
sesuai dengan janjiku, malam ini aku akan pergi ke rumah Riko untuk bermalam disana, tapi kita ini juga anak muda yang butuh jam untuk setidaknya nongkrong di warung kopi sembari menikmati suasana malam.
"Zar, di warung teh Ineu aja" kata Riko membuka suara.
"oke siap bos!" jawabku sembari terus melajukan motor dengan kecang membelah kegelapan malam dan melewatinya dengan garang, hingga sampailah kita di warung teh Ineu yang berada di pinggir taman.
"Malam sayangku" kata Riko menggoda teh Ineu seorang janda cantik bertubuh molek yang seringkali membuatku tidak kuat iman.
"sayang sayang, bayar utang!" aku tertawa mendengar teh Ineu memarahi Riko dengan garangnya.
"abang belum gajian sayang" kata Riko yang sangat menjijikan, terus saja menggoda janda cantik ini.
"stres" jawab teh Ineu ketus.
"kopi good day dua, sama rokok sampoerna mild sebungkus teh" kataku dengan ramah memberikan kesan bagi janda ini.
"iya Zar, ini ambil dulu rokoknya" aku mengambil rokok itu dari tangannya dan dengan sengaja aku terus menggenggam tangannya, membuat teh Ineu menatapku dengan marah yang di buat-buat.
"abang siap jadi imam kamu sayang" kataku dengan serius, menatap mata teh Ineu yang berbinar bersama dengan senyumnya yang tercetak sempurna di wajah itu.
"semprul!" jawab teh Ineu tertawa sembari melepaskan tangannya dari peganganku, membuat diriku sedikit tertawa.
"ahh bangsat lu Zar, sini rokoknya" kata Riko yang sudah kesal melihat adegan romantisku bersama teh Ineu, aku memberikan rokok itu pada Riko dan dia lekas membukanya.
"PM tumben gak nongkrong di sini ya" kataku, taman ini adalah tempat berkumpulnya anak-anak PM (Pengendara Malam).
"baguslah biar gak berisik" kata Riko sembari menyalakan rokonya.
"PM kemaren bentrok sama MATADOR di sini Zar" aku segera menoleh pada teh Ineu yang mengatakan itu, menampakan wajah terkejut sekaligus penasaran.
"serius teh?" kataku yang masih belum percaya, "masalahnya apa?" lanjutku bertanya.
"katanya PM yang nyerang duluan Matador di terminal buat rebut tempat, tapi berhasil di tahan sama Matador, terus Matador nyerang balik PM disini sampe rusuh" cerita teh ineu dengan serius.
"wahhh Matador santer juga Zar" kata Riko yang terkesima dengan cerita teh Ineu "terus ketuanya punya masalah sama elu" lanjutnya seperti menghawatirkan sesuatu.
"gue gak takut" jawabku ketus.
"gue juga gak takut, tapi kalo dibanding kita yang cuma 2 orang, takut gak takut abis Zar" aku meyalakan rokokku dan menghisapnya perlahan menikmati setiap detiknya asap ini masuk ke dalam tubuhku tanpa berniat menjawab ucapan Riko.
"nih kopinya" kata teh Ineu menempatkan dua gelas kopi di atas meja yang ada disana.
"PM dateng noh" kata Riko menoleh ke arah anak-anak muda seumuran denganku sedang berkumpul.
"Noooo! sini lu" kata Riko memanggil salah satu anak PM, dia adalah Reno teman sekelasku yang sangat jarang bicara denganku, bukan hanya Reno tapi semuanya kecuali Riko.
"apa Rik?" jawab Reno menghampiri.
"sini duduk disini, gue mau nanya" kata Riko dengan hebohnya membuat Reno duduk tepat di samping Riko "PM kemaren beneran bentrok sama Matador?" tanya Riko dengan antusias.
"iya Rik, pala gue aja masih sakit kena tongkat baseball Tiar" jawab Reno seperti mengadu.
__ADS_1
"terus lu ngelawan?"
"kita semua kaburlah, kaget, Matador gerak cepet banget" Riko tertawa mendengar cerita itu.
"banci emang lu pada" kata Riko meledek.
"itu anak-anaknya lagi gak ada" jawab Reno mengelak dari ejekan Reno, lekas Riko langsung menjitak kepala Reno.
"Banyak alesan lu"
"Anjing lu" kata Reno merajuk "Zar, katanya si Raka mau ngomong sama elu" lanjut Reno.
"ngomong apa?" sautku santai sembari terus menikmati asap Rokok.
"gue juga gak tau"kata Reno, aku sedikit malas meladeni mereka, meskipun lebih dari sebagian mereka aku mengenalnya, bukan tanpa sebab, karena aku sendiri yang mendirikan PM waktu masih SMP. Pengendara malam yang aku maksud hanyalah aku, Riko,Fajri dan Raka, hingga pada akhirnya aku mulai malas dan dengan tegas menyatakan bahwa aku bukan bagian dari PM, Riko dan Fajri mengikutiku, sialnya Fajri pindah ke luar kota, tidak ada alasan lain mengapa aku pergi, itu karena Raka yang mengumpulkan banyak orang seperti ingin membuat koloni.
"suruh sini aja, gue gak bungkam sama temen sendiri" jawabku dengan santai sekaligus ingin bercengkrama dengan teman lama ini.
Reno pergi bersama pesan yang dia bawa dariku untuk Raka, aku perhatikan kearah Reno yang terlihat berbincang dengan Raka hingga pada akhirnya mereka berjalan ke arahku.
Raka memang masih Raka yang dulu, pria bertubuh atletis dengan tampang garang juga memiliki keberanian yang sangat besar, dan kabarnya dia menjadi salah satu pentolan di SMA nya, itu bukanlah hal yang mengejutkan karena Raka yang aku kenal adalah orang paling nekat diantara empat PM.
Raka tepat duduk di depanku, melihatku dengan banyaknya malu karena pernah aku tinggalkan sendiri, itu salahnya dan aku tidak pernah mau meminta maaf padanya.
"lu mau ngomong apa Ka?" kataku yang sudah penasaran tentang apa yang akan dia sampaikan padaku.
"sebelumnya gue minta maaf Zar, gue udah jadi temen yang buruk" katanya dengan nada yang tidak enak aku dengar.
"Gue tau gue udah kelewatan buat PM jadi seperti ini, tapi semuanya udah terlanjur dan kita banyak sekali mendapatkan masalah, bukan hanya dengan satu geng tapi dengan banyak geng" katanya bercerita dengan penuh antusias.
"itu bukan urusan gue Ka, semuanya elu yang buat, elu yang ngawalin" kataku seperti seorang bapak yang sedang menceramahi anaknya.
"gue butuh lu Zar, PM butuh elu, dengan adanya lu di PM, kita bakal mendominasi, gue yakin itu" aku terbawa emosi mendengar penuturan Raka yang sangat berambisi.
"itu yang elu kejar? emang anjing lu"
"dulu elu yang diriin PM Zar" kata raka dengan nada membentak.
"santai nyet, gak usah teriak-teriak!" kata Riko memotong pembicaraan, hendak Raka melihat Riko dengan ekspresi geramnya.
"gak usah ikut campur lu" balas Raka dengan wajah serius seperti ingin menerkam.
"apa anjing!" Riko hendak maju berniat untuk menghatam Raka namun segera aku tahan laju badannya. "lu itu anjing, gak tahu diri" lanjutnya memaki Raka.
brakkk
Raka menendang meja hingga hampir mengenai aku dan Riko sehingga membuat semua orang yang ada disana menoleh kearah kami.
"ngomong apalu nyet? mau banding sama gue?"
buaghh
__ADS_1
satu pukulan aku luncurkan tepat di wajah Raka, hingga membuat dia mundur beberapa langkah.
"emang anjing lu Zar" kata Raka geram.
"elu yang anjing!" teriakku sembari maju menuruti emosi yang sudah membara, membela sahabat karib yang selalu ada bersamaku.
buagh
satu pukulan kembali aku luncurkan dan berhasil di tahan oleh lengan Raka yang melindungi wajahnya, itu tidak membuat tumbang hingga defend yang dia buat bisa saja menjadi awal dari serangannya.
"makan anjing!"
buaghh
aku tidak bisa mengelak dari tendangannya itu, membuatku terpaksa mundur dan mencari celah untuk membalas.
buagh
buagh
satu pukulanku kembali mendarat di wajahnya dan di bayar kontan oleh pukulan Raka yang juga mendarat tepat di pipiku.
tak berselang lama orang-orang sudah berkumpul untuk menghetikan perkelahian, menarikku dengan paksa menjauihi Raka.
"lu apa-apaan Zar? tanya Indra teman sekelasku.
"tanya sama si anjing itu" balas Riko menujuk Raka.
anak-anak PM hanya diam tanpa berani menyerang Riko dan aku, mereka tau pasti siapa aku dan Riko. Aku menoleh ke arah warung dan mendapati teh Ineu dengan wajah ketakutan, hingga hati nuraniku mendorong raga ini untuk menenangkannya.
"teh, maafin Anzar yah udah bikin rusuh" kataku dengan wajah bersalah yang aku tampilkan.
"kalian kenapa berantem?" tanya teh Ineu yang tidak tahu apa-apa.
"enggak teh, udah damai, sekarang aja udah mau pulang" aku berharap dia tidak khawatir lagi, meskipun dia biasa dengan kejadian seperti ini, dia tetaplah wanita dengan hati yang lembut.
aku menarik Reno yang berada disampingku, membuatnya dia berdekatan denganku dan dengan segera aku membisikan sesuatu ke telinganya.
"bubarin" kataku singkat
"ayo pulang Rik" ajakku pada Riko, aku memutuskan untuk pulang agar masalah ini tidak melebar hanya dengan adu mulut Riko dengan anak-anak PM.
"tapi Zar"
"apa?" tanyaku dengan tatapan mengancam.
"iya" jawabnya "sayang, abang pulang dulu yah, kamu hati-hati disini" pamitnya sembari mencium tangan teh Ineu dengan mesra.
"iya sana hati-hati"
aku pulang, membakar semua emosi dan keegoisan yang aku punya, dengan harapan ini sudah berakhir dan tidak menjadi akar dari masalah selanjutnya yang mungkin terjadi.
__ADS_1
rasa kecewa pada Raka terus menyerangku, temanku yang dulu sangat dekat sudah menjadi musuh yang sangat mematikan, aku tidak menyangka dia akan seegois ini, hingga berani mengorbankan teman demi ambisinya.