinya makan malam bersama tanpa kehadiran Kendrick. Tadi sore Kendrick mengatakan padanya kalau pulang kemalaman. Ashley mendesah kasar sebab kesibukan suaminya di kantor, membuatnya merindukan Kendrick.


Ashley heran pada sikapnya sendiri, kian hari semakin bertambah aneh, menurutnya. Jika pagi-pagi sekali selepas Kendrick pergi ke kantor. Dia akan mengendus-endus aroma khas tubuh Kendrick' di kemeja yang sudah di pakai suaminya berkerja.


"Mom, kenapa melamun?" tanya Kenny saat melihat Ashley terdiam setelah selesai menyantap makan malamnya.


Ashley sedikit tersentak. Dengan cepat menoleh ke samping. "Mommy tidak melamun kok sayang" kilahnya.


"Benarkah?" Kenny merasa jawaban Ashley kurang memuaskan. Sedari tadi ia memperhatikan gelagat Mommynya.


Ashley mengangguk pelan sambil melengkungkan senyuman.


"Sudah ayo sekarang kita cepat makan ya, biar cepat istirahat," ucapnya.

__ADS_1


Kenny dan Kevin mengangguk patuh.


***


Tepat pukul sembilan malam. Suasana di mansion sunyi dan sepi. Tak ada lagi suara ocehan Kenny dan Kevin saling berbicara satu sama lain. Kini Kenny dan Kevin sudah terlelap' memasuki ruang mimpi masing-masing. Berbeda dengan Ashley sedari tadi tak dapat memejamkan matanya. Sudah beberapa kali ia mengganti posisi badan tapi tetap saja tak bisa tidur dengan pulas.


Ashley baru saja teringat saat tujuh tahun silam' tepatnya hari ini adalah hari di mana orangtuanya pergi meninggalkannya.


"Mengapa aku jadi rindu dengan mereka?"


Memori-memori manis kedua orangtuanya di rumah dulu, menari-menari dibenaknya. Entah mengapa ia ingin sekali berkunjung ke rumah orangtuanya sekarang juga.


Ashley tiba-tiba duduk di tempat tidur, mengambil ponsel, meminta izin kepada Kendrick untuk pergi ke rumah mendiang orangtuanya. Setelah pesan terkirim, Ashley menganti pakaian dan turun ke bawah hendak mengajak para bodyguard menemaninya.


Setelah di dalam kendaraan roda empat' Ashley memeriksa lagi ponselnya, ingin melihat tanggapan Kendrick. Namun, nyatanya pesan tersebut belum terbaca juga. Ashley menarik napas panjang, Kendrick benar-benar sibuk saat ini.


"Nona anda yakin mau ke sana?" tanya bodyguard. Pria bertato kalajengking di wajahnya' duduk di kursi depan bersama sang supir.


"Iya, cepatlah, aku sudah lama tak berkunjung ke sana."


Bodyguard hanya mengangguk saja.


Kendaraan mewah itu melesat laju, membelah jalanan perkotaan menuju kediaman orangtua Ashley.


Rumah yang tidak terlalu besar itu berdiri dengan kokoh di hadapannya. Terlihat pagar yang sudah berkarat mengelilingi rumahnya. Ashley pun membuka cepat gembok pagar kemudian mulai melangkah masuk ke dalam, diikuti bodyguard dari belakang mengekorinya.


Ashley mengedarkan pandangan, walau rumah sudah lama tak tinggali. Cahaya lampu masih menerangi rumah tersebut meskipun remang-remang.


"Nona, saya akan menunggu ada di sini," ucap sang bodyguard sambil berdiri menghadap keluar di teras rumah.


Anggukan pelan sebagai balasan Ashley. Dengan pelan ia berjalan menuju ambang pintu. Sebelum memasukan kunci ke pintu, Ashley mengedarkan pandangan sejenak, melihat di sebagian tembok terdapat debu dan jaring laba-laba kecil menggantung.


Setelah puas melihat-lihat di depan rumah. Dia mulai memutar kunci rumah lalu melenggang masuk ke dalam.


Ashley mengulas senyum tipis sesampainya di ruang tamu, sofa dan beberapa lemari buffet masih ada, ya walaupun letaknya tidak sama persis seperti dulu. Dia pun melangkah lagi masuk ke dalam sambil sesekali mengingat-ingat memori indah bersama orangtuanya dulu.


Sementara itu, di luar pagar tepatnya di mobil, sang supir menguap lebar, menunggu sang majikan masih asik sendiri di dalam rumah.


"Hoamm, ada-ada saja Nona muda, malam-malam begini malah pergi," ucapnya sambil sesekali menguap.


Selang beberapa menit, dia masih setia menunggu. Untuk mengurangi rasa kantuk yang menderanya. Pria itu membuka kaca mobil lalu menyenderkan kepala di kursi mobil.

__ADS_1


Dugh!


"Ahk!"


Sang supir mengaduh kesakitan saat dari arah samping sebuah benda kecil dan panjang mendarat tepat di lehernya kini. Dengan cepat ia mencabut benda tersebut. Matanya melebar sejenak kemudian menutup dengan perlahan-lahan. Dia pun pingsan di tempat.


Di teras depan, bodyguard memicingkan mata' saat mendengar samar-samar suara teriakan seseorang. Dia berdiri tegap' memasang sikap waspada.


Tak!


Dari arah samping, seseorang meluncurkan benda kecil pipih ke leher bodyguard.


Bodyguard tersentak, secepat kilat mengambil benda itu. Kedua matanya terbelalak kala melihat benda yang sangat ia kenal' mengenai lehernya.


Sial! Ini kan obat bius!


Monolognya di dalam hati sambil berusaha membuka suara.


"Nona...."


Belum sempat ia berteriak memanggil nama Ashley. Kesadarannya hilang tiba-tiba.


Bruk!


Sang bodyguard menggelepar di atas lantai, dengan posisi badan tertelungkup. Dalam keadaan rumah yang minim cahaya, sekelabat siluet manusia mengendap-endap masuk ke dalam rumah.


Di sisi lain, tepatnya di lantai dua, Ashley menyibak kain putih yang menutupi tempat tidur milik orangtuanya.


"Ough, ough, ough." Ashley terbatuk-batuk ketika debu yang menempel di kain terangkat ke udara. Dia menyunggingkan senyuman, melihat kasur putih orangtuanya masih sama seperti dulu.


Tap, tap, tap.


Ashley mengerutkan dahi saat mendengar bunyi derap langkah kaki dari luar. Dia beralih menatap ke pintu kamar yang terbuka lebar.


"Siapa ya? Apa mungkin Tomi? Tomi, kau kah itu?" tanya Ashley setengah berteriak dengan dahi berkerut kuat.


Tak ada jawaban, Ashley menjadi semakin penasaran.


"Tomi?"


Ashley mulai melangkahkan kaki menuju ambang pintu, ingin memastikan apa Tomi 'sang bodyguard, ada di luar atau tidak.

__ADS_1


Bugh!


"Ahk!"


__ADS_2