
Esok harinya. Kenny dan Kevin keheranan tak melihat keberadaan Kendrick di ruang makan. Biasanya mereka akan menunggu Ashley menyiapkan sarapan di dapur. Keduanya pun saling melemparkan pandangan penuh tanya. Menebak mungkin Daddynya belum terbangun dari tidurnya. Namun, setelah Ashley menaruh sandwich dan susu di meja, Kendrick belum juga nampak.
"Mom, Daddy di mana?" tanya Kevin dan Kenny serempak, tanpa sadar.
Ashley mengulas senyum tipis. "Daddy sudah berangkat kerja sayang, ada yang harus di urus di kantor, kita sarapan yuk," kilahnya, padahal Kendrick pagi-pagi sekali, sebelum matahari muncul pergi entah kemana. Maid lah yang memberi tahu Ashley tadi kalau melihat Kendrick pergi tanpa berpamitan ataupun menitip pesan. Ashley menebak jika Kendrick menemui Viola.
"Jadi, kita berangkat pakai apa, Mom?" Kevin bertanya dengan kening berkerut kuat. Pasalnya tidak mungkin menggunakan mobil, sebab Ashley tak pandai menggendarai kendaraan roda empat tersebut. Di tambah lagi halte bus di sekitar sini tak ada sama sekali.
"Tenanglah, nanti Uncle Reza yang akan mengantar kita, Mommy sudah minta tolong sama Uncle Reza tadi," ucap Ashley membuat Kevin dan Kenny menarik napas lega.
"Baiklah, Mom. Sepertinya Daddy sangat sibuk akhir-akhir ini, ya." Kenny menatap Ashley dengan seksama. Ada sesuatu yang disembunyikan Mommynya dari mereka.
"Iya, sayang. Ya sudah, ayo kita sarapan dulu, sebentar lagi Uncle Reza dan Aunty Rita akan ke sini." Ashley sebisa mungkin menebarkan senyuman pada anak-anaknya. Meski hatinya bergejolak tak menentu, memikirkan Kendrick yang tak memberi kabar sedikitpun padanya.
Kenny dan Kevin mengangguk kemudian mulai menyantap sarapan yang tersaji di atas meja.
*
*
*
Tiga puluh menit kemudian. Kenny dan Kevin telah sampai di sekolah.
"Thank's Uncle Reza, Aunty Rita." Kenny dan Kevin keluar dari mobil lalu menatap Reza dan Rita melalui kaca jendela yang terbuka.
"Sama-sama, jadilah anak baik ya, kalau ada yang macam-macam, smackdown saja," kelakar Rita.
"Sami-sami, kalian jangan nakal ya, nanti Daddy jemput ya hihi." Reza melambaikan tangan dengan sangat gemulai sambil melirik Ashley sekilas yang tengah tersenyum tipis.
"Nggak mau!" Kevin menjulurkan lidah, memasang muka pura-pura kesal.
"Mom, pulang sekolah kami boleh ke kantor ya? Kami naik bus, Mom." Kenny menimpali.
"Boleh, kabari Mommy kalau kalian mau ke kantor, berhati-hatilah, sayang."
"Okey, Mom! Kami masuk ke dalam dulu ya. Bye semua!" Kenny dan Kevin menebarkan senyuman riang lalu melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah, sambil melambaikan tangan ke arah Ashley, Reza dan Rita.
Setelah melihat mobil Reza menghilang, langkah kaki keduanya berhenti di depan gerbang.
"Kak!" Kevin menepuk pundak Kenny seketika.
Kenny menoleh. "Hm, kenapa?"
"Apa kakak menyadari kalau Mommy terlihat sedih hari ini?" Kevin membetulkan ranselnya sejenak.
"Iya, sepertinya Mommy menyembunyikan sesuatu dari kita."
Kenny dan Kevin nampak berpikir sesaat. Saat sarapan tadi pagi, meskipun Ashley mengajak mereka bersenda gurau. Mata Mommynya memancarkan kesedihan mendalam.
Bunyi bell dari dalam sekolah. Membuat Kenny dan Kevin segera tersadar dari lamunannya. Secepat kilat mereka berjalan masuk ke dalam.
***
__ADS_1
Siang pun tiba. Pulang sekolah, si kembar bergegas pergi ke kantor Daddynya menggunakan bus sekolah.
"Bunga ini sangat harum, Kak." Kevin mengendus-endus bunga mawar berwarna merah yang bertengker di tangan Kenny. Kini keduanya berada di lantai satu hendak berjalan menuju lift.
"Iya, pasti Mommy suka. Oh ya kau sudah menyuruh penjual bunganya menyelipkan nama Mr.K kan?" tanya Kenny.
"Sudah, Kak. Semoga saja dengan bunga ini Mommy jatuh cinta dengan Daddy."
Kenny dan Kevin lah yang mengirimi buket bunga pada Ashley dengan memakai nama Daddy mereka. Sudah seminggu mereka meminta bantuan kurir bunga datang ke perusahaan. Untung saja, ada salah satu office girl yang mau berbaik hati membantu mereka juga, meletakkan bunga di atas meja Ashley. Namun, hari ini merekalah yang akan berpura-pura mendapat bunga dari seseorang tak di kenal.
"Mommy!" Kenny dan Kevin menyelonong masuk ke dalam ruangan. Melihat Ashley tengah duduk melamun di meja kerja.
"Mom!!" panggil Kenny dan Kevin sekali lagi membuat Ashley terlonjak kaget.
"Astaga!" Ashley mengelus-elus sejenak dadanya lalu menatap ke arah Kenny dan Kevin. Mengulas senyum, ia beranjak dari tempat duduk. Lalu menghampiri keduanya dan mensejajarkan tubuhnya dengan si kembar.
"Maafkan kami Mom." Kenny dan Kevin memeluk Ashley seketika.
Mengurai pelukan, Ashley menatap sendu. "Kenapa minta maaf, Mommy yang salah karena melamun tadi, ayo kita duduk di sofa." Dia menuntun si kembar untuk duduk di sofa.
"Mom, ini bunga untuk Mommy, tadi ada kurir yang menitipkan pada kami." Kenny menyodorkan buket bunga.
Ashley mengambil, tanpa menunjukkan ekspresi sama sekali."Terimakasih, sayang," ucapnya sambil menaruh bunga di atas meja.
"Di mana Daddy?" tanya Kevin saat tak melihat keberadaan Kendrick di ruangan.
Ashley menarik nafas dalam. Menatap sendu ke arah meja kerja Kendrick yang terlihat kosong sekarang. Kenny dan Kevin dapat melihat perubahan wajah Ashley, membuat mereka menebak penyebab Mommynya murung adalah ulah Daddynya.
"Daddy kalian masih ada urusan sebentar di luar, kalian mau makan apa?" Ashley menebarkan senyuman lebar. Berharap si kembar tak mengetahui keadaan hatinya yang mendung sekarang. Sejak tadi pagi Kendrick tak pula memberi kabar. Hari ini ia sudah dua kali berbohong pada anak-anaknya.
"Oh, oke, Mom. Kami mau spagheti saja Mom!"
"Oke, Mommy ke bawah sebentar ya." Sebelum keluar dari ruangan, tak lupa Ashley melabuhkan kecupan di pucuk kepala si kembar.
Selepas kepergian Ashley, Kenny dan Kevin menatap satu sama lain.
"Kak, aku rasa Daddy melakukan sesuatu yang membuat Mommy sedih," ucap Kevin.
"Iya, kau benar, tapi karena apa ya? Bukankah kita sudah membersihkan hama di kantor."
Kevin menggedikan bahu sedikit, bingung juga apa yang membuat Mommynya sedih. Keduanya pun nampak berpikir keras.
Di sisi lain.
Viola bergelayut manja, berbaring di dada bidang Kendrick. Wanita itu terlihat memainkan kancing baju kekasihnya sedari tadi.
Sementara itu, Kendrick berusaha menyingkirkan tangan Viola. Masih merasa janggal dengan cerita Viola tentang penculikannya barusan. Yang mengatakan Mommynya adalah dalang di balik penculikan.
Kendrick tak langsung serta-merta percaya. Apalagi Viola mengatakan ia di culik di hotel, bukan di apartment miliknya. Seingat Kendrick Viola waktu itu di suruh tinggal di apartmentnya untuk sementara waktu.
"Viola, berhenti memainkan kemejaku, apa kau yakin Mommyku adalah dalang di balik penculikan itu? Dan kenapa kau baru bisa lolos sekarang? Lalu apa alasan Mommyku menculikmu?" tanya Kendrick beruntun.
Viola berdecak sebal lalu merubah posisinya menjadi duduk.
__ADS_1
"Jadi kau tidak percaya denganku? Oh come on, Ken. Mommymu kan tidak menyetujui hubungan kita karena aku dulu berselingkuh darimu?" Viola memasang muka sedih.
Enggan menyahut, Kendrick hanya membuang napas, menerawang kejadian beberapa tahun silam. Wajah Ashley melintas tiba-tiba dibenaknya saat ini
Kendrick tercenung, mengapa semalam Ashley hadir di dalam mimpinya. Saat mengingat mata Ashley yang terlihat sembab kemarin membuat hatinya berdenyut perih.
"Ken, i want you!" Viola menempelkan bibir di bibir Kendrick seketika sambil membuka kancing kemeja.
Kendrick tersentak, secepat kilat mendorong pelan tubuh Viola. "Viola, apa-apaan kau! Kita belum menikah?!"
Viola tercengang."Kenapa memangnya? Aku pacarmu Ken, sejak pacaran kita tidak pernah berhubungan badan, apa salahnya bukankah kita akan menikah nanti?!" tanyanya dengan nafas memburu
"Viola, bukankah kau sudah tahu prinsipku, aku tidak akan menyentuhmu sampai kita menikah nanti." Kendrick mulai beranjak dari tempat tidur.
"What? Ini zaman modern Ken, kau sangat aneh, ayolah, aku menginginkanmu, Ken. Apa kau tidak mencintaiku lagi?!"
Suara Viola terdengar meninggi membuat Kendrick tertegun karena baru kali ini melihat Viola melawan padanya.
"Jaga batasanmu, Viola. Aku jadi ragu dengan ceritamu tadi," kata Kendrick dengan mimik muka dingin.
Viola gelagapan, memasang muka sedih kemudian turun dari tempat tidur, mendekati Kendrick.
"Ken, maafkan aku, aku terbawa suasana."
Enggan menyahut, Kendrick malah mendengus. Dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Viola berjinjit kemudian menangkup pipi Kendrick. "Ken, jangan marah, maafkan aku," ucapnya lalu mencium pelan bibir Kendrick.
Kendrick hanya diam saja. Bingung akan perasaanya saat ini. Jika dulu saat bercumbu dengan Viola, hatinya akan berdesir namun sekarang entah mengapa rasanya biasa-biasa saja.
Melepas pagutan, Viola berkata,"Ken, bagaimana kalau kita ke Mall, mumpung Mommymu tidak ada di sini, aku akan memakai topi, agar tidak kelihatan orang pesuruhnya."
Menatap datar sejenak, anggukan pelan sebagai balasan perkataan Viola.
Fiuh, hampir saja. Come on, Viola. Kau harus berakting lebih baik lagi agar Kendrick percaya padamu, seperti Alejandro.
Batin Viola sambil memakai topi dan masker.
*
*
Selang beberapa menit, Viola dan Kendrick telah sampai di mall pusat kota. Dengan sabar Kendrick menemani Viola memilih pakaian di salah satu butik.
"Bagaimana, bagus tidak sayang?" tanya Viola sambil memutar tubuh ke kanan dan ke kiri, memperlihatkan dress mini di hadapan Kendrick.
Kendrick mengamati penampilan Viola dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Hm, terlalu seksi sayang, ganti yang lain saja."
"Ish, tapi aku suka yang ini sayang, bagus tahu, ini dress terbaru keluaran d*or!" Viola cemberut.
Kendrick mendesah kasar. "Tapi say–"
__ADS_1
"Daddy!!!"
Suara dari belakang membuat Kendrick tertegun sejenak. Secepat kilat ia memutar tubuh, melihat Kenny dan Kevin menatap tajam ke arahnya. Sementara Ashley memalingkan muka ke samping saat ini.