
Ini adalah hal yang sangat membosankan bagiku, duduk di kursi dan melihat guru menjelaskan sesuatu yang sama kali tidak di mengerti olehku. ya tuhan... kenapa lama sekali? rintih batinku.
"pelajaran hari ini cukup sampai disini" seketika wajah murungku menjadi ceria. terimakasih tuhan aku sangat senang akhirnya aku bisa pulang dari penjara ini, dengan semangat aku berjalan berniat keluar dari kelasku.
"Ehh Anzar, kamu mau kemana?" kata pak Ari guru yang sedang mengajar Geografi di kelasku.
"ya pulang lah pak" emang ada masalah apa? batinku kembali bersuara.
"baca doa dulu Anzar, maen nyelonong aja" Sontak seisi kelas tertawa melihat kelakuanku, jarangnya aku masuk ke kelas sampai membuatku lupa kalau bubar kelas harus berdoa dulu.
"ehh iya pak hehe" jawabku malu-malu anjing.
"Kebelet kencing lu Zar?" teriak Riko yang sedari tadi tertawa.
"bisik lu pada" jawabku sedikit kesal sembari kembali duduk di tempat semula, barisan paling belakang.
Doa pun digelar dengan khusyu sampai selesai, semua yang ada dikelas mulai berhamburan berlomba-lomba untuk pulang, aku berjalan dengan santai mendekati pintu kelas untuk keluar dari sana, baru saja satu langkah aku keluar dari kelas.
"kakak!" teriak seorang wanita dari kejauhan, aku menoleh arahnya melihatnya berlari ke arahku hingga wajah cantik yang sedang kelelahan itu terlihat jelas.
"ngapain lu?" aku heran dengan Nadia, mengapa aku dipertemukan dengan dia dan sampai sekarang aku terus bertemu dengan dia.
"mau nagih kacamata" jawabnya polos.
"iyaa gue ganti, besok" kataku sambil berjalan.
"lohh kok besok?" jawabnya mengikutiku
"gue gak bawa uang"
"gak mau, Nadia pengen sekarang, kakak mah cuma alesan buat ngehindar aja"
"gue seriusan gak bawa uang, kacamatalu kan pasti mahal"
"bohong, pokoknya ganti hari ini, aku gamau tahu" aku pusing mendengar ocehan nya, kenapa ada orang seperti dia, cerewet, keras kepala lagi, untung cantik.
"ya udah iya... gue bawa duit dulu ke rumah"
"nanti kakak kabur" sungguh perempuan ini sangat menyebalkan.
"lu ikut aja ke rumah gue" jawabku sudah pening dengan ocehan Nadia.
"nanti kakak macem-macem sama aku"
"terserah lu lahh" aku sudah pusing dan melanjutkan berjalan menuju motor.
"kakak tungguin!"teriaknya dari belakang membuatku menoleh.
"apalagi bocah?" jawabku kesal.
"iya aku ikut, tapi kakak jangan macem-macem" jawabnya dengan muka polos.
__ADS_1
"iya terserah elu" aku kembali berjalan menuju si keong yang aku parkirkan di depan warung pak deni.
"beh, yang tadi 30 rebu yah" sapaku pada pak deni yang sedang duduk santai di kursi.
"iya Zar" jawab pak deni
"nih 30 rebu pas" kataku sembari memberikan uang 30 ribu pada pak deni. "pulang dulu beh" lanjutku.
"iya sana hati-hati Zar"
keluar dari warung pak deni, aku mendapati nadia yang sedang berdiri di pinggir jalan memakai pakaian olahraga yang cukup membuatnya terlihat sexy, melihat hilir mudik kendaraan tanpa dia sadari aku sedang melihat kecantikan nya. Lekas aku menaiki motorku dan melajukan pada nadia.
"Naik" kataku.
"gak pake helm?" jawabnya dengan muka polos.
"gak ada razia" Nadia memanyunkan bibirnya cukup membuatku kembali takjub melihat kecantikan nya, dia menaiki motorku dengan perlahan dan sedikit berpegangan pada pinggangku.
"gue takut lu jatuh kalo lu gak meluk" kataku sedikit menggodanya.
"ihh gak mau, kakak mah mesum ih" jawab Nadia kegelian.
"ha ha ha"
Aku melajukan motorku dengan pelan, menikmati perjalan dengan Nadia yang sedari tadi hanya diam, sudah lama sekali aku tidak berboncengan permpuanku, terakhir dengan mantan pacarku waktu Smp yang bernama Kiky, dulu aku sangat dekat dengannya hingga akhirnya kita lulus dan pindah ke luar kota hingga sampai saat ini aku tidak pernah tau kabar kiky, syukurlah aku sudah melupakan semua gelepan itu.
sial! aku melihat geng matador dan dengan jelas aku melihat Tiar ada disana, motorku semakin dekat pada perkumpulan anak yang memakai jaket hitam dengan tulisan MATADOR di bagian punggungnya, aku sangat khawatir dengan Nadia, dia akan terkena masalah jika sampai terjadi sesuatu antara aku anak-anak MATADOR, aku semakin mendekat ke arah mereka dengan beraninya Tiar berdiri di pinggir jalan, yang tidak aku sangka dia tersenyum ramah padaku apa maksudnya? batinku merasakan rasa penasaran, aku menoleh memmastikan MATADOR tidak mengejar dan memang mereka tidak mengejar.
"tau dari mana lu?"
"Emang dia terkenal" jawab nadia dengan polos nya.
"sampah" apa ini? kenapa aku tidak suka dengan ucapan Nadia barusan? ini seperti rasa cemburu yang pernah aku rasakan pada kiky tapi kenapa aku merasan hal yang sama pada Nadia? sadar Zar! jangan sampai lu terjerumus!
setelah perjalan cukup panjang kira kira menghabiskan watu sekitar 15 menit lamanya aku sampai ke rumahku.
"turun lu! bukain gerbang" kataku pada Nadia, dia langsung turun dan membukakan gerbang untukku, aku memarkirkan motor di depan garasi dan langsung turun untuk membuka sepatu.
"ini rumah kakak?" pertanyaan bodoh dari seorang Nadia.
"Rumah presiden" jawabku sembari terus berusaha membuka tali sepatu.
trettt
suara pintu terbuka, terlihat ada seorang wanita cantik berumur 38 tahun disana, dia adalah ibuku yang terkihat terkejut mendapati aku datang bersama Nadia.
"Ehh ada tamu" sapa ibuku sembari menghampiri Nadia yang langsung berdiri mendapati keberadaan ibuku.
"assalamualaikum tante" jawab Nadia ramah.
"Waalaikumsalam" jawab ibuku, Nadiapun bersalaman dan mencium pungung tangan ibuku dilanjutkan denganku melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"nama kamu siapa?" tanya ibuku pada Nadia.
"Nadia tante" jawab Nadia malu-malu.
"Pacarnya Anzar?" dasar ibu-ibu kebiasaan nya ngepoin orang mulu.
"bukan tante, aku temen nya" senyum Nadia terus tercetak di bibir indah nya, itu membuat dia terlihat semakin cantik.
"ahhh bohong yahh?" kata ibuku menggoda Nadia.
"dia malak Anzar ma" kataku menyelip obrolan mereka.
"maksud kamu?" kata ibuku kebingungan.
"Anzar matahin kacamata nya terus dia minta ganti" jawabku sembari berjalan berniat masuk ke rumah.
"itu mah bukan malak, emang kamu harus ganti!" kata ibuku yang selalu bersemangat jika memarahiku. "ayo masuk sayang" lanjutnya berkata pada Nadia.
"iya tante"
"duduk di dalem, istirahat dulu"
Aku masuk dan duduk santai di sofa yang ada di ruang tamu rumahku disusul dengan Nadia yang duduk di sampingku dan ibuku yang masih berdiri.
"kalian udah pada makan belum?" tanya ibuku.
"belum ma" jawabku cepat
"yaudah mama siapin makan dulu yah"
Ibuku pergi ke dapur sesuai dengan ucapanya dia menyaiapkan makan untukku dan Nadia, berbeda denganku yang memutuskan pergi ke kamar untuk mengganti bajuku.
"mau kemana?" tanya nadia yang melihatku sudah mulai berdiri.
"kamar, mau ikut lu?" jawabku menggodanya.
"ihh gak mau" jawab Nadia mengerucutkan bibir tipisnya itu.
"kita bobo bareng" pipi Nadia memerah mendengar ucapanku, dia terlihat sangat cantik dengan kulit putih mulus nya.
"ihh mesummm!" jawabnya membuang muka hingga aku tidak bisa melihat kecantikan nya lagi.
"yaudah" aku pergi ke kamar meninggalkan nya sendirian di ruang tamu
Nadia, aku tidak tahu kamu siapa
dua hari aku mengenalmu
kamu seperti bukan orang asing
tolong, jangan membuatku bingung
__ADS_1