
Maaf ya author kemarin nggak update, jahitan operasi author hampir terlepas kemarin. Jadi hari ini baru bisa menulis, selesai membaca jangan lupa tekan like ya
...****************...
Sementara itu di sisi lain. Sebuah helikopter mendarat di pulau kecil. Tampak tiga laki-laki berpakaian serba hitam tengah menggendong dua anak laki-laki yang matanya di tutup dengan kain dan kedua tangannya di ikat ke belakang.
Ketiganya langsung keluar dari helikopter lalu melangkah cepat mendekati sepasang pria dan wanita paruh baya tengah menunggu mereka dari tadi.
"Tuan, kami sudah menculik anak-anak Kendrick Andersean, nah sekarang mana uangnya?" teriak salah seorang pria memiliki tato di seluruh tubuh, sepertinya ketua mereka.
Pria paruh baya yang berdiri di hadapannya itu hanya tersenyum tipis lalu kembali menghirup cerutu miliknya.
"Tuan, kau dengar tidak?!" tanyanya sedikit berteriak.
"Martin!" Amora mencubit lengan Martin karena tak langsung membalas ucapan pria itu.
"Ish, iya, iya, sabar!" Martin mendengus lalu membuang cerutu ke tanah. "Tenanglah, aku akan memberi kalian uang dua kali lipat, kalau tugas kalian sudah selesai, sekarang kalian bawa dua bocah itu ke menara di atas!" titahnya seketika.
Ketiga pria itu tersenyum lebar mendengar tawaran yang dikatakan Martin.
"Baiklah, tapi kau harus menepati janjimu itu!" serunya sambil memberi kode pada teman-temannya untuk berjalan menuju menara kumuh di depan sana.
Martin terkekeh mengejek. "Haha! Oke, itu sangat gampang."
Selepas kepergian mereka. Amora mengalihkan pandangan ke arah Martin.
"Kau gila atau apa ha?! Kau tahu sendiri kita tidak ada uang lagi dan satu-satunya jalan adalah mendapatkan uang tebusan dari anak Ashley itu!" serunya dengan melototkan mata.
Kemarin, ketika Martin tengah mengais makanan di tempat sampah. Ia tak sengaja melihat Ashley dan Kenny di parkiran restaurant. Tentu saja ia penasaran lalu menguping pembicaraan mereka. Martin sontak terkejut menebak suami Ashley adalah Kendrick Andersean. Putra sulung dari pasangan konglomerat di negeri Paman Sam itu. Apalagi wajah Kenny sangatlah mirip dengan Kendrick. Tak mau membuang banyak waktu. Ia memikirkan strategi untuk bisa memeras Kendrick sebab dirinya dan Amora sekarang jatuh miskin dan menjadi gelandangan.
"Haha kau ini ternyata sangat bodoh, Amora! Serahkan saja semuanya padaku, sekarang kita ke atas. Aku mau melihat anak-anak Ashley!" sahutnya sambil mengedarkan pandangan sejenak ke hamparan lautan di sekitar.
Amora mendelik.
__ADS_1
"Ayo, Amora! Sehabis itu kita akan menelepon Ashley meminta uang! Haha!" Martin melangkah cepat, meninggalkan Amora tengah bersungut-sungut di tempat.
Di atas menara.
"Buka penutup kepalanya!" titah Martin lalu melirik Amora sekilas tengah duduk di atas kursi kayu.
Salah seorang pria membuka cepat kain yang menempel di kepala Kenny dan Kevin.
"Ah! Leganya! Akhirnya aku bisa bernapas!" sahut Kevin seketika sambil menggerakan kepala ke kanan dan ke kiri. Mengabaikan tatapan tajam dari Martin saat ini.
Sementara Kenny hanya diam saja, melayangkan tatapan mematikan kepada semua orang di ruangan.
"Wah, wah, kau lihat itu Amora, keponakanku sangatlah tampan! Hahaha!" Martin tertawa kuat kala mendapatkan tatapan tajam dari Kenny.
Amora hanya tersenyum sinis lalu melipat kedua kakinya.
"Kak, mereka siapa?" Kevin berbisik-bisik di telinga Kenny. Namun, suaranya bisa di dengar oleh Martin sekarang.
Kenny menoleh sejenak lalu mengalihkan pandangan ke depan lagi.
"Ha?" Kevin melonggo dengan bibir sedikit terbuka.
Sementara ketiga pria di pojok ruangan tersenyum tipis mendengar perbincangan si kembar barusan.
"Kurang ajar kau! Aku bukan badut! Aku adalah Uncle Mommy kalian! Tunggu sebentar apa sebutannya, Amora?" Martin melirik Amora tengah sibuk selfi sendiri.
"Mana aku tahu! Pikir saja sendiri!" sela Amora lalu kembali menghadapkan layar ponsel ke muka.
Martin mendengus. "Pokoknya aku adalah Uncle Mommy kalian! Haha pasti kalian baru tahu kan?"
"Uncle? Tapi aku ragu kau, Uncle Mommyku!" seru Kevin sambil mengamati penampilan Martin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Dahi Martin berkerut samar. "Kenapa kau ragu ha?!"
__ADS_1
"Iya, ragu saja, sepertinya kau memang badut, lihatlah pakaianmu, atasnya berwarna kuning, celananya berwarna pink, kacamatanya berwarna hijau, sepatunya berwarna orange dan–"
"Cukup!" Martin menahan sabar ketika tatapan Kevin seakan mengolok-oloknya.
Sementara ketiga pria di ujung sana menahan tawa karena apa yang dikatakan Kevin memang benar. Amora pun hanya mampu menghela napas kasar, merutuki kebodohan suaminya itu.
"Kenapa? Apa kau tidak terima?" Kenny menimpali sembari melirik sekilas Kevin
"Diam kau bocah! Berani-beraninya kau menghinaku ha! Dengarkan aku! Kalian dalam bahaya sekarang! Aku bisa saja melenyapkan kalian berdua sekarang!" teriak Martin kemudian mengambil pistol yang tersingkap di celana dan mengarahkan senapan berlaras pendek itu ke atas.
Dor!
"Hahaha!" Setelah menarik pelatuk, Martin tertawa keras kemudian menatap heran kedua bocah dihadapannya yang tidak menampilkan raut wajah ketakutan.
"Hhoaaammm, hanya itu saja, ini sangat membosankan. Sepertinya mereka benar-benar badut." Keving menguap lebar dengan matanya yang mulai terlihat sayup.
"Hoam, iya kau benar Kevin, ini sangat membosankan. Aku penasaran apa mau mereka?" Kenny menatap nyalang Martin.
Mendengar hal itu, mendidih darah Martin kemudian mendekati Kenny dan mencengkram kuat dagunya.
"Hei kau! Lepaskan Kakakku!" Kevin mengerakkan tangannya yang terikat kuat. Kemudian menatap Martin dengan sangat tajam.
"Haha, ternyata kau punya rasa takut juga!" Martin melirik sekilas lalu menatap Kenny kembali.
"Bocah si@lan! Berani-beraninya kau menatapku seperti itu ha?!" Martin melototkan mata sembari mencengkram kuat pipi gembul Kenny.
Plak!!!
"Kakak!" pekik Kevin saat melihat Martin menampar Kenny seketika.
"Haha! Rasakan itu bocah si@lan!" Martin menatap dingin Kenny sejenak lalu berjalan cepat mendekati Amora.
"Kakak tidak apa-apa?" Kevin sangat cemas. Melihat dari bibir Kenny keluar sedikit darah.
__ADS_1
Kenny menyemburkan ludah yang sudah bercampur darah ke lantai lalu menoleh ke samping.
"Tidak apa-apa."