
***
Bu roro pun lantas kembali ke ruang rawat putri. Dilihatnya wajah anaknya yang kini tengah terbaring lemah disana, rasa sesak di dada nya melihat kondisi putri saat ini
" sayang, kamu kenapa tidak bilang sama bunda kalau sedang sakit?" ucapnya lirih sambil memandangi wajah anaknya yang belum juga sadar
" bu, yang sabar, semua itu telah menjadi rencana Allah " ucap bu mayang
" maaf bu saya pamit kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan " pamit bayu
" pergilah nak, terimakasih telah mengantar ibu kesini " ucap bu roro
" sama sama bu, mama ikut bayu apa disini?" tanya nya pelan kepada sang mama
" kamu pergilah, mama disini dulu nemenin bu roro kasihan sendirian disini " ucapnya pelan
" baiklah bayu pergi dulu "
Setelah kepergian bayu, bu roro dan ** mayang yang masih setia menunggu putri namun tak kunjung ada reaksi
" apa ibu lebih baik menghubungi saudara atau anak ibu agar menemani disini " tanya bu mayang
" saya tidak memiliki keluarga bu, dan anak saya sekarang sedang di jerman kuliah, kasihan dia kalau saya kasih tau pasti akan sangat sedih dan kepikiran disana " jelasnya
" yasudah kalau gitu, ibu jangan sungkan lagi dengan saya, anggap saja seperti keluarga sendiri "
__ADS_1
" terima kasih bu "
***
Setelah sadar dan dinyatakan lebih baikan oleh dokter, putri kini telah di perbolehkan untuk pulang
" bu.. biar bayu saja yang menjemput kita disini " ucap bu mayang
" kasihan nak bayu pasti selalu saya repot kan " jawab nya
" tidak bu " jawab bu mayang
Akhirnya bayu pun mengantar mereka pulang kerumah
" nak kamu istirahat dulu ya " perintah bu roro kepada putri
" baik bunda " jawab nya lemas
" apa bunda sudah tau dengan penyakitku ini " batinnya
Bu roro pun kembali keluar kamar putri dan menghampiri bu mayang dan bayu
" bu terimakasih atas kebaikan kalian saya bersyukur bisa kenal kalian "
" sama sama bu, semoga putri lekas sembuh, kami pamit dulu " ucap bu mayang
__ADS_1
" bu saya permisi pulang dulu " pamit bayu kemudian mencium punggung tangan bu roro
***
Setelah kepergian bu mayang dan bayu , bu roro duduk di teras depan rumah nya. Diingatnya kembali ucapan dokter yang begitu membuat hancur hatinya, entah bagaimana rasanya. Seharusnya bahagia menyelimutinya atas gelar kelulusan sang anak, namun kini hanya kesedihat yang terlihat dari raut wajah wanita paruh baya itu
Lantas pikiran itu segera ia singkirkan dan kembali ke kamar putri
Dilihatnya putri yang masih terlelap itu segera di elusnya pucuk rambut anaknya
" nak, kenapa kamu tidak pernah cerita sama bunda? berarti obat yang dulu bunda tanya ke kamu adalah obat kanker?" batinnya sambil meneteskan air mata
Putri pun membuka matanya pelan, merasakan ada isak tangis ia segera bangun
" bunda.. kenapa menangis?" tanya putri
" nak kenapa kamu sembunyikan penyakit mu dari bunda?"
" putri nggak mau bunda sama rania kepikiran "
" dan sekarang bunda sudah tau, dan ini menjadi lebih sakit bagi bunda " jawabnya
" maafin putri bun, nggak berniat bagi putri untuk menyembunyikan ini dari bunda, putri sayang sama bunda, putri nggak ingin bunda sedih "
Bu roro pum memeluk anaknya dengan erat, air matanya tak bisa ia bendung lagi, semua nya ia habiskan saat itu juga. Melihat sang bunda saat ini membuat putri semakin sedih dan merasa bersalah
__ADS_1