
Keesokan harinya aku melakukan hal yang sama, diam di warung pak deni menikmati kopi sachet-an bersama asap rokok sampoerna mild yang sangat aku sukai, tak lama kemudian ponselku mengeluarkan suara nada dering pertanda ada telepon masuk dan setelah kulihat, itu dari Riko yang kemudian langsung aku jawab.
"Apa?"
"Lu dimana Zar?"
"Depan sekolah"
"Anak kelas 12 ada yang nyariin elu"
"Kenapa?"
"Salah satu dari geng topi kemaren ada saudaranya katanya"
"Gue kesana"
Aku segera menutup telepon dari Riko dan bergegas menuju sekolah, aku memasuki gerbang sekolah dengan santai layaknya model, memakai seragam putih abu dan melepaskan satu kancing bajuku sengaja agar kalung hitamku terlihat, tubuh cukup ideal berkat dari rajin ngegym dan gaya rambut acak-acak-acakan.
"Zarrr" Teriak Riko dari luar toilet membuatku menoleh. "Sini lu!" Lanjutnya
Aku berjalan mendekatinya dengan sedikit tergesa-gesa, ini adalah waktu istirahat waktu dimana para siswa sedang keluar untuk menuruti rasa laparnya.
Buaghhh
Dengan tidak sengaja aku menabrak seorang wanita dan membuat wanita jatuh ke tanah.
"Yahhh patah" kata wanita itu memegang kacamatanya yang patah.
"Maaf maaf gue gak sengaja" kataku, sembari berusaha membangunkan nya.
"Kamu!" Ternyata itu Nadia. "Aku gak mau tau, kakak harus ganti kacamata aku!" Kata nadia dengan nada marah.
"Enak aja lu, gue gak sengaja juga"
"Ini aku beli pake uang sendiri tau!" Katanya sambil memperlihatkan kacamata nya yang patah padaku.
"Gue gak nanya"
"Pokoknya kakak harus ganti!"
"Kenapa Zar?" Kata Riko yang tidak aku sadari dia sudah ada di sampingku.
"Gak ada, mana orangnya?" Tanyaku penasaran dengan orang yang mencariku.
"Dia udah balik ke kelasnya kali" jawab Riko.
"Yaudah ayo kesana, kelas berapa dia?"
__ADS_1
"12 IPS 3, kelasnya diatas"
"Ayo kesana" kataku hendak berjalan menemui orang yang mencariku.
"Kakak mau kemana? Ganti dulu kacamata aku!" Kata nadia menarik lenganku.
"Aduh lu tuh yah, ntar pulang sekolah gue ganti sekarang gue ada urusan" jawabku dengan ekspresi kesal.
"Kakak kelas berapa?" Tanya nadia.
"11 IPS 5" jawabku sambil berjalan menjauh darinya."Ayo Rik!" Lanjutku berbicara pada Riko.
"Gak bawa anak-anak Zar?"
"Kita berdua aja"
Aku dan Riko berjalan menuju kelas 12 IPS 3 untuk menyelesaikan masalah, aku sama sekali tidak berpikir untuk berkelahi dengan orang yang mencariku, aku hanya berniat untuk membicarakan masalah ini dengan nya.
Aku dan Riko sudah cukup dikenal oleh angkatan kelas 12 karena ini bukan kali pertama aku bermasalah dengan anak kelas 12, tak lama aku sampai ke kelas 12 IPS 5, terlihat di luar ada sekumpulan siswa berada di depan kelas itu.
"Siapa yang nyari gue?" Tanpa basa-basi aku langsung menanyakan orang yang mengaku saudara dari salah satu anggota TOPI.
"Ohh si Tiar Zar, orangnya ada di kelas" jawab salah satu anak yang ada disana, aku tidak banyak mengenal mereka karena waktuku habis di warung pak deni.
Aku memutuskan untuk masuk ke kelasnya di temani oleh Riko.
"Siap bos" jawabnya dengan sama berbisik.
"Disini ada yang namanya Tiar?" Tanyaku sedikit keras pada para penghuni kelas 12 IPS 3.
"Gue" jawab salah satu pria yang langsung bangun dari duduknya.
"Lu yang nyariin gue?" Aku mendekati pria bertubuh tinggi kekar itu. "Mau apa nyariin gue?" Tanyaku.
"Lu udah bocorin kepala saudara gue anjing!" Bentaknya sembari menunnjukku. Tiar, nama yang sudah dikenal oleh angkatan kelas 12, dia adalah salah satu pentolan kelas 12 sekaligus ketua geng Matador, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya waktu itu.
"Saudara lu banci, beraninya keroyokan!" Jawabku dengan senyum sinis.
"Nyari ribut lu anjing!" Tangan kirinya menarik kerah bajuku dengan kasar dan menempatkan kepalan tangan kanannya di depan mukaku, perempuan di sana sudah mulai panik, mereka berteriak dan mulai keluar dari ruangan kelas.
"Kalo posisinya gini, elu yang nyari ribut" aku menjawabnya tenangĀ dengan ekspresi datar.
Buagh
Buagh
Dua pukulan telak mengenai dahiku, membuatku mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Gak boleh ada yang ikut campur! Biarin mereka ngeberesin masalahnya sendiri" teriak Riko pada semua orang yang ada di sana, Riko megeluarkan kepala lewat jendela "jangan sampe ada yang bilang ke guru!" Teriaknya pada orang-orang yang ada di luar.
Aku mulai merasakan pusing karena terkena pukulan dari Tiar, aku mulai menyiapkan kuda-kuda dan mencari celah untuk menyerang nya.
Buagh
Satu pukulan kembali mengenai wajahku, membuatku marah, menjadikanku sangat bernafsu untuk menghajarnya.
Aku maju dan mulai menyerang nya dengan brutal
Buagh
Satu tendanganku mengenai perut Tiar, membuat Tiar hilang keseimbangan, melihat ada kesempatan aku langsung menarik kerah bajunya.
Buagh
Buagh
Buagh
Tiga pukulan di wajah aku bayar lunas.
Brakkk
Aku mendorong nya hingga menabrak kursi dan meja yang ada di sana hingga dia berguling melewati satu meja dan terjatuh ke lantai.
Brakkk
Aku menendang meja yang menghalangiku, mendapati Tiar dengan posisi terlentang.
Buagh
Buagh
Buagh
Tidak terhitung pukulan yang aku luncurkan pada Tiar, tapi dia masih bisa melindungi wajah menggunakan tangan nya.
Aku berdiri mengangkat kursi yang ada di dekatku, berniat untuk menghantamkan nya pada Tiar.
Brakkk
Riko dengan cepat menjatuhkan kursi itu dari tanganku, dia menatapku dengan raut wajah marah.
"Gila lu, ini di sekolah Zar" aku hanya diam menatapnya datar, aku sudah kehilangan kendali, pikiranku sudah di racuni oleh kemarahan.
Tak lama guru-guru pun berdatangan dan membawaku ke ruang BP, aku di beri surat untuk membawa orangtua ke sekolah besok.
__ADS_1