
"Zar, bangun lu!" suara samar-samar terdengar ditelinga ini, aku masih mengumpulkan tenaga untuk melawan rasa kantuk yang tidak mau pergi dariku. "udah jam 7 bangsat" lanjut Riko menendang-nendang tubuhku yang sedang lemas ini.
"iyaa 5 menit lagi ah, bawel banget si lu, kaya emak-emak!" jawabku menyembunyikan kepala di balik bantal.
"cepet bego! udah ketinggalan pelajaran pertama" kata Riko, meskipun dia nakal tapi dia jarang sekali mabal, palingan ketika sumpek belajar, baru dia kabur dari kelasnya.
"ah bangsat lu" gerutuku yang kemudian aku bangkit berdiri melawan rasa kantuk yang terus menghantui. "nyesel gue nginep di rumah lu" lanjutku sembari berjalan ke kamar mandi.
Riko yang sudah rapi dengan seragamnya hanya tertawa tanpa membalas ocehanku, sepintas terlihat dia sedang duduk, sibuk berpertualang di alur cerita buku komik hentai barunya, aku tidak memperdulikan kebiasaan buruknya itu, hanya fokus berjalan ke kamar mandi dan cepat-cepat menyudahi perang melawan dinginnya air.
kali ini seragamku sudah terpasang di tubuh ini, menjadikannya sebagai tanda pengenal bahwa aku ini adalah anak SMA.
"ayo makan dulu lah, laper gue" kata Riko melempar komiknya keatas kasur.
"makan aja otak lu" lekas aku dan Riko pergi ke dapur untuk mencari makanan, disana aku mendapati ibu Riko yang sedang sibuk beres-beres.
"udah jam berapa ini? masih belum berangkat juga" aku lekas duduk di kursi, menghadap ke meja makan yang sudah terdapat banyak macam makanan.
"Rikonya baru bangun bu" kataku sembari mengambil nasi yang kemududian aku tumpahkan ke piring putih dan menghiasinya dengan lauk pauk yang sudah tersedia disana.
"kamu juga!" kata ibu Riko dengan kelembutannya, menandakan bahwa dia adalah seorang ibu yang penyayang.
"ha ha ha jangan jujur gitu dong bu!" sautku, aku sudah sangat dekat dengan keluarga Riko terutama dengan ibunya Riko.
"sampaikanlah kejujuran meskipun itu pahit" potong Riko layaknya mario teguh yang sedang menyampaikan quotesnya.
"anjing lu!"
"Anzarrr! jangan kasar ngomongnya" kata ibu Riko dengan tatapan tajam yang ditujukan padaku.
"ehh keceplosan bu" jawabku seperti orang bodoh menutupi mulutku dengan tangan sendiri.
"dengerin! kebiasaan ngibul sih lu"
"bacot lu"
"ceramahin aja terus mah" kata Riko yang merasa dimenangkan oleh ibunya.
"kamu juga sama!" jawab Ibu Riko dengan ekspresi seriusnya.
"dengerin nohh!" kataku membalas Riko.
"bisik lu!"
"udah jangan ngobrol terus, cepet beresin makannya, terus langsung berangkat sekolah, jangan malah bolos!" kata ibu Riko dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"dengerin nohhh!" kataku yang terus mengejek Riko.
"Anzarrr!" ibu Riko menatapku dengan penuh ancaman, membuatku mau tidak mau harus mengalah.
"iya bu, gak ngomong bu hehe"
setelah urusan mengisi perut selesai, dan waktu yang terus bejalan, aku dan Riko berniat untuk segera berangkat sekolah.
"Berangkat mah" kata Riko mencium punggung tangan ibunya dan diikuti olehku melakukan hal yang sama.
"hati-hati, jangan nakal!" katanya dengan tutur kata yang lembut.
"siap bu" seraya aku pergi keluar dari rumah, mendapati motor yang sudah terparkir di halaman rumah Riko. aku menaiki motorku bersamaan dengan Riko yang melakukan hal yang sama
"mau rokok gak lu" kataku yang sedang mengeluarkan bugkus rokok dari saku bajuku.
"mau lah, sebel udah makan" aku menyalakan sebatang rokok dan segera menghisapnya dalam-dalam dilanjut dengan mengeluarkanya dengan tiupan kasar
"nih" kataku memberikan bungkus rokok pada Riko. "balikin lagi, jangan disimpen" lanjutku yang sudah beberapakali kecolongan oleh bajingan ini.
"ha ha ha tau aja lu, tadinya mau gue simpen" katanya mengembalikan bungkus rokok itu padaku.
"jelas, udah ribuan kali gue lengah" jawabku sembari mengantongi kembali bungkus rokok yang tadi.
"ha ha ha ayolah berangkat"
aku melajukan motor dengan kencang hingga sampai dengan cepat di warung pak deni yang terlihat sedang banyak orang berseragam SMA disana. Tanpa pikir panjang, aku memarkirkan motorku yang kemudian aku langsung turun dan mencoba mengenali orang-orang yang sudah berada disini sebelum aku datang.
"Anzarrr" kata seseorang yang membelah kerumunan disana, bersuara dengan tengil bersama dengan tepuk tangan yang terkesan meledek. Dia adalah Raka mau apa dia ada disini? batinku.
"mau apa lu?" emosiku mulai naik bergejolak seperti lava gunung merapi yang sudah meronta-ronta ingin meletus.
"lu kira masalah kita udah beres?" kata Raka dengan tengilnya, bersama dengan anak-anak PM dibelakangnya yang memperlihatkan wajah tengil yang ingin sekali aku cabik-cabik.
buaghh
satu tendangan Riko telak mehantam perut Riko. "siapin kopel Zar" kata Riko yang langsung mundur setelah berhasil menendang Raka, dengan cepat aku membuka kopel yang melingkar di pinggang celana abu-abuku dan bersiap untuk sesekali menghantamkannya.
"makan anjing"
buaghh
buaghh
hantaman kopelku mengenai dua anak PM sekaligus. "maju lu! gue bantai satu-satu" kataku sembari melangkah mundur karena sadar kali ini aku kalah jumlah.
__ADS_1
"rasakan kekuatan naga bonarrrr!" teriak Riko perlahan maju, memutar-mutarkan kopelnya membabi buta.
"ayo sini maju anjing" balas Raka maju dengan tangan kosong.
buaghh
aku menghantamkan kopel mengenai kepala Raka hingga membuatnya sempoyongan mundur ke belakang.
"ha ha ha lembek lu" ejekku pada Raka.
"semua maju anjing, jangan kalah sama dua orang" marahnya pada segorombolan anak PM yang bertarung seperti pengecut.
"Jadi banci aja songong" teriak Riko.
buaghh
kopel Riko mengantam wajah salah satu anak PM dengan sangat keras, darah mulai keluar dari pipi yang terkena hantaman itu. Jelas, itu membuat anak-anak PM marah dan mulai serentak menyerang aku dan Riko
"anjing lu" teriak salah satu dari mereka
"sini anjing" kata salah satu dari mereka yang sudah mulai maju mendesak aku dan Riko.
brakk
brakk
suara kopel yang menghatam aspal jalanan yang sedang sepi, aku terus menghindar dari hantaman-hantaman yang mereka berikan secara bertub-tubi.
"kabur Zarrr!" teriak Riko yang sudah lari menuju sekolah Anjing, dia yang mulai dia yang kabur gerutu batinku.
"woyyy tungguinnn!" teriakku sembari berlari dengan sangat cepat, menyusul Riko yang sudah duluan masuk ke sekolah.
"jangan lari anjing!" "pengecut lu!" "banciii!" makian demi makian mereka teriakkan tanpa sadar siapa yang pengecut disini.
mereka tidak berani masuk ke dalam, karena mereka tau apa yang akan terjadi jika mereka nekat untuk masuk, siswa-siswa yang ada disini tidak akan tinggal diam.
"anjing lu Rik" kataku dengan nafas yang tidak beraturan akibat dari lari yang sangat cepat barusan.
"ha ha ha elu yang bego" katanya tanpa merasa bersalah sudah meninggalkanku. "udah tau mereka banyakan, masih mau di lawanin" lanjutnya.
"elu yang mulai bangsat" satu naik pitam.
"ya kalo udah mukul sekali mah mending langsung kabur bos ha ha ha" jawabnya sembari berjalan meninggalkanku.
"emang bangsat lu!" kataku dengan nafas yang masih hos-hosan
__ADS_1
"udah ayo ke kelas, kita introgasi anak PM yang ada disana" menarik jawab batinku seperti masih haus akan pertarungan.