Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Masih tentang Nadia


__ADS_3

"Anzarrr cepet makan, ajak pacar kamu" suara ibuku dari arah dapur, mendengar itu aku langsung keluar dari kamar memakai stelan kaos oblong putih dan celana jeans hitam.


"mau makan gak lu?" Nadia yang sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya terlihat terkejut mendengar suaraku.


"enggak kak, gak usah" jawabnya malu-malu.


"udah cepet, gue tau lu laper" kataku sambil berjalan ke menuju meja makan " Ayo cepet!" aku kembali pada Nadia yang terus duduk diam.


"i..ya kak" Nadia mengikutiku, melihatku duduk di kursi yang ada disana, pandangan nya teralihkan pada ibuku yang sedang membawa manyiapkan makanan.


"Nadia bantu yah tante" kata nadia sembari mengambil makanan yang di bawa ibuku.


"ohh iya sayang makasih" jawab ibuku dengan manis.


Saat itu aku hanya menjadi penonton keharmonisan mereka berdua, melihat Nadia dan ibuku duduk bersebelahan bersebrangan denganku, senyumku mengembang ibu kayaknya emang butuh temen kataku dalam hati.


"Makan yang banyak dong, kok dikit-dikit gitu" kata ibuku pada Nadia yang masih malu-malu.


"engga tante segini aja hehe" jawab Nadia ramah.


"cewe mah takut gendut ma" kataku memotong percakapan mereka.


"ohh iya yah" jawab ibuku mengangguk-anggukan kepalanya.


sesaat hening menyelimuti, hanya ada suara sendok yang berbenturan dengan piring, masing-masing sedang sibuk dengan makanan nya sendiri, berbeda denganku yang sudah selesai dengan makananku.


Aku beranjak dari tempat dudukku, berniat untuk mengambil rokok yang tertinggal di saku celana sekolah yang aku simpan di kamar.


"mau kemana?" tanya Ibuku.


"depan" jawabku yang langsung pergi ke kamar hanya untuk mengambil rokok yang kemudian aku duduk di sofa ruang tamu yang ada di rumahku, menyalakan sebatang rokok sampoerna mild dan menikmatinya, dari ruang makan aku mendengar obrolan Nadia dan Ibuku.


"Aku bantuin yah tante"


"Udah gak usah, kamu kedepan aja temenin Anzar"


"iyadeh tante"


Nadia datang dengan wajah yang di marah-marahkan membuat dia semakin menggemaskan.


"kakak mau kapan ganti kacamata aku?" Aku menghisap asap rokok dalam-dalam dan memyemburkannya ke atas.


"Nanti udah ngerokok" Nadia mengerucutkan bibir tipisnya agrhh Nadia kenapa kau sangat cantik? batinku berkata jujur.


"ngerokok mulu si" jawabnya dengan nada kesal.


"terserah gue lah" jawabku tak kalah kesal.


aku menikmati setiap hisapan, menantang asap untuk berpetualang di tubuhku dan mengusirnya ketika aku sudah merasa pengap.


"udah jam setengah 5 kak, nanti aku di marahin" kata Nadia dengan muka memelas.


"bukan urusan gue" wajah memelasnya berubah menjadi wajah marah, wajah yang sangat aku sukai.


"hih, dasar cowo gak bertanggung jawab" katanya dengan nada kesal.


"emang gue ngapain elu? lu yang mau kesini juga" jawabku tak kalah kesal.


hening kembali menyelimuti aku dan Nadia, kita bergelut dengan pikiran masing-masing tanpa memperdulikan orang lain.


"Kok pada diem-dieman" aku dan Nadia kaget dengan kedatang ibuku.


"Anzar nganterin Nadia dulu yah ma" aku berdiri berniat untuk pergi mengantarkan Nadia membeli kacamata.


"mau pulang gak lu?" Nadia memutar bola mata tidak menjawab pertanyaanku.


"Nadia pulang dulu yah tante" sembari mencium punggung tangan ibuku, dibalasnya oleh ibuku dengan mengusap pucuk kepala Nadia.


"iya hati-hati yah sayang"


"iya tante"


aku keluar dari rumah, memakai sepatu seanekers adidas warna biru sembari memperhatikan Nadia yang sedang mengikat tali sepatunya.


"Anzar ini jaket kamu ketinggalan" kata ibuku yang sedang menenteng jaket army loreng hitam abu-abu, sore ini cuaca sedang dingin, maklum awal-awal musim hujan yang tidak aku tunggu kedatangan nya.


"ohh iya ma" aku menggampai jaket itu dan mengenakannya, teringat sesuatu tentang Nadia yang tidak memakai jaket, sebagai laki-laki aku tidak mungkin membiarkan anak orang kedinginan, lagi pula ini semua memang salahku.


"Mau kemana?" tanya ibuku yang melihatku berjalan kembali ke dalam rumah.


"ada yang ketinggalan mah" aku pergi ke kamarku mengambil sweeter berwarna kuning polos lalu bergegas keluar lagi.


"pake" kataku melemparkan sweeter pada Nadia yang entah sedang berdiri di samping ibuku, Nadia hanya diam dan menuruti apa yang aku katakan.


Tanpa pikir panjang aku lekas menaiki motorku dan suara motor mulai mengiringi ceritaku bersama Nadia.


"ayo naik" dengan segera Nadia kembali menuruti perintahku.


"duluan tante" kata Nadia dengan senyum yang sudah beberapa kali membuatku kagum.

__ADS_1


"iya, hati hati sayang" jawab ibuku tak kalah manis dengan senyum tulusnya.


" iya maaa"


Ngenggg


Aku melajukan motor dengan kecepatan rendah, menikmati sore hari yang dingin bersama Nadia yang entah sadar atau tidak dia memeluku dengan erat untuk melawan dingin yang sedang menghampiri tubuh nya.


Suara kendaraan hilir mudik silih berganti menyumbangkan suaranya seakan-akan menjadi nada pengiring dari sebuah peristiwa romantis yang saat ini sedang kita jalani.


kau ini, aku tidak mengerti denganmu


apa milikmu yang bisa membuatku tertegun


hingga demikian aku sadari


tak bisa aku kendalikan lagi hati ini


-Anzar


"turun" hingga sampai aku di depan toko kacamata yang tidak terlalu jauh dari letak rumahku, nadia turun dari motor dengan cepat, entah apa yang sedang dia pikirkan kala itu.


"ayo masuk" kata Nadia dengan wajah riang nya.


aku membiarkan nadia untuk membereskan urusannya, memilih-memilah kacamata yang ada disitu sampai dia ada merasa ada yang cocok dengan dirinya.


"Kak Anzar, yang ini yah" kata nadia memperlihatkan kacamata yang mungkin dia sukai.


"yaudah ambil aja" bereslah acara berbelanja kacamata yang di gelar oleh nadia, kita keluar dari toko itu menghampiri motorku yang terparkir gagah di tempatnya.


"Gue pengen ngopi dulu" kataku sembari menaiki motor.


"ihhh udah sore kak, nanti aku di marahin" katanya memelas, menampakan wajah yang tidak pernah hilang kecantikan nya.


"gue pengen ngopi" nadia segera menampakan ekspresi marah, berniat untuk mendesakku dengan wajah lucu itu.


"aku pengen pulang!" katanya yang tak lama dia tersenyum kembali "ngopinya besok lagi aja, ntar Nadia temenin deh" aku cukup kaget dengan apa yang dia katakan, akankah ini menjadi awal dari cerita-cerita yang akan terjadi di masa mendatang?


"lu gak sakit kan?" jawabku seperti orang bodoh, Nadia menggelengkan kepala sembari mengerucut bibir indahnya.


"enggak, kenapa?" jawabnya kebingungan, kau sangat polos Nadia jangan sampai kepolosanmu kau jadikan senjata untuk mengalahkan keras hatiku.


"enggak, ayo cepet naik kita pulang aja" jawabku yang sudah tidak tahu apa yang sedang terjadi antara aku Nadia. "lu tunjukin arahnya" lanjutku


"iya kak"


"ayo turun, neduh dulu!" dengan terburu-buru aku dan Nadia turun dari motor dan berteduh di halte bus yang tidak berpenghuni kala itu.


"yahh ini mah pasti lama, kita terobos aja kak!" kata Nadia seperti mengkhawatirkan sesuatu.


"males basah gue" jawabku ketus.


"ibu aku pasti khawatir, nanti aku dimarahin kak" kata Nadia dengan muka memelas yang membuatku iba padanya.


"Ntar gue yang ngomong" Nadia terlihat terkejut dengan perkataanku.


"aku belum pernah bawa cowok ke rumah, nanti kakak di marahin" senyumku mengembang dan tanpa sadar aku mencubit pipi Nadia yang menggemaskan itu.


"lu gak usah khawatir, gue udah sering di marahin" Nadia terdiam, kaget dengan apa yang aku lakukan barusan, sontak aku tersadar dan segera memalingkan pandanganku dari Nadia.


lu udah gila Zar, apa yang lu lakuin barusan? bener-bener gila lu Zar, itu bukan Anzar itu setan yang ada di tubuh Anzar omel batinku yang sudah tidak tahu seberapa malunya diriku ini.


suara hujan mengiringi aku yang sedang tidak bisa mengontrol diri dan Nadia yang pasti dia tidak menduga aku akan melakukan hal konyol seperti itu.


seiring berjalannya waktu, tak lama dari derasnya hujan yang kali ini semakin melemah seperti mengizinkanku untuk segera mengantarkan Nadia pulang.


"ayo Nad" kataku sembari menaiki motor.


"iya kak" jawabnya menaiki motorku.


aku melajukan motorku dengan sedikit ketegangan, berpikir apakah yang aku lakukan tadi membuat Nadia tidak menyukaiku sehingga kali ini dia tidak memeluku.


"lu udah gak dingin?" tanyaku pada Nadia.


"dingin, emang kenapa? jawabnya dengan suara lelah.


"lu boleh peluk gue lagi kalo lu mau" apa lagi ini? Anzar! lu emang bener udah gila, jangan nyalahin setan! lanjutku bercakap di dalam hati. Sedikit-sedikit tangan Nadia mulai melingkar di tubuhku, memberikan kehangatan yang sudah lama tidak aku rasakan, dia memeluku semakin erat semakin kuat melawan udara dingin sore ini.


"Nanti di depan belok kanan yah" kata Nadia yang sedang memenuhi pikiranku.


"udah deket?"


"dikit lagi" motorku terus berjalan menyusuri jalanan yang ditunjukan oleh Nadia " Itu disana rumah aku kak" melihat gerbang rumah Nadia yang terbuka, tanpa pikir panjang aku memasukan motorku ke halaman depan rumah Nadia.


Nadia lekas turun dari motorku bersamaan dengan aku yang mengikutinya, aku membuka sepatuku berniat menemui orangtua Nadia untuk memberi penjelasan. Belum sampai aku di depan pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan terlihatlah sosok wanita cantik seumuran dengan ibuku.


"asslamualaikum ibu" kata Nadia sembari mencium punggung tangan ibunya.


"waalaikumsalam, kamu baru pulang, sama siapa ini?" jawab ibunya dengan suara lembut, menyambut kedatanganku dengan ramah.

__ADS_1


"saya Anzar tante" jawabku sembari mencium punggung tangan ibu Nadia. "maaf tante Nadia pulangnya jadi sore, tadi pas di sekolah saya gak sengaja matahin kacamatanya, terus pas pulang saya ajak Nadia buat beli yang baru, pas kita mau pulang ehhh hujan, jadi malah neduh dulu" kataku memberi penjalasan.


"ohh iya gak apa-apa kok, ibu suka kamu berani bertanggung jawab" kepaksa itu juga haha suara batinku nakal. "yuk masuk dulu" aku mengikuti Nadia dan ibunya untuk masuk ke dalam rumah.


"Anzar duduk dulu disini ya, mau minum apa?" aku duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah Nadia.


"air anget aja tante, lagi dingin hehe" jawabku malu-malu.


"yaudah kamu diem dulu disini sama nadia"


"iya tante" Ibu Nadia berjalan meninggalkan aku dan Nadia di ruang tamu.


"aku kira ibu bakal marah tau" kata Nadia seperti baru saja terlepas dari tekanan.


"nanti marahnya udah gak ada gue" jawabku menakut-nakuti Nadia.


"aku mau langsung tidur wleee" jawabnya seperti anak kecil.


ibu nadia datang membawa kue kering dengan dua gelas air hangat yang tadi aku minta. Dua gelas? buat Nadia satu.


"Anzar nanti pulangnya udah maghrib aja yah, sholat dulu disini" kata ibu Nadia padaku.


"gak apa-apa tante?" jawabku memastikan.


"iya sholat dulu disini, panggil ibu aja jangan tante" jawab ibu Nadia sembari duduk disamping anaknya.


"yaudah iya bu" kataku tersenyum ramah.


"ohh iya, kok kamu gak pake seragam?" aku baru sadar kalo aku tidak memakai seragam sekolah, takutnya ibu Nadia mengira aku ini anak nakal, padahal emang nakal.


"tadi pulang dulu ke rumah bawa uang buat ganti kacamata Nadia, sekalian aja ganti baju" jawabku dengan santai dan menunjukan sikap elegan di depan ibu Nadia, dasar muka dua.


"ohh gitu, sekarang sholat dulu, nanti udah sholat makan dulu disini" kata ibu nadia dengan tutur kata dan bahasa yang ramah.


"udah makan tadi bu di rumah kak Anzar" potong Nadia yang sedari tadi terdiam.


"ehh, maaf yah anak ibu ngerepotin" kata ibu Nadia.


"enggak bu, malahan saya seneng" apa jawabmu Zar? dasar kau ini penjilat.


"yaudah sholat dulu yuk" kata ibu Nadia.


"iya bu"


"Nadia lagi halangan" kata Nadia bergegas menuju kamarnya.


ibu Nadia menunjukan kamar mandi untukku berwudhu dan menunjukan dimana aku harus melaksanakan sholat.


setelah selesai sholat aku kembali ke ruang tamu, menunggu ibu Nadia datang kesini dan selanjutnya aku akan berpamitan untuk pulang.


sunyi menyelimuti diriku hingga Nadia datang membunuh sunyi itu, datang dengan paras cantik dan wangi yang membuatku nyaman, dia memakai baju tidur berwarna pink membuat dia terlihat menarik, selanjutnya dia duduk tepat di sebelahku seperti mengizinkan untuk aku berdekatan dengan nya.


"ibu lu mana? gue mau pulang" kataku memulai pembicaraan.


"lagi sholat kali, tungguin bentar lagi" jawab Nadia seperti biasa dengan suara lembutnya. "maaf yah kak, aku ngerepotin kakak" lanjutnya dengan ekspresi seperti menyesal.


"enggak, salah gue kok" jawabku dengan lembut dan senyum yang tidak terasa tercetak di wajah ini.


Ibu Nadia datang dengan senyuman dan paras cantik yang tak kalah cantik oleh anaknya, melihat itu aku langsung berdiri untuk berpamitan.


"saya mau pamit pulang bu" kataku dengan terus tersenyum ramah.


"yahhh, gak mau nemenin Nadia dulu?" jawab ibu Nadia menggodaku.


"lain kali aja ha ha" jawabku dengan mulus.


"yaudah, tapi janji yah kesini lagi?" apa maksud ibu-ibu satu ini? andai dia tau apa yang sebenarnya yang terjadi, jangan sampai tau.


"iya bu siap" jawabku dengan hormat ala tentara. "ya udah, saya pamit ya bu, Asslamualaikum" lanjutku mencium punggung tangan Ibu Nadia.


lekas aku keluar dari rumah Nadia bersama Nadia yang mengantarkanku menghampiri motorku yang aku parkir di halaman nya.


"kak Anzar" mendengar itu aku segera menoleh pada Nadia dan kali ini kita saling bertatapan. "makasih yak kak" lanjutnya dengan senyum yang sangat manis.


"iyaa, jangan lupa janji lu tadi, ntar besok gue tagih" jawabku terbawa suasana.


"Nadia gak bakal lupa" aku tersenyum melihat Nadia yang polos, Nadia yang sudah membuatku bingung."yaudah, gue pulang yah" lanjutku.


"iya kak, hati-hati" aku membalikan badan dan mulai menaiki motorku, malajukannya meninggalkan Nadia di rumahnya.


aku tidak tahu apa yang aku rasakan kali ini


hanya akan berjalan menjalani hari-hari selanjutnya.


dan menunjukan apa saja yang akan ditemui


akankah kau selalu ada?


atau malah hilang begitu saja?

__ADS_1


__ADS_2