Anzar : Sebuah Cerita

Anzar : Sebuah Cerita
Perempuan itu "aneh"


__ADS_3

Aku dan Nadia terdiam, seakan hanyut dengan suasana taman yang sepi. Duduk menghadap waduk yang sedang pasang. Aku menopang kepalanya yang sedari tadi menyender dipundakku. Nadia menyemai kesenangan disetiap pertemuannya denganku. Manjanya yang tak pernah bisa kulawan, selayak dia menguasaiku dengan rengekannya.


Dalam hidup, aku mengerti. Aku sedang berada dipusaran rindu. Tak ada yang lain lagi sedang aku harapkan. Semoga sang pemilik rinduku tidak pernah enyah dari ruang yang sudah tersedia untuknya, hatiku.


Jangan pernah sesekali kamu bergerak dengan seseorang, yang itu bukan aku orangnya. Jadilah kamu pemilik rindu yang sempurna. Jangan sedikit pun, kamu mencoba bergerak untuk pergi.


Suara hatiku tidak akan terdengar olehmu. Biarlah, Tuhan saja yang mendengarnya. Kamu hanya perlu tetap bersamaku. Seperti apa yang aku minta pada Tuhanku.


"Nad" panggilku. Nadia hanya menengok, tanpa bicara "udah sore"


"terus?"


"takut hujan"


"hujan-hujanan lah"


"nanti kamu sakit"


"tapi aku masih pengen sama kak Anzar"


"kan masih ada besok"


"besok masih lama lagi"


"udah sore Nadia"


"sampe malem juga gak apa-apa"


"nanti ibu kamu marah"


Sejenak Nadia terdiam, memalingkan pandangannya dariku.

__ADS_1


"yaudah ayo pulang" katanya. Bangkit dari duduknya tanpa menoleh kearahku. Nadia marah, aku bisa merasakannya. Kemudian dia berjalan ke arah tempat motorku diparkirkan, dan aku mensejajarkan langkahku dengannya.


"kamu marah?" tanyaku


"enggak" Jelas, sifatnya menunjukan bahwa dia sedang marah.


"ya udah, mau disini dulu sebentar lagi?"


"gak mau" Nadia terus berjalan dan aku terus mengikutinya. Aku bingung, aku tidak pengalaman dengan hal ini. Saat bersama kiky, kita belum pernah marahan. Entahlah, kita seperti orang gila waktu itu.


"ayo cepet naik" suruh Nadia. Aku cukup jengkel sifatnya. Ya, ketika manja seperti anak kecil dia memang manis. Tapi tidak ketika disituasi ini. Aku menurutinya saja, kemudian dia juga naik ke motorku tanpa memeluk si pemilik motornya.


Motor melaju pelan, bersama aku yang terus berpikir. Ada apa dengan Nadia? Mengapa dia bertingkah seperti anak kecil? Pikiran itu terus terus ada hingga aku sampai didepan rumah Nadia. Dia lekas turun tanpa berbicara apa pun.


"tunggu dulu" tahanku. Nadia menghentikan langkahnya menuju rumah. "kamu kenapa?" bingung aku dibuatnya.


"aku gak apa-apa"


"aku masuk yah?"


"ya udah"


Kemudian aku langsung menjalankan motorku, tanpa melihat Nadia masuk ke rumahnya.


"anjing! kenapa si?" umpatku. "gue salah apa?" lanjutku mengoceh.


.....


Aku sudah berada di meja makan bersama ibuku. Tak hilangnya pikiran tentang Nadia yang sangat aneh hari ini.


"ma, emang perempuan suka gitu yah?" tanyaku pada ibuku yang sedang menyiapkan makanan.

__ADS_1


"gitu gimana?" ibuku balik bertanya sembari dia duduk bersebrangan denganku.


"aneh, tiba-tiba marah"


"ohh, kamu lagi marahan yah sama Nadia?"


"gak tau"


"emang kenapa awalnya?"


"kan tadi Anzar bawa dia ke taman, pengen jajan katanya. Terus, pas diajakin pulang malah marah. Aneh." jelasku.


"itu berarti Nadia masih pengen bareng kamu" jawab ibuku lembut.


"kan udah sore ma, takut hujan lagi"


"iya mama tau, tapi perempuan itu udah dari sananya manja"


"nanti kalo pulang malem, terus kehujanan. Kan Anzar yang disalahin"


"ya udah, kamu cuma perlu minta maaf sama Nadia, jelasin. Biar gak marahan lagi"


"kok Anzar yang minta maaf? kan Anzar gak salah"


"Anzar, perempuan itu cukup kamu manja aja. Jangan disuruh mikir, dia salah apa engganya!"


"haduh, pusing ngomong sama mama"


"udah, cepet makan!"


Seorang wanita tercipta lengkap dengan manjanya. Tapi apakah laki-laki harus selalu mengalah? Aku tidak tahu pasti jawabannya. Yang pasti, jika laki-laki itu adalah laki-laki yang benar-benar mencintai perempuannya. Dia tidak akan pernah memarahi perempuannya dengan emosinya. Melainkan, menuntunnya dengan kelembutan.

__ADS_1


Aku cukup geram dengan apa yang Nadia lakukan tadi sore. Dia seperti anak kecil, begitu saja marah. Tapi apakah aku harus marah pada anak manja itu? Ah... menyulitkan sekali.


__ADS_2